Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 97. Extra chapter


__ADS_3

Arumi sudah pulang ke rumah setelah dua hari dirawat inap. Beruntungnya, Arumi bersalin secara normal sehingga, tidak membutuhkan waktu lama untuk memulihkannya. Seperti Sekarang ini, Arumi sudah berjalan santai layaknya bukan orang yang baru melahirkan.


Ghaida sampai kagum dengan Arumi yang terkesan tidak manja seperti sebelum melahirkan. Ya, Ghaida cukup tahu jika Arumi adalah orang yang manja. Tapi setelah melahirkan, Ghaida seperti tidak melihat sikap itu muncul lagi.


"Sini, biar aku yang gendong Yhara. Kamu kalau mau bersih-bersih, tinggal aja nggak papa," ucap Ghaida mengulurkan tangannya untuk menggendong Yhara. Ya, anak Arumi dan Adis merupakan anak perempuan yang diberi nama Yhara Ramadiya.


"Memangnya nggak papa, Mbak? Aku ngerepotin enggak?" tanya Arumi tidak enak hati. Ghaida mencebikkan bibirnya. "Kaya sama siapa saja kamu, Rum," ucap Ghaida geleng-geleng kepala. Arumi tersenyum kemudian menyerahkan Yhara ke gendongan Ghaida.


"Aku titip Yhara sebentar ya, Mbak. Aku nggak akan lama kok," ucap Arumi masih sungkan. Ghaida menghela napas pelan. "Lama juga nggak papa kok, Rum. Kamu juga butuh me time atau sekedar berendam di air hangat. Pasti, semua badan kamu pegal-pegal semua. Apalagi, sudah dua hari ini kamu begadang kan?" ucap Ghaida tersenyum hangat dan begitu memahami kondisi Arumi.


Arumi tersenyum haru. "Terima kasih ya, Mbak. Kalau begitu, aku mandi dulu," pamit Arumi kemudian meninggalkan Ghaida dan anaknya di ruang tengah.


Sepeninggalan Arumi, Ghaida menatap wajah mungil di depannya yang masih tertidur pulas seakan sama sekali tidak terganggu dengan aktivitas orang-orang di sekitarnya. "MasyaAllah, Yhara, kamu cantik banget si," ucap Ghaida merasa gemas.


Ghaida menggendong Yhara menuju teras depan untuk merasakan udara sore hari yang masih sedikit panas dengan angin sepoi-sepoi. Hal itu membuat suasana menjadi sejuk.

__ADS_1


Setelah berada di teras, Ghaida melihat mobil yang mengantar jemput Yusuf, memasuki pekarangan rumah. Tidak berapa, Yusuf keluar dari mobil dan berjalan menghampiri dengan senyum yang tidak pernah luntur. "Assalamualaikum, Ma, Yhara," ucap Yusuf sambil menyalami tangan Ghaida.


"Waalaikumsalam kakak Yusuf. Kakak Yusuf sudah pulang ya? " jawab Ghaida membahasakan Yhara untuk memanggil Yusuf dengan sebutan kakak. "Yhara? Kamu kokt tidur terus? Lalu, kapan mainnya?" tanya Yusuf sambil mengelus pipi bulat Yhara yang sejak tadi berhasil mencuri perhatiannya.


Ghaida terkekeh. "Ya belum waktunya dong, Kak. Nanti pas umur dua bulan ke atas, kamu bisa main sama Yhara kok. Jadi, kakak ysuuf sabar menanti Yhara ya?" ucap Ghaida seakan mewakilkan Yhara.


"Siap!"


"Ya sudah. Yusuf mandi dulu ya, Ma? Biar nanti bisa peluk sama cium Yhara," pamit Yusuf yang langsung mendapat anggukan dari Ghaida. Belum lama Yusuf masuk, kini berganti mobil suaminya yang memasuki pekarangan rumah. Ghaida tersenyum menyambut kepulangan sang Suami.


Ghaida tersenyum masam. "Iya, Mas. Selamat ya, cita-cita kamu akhirnya terwujud. Yaitu, ingin menjadi di panggil papa oleh anak kamu," ucap Ghaida berbesar hati. Adis mengangguk dengan senyuman merekahnya.


Ghaida yang melihat itu, merasa bahagia akhirnya, doa-doa suaminya terkabul. Ya, walaupun bukan dirinya yang melahirkan anak dari suaminya. Tapi, melihat kebahagiaan dan binar di mata suaminya, itu sudah cukup membuat Ghaida bahagia. Karena bahagia Adis, adalah bahagaianya juga.


"Kita masuk yuk! Udara makin dingin kalau sudah sore hari, kasihan Yhara," ucap Adis lembut sambil memegang bahu Ghaida lembut. Ghaida tersentak dari lamunan dan langsung menguasai dirinya lagi. "Iya, Mas."

__ADS_1


Sesampainya di dalam, Arumi sudah selesai mandi. Terbukti dari baju yang sudah berganti dan rambutnya yang terlihat masih sedikit basah. "Sudah selesai ya, Rum?" tanya Ghaida yang langsung mendapat anggukan dari empunya.


"Mas Adis sudah pulang? Mandi dulu deh, Mas. Kan habis dari luar. Kasihan Yhara nanti kalau ketransfer kumannya," ucap Arumi menasehati dengan lembut.


Adis tersenyum dan mengangguk membenarkan. "Benar juga. Kalau transfer duit si nggak apa-apa. Ini, malah transfer kuman ya?" kekeh Adis melucu. Ghaida geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan sikap Adis yang mulai pandai melucu.


Sepeninggalan Adis, Arumi kembali bersuara. "Kalau Mbak Ghaida mau mengurus bayi besar, Yharanya biar sama aku, Mbak," ucapa Arumi santai.


Ghaida melongo mendengar ucapan Arumi hingga tidak sadar jika Yhara saat ini sudah berpindah di gendongan Arumi. "Maksud kamu apa, Rum?" tanya Ghaida setelah cukup lama berpikir dan tidak menemukan jawaban apapun.


Arumi terkekeh melihat wajah Ghaida yang kebingungan. "Kan mas Adis adalah bayi besar yang harus selalu Mbak Ghaida urus. Mbak Ghaida nggak mau menyiapkan baju untuk mas Adis seperti biasa?" tanya Arumi yang akhirnya membuat Ghaida paham.


Ghaida ber-oh-ria. "Aku kira bayi besarnya Yusuf. Memangnya, kamu nggak mau siapkan baju ganti untuk mas Adis?" tanya Ghaida hati-hati. Arumi menggeleng yakin. "Nggak. Aku nggak seteliti Mbak Ghaida kalau soal memilihkan baju. Mbak Ghaida tetap nomor satu," ucap Arumi tulus.


Ghaida magut-magut- tanda paham. "Ya sudah. Aku tinggal ke atas dulu ya?" ucap Ghaida pada akhirnya. Arumi mengangguk dan tersenyum menatap kepergian Ghaida.

__ADS_1


"Kamu berhak mendapatkannya, Mbak," ucapnya pelan dengan tatapan sendu menatap punggung Ghaida yang mulai menjauh.


__ADS_2