Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 61. Husnudzon


__ADS_3

Saat ini Zoya dan Zaky sedang berada di dalam kamar. Malam sudah semakin larut namun, dua manusia itu baru saja menyelesaikan salat witirnya. Zoya langsung mencium punggung tangan suaminya dan Zaky tersenyum ketika mendapat sentuhan lembut di punggung tangannya.


"Apa kita mau langsung tidur?" tanya Zaky dengan senyum yang ... Entahlah. Zoya mengulum senyumnya. "Enggak dong. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan ke kamu, Mas. Habisnya, kamu ninggal aku gitu aja," jawab Zoya sambil memberenggut kesal.


Zaky terkekeh dan tangannya meraba-raba sekitar sebagai pegangan. Zoya sigap memegangi tangan Zaky untuk menuntunnya menuju ranjang. "Kita ngobrol di ranjang saja sambil rebahan," ucap Zaky yang rautnya tiba-tiba murung.


Zoya mengernyit. Bukankah suaminya itu baru saja mengulas senyumnya? Lalu kenapa senyum itu berubah dengan begitu cepat? Setelah keduanya merebahkan diri dengan Zoya berbantal di lengan kekar Zaky, Zoya menatap wajah suaminya yang terlihat mendung.


"Kenapa cemberut, Mas? Tadi perasaan mas Zaky senyum," tanya Zoya mendongak. Zaky menghembuskan nafasnya kasar. "Aku kaya ... Nggak berguna banget jadi suami,"


"Mas! Kenapa harus mengatakan itu lagi sih?" sela Zoya merasa kesal karena suaminya entah sudah keberapa kali mengucapkan itu. "Itu kenyataannya, Zoya. Hidupku terlalu bergantung pada tongkat dan — "


"Cukup, Mas! Jangan katakan itu lagi aku mohon ... Mas Zaky pasti bisa melewati ini semua. Jangan pernah berpikir seperti itu karena ini semua adalah cobaan, Mas. Husnuzdon ya, Mas," ucap Zoya melembut.


Mata Zaky berkaca-kaca hingga membuat bibir Zoya melengkung ke bawah, ingin menangis. "Aku nggak tahu sampai kapan ini terjadi," ucap Zaky yang mulai mengutarakan kegundahan hatinya.


"Percaya, Mas. Entah cepat atau lambat, semua pasti akan terlewati. Tugas kita hanya perlu berdoa dan berusaha. Masalah hasil, itu bonus dari Allah, Mas," ucap Zoya menenangkan.


Zaky justru semakin terisak dan memeluk tubuh Zoya semakin erat. "MasyaAllah, Zoya ... Aku beruntung mempunyai istri sepertimu. Terima kasih ya Allah ...."


Zoya membalas pelukan suaminya dan semakin menenggelamkan wajahnya pada dada bidang milik Zaky. Zoya bisa mendapatkan kenyamanannya kembali ketika Zaky memeluknya. Beban yang ada dalam pikirannya seakan menguar seiring dengan pelukan suaminya yang menenangkan.


Setelah cukup lama saling menangis, Zoya mengusap wajah basah suaminya dengan jemari lentiknya. "Ana uhibbuka fillah, Mas Zaky," ucap Zoya yang langsung membuat senyum Zaky kembali terbit.


"Ahabbaka-lladzii ahbabtanii lahu, ya Zawjati,"

__ADS_1


Cup. Cup. Cup.


Zoya mengecup pipi kanan dan kiri suaminya kemudian berakhir di bibir dan menekannya cukup lama. Setelah ciuman terlepas, Zaky tersenyum senang. "Boleh aku meminta jatahku malam ini? Aku sudah berpuasa selama sembilan bulan lamanya," ucap Zaky dengan wajah memelasnya.


Zoya terkekeh pelan mendengarnya. Dan malam yang panas di kala hujan malam hari tidak dapat dihindari lagi seakan tidak ada lagi esok hari untuk keduanya saling memadu kasih.


................


Tok. Tok. Tok.


Ketukan pintu itu membuat Zada berjalan mendekati pintu untuk membukanya. Ibunya itu pasti tahu apa yang sedang dirinya rasakan. Walau Zada tidak bercerita, mamanya itu bisa membaca bahasa kalbu.


Ceklek.


