
Beberapa bulan kemudian.
Ghaida terburu-buru menuju rumah sakit dimana Arumi melahirkan. Setelah mendapat telepon dari suaminya yang mengabarkan tentang Arumi yang mengalami kontraksi, Ghaida segera menelepon Zoya untuk meminta izin kerja setengah hari.
Setelah orang yang ditugaskan untuk mengantikan Ghaida datang, Ghaida segera memesan ojek online menuju rumah sakit. Sengaja Ghaida memilih ojek karena di jam makan siang seperti ini, pasti banyak kendaraan berlalu-lalang hingga menimbulkan kemacetan.
Butuh waktu setengah jam, Ghaida sampai di lobi rumah sakit. Setelah membayar tagihan, Ghaida bergegas memasuki ruangan tempat Arumi akan bersalin. Saat perjalanan menuju ruangan, Ghaida melupakan sesuatu hingga membuat gerakan menepuk jidat. "Aku sampai lupa Arumi butuh apa. Harusnya, tadi aku tanya dulu," monolog Ghaida yang sempat menghentikan langkah.
"Ya sudahlah. Aku temui Arumi dan mas Adis dulu kalau begitu," monolog Ghaida kemudian melanjutkan perjalanannya. Ghaida sudah tahu dimana Arumi akan bersalin, tentunya atas informasi dari suaminya.
Akhirnya Ghaida tiba di depan ruangan. Ghaida melongok sedikit dari kaca kecil yang terletak pada pintu dan mendapati Arumi juga Adis ada di dalamnya. Ghaida membuka pintu pelan dan mengucap salam. "Assalamualaikum." sapa Ghaida tersenyum.
"Waalaikumsalam." jawab Adis dan Arumi hampir bersamaan. "Kamu sudah sampai?" tanya Adis basa-basi. Ghaida menjawabnya dengan anggukan kemudian, tatapnya beralih pada Arumi yang saat ini sedang meringis menahan kontraksi yang sekejab datang, sekejab hilang, kemudian datang lagi.
"Kamu kuat. Kamu pasti bisa, Rum," ucap Ghaida menyemangati dengan jemarinya yang bergerak untuk menautkannya dengan Arumi. "Rasanya sakit sekali, Mbak," rintih Arumi dengan mata terpejam.
"Iya, aku tahu. Istighfar lebih banyak lagi, sebut nama Allah agar dipermudah proses bersalinnya," jawab Ghaida tak henti-hentinya menyemangati. Adis sejak tadi sudah sangat panik hingga isi kepalanya mendadak blank.
"Aku harus bagaimana, Da? Ini adalah pengalaman pertamaku. Sebelumnya, aku belum pernah ada di situasi seperti ini," tanya Adis dengan wajah nelangsanya.
Ghaida terkekeh. "Wajar kok kalau Mas Adis masih bingung. Mas Adis hanya perlu menemani Arumi sampai selesai bersalin. Doakan, semoga semua berjalan lancar dan kondisi Arumi juga anaknya sehat," ujar Ghaida menenangkan.
__ADS_1
Arumi dan Adis tampak mendengarkan dengan baik perkataan Ghaida tanpa ingin melewatkan satu katapun. "Satu lagi, aku punya doa supaya kamu bisa dimudahkan dalam proses melahirkan," ucap Ghaida lagi yang membuat Arumi kembali berbinar setelah sesaat meringis menahan nyeri.
"Oh ya? Apa Mbak? Tolong kasih ke aku juga dong," jawab Arumi antusias. Ghaida mengangguk dengan senyum mengembang. "Tentu. Kamu harus hapalkan doa ini," Kemudian, Ghaida mengeluarkan ponselnya dan mengirim doa tersebut ke nomor Arumi.
"Hanna waladat maryam wa maryamu waladat 'iisaa, ukhruj ayyuhal mauluud, biqudratil malikil ma'buud."
"Begitulah doanya. Sebenarnya, masih ada banyak doa yang dianjurkan oleh agama kita. Hanya saja, ini doa yang mudah dan pendek disaat kondisi tergenting. Pokoknya, jangan pernah putus berdoa," sambung Ghaida.
"Aku sudah kirim ke nomor kamu. Kamu bisa baca sekarang. Oh iya, sudah pembukaan yang ke berapa?" tanya Ghaida sampai lupa menanyakan hal yang begitu penting.
