
"Zada sebenarnya kemana? Bukankah sikap bu Maya terlihat berlebihan?" Pertanyaan itu sudah sejak tadi Zaky lontarkan namun, belum menemukan jawaban karena sejak tadi Zoya seperti berusaha menghindar.
"Kamu makan dulu ya, Mas? Kamu harus makan agar cepat pulih," ucap Zoya yang di luar topik pembicaraan. Zoya sedang melintas di pinggir brankar, meletakan bubur ayam yang baru saja dia beli. Zaky yang melihat itu segera mencekal pergelangan tangannya lembut.
Zaky memaksa Zoya untuk duduk di dekatnya walau Zoya terlihat tidak terima dengan tingkah dirinya. "Kamu belum jawab pertanyaanku. Jangan mengalihkan pembicaraan," ucap Zaky lembut dengan mata yang menatap Zoya lekat-lekat.
Zoya menatap Zaky dalam. 'Apa ini sudah saatnya? Aku tidak mungkin menyembunyikan ini selamanya. Cepat atau lambat Mas Zaky pasti akan tahu juga,' batin Zoya berperang.
"Nanti, aku akan kasih tahu sama Mas Zaky," jawab Zoya pada akhirnya, merasa belum siap jika memberitahu keberadaan Zada. "Tapi kapan? Apa harus ditunda? Memangnya Zada kemana?" tanya Zaky keheranan.
"Tunggu kamu pulang dari sini dulu ya, Mas. Aku akan bawa kamu pada mas Zada kok, aku janji," jawab Zoya lalu menyodorkan jari kelingkingnya untuk dia tautkan dengan suami tercintanya.
Zaky segera menautkan kelingkingnya pada kelingking Zoya. "Janji ya?" tanya Zaky memastikan. Zoya tersenyum dan mengangguk yakin. Setelah itu, Zaky langsung merengkuh tubuh Zoya dalam pelukannya. "Kamu semakin cantik, Zoy. Aku merasa beruntung karena diizinkan oleh Allah untuk bisa melihat wajah cantik istriku lagi," ucap Zaky ansih dalam pelukan. Bibirnya tak henti-henti melabuhkan kecupan di puncak kepala Zoya.
Zoya tersenyum sendu. "Iya, Mas. Itu rezeki buat kamu," jawabnya yang seketika teringat pada Zada. Zoya sedang meyakinkan diri bahwa mata Zaky saat ini memang rezeki untuknya. Dan Zoya sedang berusaha untuk tidak melihat Zada disana. Mungkin setelah memberitahu pada Zaky, beban di kepala Zoya bisa sedikit berkurang.
Cukup lama keduanya berpelukan hingga Zoya memilih untuk melepaskan pelukan itu terlebih dahulu. "Kamu makan dulu ya, Mas. Aku suapin deh," ucap Zoya tersenyum lalu mengambil mangkuk yang berada di atas nakas.
"Aku akan makan jika kamu juga ikut makan. Kamu belum makan siang kan?" Zoya mencebikkan bibirnya, ada-ada saja alasan Zaky untuk membuat Zoya makan. Walau sebenarnya, Zoya sedang tidak berselera makan, dia akhirnya makan semangkuk berdua dengan Zaky.
Sedang di kamar lain, bu Maya mengehentikan tangisnya dan menatap datar pada Ghaida yang berdiri mematung di hadapannya. "Mau apa lagi kamu? Pergi dari sini sebelum kemarahanku semakin memuncak," ucap bu Maya tegas dan penuh penekanan.
"Maaf, Bu, jika boleh tahu, apa aku tidak salah dengar jika mas Zada telah tiada?" tanya Ghaida susah payah karena tenggorokannya terasa seperti tercekat. Bu Maya tersenyum sinis dan bersiap mengucapkan sumpah serapahnya pada Ghaida namun, pak Rama bergegas menyela agar istrinys hilang kendali dan berkahir buruk untuk kesehatannya.
__ADS_1
"Ma, istighfar ya, Ma,"
"Ghaida ... Silahkan kamu pergi dari sini karena kondisi istri saya sedang buruk. Saya mohon ... Jangan membuat pikiran istri saya semakin kacau," ucap pak Rama tanpa ada nada tinggi atau mengintimidasi.
Ghaida mengangguk pasrah, tidak ada hal lain yang bisa dia tanyakan untuk saat ini. Mungkin saat bertemu Zoya lagi, Ghaida akan menanyakannya. "Baiklah, Pak. Kalau begitu aku pergi dulu,"
Setelah itu, Ghaida berjalan gontai menuju ruangan Yusuf dirawat. "Apa mas Zada telah tiada? Apa penyebabnya? Bukankah dia laki-laki yang tangguh?" monolog Ghaida seketika menjadi manusia paling berdosa.
