
Ini adalah hari ketiga setelah Zaky berhasil mendapatkan donor mata dari Zada. Zaky masih dirawat di rumah sakit dan rencananya, mata Zaky akan dibuka setelah dua minggu operasi dilaksakan.
Doa-doa baik tidak pernah terputus untuk Zoya panjatkan pada Yang Maha Kuasa agar operasi Zaky berhasil. Seperti biasa, setelah bermain dengan Arka, Zoya akan datang ke rumah sakit untuk menemui suaminya.
Walau masih dalam suasana berkabung, Zoya tetap harus menjalani hidup sebagaimana mestinya. Suaminya sama sekali belum mengetahui tentang meninggalnya Zada dan Zada lah yang telah mendonorkan matanya.
Cepat atau lambat, Zaky harus tahu walau mungkin hal ini akan membuat Zaky kecewa atau bahkan marah karena menjadi pihak yang telah bohongi. Walau setelahnya, Zaky pasti akan sangat berterimakasih dengan Zada.
Zoya turun dari mobil taksi yang mengantarnya sampai lobi rumah sakit. Dia berjalan di lorong rumah sakit untuk menuju ruangan Zaky. Namun, langkah Zoya harus terhenti saat melihat Ghaida dan Yusuf sedang berjemur di bawah terik matahari pagi.
"Apa Yusuf belum sembuh ya?" gumam Zoya pada dirinya sendiri. Zoya berniat untuk menghampiri dan sudah melangkah sejauh lima kaki namun, langkahnya terpaksa terhenti karena melihat kehadiran orang lain disana.
Ada satu pria dan satu wanita yang sedang menggandeng lengan sang pria, mesra. Zoya mengernyit heran. "Bukankah itu pria yang bersama Ghaida dulu ya? Lalu, siapa wanita yang bersamanya?" gumam Zoya bertanya-tanya.
Zoya masih setia menatap interaksi Ghaida dan suaminya. Zoya bisa melihat pria tersebut mengecup dahi Ghaida lalu setelahnya, Ghaida mencium punggung tangan pria tersebut. Setelah dua manusia itu berlalu dari hadapan Ghaida, Zoya bisa melihat Ghaida yang mengusap air matanya sambil menatap kepergian dua orang itu.
Zoya semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Apa Ghaida sudah bercerai? Bukankah baru kemarin Ghaida mengatakan jika suaminya sedang ke luar kota? Lalu, siapa wanita bersama pria yang diduga suami Ghaida tersebut?
"Ghaida?" panggil Zoya saat dirinya sudah berada di dekatnya. Ghaida menoleh dan terlihat gugup dengan menyembunyikan wajah sembabnya. Zoya semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga Ghaida.
__ADS_1
"Tadi ... Bukannya suami kamu ya?" tanya Zoya hati-hati takut menyinggung. Ghaida tersenyum masam. "Mbak Zoya sudah melihat semuanya?" jawab Ghaida justru balik bertanya.
"Nggak. Aku cuma lihat dia kecup dahi kamu terus kamu salim sama dia, udah itu aja," jawab Zoya berbohong. Lagi-lagi Ghaida tersenyum getir. Bibirnya terbuka untuk berbicara lagi namun urung, saat Yusuf sudah menyelanya.
"Om Adis sudah nikah lagi. Mama jadi sakit hati," ucap Yusuf yang berhasil membuat Zoya begitu terkejut hingga matanya membelalak. Zoya menatap Ghaida yang kini tertunduk malu. "Ghaida? Apa benar yang dikatakan Yusuf? Oh maaf, aku terlalu ikut campur. Aku minta maaf sekali lagi," ucap Zoya mendadak tidak enak hati dan memilih ingin menyelesaikan pembicaraan.
Ghaida menggeleng kuat. "Nggak papa, Mbak. Lagian Mbak Zoya juag sudah mengetahuinya. Pasti Mbak Zoya lihat wanita yang bersama mas Adis kan?" tanya Ghaida dengan mata yang berkaca-kaca.
Zoya mendadak tidak enak hati dan merasa kikuk dengan situasi seperti itu. "Dia istri kedua mas Adis," ungkap Ghaida yang berhasil membuat Zoya semakin terbelalak.
