
Ghaida menggeliat ketika mendengar suara orang berbicara di lantai bawah. Matanya memicing dan melihat jam dinding yang bertengger di kamarnya. Mata Ghaida langsung membelalak saat tahu bahwa jam sudah menunjukan pukul tiga sore. Ghaida langsung mengambil posisi duduk dan mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu.
Ghaida mencoba mengingat apa yang baru saja dia alami. Ketika sudah ingat, Ghaida langsung menutup wajahnya. Dia masih ingat dengan jelas bagaimana dirinya meminta Adis untuk memeluk dirinya. Ghaida seketika menoleh dan beruntungnya, Adis sudah tidak lagi tidur di kasurnya.
Kepala Ghaida terasa pening karena terbangun tiba-tiba. Bukan! Sepertinya, sisa Rasa pusing sejak tadi pagi belum sepenuhnya hilang. Lalu, kemana suaminya sekarang? Huh! Ghaida akan memikirkannya nanti. Sekarang, Ghaida harus mengambil air wudhu untuk melaksanakan sholat Zuhur. Walau jam sudah menunjukkan pukul tiga, Ghaida tetap melaksanakan kewajibannya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Setelah berhasil mengambil air wudhu walau dengan berjalan tertatih karena kepalanya berdenyut-denyut, Ghaida memakai mukena dan bergegas melaksanakan sholat Zuhur disusul sholat asal sekalian.
Setelah melaksanakan dua sholat wajib, kepala Ghaida terasa lebih ringan. Dia memaksakan kakinya menuju lantai bawah, dimana ada suara Yusuf dan Arumi sebagai backsound-nya.
"Eh! Mbak Ghaida sudah bangun? Kalau masih pusing, Mbak Ghaida istirahat saja, Mbak," ucap Arumi perhatian sekaligus khawatir. Ghaida tersenyum tipis menanggapi. "Sudah lebih mendingan kok, Rum,"
"Yusuf sudah pulang sekolah? Tumben lebih cepat ya?" tanya Ghaida lalu mengacak rambut Yusuf gemas. Yusuf tersenyum dan mengangguk. "Sudah, Ma. Hari ini memang pulang lebih cepat karena bu Guru bilang, akan ada rapat guru gitu," jawab Yusuf memberikan alasannya.
Ghaida magut-magut tanda paham. Dia mengambil posisi duduk di sebelah Yusuf, di sofa yang berada di ruang tengah. Sekarang, Yusuf sudah duduk di tengah-tengah berada di antara Ghaida dan Arumi.
"Mbak?" sapa Arumi membuka pembicaraan. Ghaida menoleh dengan alis bertaut. "Tadi mbak Ghaida sudah di periksa oleh dokter. Katanya, Mbak Ghaida kelelahan dan butuh istirahat yang banyak. Sama katanya, Mbak Ghaida masuk angin," jelas Arumi yang berhasil membuat kernyitan di dahi Ghaida semakin dalam.
"Kapan aku di periksanya? Kok aku nggak tahu ya?" tanya Ghaida penasaran. Yusuf mengulum senyumnya dan hal itu tertangkap basah oleh Ghaida. "Kenapa kamu senyum begitu?" tanya Ghaida heran.
__ADS_1
Kemudian, pandangan Ghaida beralih pada Arumi yang kini justru terdiam dengan wajah yang ... Entahlah. "Tadi ok Adis bilang, demamnya Mama semakin tinggi. Jadi, om Adis langsung panggil dokter karena Mama ngigau terus," jelas Yusuf yang berhasil membuat wajah Ghaida bersemu merah, suaminya ternyata begitu perhatian.
"Kok Mama nggak sadar kalau lagi di periksa sama dokter ya?" tanya Ghaida lagi yang memang tidak merasa sedang di periksa. Dia hanya ingat bahwa suaminya itu selalu memeluknya ketika tubuhnya terasa dingin hingga menggigil.
"Ya pastilah, mama kan sudah nyaman berada di pelukan om Adis. Mama tahu nggak? Om Adis kelihatan khawatir banget sama Mama," ucap Yusuf yang lagi-lagi membuat wajah Ghaida memanas. Ghaida tersenyum malu-malu karena itu.
Brak!
Ghaida dan Yusuf seketika berjenggit kaget saat Arumi tiba-tiba saja meletakkan majalah yang ada di pangkuannya ke atas meja dengan kasarnya. "Astaghfirullahal'azim." ucap Ghaida dan Yusuf hampir bersamaan.
