Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 40. Banana Muffin


__ADS_3

Hari dimana Zada di kurung di balik jeruji besi pun tiba. Zada mendapatkan hukuman selama tujuh tahun penjara. Sedangkan untuk Ghaida, dia dihukum selama sembilan bulan karena telah menyembunyikan seorang pembunuh.


Namun, Zada sudah mendapatkan keringanan karena posisi dia sedang membela. Jika memang ada unsur pembunuhan berencana, Zada akan di penjara paling lama lima belas tahun.


Zoya berpikir, itu memang sudah konsekuensinya. Apa yang kita perbuat harus di pertanggung jawabkan entah di dunia maupun di akhirat kelak.


Zoya memandang langit yang akhir-akhir ini selalu mendung karena musim penghujan sudah tiba satu bulan yang lalu. "Sebentar lagi pasti hujan," ucap seseorang yang berhasil membuat Zoya berjenggit kaget.


"Mas Zaky ada disini? Kok bisa?" tanya Zoya begitu terkejut. Zaky tersenyum dan mengangguk. "Iya, nggak sengaja lewat dan lihat kamu yang akhir-akhir ini sering sekali memandangi langit,"


Zoya terkekeh. "Maklum, Mas. Lupa nggak bawa jas hujan. Jadi ada perasaaan was-was gitu," Zoya mengalihkan tatapannya sebentar pada pria di sampingnya yang hari ini terlihat sedikit berbeda.


Ya, lelaki di sampingnya hanya mengenakan kaos berwarna putih dan celana jeans berwarna hitam. Sedang Alas kakinya, Zaky mengenakan sneakers warna senada dengan bajunya.


"Zoya?"


"Ya?"


"Ikut aku yuk!" ajak Zaky lembut, tatapannya menatap langit yang mulai menurunkan air hujan. "Yaaah, hujan ...." Wajah Zoya berubah cemberut saat hujan lebih dulu menghampiri sebelum dia sampai di rumah.


"Zoya?" panggil Zaky lagi karena Zoya mengabaikan ajakannya. "Iya, Mas? Ikut kemana dulu nih?" tanya Zoya menatap Zaky dengan alis yang turun naik.


"Ke rumahku. Ibu katanya kangen sama kamu," ucap Zaky yang berhasil membuat Zoya mengerjap-ngerjap lucu. "Ikut ya?" Belum sempat Zoya menjawab, Zaky sudah menanyakan hal yang sama lagi. Bukan tanya sebenarnya, melainkan sebuah ajakan.


"Oke, aku ikut,"


Zoya dan Zaky akhirnya berangkat menuju rumah Zaky. Di sepanjang perjalanan Zaky tidak berhenti tersenyum karena Zoya sedang berada di dekatnya. "Kenapa, Mas? Senyam-senyum terus dari tadi?" tanya Zoya dengan polosnya.


"Nggak papa ... Hanya sedang bahagia saja,"

__ADS_1


Zoya mengernyit heran mendengar jawaban Zaky namun, Zoya memilih diam dan mengalihkan pandangan ke luar jendela. Tidak berapa lama, mobil itu masuk ke sebuah perumahan elite. Zoya cukup sadar bahwa penghuni perumahan tersebut pasti membutuhkan uang yang banyak untuk bisa membeli salah satu rumah disana.


Dan kebingungan Zoya terjawab sudah setelah melihat mobil Zaky berhenti di depan teras rumah yang bernuansa modern. Rumah itu cukup besar hingga membuat Zoya bertanya pada Zaky. "Ini rumah Mas Zaky? Disini tinggal sama siapa saja?" tanya Zoya mulai penasaran.


Zaky terkekeh dan keluar lebih dulu untuk membuka pintu mobil di sebelah Zoya. Ceklek. Zaky membuka pintunya hingga membuat Zoya mengerjap bingung. "Turun dulu ya, interogasinya nanti saja," ucap Zaky dengan senyuman manisnya.


Seperti kerbau yang dicolok hidungnya, Zoya menurut dan keluar dari mobil. Namun sebelum benar-benar keluar, Zoya merasakan sentuhan tangan besar di balik hijabnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Zaky? Dia melakukan itu supaya kepala Zoya tidak terkantuk bingkai pintu. Zoya mendongak untuk mengucapkan terima kasih namun, kejadian yang tidak di harapkan terjadi.


Suasana seketika hening di antara keduanya. Zoya merasakan jantungnya memompa dua kali lebih cepat. Keduanya masih saling tatap karena kejadian yang tidak di sengaja barusan.


Tanpa sengaja, bibir Zaky telah menyentuh salah satu pipi Zoya karena posisi Zaky yang menunduk sedangkan Zoya, dia sedang berusaha untuk keluar dari mobil.


