Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 47. Cerita masalalu


__ADS_3

Zada terbaring lunglai di atas ranjang kamarnya setelah melihat postingan sosial media milik Zoya. Zada tidak mengikuti akun Zoya hanya saja, Zada sedang bertindak sebagai stalker. Hal yang akhir-akhir ini menjadi pekerjaan Zada.


Di dalam postingan itu, terlihat Zaky dan Zoya yang sedang mengangkat buku nikahnya. Senyum Zoya terlihat begitu bahagia saat foto itu di ambil. Zada mengusap matanya yang sudah merah dan berair. Pandangannya menjadi kabur karena tertutup oleh air mata.


"Semoga bahagia, Zoya." monolog Zada menatap foto Zoya. Walau bibirnya mengucapkan itu, hatinya justru berkata bahwa dia tidak rela, Zoya bahagia bersama yang lainnya. Salahkah Zada bila dirinya masih mengharapkan Zoya sampai detik ini? Biarlah cinta yang Zada punya tersimpan, terekam, dan terpatri di relung kalbu.


Jika perlu, Zada tidak ingin membangun rumah tangga kembali kecuali bersama Zoya. "Ck, galau lagi kan ...." Decakan itu terdengar lagi dari bu Maya yang tidak sengaja melewati kamar Zada. Kepala bu Maya melongok dari sela pintu yang sedikit terbuka.


Zada menghela nafasnya kasar. Dia bangun dan beranjak untuk membuka pintu. "Aku nggak tahu, Ma. Rasanya sakit banget lihat Zoya bahagianya sama orang lain," ucap Zada frustasi.


Bu maya menghembuskan nafasnya lelah. "Ini sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, Da, kamu harus ikhlas. Tidak semua hal di dunia ini bisa kamu miliki dan kamu genggam. Terkadang, beberapa hal hanya bisa di jadikan mimpi dan harapan. Allah tahu yang terbaik untuk hamba-Nya," ucap bu Maya lalu menepuk pundak Zada lembut.


"Perbaiki diri kamu. Dengan kamu berubah lebih baik lagi, akan ada hal-hal baik juga yang datang padamu," Zada mengangguk mengerti. Memang benar yang dikatakan ibunya, semua sudah kehendak Allah SWT.


"Astaghfirullahal'azdim," Zada menyebut nama Tuhannya agar dirinya segera tersadar. "Ya sudah, kalau begitu kita makan malam dulu ya? Kamu belum makan sejak tadi pagi," ucap bu Maya tersenyum lembut.


Zada balas tersenyum dan mengangguk. "Iya, Ma. Papa dimana, Ma? Kita makan malam bersama kan?"


__________________


Di apartemen Zoya dan Zaky.


Berbeda dengan kondisi hati Zada, malam ini Zoya sedang merasakan debar-debar asmara. Setelah melakukan sholat isya, Zoya pamit ke kamar mandi untuk sekedar menetralisirkan degup jantungnya.


Deg, deg, deg.


"Duuuh, kenapa sih sama jantung aku? Tolonglah, jangan begini terus," kesal Zoya frustasi. Zoya yakin, Zaky pasti sudah menunggunya karena bisa di bilang, malam ini adalah malam yang di nanti-nantikan oleh semua pasangan yang baru menikah.


Tok, tok, tok.

__ADS_1


"Zoya? Kamu lama banget? Kamu nggak papa kan?" Ketukan pintu itu diiringi oleh suara Zaky yang terdengar khawatir. Zoya memejamkan matanya frustasi. "I–iya, aku baik-baik saja. Sebentar lagi selesai," jawab Zoya sedikit meninggikan suaranya agar terdengar sampai depan.


Zoya kembali mematut dirinya di cermin untuk memastikan tidak ada yang aneh dari penampilannya. Pasalnya, sekarang Zoya mengenakan baju yang lengannya hanya berupa tali spagetti. Belum lagi, kerah dadanya yang rendah membuat ada yang menyembul sedikit disana.


Zoya menarik dan menghembuskan nafasnya beberapa kali sebelum dia keluar dari kamar mandi. Setelah yakin, Zoya mulai memutar kenop pintu pelan-pelan.


Ceklek.


Zaky yang sedang berbaring miring dengan posisi membelakangi Zoya sontak menoleh ke belakang. Zaky menelan salivanya saat melihat ada yang berbeda dari penampilan Zoya. Zaky berusaha mengedipkan matanya namun tidak bisa karena terlalu takjub dengan pemandangan di depannya.


Zoya menunduk malu dan memainkan jemarinya saat Zaky menatap dirinya penuh puja. "MasyaAllah, Zoya." ucap Zaky terpelongo.


Langkahnya terayun mendekati Zoya yang sedang malu-malu dan Zaky bisa melihat rona merah di pipi Zoya. Tanpa diduga, Zaky langsung menggendong tubuh Zoya ala bridal style hingga membuat Zoya memekik kaget.


