Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 78. Extra Chapter


__ADS_3

Malam semakin larut namun, tidak membuat Ghaida bisa tertidur. Saat ini Ghaida sedang berada di balkon untuk menikmati udara malam yang dingin. Bintang tampak bertabur menghias dinding langit ditemani sang rembulan yang menampakkan wajah penuhnya.


Kepala Ghaida menoleh ke samping kiri dimana kamar utama, lebih tepatnya kamar Adis dan Arumi berada. Ghaida reflek saja menoleh saat ekor matanya menangkap pergerakan dari sana. Dan benar saja, suaminya sedang tersenyum ke arahnya, seakan mengatakan bahwa dirinya sudah lama disana.


Ghaida balas tersenyum namun, reaksi Adis malah sebaliknya. Tanpa sepatah kata, Adis masuk ke dalam begitu saja. Ghaida hanya bisa menatap heran. "Apa ada yang salah dari senyumku? Apakah aku semenyeramkan itu?" gumam Ghaida merasa kecewa.


Ghaida kembali fokus pada pemandangan di depannya. Helaan nafas kasar berhasil keluar dari mulutnya. Bisakah aku keluar dari kepelikan hidup? Bisakah aku merebut kembali hati Mas Adis? Beberapa pertanyaan muncul di kepala.


Namun, lamunan Ghaida tiba-tiba tersentak saat ada tangan kokoh yang memeluknya dari belakang. Ghaida bisa merasakan punggungnya menghangat seiring pelukan itu semakin rapat.


Ghaida terpaku saat merasakan hembusan nafas yang menampar pipinya. "Mas?" panggil Ghaida. Bukan, dia tidak memanggil sebenernya. Dia hanya ingin memastikan bahwa seseorang yang saat ini sedang memeluknya adalah Adis.


"Hm." jawabnya hanya bergumam namun, mampu membuat bibir Ghaida mengulas senyum. Ghaida membiarkan posisinya tetap seperti itu. Dia ingin menikmati pelukan yang sudah lama sekali tidak dia rasakan. Dan jika boleh jujur, Ghaida sangat merindukan itu.


Cukup lama keduanya terdiam hingga suara Adis yang lebih dulu memecahkan keheningan. "Kamu kok belum tidur?" tanya Adis yang bergerak untuk melepas pelukan. Sesaat Ghaida merasa kehilangan namun, telapak tangannya tiba-tiba merasakan sentuhan hingga sentuhan itu berubah menjadi genggaman.


Ghaida berbalik. "Aku nggak bisa tidur," jawabnya jujur. Ya, Ghaida memang sejak tadi tidak bisa tertidur. Mungkin karena efek kopi yang dia minum tadi sore hingga membuat kantuknya hilang.


"Kenapa? Dingin ya?" tanya Adis sambil mengulas senyum yang mendapat gelengan dari Ghaida. "Nggak kok. Kan aku sudah biasa tidur sendiri," jawab Ghaida lagi yang berhasil membuat senyum di bibir Adis luntur.


Ghaida segera menyambung kalimatnya ketika sadar riak wajah suaminya berubah. "Aku tadi sore minum kopi. Sepertinya, efek kopi itu sedang bekerja," sambil mengulas senyum manisnya.


"Kita masuk ya? Semakin malam, semakin dingin disini," ajak Adis lalu menuntun Ghaida untuk masuk. "Iya, Mas." Setelah itu, Ghaida ikut masuk serta menutup pintu rapat dan menguncinya. Tanpa Ghaida sadari, pergerakannya sejak tadi sedang di perhatikan oleh Adis. Saat dirinya berbalik, Ghaida menatap Adis penuh tanda tanya karena suaminya sedang menatapnya tak berkedip.


"Kenapa, Mas?" tanya Ghaida pada akhirnya dan berjalan mendekati suaminya. Adis masih bergeming hingga membuat Ghaida mendekati suaminya dan menggerakkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan tepat di depan wajah Adis.

__ADS_1


"Mas!" sentak Ghaida sedikit meninggikan suaranya agar Adis mendengarnya. Terbukti, Adis gelagapan dan memalingkan muka. "Kamu kenapa, Mas?" tanya Ghaida semakin keheranan.


Adis menatap wajah Ghaida yang masih terbingkai kerudung bergonya. "Gaun tidur kamu ... Terawang ...." Setelah mengucapkan itu, Adis bergegas keluar kamar. Ghaida mengerjap bingung lalu ketika sadar, dia memeriksanya dengan segera.


Menurut Ghaida, baju yang dia kenakan tidak menampakkan auratnya. Tapi kenapa suaminya mengatakan gaunnya menerawang? Ghaida menepuk jidatnya saat sadar. Memang, kain yang digunakan untuk membuat bajunya menggunakan bahan rayon yang tipis dan adem.