"Assalamualaikum, Nak Zoya ... Kamu sudah datang? Kenapa kalian malah melamun di depan sih? Ayo masuk dulu, ajak Zoya masuk, Ky," ucap bu Khadijah yang sudah berada di antara Zaky dan Zoya.


Keduanya langsung tersadar dan tersenyum kikuk. Bu Khadijah menarik tangan Zoya untuk ikut bersamanya masuk ke dalam rumah meninggalkan Zaky yang masih terpaku sambil memegangi bibirnya. "Astaghfirullah, aku nggak sengaja. Bagaimana ini," ucap Zaky merasa malu setengah mati.


"Boleh, Bu. Ibu ada pisang nggak sekarang? Pisang yang sudah mateng banget?" tanya Zoya sama sekali tidak keberatan dengan permintaan bue Khadijah.


"Eh, tapi kamu pasti capek kan, Nak. Kamu duduk dulu ya. Maaf, ibu jadi merepotkan. Nanti aja setelah capeknya hilang," ucap bu Khadijah merasa bersalah.


"Enggak kok, Bu. Justru, ini ajang untuk Zoya bisa mempraktekkan apa yang sudah Zoya pelajari," Tangan Zoya bergerak untuk memegang punggung tangan bu Khadijah dan menciumnya. "Tadi belum sempat salim. Kalau sekarang, masih berlaku kan, Bu?" tanya Zoya menyengir kuda.


Bu Khadijah terkekeh. "Nggak papa, Nak. Ibu senang karena ibu merasa dicintai dan disayangi,"


Mata Zoya berkaca-kaca melihat senyum bu Khadijah yang begitu menenangkan. "Kok malah mau nangis sih?" tanya bu Khadijah saat melihat mata Zoya berkaca-kaca.


Bu Khadijah langsung berhambur memeluk Zoya. "Jangan nangis ya. Kamu bisa anggap ibu sebagai ibumu juga,"


Zoya tersenyum dan mengangguk dalam pelukan. Dia membalas pelukan Bu Khadijah dengan erat. "Terima kasih ya, Bu,"

__ADS_1


Setelah Zoya tenang, bu Khadijah melepaskan pelukan. "Sebentar, ibu suruh bibi buatkan minum dulu ya," ucap bu Khadijah yang mendapatkan gelengan dari Zoya. "Nggak perlu, Bu. Aku nanti saja minumnya. Kan katanya ibu mau Banana Muffin? Aku buatkan dulu khusus untuk ibu," Zoya tersenyum sendu menatap bu kahdijah.


Akhirnya, tibalah Zoya di dapur dengan apron yang sudah terpasang di tubuhnya. Zoya sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat Banana Muffin. "Kurang apa lagi ya? Oh iya gula,"


"Bu, gula ada dimana ya?" tanya Zoya saat melihat bu Khadijah melintas di depannya. "Ada di kabinet atas, Nak. Nak Zoya, ibu ke tetangga sebelah dulu ya. Ada kumpulan RT soalnya. Maaf, ibu nggak bisa bantu kamu. Tapi, kamu bisa minta bantuan sama bibi nanti ya?" ucap bu Khadijah merasa bersalah.


"Nggak papa, Bu. Semoga nanti pas ibu pulang, kuenya sudah jadi. Ibu bisa langsung makan nanti," Zoya tersenyum senang. Setelah mengucapkan salam, bu Khadijah keluar meninggalkan Zoya sendirian.


Ya, Zoya merasa sendiri dan entah kemana perginya Zaky karena sejak kejadian tidak terduga itu, Zaky seperti menghilang ditelan bumi. Zoya mencoba melupakan kejadian itu lalu membuka kabinet atas untuk mencari gula.


Zoya berusaha meraihnya karena tinggi badannya masih kurang untuk menggapai gula tersebut. Tiba-tiba, Zoya merasakan punggungnya menghangat lalu ada tangan besar yang dengan mudahnya meraih gula tanpa harus bersusah payah seperti dirinya.


Sejenak Zoya memejamkan mata saat aroma maskulin dan Woody menusuk indera penciumannya. Aroma yang membuat Zoya nyaman. "Ini gulanya." Zoya terpaku di tempat saat suara bariton itu berbisik di telinganya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Siapa yang suka banana muffin nih? wkwkwk


jangan lupa like, komen, dan hadiahnya ya..


berhubung hari ini hari Senin, pasti kalian dapet vote dong ya😍😘😘


readers bilek: pasti ada maunya nih


othor: tau aja kalian para readerskuh tercintah🤣


kasih disini boleh lah ya🙈🙈

__ADS_1


__ADS_2