Zaky langsung membaringkan tubuh Zoya di atas ranjang dengan lembut. Setelah itu, dia ikut berbaring di sebelah Zoya dan mendekap tubuh Zoya agar merapat padanya. Zaky terkekeh saat Zoya terlihat malu-malu.


"Apaan sih, Mas. Kok malah ketawa?" kesal Zoya. Bibirnya sudah manyun karena kesal sekaligus malu.


Cup.


"Zoya?" panggil Zaky dengan suara yang kini sudah berubah menjadi serak-serak bergetar. Zoya menelan salivanya sebelum menjawabnya. "Hm?"


"Kamu tahu? Alasan aku selalu memberikanmu bunga mawar merah sedang untuk istri pertamaku yang sudah meninggal, aku memberikannya bunga mawar kuning?" tanya Zaky menatap Zoya lekat.


Zoya menggeleng kuat. Dia memang tidak tahu alasan Zaky selalu memberikannya bunga mawar merah. Zaky justru terkekeh dan mengecup pipi Zoya sekilas.


Cup.


Tangannya yang di tindih kepala Zoya semakin menarik kepala Zoya agar semakin dekat dengan wajahnya. Sekarang, wajah keduanya sudah sangat dekat dengan ujung hidung yang saling menempel.

__ADS_1


Zoya melotot tajam karena kondisi jantungnya sedang tidak baik. Sedangkan Zaky, dia malah tergelak tanpa beban."Bunga mawar merah itu memiliki arti cinta, rindu dan kasih sayang. Sedangkan mawar kuning memiliki arti persahabatan," ucap Zaky penuh teka-teki.


Zoya menjauhkan kepalanya dan menatap bingung pada Zaky. "Kenapa malah terbalik sih, Mas? Kok aku yang di kasih mawar merah sedang istri pertama kamu malah mawar kuning?" tanya Zoya.


Zaky menarik kepala Zoya untuk mendekat lagi. "Jangan jauh-jauh kalau mau tahu alasannya," bisik Zaky di telinga Zoya yang berhasil membuat bulu kuduk Zoya meremang dan darahnya berdesir.


"Aku dan istri pertamaku adalah sahabat sejak kecil. Kami memutuskan menikah karena kami dijodohkan dan menjalani proses ta'aruf. Tidak ada cinta di antara kami saat itu dan kami sepakat untuk saling mencintai setelah menikah nanti,"


Zoya mulai tertarik dengan kisah masa lalu suaminya itu. Zoya memasang wajah seriusnya agar tidak melewatkan satu katapun. "Terus?"


"Kami menjalani hubungan suami istri pada umumnya termasuk ...." ucap Zaky terhenti karena bingung harus mengatakannya. Zoya sama sekali tidak terganggu dan malah mengangguk mengerti. "Aku tahu. Terus?"


"Tiyas hamil dan pada saat itu, aku merasa sangat bersalah karena belum bisa mencintai Tiyas sepenuh hati. Namun, Tiyas tidak merasa keberatan sama sekali karena selama itu, aku selalu menjalankan tugasku sebagai suami. Dan di akhir kisah hidupnya, aku semakin merasa bersalah karena hatiku belum juga mencintai Tiyas. Entah mengapa, aku masih saja menganggap Tiyas sebagai sahabatku. Begitu juga dengan Tiyas, alasan dia mau menikah denganku adalah karena dia berpacaran dan pacarnya tak kunjung melamar," Zaky menghela nafasnya terlebih dahulu untuk menjeda sejenak.


Zoya tersenyum. "Seru juga perjalan cinta Mas Zaky ya?" ucap Zoya sama sekali tidak terganggu. Zaky mengangguk. "Semua semakin seru saat pertama kalinya aku merasakan debaran jantung dan ada rasa bahagia saat bertemu kamu. Kamu cinta pertamaku,"


Zoya membulatkan mata tak percaya. Bibirnya terbuka lalu mengatup lagi. "Jadi selama ini ...."


Zaky mengangguk lalu memeluk tubuh Zoya erat. "Aku sangat berdosa karena selama menjalani pernikahan, aku tidak bisa memberikan cinta untuk Tiyas. Tapi, aku sangat menyayangi dia,"


Zoya membalas pelukan Zaky erat dan memberikan usapan lembut pada punggungnya. "Kamu sudah melakukan yang terbaik hingga nafas mbak Tiyas tak lagi berhembus. Kamu sudah menjadi suami yang baik untuk dia,"


"Oh iya, Tiyas pernah meninggalkan secarik surat yang aku tidak tahu apa isinya karena surat itu Tiyas tulis untuk calon istriku nanti. Dan karena sekarang aku sudah punya istri lagi, sepertinya aku harus memberikannya padamu, Sayang,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


kemarin niat double up tapi ternyata, reviewnya baru lulus tadi siang😌


jangan lupa gunakan jempol kalian untuk menekan tombol like, komen, dan kasih hadiah semampu kalian ya😘😘😍

__ADS_1


aku bawa novel temanku lagi nih.



__ADS_2