Bu Maya melotot. "Bagaimana mama bisa tidur kalau mama teringat kamu terus. Mama nggak bisa bayangin kalau sampai mag kamu kumat lagi. Kamu nggak ingat kata dokter waktu itu," ucap bu Maya mulai berceramah panjang lebar.


"Iya, iya, Ma. Aku tidur kali ini. Mama juga tidur biar nanti pas aku sakit ada yang jaga," ucap Zada yang berhasil mendapatkan sentilan di keningnya dari bu Maya. "Ngomong tuh, yang bener. Jangan sembarang bicara. Mama mau kamu tetap sehat," Bu Maya seperti ingin menangis karena begitu kesal dengan Zada yang telah sembarang bicara.


"Eh! Kok mama malah nangis. Jangan nangis, Ma. Zada cuma bercanda ... Maafkan Zada ya, Ma," Zada begitu merasa bersalah karana mamanya malah tersedu-sedu akibat ucapannya.


"Lupakan Zoya ... Dia sudah bahagia. Carilah kebahagiaanmu sendiri. Selama ini kamu sudah menebus semua kesalahanmu, Da. Kamu berhak untuk bahagia," nasihat Bu Maya lalu menepuk pundak Zada dan berlalu dari hadapan Zada.


Zada menatap kepergian mamanya dan tersenyum sendu. "Aku tidak mungkin bisa melupakan seorang wanita sesempurna Zoya, Ma. Bahkan, aku rela menukar apapun demi kebahagiaannya," gumam Zada lalu masuk ke dalam kamarnya lagi.


Saat baru saja menutup pintu, tiba-tiba perutnya terasa perih. Zada ingat bahwa dia belum makan siang dan makan malam. Tapi, Zada seperti kehilangan selera makannya. Dia sibuk memikirkan bagaimana sikap yang harus dirinya tunjukkan dihadapan Zaky dan Zoya nanti.

__ADS_1


Cepat atau lambat, dirinya harus bertemu sepasang suami istri itu.


.................


Pagi kembali tiba untuk menyambut para manusia yang tinggal di bumi. Zada sudah terbangun sejak tadi subuh namun terpaksa harus berbaring lagi saat kepalanya terasa berputar. Apalagi di tambah perutnya yang terasa bergejolak.


Zada menyeret langkahnya untuk bisa mencapai nakas dimana kotak obat berada. Hanya tersisa dua butir pil pereda mag di kotak obat tersebut. Zada menelan satu namun sebelum itu, dia mengunyahnya terlebih dahulu.


Aroma mint sedikit membuat perutnya yang bergejolak mereda dan kepalanya yang berat lumayan ringan hingga dia berhasil menyeret langkahnya menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, Zada menuruni anak tangga untuk sarapan bersama keluarganya. Dia harus makan walau tidak berselera atau tubuhnya akan semakin lemah karena serangan mag sudah menjangkit lagi.


Ya, Zada tahu bahwa mag,nya telah kambuh lagi. Mungkin, Makan satu atau dua potong roti bisa meredakan perih di ulu hatinya. Karena untuk menelan nasi sepertinya tidak memungkinkan.


"Zada, wajah kamu pucat sekali? Mag kamu pasti kambuh lagi kan?" cecar Bu Khadijah dengan mata memicing. Zada menyengir kuda. "Dikit, Ma. Tapi aku udah minum obat kok, paling bentar lagi reda," jawab Zada dengan entengnya.


"Nggak usah ke kantor dulu kalau gitu. Papa nggak akan izinkan kamu ke kantor. Istirahat dulu ya?" ucap pak Rama khawatir. Zada menggeleng. "Aku nggak papa kok, Pa. Biasa kalau kurang makan nasi jadi begini," jawab Zada yang justru telah salah bicara karwna bu Maya saat ini sedang menatapnya dengan tajam dan mengintimidasi.


"Kan benar ... Kamu semalam nggak makan dan tidur sampai larut pasti kan? Mama kan udah bilang ... Move on Zada ... Move on!" kesal bu Maya dan mendudukkan dirinya di kursi untuk meredakan amarahnya.


"Istighfar, Ma. Tenang dulu," ucap pak Rama menenangkan istrinya. Zada menunduk merasa bersalah karena telah membuat ibunya terbebani. "Iya, Ma. Zada sedang berusaha kok saat ini," jawab Zada yang tentunya hanya untuk menenangkan ibunya.


...****************...


jangan lupa like komennya ya😍

__ADS_1


__ADS_2