Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 51. Dua hal yang berbeda


__ADS_3

Zoya keluar dari dapur dan bisa melihat Zada yang sedang duduk di kursi yang tersedia. Zoya menatap malas pada pria di hadapannya. "Zoya?" sapa Zada untuk pertama kalinya.


Zoya mendekat namun tetap memberikan jarak sekitar dua meter dari Zada dan dengan posisi masih berdiri tanpa ada niatan untuk duduk. "Mau apa lagi sih, Mas?" tanyanya jengah. Zada tersenyum getir. 'Sebegitu jijiklah Zoya denganku?' batin Zada terluka.


"Aku kesini hanya ingin mengucapkan selamat untuk pernikahan kamu dan Zaky. Semoga kamu bahagia setelah ini, sesuatu yang tidak kamu dapatkan dulu dari aku," Zada berucap tulus.


Zoya menghela nafasnya kasar. "Terima kasih." jawab Zoya singkat. Lagi-lagi Zada tersenyum getir. "Ini ... Kado dariku. Semoga bisa bermanfaat," ucap Zada lalu tangannya terulur memberikan bingkisan kotak sedang di hadapan Zoya.


Zoya menatap bingkisan itu bimbang. Kalau tidak diterima, itu berarti Zoya tidak bisa menghargai pemberian orang. Namun jika Zoya terima, Zoya takut suaminya akan salah paham. Akhirnya, Zoya memilih menerimanya agar Zada segera berlalu dari hadapannya.


"Terima kasih, Mas. Semoga kamu juga bahagia," ucap Zoya tulus, mendoakan Zada balik. Zada tersenyum senang. "Aku bahagia saat melihat kamu bahagia," jawabnya menatap Zoya lekat.


Zoya memalingkan muka. "Wajar dong. Yang nggak wajar tuh, lihat orang bahagia malah sedih. Dia harus ke psikolog," semprot Zoya jengah. "Aku harus kerja lagi, Mas. Jadi, kalau kamu mau mengobrol, kamu bisa ajak Reni,"


Setelah itu, Zoya kembali ke ruangannya untuk mengambil tas. Tidak berapa lama, Zoya kembali dan masih melihat Zada di tempat semula. Tanpa memedulikan lagi, Zoya keluar dari toko roti, membawa motornya menuju toko bunganya.


.......................................


Zada menghela nafasnya saat melihat Zoya meninggalkan dirinya begitu saja. Zada sadar, bahwa kesalahannya mungkin tidak termaafkan lagi. Tapi, bukankah Zada berhak berubah menjadi lebih baik lagi? Zada ingin masalalunya dijadikan pelajaran di masa kini dan masa depan.


Dengan langkah gontai, Zada keluar dari toko roti menuju mobilnya terparkir. Dia memutar setir menuju kafe terdekat. Hari masih menunjukkan pukul sepuluh tepat dan itu tidak terlalu buruk untuk menikmati kopi di pagi menjelang siang itu.


Hanya butuh waktu sepuluh menit, Zada sampai di kafe. Dia masuk dan memesan kopi favoritnya. Setelah itu, di memilih duduk di pinggir dinding kaca untuk melihat pemandangan jalanan yang sedikit basah karena sisa hujan semalam.


Cuaca saat ini menjadi tidak menentu. Padahal bulan ini harusnya sudah masuk musim kemarau. Tapi lihatlah, langit mendung seakan menaungi bumi walau tanpa hujan.

__ADS_1


"Ini pesanan kopinya, Tuan," ucap waiters yang berhasil membuyarkan lamunan Zada. "Terima kasih, Mas," jawabnya tersenyum ramah. Setelah waiters menghilang, Zada mulai menyesap kopinya.


Saat Zada ingin kembali dalam lamunan, ekor matanya menangkap sosok yang sangat dia kenali. Zada memperhatikan dengan seksama bahwa dia tidak salah lihat.


Ghaida, dia datang bersama laki-laki yang tidak Zada kenali. Setelah itu, ada anak laki-laki usia enam tahunan yang berlari mendekati keduanya. Zada mengernyit. 'Apa itu anak Ghaida?' batinnya bertanya.


"Mama ... Aku mau es krim, Ma," rengek anak kecil itu yang masih terdengar oleh Zada walau samar. "Beli sama, Om ya?"


Zada hanya memperhatikan interaksi mereka tanpa berminat menyapa. Baginya, urusan dengan Ghaida sudah selesai sejak tujuh tahun yang lalu.


Karena kejadian tujuh tahun yang lalu, Zada dibukakan mata hatinya bahwa perbuatannya sudah salah. Dan sekarang, Zada hidup dalam penyesalan yang terdalam. Itu mungkin sudah menjadi konsekuensinya. Zada akan menerima apapun balas dendam semesta untuknya.


