Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 58. Skenario-Nya


__ADS_3

Akhirnya bu Khadijah dan Zoya membawa Zada ke rumah sakit, takut terjadi hal yang serius. Sedang Arka, Zoya titipkan pada baby sister dan Yasa. Setelah setengah jam pemeriksaan, akhirnya dokter keluar ruangan dengan wajah tertunduk lesu.


Zoya tentu paham apa maksud dari raut wajah seperti itu. Kabar buruk pasti akan di dengarnya. "Zada sakit apa, Dok?" tanya bu Khadijah tidak sabaran.


Dokter menghela nafasnya lelah. "Apa sebelumnya, pasien sering terlambat makan?" tanya dokter pada bu Khadijah. Zoya dan ibu mertuanya terdiam, karena tidak tahu bagaimana pola makan Zada. "Saya kurang tahu, Dok. Sebentar lagi keluarganya akan datang. Saya tantenya pasien," jawab bu Khadijah.


"Memangnya pasien sakit apa ya, Dok?" tanya Zoya penasaran karena sejak tadi tak kunjung mendapatkan jawaban. "Pasien mengalami mag kronis yang menyebabkan usus di perutnya radang. Dan bila tidak segera di obati, usus pasien bisa terinfeksi dan berujung meregang nyawa," tutur dokter tersebut.


Zoya dan bu Khadijah menutup mulutnya tak percaya. Itu bukanlah penyakit ringan, Zada harus segera di obati. "Lakukan sebisa mungkin, Dok. Tolong sembuhkan, Zada," ucap bu Khadijah memohon.


"Untuk saat ini, semua masih aman. Hanya saja untuk ke depannya, pola makannya harus lebih teratur lagi. Jangan makan pedas, mie instan, kopi, dan makanan yang memicu mag semakin parah," tutur dokter lagi yang diangguki oleh Zoya dan bu Khadijah.


"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu," pamit dokter lalu berlalu dari ruangan Zada. Bu Khadijah dan Zoya bsrgegas masuk untuk memeriksa keadaan Zada. Dia sedang terbaring lemah tak berdaya dengan infus di tangannya.


Zoya seketika merasa bersalah. Mungkin saja, Zada memiliki mag karena harus menjaga Arka, anaknya. Setahu Zoya, dulu Zada tidak mempunyai riwayat penyakit mag.


"Bu?" panggil Zoya pada bu khadijah yang sudah duduk di samping brankar. "Kenapa, Nak?" tanya bu Khadijah tanpa menoleh karena pandangannya sudah tertuju pada Zada, seseorang yang sudah bu Khadijah anggap sebagai anaknya sendiri.


"Apa mas Zada sakit karena harus mengurus Arka ya, Bu? Jika iya, aku benar-benar telah berdosa besar. Mas Zada seharusnya tidak dilibatkan dalam urusan hidupku. Mas Zada berhak bahagia, Bu," lirih Zoya menunduk dan satu tetes cairan bening berhasil lolos dari mata indahnya.


"Ibu juga bersalah disini. Seharusnya ibu cegah Zada waktu itu. Ibu menyesal," sahut bu Khadijah menunduk lesu. Zoya terisak, membayangkan bagaimana lelahnya menjadi Zada saat itu. "Maafkan aku, Mas ... Maafkan aku ...." Zoya berucap penuh sesal.

__ADS_1


"Bukan salah siapa-siapa. Aku punya mag saat aku berada di rutan," suara serak itu berhasil membuat Zoya dan bu khadijah mendongak. "Mas Zada sudah sadar? Alhamdulillah Ya Allah ...." Zoya mengucap syukur dan tersenyum haru.


"Aku baik-baik saja. Hanya saja, akhir-akhir ini aku tidak menjaga pola makanku. Setelah ini, aku bakal sehat lagi seperti dulu. Yang terpenting, makan teratur," ucap Zada yang justru malah menenangkan dua wanita beda generasi itu.


"Ish! Kamu tuh ya, bikin ibu khawatir. Jangan sakit lagi. Jaga kesehatan kamu," Bu Khadijah berucap dengan nada merajuk dan memukul bahu Zada pelan. Zada justru terkekeh. "Aku nggak papa, Bu. Aku hanya telat minum obat mag tadi pagi,"


Zoya mencoba menelisik wajah pucat Zada yang seakan tanpa beban apapun. "Kamu mag kronis loh, Mas. Itu bukan sembarang penyakit," kesal Zoya karena Zada seakan tidak peduli dengan kesehatannya. Zada mengangkat bahunya, dan menatap sekeliling. "Kan aku sudah di rumah sakit. Dokter pasti sudah memberiku obat yang mujarab. Apalagi pakai ini (menunjuk infus) sehari aku langsung sembuh," jawab Zada dengan entengnya.


