
Setelah tangisnya mereda, Zoya menyadarkan dirinya bahwa ini tidak benar. Dirinya dan Zada sudah bercerai. "Berdiri, Mas. Jangan seperti itu padaku," ucap Zoya dingin dan datar.
Zada menghela nafasnya panjang dan tidak punya pilihan selain beranjak karena kaki Zoya sudah bergerak, berusaha untuk melepaskan diri. "Zoya, maafkan aku. Tolong maafkan aku," lirih Zada menunduk.
Zoya menelisik wajah Zada untuk mencari tahu apakah Zada benar-benar tulus mengatakannya. Dan Zoya menemukan ketulusan dan penyesalan di raut wajah Zada. Zoya menghela nafasnya lelah. "Aku sudah memaafkan mu tapi, aku berharap kamu tidak akan lagi menampakkan diri di hadapanku," ucap Zoya lalu memalingkan wajahnya.
"Tapi kenapa, Zoya? Beri aku alasan," ucap Zada meminta penjelasan. Zoya mendengus sebal. "Bukankah kamu menikahi Ghaida juga tanpa menjelaskan terlebih dahulu padaku? Jadi, aku tidak perlu mencari alasan mengapa aku tidak mau melihat kamu lagi, kan?" Zoya berucap dengan wajah datarnya.
"Baiklah, Zoya. Jika itu kemauanmu," jawab Zada menatap Zoya dengan tatapan yang tak terbaca. "Pergilah, Mas. Jangan terlalu lama disini," usir Zoya secara halus. "Aku akan pergi setelah aku melihat makam anak kita. Tolong tunjukkan padaku," Zada memohon lagi pada Zoya agar memberitahukan dirinya dimana tempat peristirahatan terakhir anaknya.
"Dia anakku. Aku yang menjaganya, hanya aku yang berhak atas dia," Zoya berucap dengan tajam pada Zada. Zada menatap Zoya dengan tatapan memelasnya. "Tolong, Zoya ... Kasih tahu aku dimana makam anak kita? Aku ingin meminta maaf karena tidak bisa menjaganya dengan baik,"
Zoya berdecih mendengar ucapan Zada. "Sampai kapanpun, tidak akan aku beritahu. Lebih baik kamu pulang, Mas. Istri barumu pasti sedang menunggu,"
Zada terdiam dengan wajah menunduk. "Baiklah, aku pulang sekarang. Maaf karena sudah membuatmu terluka. Aku tahu permintaan maaf ku tidak mampu mengembalikan semuanya," ucap Zada yang lagi-lagi diabaikan oleh Zoya.
"Aku akan memberitahukan alasanku menikahi Ghaida dengan segera. Dan aku tidak apa-apa jika setelah ini, kamu juga akan sangat membenciku. Ini sudah saatnya aku mengungkap kebohonganku selama ini," Zoya hanya melirik sekilas dan enggan menjawabnya.
Dengan langkah gontai, Zada meninggalkan rumah Zoya. Setelah mengemudikan mobilnya, Zada tidak langsung pulang melainkan menyempatkan diri untuk duduk di sebuah taman.
Dia menyadari kesalahannya yang begitu banyak dan mungkin saja, tidak termaafkan. Demi menjaga nama baiknya, banyak sekali hati yang Zada korbankan. Zada mengusap wajahnya kasar agar otot-otot di wajahnya merenggang.
__ADS_1
"Apa ini waktunya aku mengungkap semuanya? Aku sudah membuat banyak hati terluka," monolog Zada berada di persimpangan jalan. Dia juga telah mengorbankan pernikahannya sendiri dan berujung melakukan perbuatan yang tidak terpuji.
Zada menengadah dan memejamkan matanya untuk mencari ketenangan barangkali disana dia bisa menemukan jawaban. Namun, yang datang justru bayangan-bayangan kebersamaanya bersama Zoya.
Zada menghembuskan nafasnya kasar. Wajah Ghaida juga muncul dalam pikiran Zada. Mata teduh dan menenggelamkan milik Ghaida benar-benar telah menyesatkan Zada.
"Ini saatnya aku menyerahkan diri," monolog Zada lagi setelah beberapa lama larut dalam pikirannya. Pikiran yang sedang mengalami peperangan antara ego dan nurani.
Zada berjalan menuju mobilnya dan membawa mobil itu menuju rumah orangtuanya. Sekitar tiga puluh menit, Zada telah sampai dan langsung mencari keberadaan Ghaida.