Ghaida menatap Arumi yang saat ini berlalu dari ruang tengah, meninggalkan dirinya dan Yusuf yang masih terkejut dengan sikap tiba-tiba Arumi. 'Apa Arumi sedang cemburu? Pantas saja wajahnya sejak tadi tertekuk,' batin Ghaida bertanya-tanya.
"Tapi, Ma. Sejak tadi Tante Arumi tuh kaya marah gitu lihat om Adis ada di kamar Mama. Padahal kan, om Adis juga suaminya Mama," ucap Yusuf yang membuat Ghaida terpelongo. Sungguh, Ghaida tidak menyangka Yusuf bisa membaca situasi yang ada.
"Itu perasaan kamu saja mungkin. Mama mau makan dulu ya? Mama lapar sekali," ucap Ghaida mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Berhasil! Yusuf mengangguk dan beranjak dari sofa yang membuat Ghaida lagi-lagi bertanya.
"Loh, kamu mau kemana, Suf?" tanya Ghaida heran. Yusuf mengerjap lucu. "Mau mengambilkan makanan untuk Mama. Mama duduk disini saja, baie Yusuf yang ambilkan. Mama kan lagi sakit, jadi ... Biar Yusuf yang merawat Mama," jawab Yusuf panjang lebar.
Tanpa menghiraukan protes mamanya, Yusuf berlalu menuju dapur untuk mengambilkan mamanya makanan. Tidak berapa lama, Yusuf datang dengan mangkuk dan gelas berisi susu yang sudah di letakkan di atas tatakan.
__ADS_1
Ghaida mengernyit. "Itu apa, Suf?" tanya Ghaida bingung. Yusuf tidak menjawab dan langsung menyodorkan tatakan itu pada ibunya. "Ini bubur ayam, Ma. Bibi tadi yang buat. Kalau susunya, Yusuf tadi yang buat," jawab Yusuf tersenyum lebar.
"Mama makan dulu ya. Mau aku suapi?" tawar Yusuf yang segera mendapat gelengan dari Ghaida. "Nggak perlu. Mama bisa makan sendiri kok," jawabnya lalu segera mengambil mangkuk tersebut dan mulai memakannya.
"Om Adis kemana sekarang, Suf? Kok nggak kelihatan sejak tadi?" tanya Ghaida dengan mulut penuh bubur. Yusuf terlihat bergerak untuk menyandarkan punggungnya di bahu sofa dan mengambil remot di ata meja, lalu menyalakan televisi.
"Katanya, ada urusan penting di kantor. Padahal, om Adis kelihatannya nggak mau pergi ke kantor tadi. Tapi, katanya ada masalah dan seperti terpaksa banget om Adisnya ke kantor," jawab Yusuf tanpa mengalihkan tatapan pada televisi yang sedang menayangkan serial dua bocah kembar botak.
Ghaida mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mencerna ucapan Yusuf barusan. "Om Adis khawatir banget sama Mama. Tante Arumi saja kaya cemburu gitu," sambung Yusuf lagi, akhirnya menjawab kebingungan yang Ghaida rasakan.
"Wajar sih kalau Arumi cemburu," jawab Ghaida magut-magut. Dia paham, dirinya juga pernah ada di posisi tersebut bahkan, terbilang sangat lama. Cemburu sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Ghaida dulu. Tapi sekarang, Ghaida memilih untuk menempatkan cemburu itu pada porsi yang sedang. Karena terlalu cemburu buta tidak akan baik untuk hubungan rumit yang rumah tangganya jalani.
"Kok Mama bilang wajar sih? Kan Tante Arumi dulu yang ngerebut om Adis dari Mama," kejar Yusuf merasa tidak terima. "Hush! Jangan berbicara seperti itu Yusuf. Tante Arumi nggak gitu kok. Tante Arumi tuh sayang banget sama kamu ... Kamu nggak boleh bilang gitu tentang tante Arumi," jelas Ghaida menasihati.
Tanpa Ghaida dan Yusuf ketahui, ternyata Arumi masih menatap interaksi ibu dan anak yang sedang membicarakan tentang dirinya itu dari lantai atas. Tatapan yang begitu sulit di artikan oleh siapa saja yang melihatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
kira-kira, arumi kenapa ya?🏃🏃🏃
__ADS_1