Dan Ghaida lupa bahwa, bajunya akan terlihat menerawang ketika ada cahaya terang yang menyorot ke arahnya. Tadi, di balkon memang terdapat lampu yang lumayan terang.


Ghaida menutup wajahnya sendiri karena malu dan segera berbaring di kasur. Bisa-bisanya Ghaida lupa itu. Bisa-bisa, Ghaida dikira sedang menggoda suaminya. Ghaida merutuki kebodohannya sendiri. Apa yang bisa Ghaida harapkan memangnya? Huh!


................


Pagi harinya, Ghaida terbangun pukul lima pagi. Padahal, baru empat jam Ghaida tertidur dan harus kembali bangun karena hari telah berganti. Dia harus melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.


Ghaida tersenyum saat melihat Yusuf sudah memakai sarung dan baju kokonya. "Yusuf mau sholat berjamaah sama mama?" tanya Ghaida penuh binar di matanya.


Yusuf tersenyum dan masuk lebih dalam lagi. "Boleh kan, Ma?" tanya Yusuf dengan wajah polosnya. Ghaids terkekeh. "Boleh dong. Masa nggak boleh sih. Kamu jadi imam, mama jadi makmum ya?" ucap Ghaida yang segera mendapat anggukan dari Yusuf.


Kemudian, keduanya segera melaksanakan sholat berjamaah dengan khusyuk.


Di kamar lain, tepatnya di kamar Adis, dia juga sedang melaksanakan sholat subuh sendiri. Lagi-lagi Arumi masih saja tertidur walau Adis sudah berusaha untuk membangunkannya. Mungkin, lain kali Adis akan berusaha lagi. Sekarang, biarlah dirinya sholat sendirian.


Setelah Ghaida dan Yusuf selesai sholat, Yusuf pamit untuk bersiap. Sedang Ghaida, dia memilih untuk mengecek ponselnya barangkali ada lowongan pekerjaan yang mau menerima dirinya. Apapun itu, Ghaida akan menerimanya.


Ghaida bosan bila hanya di rumah. Apalagi sekarang, dia harus selalu terbakar api cemburu karena suami dan istri barunya itu. Ghaida juga berpikir bahwa, dia tidak boleh bergantung kepada Adis secara berlebihan. Mulai sekarang, Ghaida ingin menjadi wanita mandiri.

__ADS_1


Dia melihat banyaknya postingan lowongan kerja di sosial media. Tapi, ada satu yang menarik minatnya, yaitu menjadi Kasir di toko bunga. Tanpa melihat dimana, Ghaida segera mencatat nomor HP yang tertera untuk dirinya hubungi nanti setelah sarapan.


"Apa sekarang saja ya? Ya sudah, sekarang saja. Lebih cepat lebih baik," ucap Ghaida menimbang-nimbang. Dia mengirimkan CV lamaran kerja yang sudah dirinya buat jauh-jauh hari dan tinggal dirinya salin.


Untungnya, dia punya aplikasi untuk menulis di ponsel. Sehingga, itu lebih memudahkan dirinya yang tidak mempunyai laptop atau komputer.


"Bismillahirrahmanirrahim. Semoga bisa diterima. Nanti, baru aku bicara sama mas Adis sambil sarapan," ucap Ghaida mengukuhkan niat. Ya, Ghaida memang belum berdiskusi masalah dirinya ingin bekerja.


Tapi Ghaida yakin, Adis tidak akan menghalanginya selagi dirinya masih bisa mengurus keluarganya. Dia segera turun ke lantai bawah untuk membuat sarapan. Saat dirinya sedang menuruni anak tangga, Ghaida bisa melihat Adis dan ... Anaknya sedang berbincang.


Ghaida memelankan langkah untuk bisa mencuri dengar walau sedikit. Pasalnya, akhir-akhir ini Adis sudah jarang mengajak Yusuf untuk berbincang. Dan pemandangan seperti itu, membuat sudut di hatinya menghangat.


"Selamat pagi dunia!"


Suara itu benar-benar menganggu semua yang sedang terjadi. Arumi, dengan tingkah konyolnya lagi-lagi merusak pagi semuanya. Ghaida sampai menutup telinganya karena suara itu hampir saja membuat gendang telinganya pecah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...hai hai. ....


...nanti kalau masih ada Zoya dan kawan-kawan di chapter ini nggak papa ya ... ...


...kan nggak mungkin ghaida hidup sendiri terus wkwk...


...jangan kasih kendor 🤭😂...

__ADS_1


__ADS_2