"Iya, Mbak. Aku di madu oleh mas Adis setelah mengetahui jika Yusuf menderita penyakit hemofilia. Sejak saat itu, aku jarang punya waktu untuk mas Adis karena banyak waktu yang aku gunakan untuk merawat Yusuf. Dan aku sudah menganggap ini sebagai balasan atas perbuatanku dulu," jelas Ghaida berlapang dada.
Zoya menggeleng. "Kamu bisa memilih jalan hidup kamu sendiri, Da. Kamu bisa lepas dari suami kamu. Bahkan, kamu bisa mencari kebahagiaanmu sendiri," bujuk Zoya yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran Ghaida yang terlewat pasrah.
Zoya menghela nafasnya kasar. Dia bisa apa jika Ghaida sudah memilih jalan hidupnya? "Baiklah. Semoga kamu bahagia atas pilihan hidupmu ya, Da. Ini bukan soal kamu saja, ada Yusuf yang harus kamu jaga perasaanya," ucap Zoya menasihati.
.......................
Semenjak berada di ruangan Zaky, Zoya hanya duduk melamun di pinggir brankar dengan pikirannya sendiri. Zaky yang menyadari keterdiaman istrinya, memilih untuk membuka obrolan. "Zoya?" panggil Zaky dan hal itu membuat Zoya menoleh.
__ADS_1
"Iya? Kenapa, Mas? Kamu butuh sesuatu?" tanya Zoya yang sudah siap siaga akan berdiri namun segera dicegah oleh Zaky dengan memegang lengannya. "Kamu kok dari tadi diam? Apa ada masalah? Yuk cerita ke aku," ucap Zaky lembut dengan tangan yang berusaha menggapai jari-jemari Zoya yang ingin dia tautkan dengan jemarinya.
Zoya tersenyum menatap wajah suaminya yang kini kedua matanya masih tertutup perban putih. "Aku tadi ketemu Ghaida lagi, Mas," ucap Zoya memulai pembicaraan, jemarinya segera dia tautkan dengan jemari Zaky.
"Wajar dong. Kan dia di rumah sakit juga," jawab Zaky yang memang sudah mendengar cerita dari Zoya bahwa dia bertemu dengan Ghaida yang sedang melakukan kemoterapi untuk Yusuf, anaknya.
"Bukan itu. Suami Ghaida ... Dia ... melakukan poligami. Ghaida dimadu oleh suaminya," ucap Zoya yang kebingungan sendiri mengungkapkan isi pikirannya.
Zaky tampak terkejut namun tetap bertanya lebih lanjut. "Bagaimana bisa?" tanya Zaky yang juga bingung. "Aku sempat bertanya tadi. Tapi, Ghaida tidak terlalu banyak bercerita. Dia malah mengatakan bahwa mungkin, itu merupakan balasan untuknya," jelas Zoya yang matanya mulai berkaca-kaca.
Bukan karena menangisi nasib Ghaida, melainkan karena dia tiba-tiba teringat Zada yang telah tiada. Sekelebat bayangan saat bersama Zada tiba-tiba melintas di pikirannya dan itu semakin membuat Zoya terisak.
"Eh, berbicara tentang Ghaida, kok Zada nggak datang buat jenguk aku? Apa dia sudah mulai lupa dengan temannya sendiri?" tanya Zaky yang juga teringat Zada. Dada Zoya terasa sesak seketika. Bagiamana Zada akan hadir jika jasadnya saja sudah terkubur?
"Mas Zada kesini kok ... Dia kesini," jawab Zoya tidak sepenuhnya berbohong. "Oh ya? Lalu dimana dia?" tanya Zaky berbinar. Zoya membekap mulut agar isak tangisnya tidak didengar Zaky. "Di matamu, Mas," jawab Zoya tertawa namun dia bersungguh-sungguh saat mengatakannya.
Zaky ikut tertawa karena menganggap ucapan Zoya merupakan lelucon. "Dimataku? Dimataku cuma ada Zoya seorang," bibir Zoya melengkung ke bawah dengan hidung yang kembang kempis karena menahan isakannya.
Zaky belum tahu saja bahwa mata yang sekarang dia punya merupakan hadiah berharga dari Zada. Entah Zoya harus membalas kebaikan Zada dengan apa? Bahkan, doa-doa yang dia panjatkan tidak akan cukup untuk membayar pengorbanan Zada.
__ADS_1
**********
Begitu syulit lupakan Reyhan...