Zada kembali menatap jalanan untuk sekedar melamun. Namun, lamunannya lagi-lagi buyar karena sapaan lembut dari seorang wanita. "Mas Zada?"


"Mas, mumpung kita ketemu disini, bisa aku minta waktu Mas Zada sebentar?" tanya Ghaida tampak serius. Zada menatap Ghaida, tampak berpikir sebelum mengiyakan. "Sebentar saja, Mas. Aku hanya ingin meminta maaf denganmu karena sudah menghancurkan rumah tangga mas Zada dan mbak Zoya. Jujur, aku menyesal dan selalu hidup dalam rasa bersalah," ucap Ghaida langsung mengutarakan isi hatinya tanpa menunggu jawaban Zada.


Akhirnya Zada mengangguk dan mempersilahkan Ghaida untuk duduk di hadapannya. Tidak berapa, pria yang tadi datang bersama Ghaida ikut bergabung setelah meminta izin terlebih dahulu. "Boleh saya bergabung?" tanyanya sopan. Zada mengangguk Zada agar urusannya dengan Ghaida cepat selesai.


"Mas, maafkan aku yang dulu. Aku salah ... Aku sudah mengancammu waktu itu," Ghaida tampak menghela nafasnya, seakan begitu berat untuk membuka luka dari orang-orang terdekatnya. "Aku sudah memaafkan semuanya. Itu bukan hanya salahmu, tapi salahku juga. Tugas kita yang sekarang adalah, mengambil pelajaran dari apa yang kita perbuat di masa lalu," jawab Zada sama sekali tidak masalah.


"Terima kasih, Mas. Mas Zada dan mbak Zoya memang orang baik," jawab Ghaida tersenyum haru. Zada mengangguk. "Maaf saya ikut menyela untuk menyampaikan sedikit yang saya ketahui dari Ghaida," ucap pria di sebelah Ghaida.


Ghaida tampak menggeleng agar laki-laki di sampingnya tidak perlu mengatakan apapun. "Mereka harus tahu, bahwa hidup kamu tidak pernah baik-baik saja," jawab sang Pria meyakinkan.


Zada hanya memperhatikan interaksi keduanya tanpa berminat mengeluarkan suara. "Selama tujuh tahun ini, Ghaida selalu hidup dalam penyesalan. Dia sama sekali tidak bahagia dengan merusak rumah tangga Anda dan istri Anda, dulu. Dan yang perlu mas ketahui, Ghaida pernah depresi hingga anaknya terlantar. Beruntung, ada orang-orang terdekat yang mau merawat Yusuf, anak Ghaida. Mungkin bisa dikatakan, hidup Ghaida benar-benar hancur. Walau saya tahu, hidup mantan istri, Mas tak kalah hancur," ucap pria tersebut menjeda kalimatnya.

__ADS_1


"Saya hanya tidak rela jika Ghaida dicaci dan maki oleh seluruh dunia. Dia sudah berubah dan berhak bahagia. Dan saya tidak suka bila orang-orang sering mengaitkan kepribadian Ghaida yang dulu dengan kerudungnya. Kerudung dan sikap si pemakai itu dua hal yang berbeda. Anda pasti sudah paham akan kewajiban memakai kerudung bukan?"


Tanpa sadar, Zada mengangguk membenarkan. Kerudung dan sikap si pemakai memang dua hal yang berbeda. Memakai kerudung adalah sebuah kewajiban tanpa harus menunggu menjadi pribadi yang lebih baik terlebih dahulu. Entah bagaimana sikap seorang wanita, dia berkewajiban memakai kerudung.


Tanpa di sadari, Zoya tengah berdiri tidak jauh dari mereka dan mendengar semua percakapan. Zoya sudah sejak tadi berada di kafe tersebut namun saat kopinya sudah habis, dia ke toilet sebentar untuk membenarkan kerudungnya.


Zoya merasa tersentil. Ada rasa bersalah di sudut hatinya. Dia ingat bahwa dirinya pernah mengaitkan sikap dan kerudung yang Ghaida kenakan. "Maafkan aku, Ya Allah ...." sesal Zoya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa dukungannya ya readerskuh tercintah😍😘


dengan cara, like, komen, vote, dan kasih hadiah semampu kalian😘


buat yang sudah memberi hadiah dan vote, terima kasih banyak.


buat yang sudah kasih like dan komen, aku suka banget bacanya.


berasa baca pesan dari doi😘😍😅


lope sekebon untuk kalian semua😍


yuk, mampir ke karya temanku juga🤩


__ADS_1


__ADS_2