Zoya memicing. "Kamu sudah biasa seperti ini? Sejak kapan? Kenapa kamu nggak bilang?" tanya Zoya keheranan. "Iya, kamu kenapa nggak bilang ke ibu? Sebentar lagi kamu pasti akan di marahi sama mama dan papamu," ancam bu khadijah menakut-nakuti Zada.


"Benar, Bu, Zada memang harus dimarahi. Dia harus diberi pelajaran karena tidak sayang pada dirinya sendiri," suara pak Rama berhasil membuat ketiganya menoleh ke arah pintu. Bu Maya dan pak Rama sudah datang dan sedang berjalan mendekat. "Zada ... Mama kan sudah bilang, sarapan itu wajib. Pokoknya makan sehari tiga kali. Kamu nggak pernah dengarkan, Mama," ucap bu Maya yang sudah menangis melihat anaknya terbaring di atas brankar.


"Nggak papa, Pa. Justru aku yang sudah merepotkan mas Zada terlalu banyak," ucap Zoya menunduk. Pak Rama langsung menyela. "Tidak, Zoya. Kamu tidak merepotkan sama sekali. Jangan pernah berpikir seperti itu," ucapnya merasa bersalah karena ucapannya malah menyinggung perasaan Zoya.


Zoya tersenyum canggung. "Terima kasih ya, Mas ... Atas bantuannya selama ini. Aku nggak tahu bagaimana Arka akan tumbuh jika tidak ada sosok seperti ayah yang menemani. Mas Zada orang baik," ucap Zoya tulus.


..................


Zoya pulang lebih dulu karena harus menjaga Arka. Zoya tidak bisa melimpahkan semua tanggung jawabnya pada Yasa. Dia harus pulang agar Yasa bisa mengurus usaha toko bunganya.


Langkah Zoya gontai memasuki rumah. Rasa bersalah semakin mendera di hati Zoya. "Assalamualaikum," ucap Zoya memasuki rumahnya. "Waalikumsalam, Mbak. Sudah pulang? Bagaimana keadaan mas Zada?" tanya Yasa yang terlihat khawatir.

__ADS_1


Zoya menghembuskan nafasnya lelah. "Dia mag kronis." jawab Zoya lalu mendudukkan dirinya di sofa yang kemudian diikuti oleh Yasa. Yasa magut-magut tanda paham. "Arka kemana, Sa?" tanya Zoya saat menyadari anaknya itu absen dari pandangan.


"Arka baru saja tidur, Mbak. Tuh di kamar bawah," tunjuk Yasa pada satu kamar yang pintunya terbuka. Zoya mengangguk paham. Dia menghela nafasnya lelah lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Apa ada yang, Mbak Zoya pikirkan?" tanya Yasa saat melihat raut tak biasa atasannya itu.


Zoya menatap Yasa sendu. "Apa aku yang menyebabkan mas Zada mempunyai penyakit mag ya, Sa? Mas Zada mag kronis dan itu bisa berakibat fatal pada nyawanya," ucap Zoya mulai mengeluarkan unek-uneknya.


Yasa semakin merapatkan tubuhnya untuk menepuk punggung Zoya, guna memberikan ketenangan. "Jangan berpikir seperti itu, Mbak. Jangan menyalahkan diri sendiri. Aku yakin, mas Zada melakukan semuanya dengan ikhlas. Aku melihat mas Zada begitu menyayangi Arka. Aku merasa, mas Zada sudah menganggap Arka seperti anaknya," ucap Yasa yang diangguki oleh Zoya.


"Ya, mas Zada sangat menyayangi Arka. Oleh karena itu, aku semakin merasa bersalah, Sa. Tidak seharusnya mas Zada berada di lingkup hidupku," ucap Zoya dengan mata yang berkaca-kaca.


Yasa menepuk punggung Zoya lagi. "Semua sudah Allah atur, Mbak. Pertemuan dan perpisahan sudah ada waktunya masing-masing. Entah secara baik-baik atau tidak, berpisah sementara atau selamanya, semua sudah di atur oleh Allah SWT. Tugas kita hanya perlu mengikuti skenario-Nya. Karena sebaik-baiknya sutradara, adalah Allah SWT,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


memang ya, sebaik apapun manusia menyusun rencana, rencana Allah lebih baik bagi hambaNya. walau terkadang kenyataan tidak sesuai keinginan.


tapi, itu yang tebaik menurut Allah🌹


mampir kesini juga yuk.


__ADS_1


__ADS_2