"Baiklah, Mbak. Terima kasih ya? Aku sudah pembukaan empat, Mbak. Makanya sekarang kontraksinya lebih sering dari pembukaan satu," jawab Arumi kemudian fokus pada ponselnya dimana disana, ada doa yang baru saja Ghaida kirimkan.
Ghaida memperhatikan riak wajah Arumi yang kini sedang meringis. Ghaida seperti ikut merasakan apa yang sedang Arumi rasakan. Bagaimanapun, Ghaida pernah ada di posisi tersebut tanpa ada suami yang menemani. Kondisi dirinya begitu menyedihkan dulu. Jangankan suami, sanak-saudara saja tidak ada.
"Sakit banget ya, Sayang? Tarik napas dulu ya ... Buang," ucap Adis menenangkan sang istri. Ghaida tersenyum getir. 'Bolehkah aku merasa iri?' batin Ghaida bertanya.
Mata Ghaida tidak pernah lepas menatap interaksi Adis dan Arumi. Arumi yang merintih kesakitan, Adis yang berusaha menenangkan. Hal itu berputar terus-menerus di kepala Ghaida dan terekam dengan jelas.
Ghaida menghela napasnya setelah melihat Arumi sudah bersikap biasa kembali. "Kamu mau dibelikan teh hangat? Atau camilan? Aku mau ke bawah sebentar untuk menjemput Yusuf di lobi. Mau sekalian nggak?" tawar Ghaida pada Arumi.
"Nggak papa kalau aku minta tolong, Mbak? Soalnya aku lagi pengen minum teh anget manis. Kalau Mbak Ghaida nggak keberatan, aku mau dibelikan," ucap Arumi sedikit sungkan. Ghaida terkekeh. "Kan tadi sudah aku tawari. Jadi, kalau memang kamu butuh sesuatu, aku akan belikan sekalian," jawab Ghaida kemudian berpamitan menuju bawah.
__ADS_1
Sepanjang perjalan di lorong rumah sakit, entah mengapa bayangan Arumi yang merintih dan Adis yang bergerak menenangkan begitu mengganggu pikirannya. Mungkinkah Ghaida merasa cemburu dengan Arumi? Jujur, Ghaida begitu iri dengan kisah hidup Arumi yang seakan berjalan begitu mulus.
Dilahirkan dari keluarga kaya, menikah dengan suami seperti Adis, dan dikaruniai anak dengan cepat. Sangat berbeda dengan kondisi dirinya yang serba tak sempurna.
Sampai detik ini, Ghaida masih berharap akan hamil anak dari Adis. Tapi, mungkin Allah berkehendak lain sehingga belum memberikan kepercayaan itu padanya.
Lamunan Ghaida buyar ketika tak terasa, kakinya sudah sampai di depan lift. Sambil menunggu pintu terbuka, Ghaida kembali melamun.
"Astaghfirullah. Maafkan aku yang tidak bersyukur ini Ya Allah," sesal Ghaida mengingat nama Tuhannya. Pintu lift terbuka, Ghaida mempersilahkan orang-orang yang berada dalam lift untuk keluar. Setelah kosong, Ghaida masuk dan menekan tombol 1.
Setelah sampai di bawah, Ghaida berjalan menuju parkiran dimana ibunya sudah menunggu bersama Yusuf. Dari kejauhan, Ghaida bisa melihat bu Jubaedah dan Yusuf melambaikan tangan padanya. Ghaida tersenyum dan balas melambaikan tangan.
Melihat senyum dan tawa Yusuf dari kejauhan, membuat hati Ghaida langsung menghangat setelah sebelumnya merasakan kegalauan. Yusuf adalah poros hidupnya saat ini. Ghaida yakin, disaat semua orang pergi meninggalkannya, Yusuflah satu-satunya orang yang akan tetap bersamanya dan merangkul Ghaida melewati hari-hari beratnya. "Aku bangga punya anak seperti kamu, Yusuf,"
........................
jangan lupa kasih like, komen, vote, dan hadiah semampu kalian ya😍
aku mau mengucapkan terima kasih untuk kalian yang masih setia ada disini☺️
semoga kalian diberi kesehatan dan rezeki yang lancar. terima kasih ya😍
__ADS_1
oh ya, mampir juga ke karyaku yang baru judulnya DEAR, PAK BOSS🙃
masih anget loh...😋