Apalagi tadi, bu Maya mengatakan bahwa dirinya adalah penyebab Zada di penjara. Dan itu memang benar adanya. "Jadi, hidup mas Zada selama ini tidak pernah baik-baik saja? Ya Allah ... Aku benar-benar jadi manusia paling hina. Ini semua memang salahku," sesal Ghaida lirih.
Saat sudah sampai di depan ruangan Yusuf, azan dhuhur terdengar dari mushola di rumah sakit. Akhirnya, Ghaida memilih untuk melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu. Dia ingin memohon ampun pada Allah karena dirinya, banyak sekali orang yang terluka dan tidak bahagia.
Sungguh, Ghaida menyesal-semenyesalnya. Setelah mengambil wudhu, Ghaida melaksanakan salat empat rakaatnya. Beberapa menit kemudian, dia selesai dan segera berdoa memohon ampun kepada Sang Pemilik Semesta.
"Ya Allah ... Sudah banyak hati yang telah aku lukai. Begitu banyak hati yang menjadi korban atas keegoisanku. Ya Allah ... Aku merasa ... Dosaku tidak akan terampuni," sesal Ghaida dalam doa panjangnya.
"Ya Allah ... Semoga Engkau segera mengambil kesakitan jiwa dan raga orang-orang yang menjadi korban atas keegoisanku. Aku menyesal ya Allah ...." Tangis Ghaida pecah saat mengingat dosa-dosanya.
Dosa yang telah membuat banyak hati terluka. Dia sangat membeci dirinya di masa lalu yang tega mengambil kebahagiaan wanita lain hanya demi kebahagiaan sendiri.
Hingga semuanya terbongkar, bukan hanya dirinya yang mengalami kerugian, semua yang tidak bersalah ikut menjadi korban atas keegoisannya.
Mulai dari anak Zoya dan Zada, Zoya, Zada, dan sekarang adalah kedua orangtua Zada. Mereka semua terkena imbas atas perbuatan jahatnya.
__ADS_1
..............
Yasa berulang kali mematut dirinya di depan cermin. Dia sedang mencoba kebaya untuk dia kenakan di acara pernikahannya yang akan dilaksanakan satu bulan lagi.
Waktu begitu cepat berlalu hingga tanpa terasa, hari besar untuknya akan segera tiba. "Mas Tama!" panggil Yasa yang masih berada di ruang ganti. Tama yang merasa namanya di panggil pun melongokkan kepalanya dari celah pintu ruang ganti. "Bagus nggak?" tanya Yasa hati-hati sambil menunjukkan kebaya yang dikenakannya.
Tama yang melihat penampilan Yasa begitu memukau pun tak bisa berkomentar. Hanya mata yang bisa menjelaskan betapa Tama kagum dengan ciptaan Tuhan bernama Yasa. "Mas? Kok diam sih?" sentak Yasa yang akhirnya mengundang calon mertuanya untuk ikut melihat.
"Yasa ... Kamu cantik sekali ...." ucap calon ibu mertua Yasa yang terpaksa menyingkirkan Tama dari celah pintu. "Tapi lebih cantik lagi, kalau kamu pakai gaun syar'i. Mama nggak bohong, kamu memang cantik pakai kebaya ini. Tapi, bagian dada terlalu terbuka. Pantas saja Tama nggak bisa jawab. Jangan begitu lagi ya? Kalian kan belum mahram," jelas bu Sintia panjang lebar namun, tetep ramah dan lembut.
Seketika Yasa merutuki dirinya sendiri atas kebodohannya. Sejak awal menjalani hubungan saja, Tama selalu memintanya dengan cara baik-baik. Bahkan, Tama meminta diirnya untuk tidak berpacaran karena hal itu dilarang dalam agama.
Ya, seseorang yang akan menjadi suami Yasa kelak adalah Tama. "Yasa? Apa nggak sebaiknya kamu pakai gaun syar'i saja?" tanya bu Sintia hati-hati. Yasa berpikir terlebih dahulu sebelum menjawab. Sejak menjalani hubungan dengan Tama, laki-laki itu selalu memintanya untuk menutup aurat.
Tidak ada nada paksaan disana sehingga Yasa seperti masih nyaman dengan penampilannya yang sekarang. Namun, ucapan calon ibu mertuanya ada benarnya juga. Yasa ingat dengan pesan Tama tempo hari. "Lebih baik di paksa masuk surga daripada dengan sukarela masuk neraka." Dan hal itu, telah berhasil menembus dinding pertahanan Yasa.
"Baiklah, Ma. Aku akan pakai gaun syar'i dan insyaAllah ... Aku memutuskan untuk berhijab,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
coming soon nih ...
karya baru wkwkwk
__ADS_1
aku cuma ngasih tahu aja barangkali kalian juga mau mampir hehehe🤭🤭