Tidak sulit menemukannya karena Ghaida sedang berada di ruang tengah dan duduk disana. "Ghaida, aku mau bicara penting dengan kamu," ucap Zada berwajah serius.
"Jangan disini. Ini tentang alasan aku menikahimu," Seketika wajah Ghaida berubah tegang, jantungnya berdegup lebih cepat dari biasanya. Apakah nasib Ghaida akan sama seperti nasib Zoya? Yang diceraikan oleh suaminya sendiri? Ghaida menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran negatifnya.
"Ikut aku!" titah Zada. Ghaida menurut dan mengekori Zada menuju mobil. Setelah berada di dalam mobil, Zada bergegas melakukan mobilnya menuju suatu tempat.
Tidak berapa lama, keduanya telah sampai di sebuah tempat seperti ... Gedung tua yang sudah tidak berpenghuni. Seketika Ghaida merasakan takut karena tempat di depannya merupakan tempat dirinya dijadikan budak sek*s oleh seseorang.
"Jangan takut. Kita hanya disini, tidak perlu masuk,"
Setelah Zada mengucapkan itu, barulah Ghaida sedikit lebih tenang. Zada menghela nafasnya sebelum berbicara. "Ini saatnya aku menyerahkan diri," ucap Zada yang berhasil membuat Ghaida menggeleng kuat. "Jangan, Mas. Lalu nasibku bagaimana?" Ghaida berucap dengan wajah penuh ketakutan.
__ADS_1
"Tidak ada yang akan terjadi padamu. Akulah yang bersalah disini," jawab Zada datar tanpa menatap lawan bicaranya. "Kita sudah terlalu jauh menjalani hubungan. Tidak seharusnya kita berbuat zina dan tidak seharusnya juga kamu menggodaku waktu itu. Oh maaf, itu bukan salahmu tapi, salahku karena tidak kuat iman,"
Ghaida terdiam dengan air mata yang mulai membasahi pipinya. "Dan kamu akan menceraikan aku?" tanya Ghaida parau. Zada mengangguk lemah. "Memang seperti itu perjanjiannya kan? Dan aku memilih untuk menyerahkan diri. Maafkan aku, Ghaida. Aku melakukan ini semua agar adil untuk Zoya. Walau aku terlambat melakukannya, itu lebih baik daripada tidak sama sekali,"
Ghaida menatap Zada dengan tatapan penuh luka. "Lalu bagaimana dengan rasa cinta yang mulai tumbuh di hatiku, Mas? Aku sudah jatuh cinta padamu ...." Ghaida semakin sesenggukan meratapi nasibnya yang semula melambung tinggi harus dihempaskan begitu saja ke dasar laut.
Zada sudah tidak terkejut lagi dengan pernyataan Ghaida. Zada juga mulai ada rasa nyaman saat bersama Ghaida. Namun, itu tidaklah benar karena tujuan awalnya bukan seperti itu. "Kamu pasti bisa melupakan aku," ucap Zada tanpa beban.
"Kamu jahat banget, Mas! Lalu, bagaimana dengan nasib anakku yang akan lahir tanpa ayah? Kamu sudah berjanji untuk bertanggung jawab, Mas!" Ghaida berucap dengan suara yang mulai meninggi.
"Aku akan bertanggung jawab. Maka dari itu, aku akan menyerahkan diriku," jawab Zada dengan tatapan kosongnya. Jalan hidupnya saat ini seperti tidak terarah. Zada seperti telah kehilangan poros hidupnya setelah menikah dengan Ghaida.
Sama seperti yang Zoya ucapkan, Zada merasa tidak mengenali dirinya lagi. Zada merasa rindu dengan dirinya yang dulu. Apa ini adalah balasan atas perbuatannya yang telah menyembunyikan kebohongan besar demi nama baik dan citra sendiri?
Maka dari itu, Allah mencabut semua kenikmatan hidup yang ada pada Zada. Hidup Zada telah berubah menjadi resah dan gelisah. Tidak ada lagi ketenangan yang dia rasakan seperti dulu. Zada ingin kembali ... kembali ke jalanNya dan memperbaiki diri. Walaupun setelah ini, akan ada hatu yang dia korbankan lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Maaf ya baru up karena habis di perjalanan.
jangan lupa kasih dukungan kalian dengan cara like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian😍😍
__ADS_1