
Empat bulan kemudian.
"Ayah, Bunda? Kalian ada disini juga?" tanya Zoya tersenyum senang saat mendapati kedua orangtuanya sedang berdiri tidak jauh darinya. Ayah dan bundanya mengenakan baju serba putih hingga membuat mata Zoya silau.
Keduanya tersenyum. "Iya, kami punya tugas untuk mengantarkan kamu," jawab Bunda lalu berjalan mendekati Zoya yang masih kebingungan.
Begitu juga ayah Zoya, dia berjalan mendekati anaknya. Zoya langsung memeluk kedua orangtuanya, menyalurkan rindu dan kasih sayang. Setelah pelukan terlepas, bunda berkata lagi. "Coba kamu menoleh ke belakang!" perintahnya lembut.
Zoya menoleh dan mendapati hamparan bunga tulip putih yang sangat indah tertangkap oleh retinanya. Mata Zoya berbinar. "Kita kesana ya Yah, Bun?" Lalu Zoya menarik tangan keduanya untuk menemani dirinya menikmati hamparan bunga tulip yang indah itu.
Zoya tersenyum saat bunga itu semakin nyata di penglihatannya. Zoya melepaskan tangan kedua orangtuanya dan mulai menyentuh bunga-bunga di hadapannya. Saat Zoya menoleh lagi, ayah dan bundanya sudah berdiri jauh darinya. "Ayah, Bunda? Kenapa nggak kesini?" tanya Zoya lagi heran.
Keduanya tersenyum. "Tugas kami sudah selesai. Kita bertemu lagi nanti di surga-Nya," setelah itu, Zoya tidak bisa melihat ayah dan bundanya lagi dan berganti dengan suara pekikan seseorang.
"Dokter! Dokter! Tangan mbak Zoya bergerak!" Zoya mengernyit saat suara yang sangat dia kenali begitu dekat dengannya. Perlahan, Zoya membuka matanya. Tubuhnya masih kaku dan terdiam.
"Kamu sudah sadar, Nak, Alhamdulillah. Ibu bahagia kamu akhirnya bangun," ucap bu Khadijah yang tertangkap indera pendengaran Zoya. Untuk saat ini, Zoya hanya bisa mendengar dan melihat tanpa bisa bergerak.
Zoya bisa melihat bu Khadijah yang berkaca-kaca kemudian ada Yasa juga. "Mbak Zoya ... Akhirnya mbak sadar juga," Zoya mendengar suara Yasa yang bergetar menahan tangis. Zoya masih belum bisa merespon apapun.
Tidak berapa lama, dokter datang bersama dua suster. Zoya melihat bu Khadijah dan Yasa sedikit menjauh memberikan dokter ruang untuk memeriksa dirinya.
Sekitar setengah jam pemeriksaan, dan Zoya diajak berbicara dengan sang dokter, akhirnya sedikit demi sedikit, Zoya mulai mengeluarkan suaranya. Pemeriksaan telah selesai dan kini tinggal bu Khadijah sedang Yasa entah pergi kemana.
__ADS_1
Zoya mengingat kejadian yang sudah menimpa dirinya. Dia langsung mengingat Zaky yang kini tidak ada di sampingnya. "Mas Zaky kemana, Bu?" lirih Zoya bertanya. Bu Khadijah tersenyum. "Zaky ada dinas di luar kota. Nggak lama lagi pasti kembali,"
Zoya mengernyit heran. "Mas Zaky sudah tahu kalau aku sudah sadar?" lirih Zoya bertanya. Bu Khadijah terdiam menatap Zoya. "Kamu tenang ya ... Semua akan baik-baik saja," jawab Bu Khadijah yang justru membuat Zoya semakin gelisah.
Zoya langsung teringat pada kandungannya dan memegangi perutnya yang sudah rata. Bu Khadijah yang menyadari itu langsung tersenyum dan berkata. "Cucu ibu sudah lahir. Namanya Muhammad Zaky Arkana,"
Zoya menutup mulutnya tak percaya, "Alhamdulillah, Bu. Sekarang anakku dimana? Aku mau gendong dia, Bu," ucap Zoya berkaca-kaca. Belum sempat bu Khadijah menjawab, pintu ruangan terbuka hingga membuat keduanya menoleh.
Yasa datang bersama Reni. "Arka masih sama Om-nya. Bentar lagi kesini kok, Mbak," ucap Yasa yang memang mendengar percakapan keduanya.
Zoya mengernyit. "Om? Om siapa yang kalian maksud?" tanya Zoya bingung. Yasa dan Reni terdiam, saling lempar pandang. Bu Khadijah akhirnya yang menjawab. "Dia bukan orang asing kok," singkat dan akhirnya Zoya mengangguk.
Zoya menatap pintu lagi berharap suaminya akan muncul dari sana. Namun, belum ada tanda-tanda suaminya akan datang. "Mas Zaky tugas kemana sih, Bu? Aku boleh telepon nggak?" tanya Zoya dengan mata yang berkaca-kaca.
"Eh, itu Arka sudah datang!" seru Reni yang melihat pintu terbuka dan berhasil mengalihkan pertanyaan Zoya. Yasa dan Reni berlari kecil ke arah pintu dan menyambut bayi berumur empat bulan. Itu. Ya, Zoya mengalami koma selama empat bulan lamanya. Bahkan, Arka lahir pada usia tujuh bulan dalam kandungan.
Walau usia kehamilannya kurang, katanya Arka sangat sehat dan tumbuh dengan baik. Begitulah kira-kira yang Zoya tahu dari ibu mertuanya. Zoya berusaha melihat siapa 'om' yang disebutkan Yasa tadi namun, hal itu gagal karena terhalang oleh tubuh Yasa dan Reni yang sedang berebut anaknya.
"Assalamualaikum, Mama ... Namaku Arka," ucap Yasa menirukan suara anak kecil untuk menyapa Zoya pertama kalinya. Mata Zoya mulai mengeluarkan air mata, tangannya bergetar saat ingin menyentuh pipi gembul milik anaknya.
"Waalaikumsalam, Arka. Maafkan Mama karena Mama nggak bisa menemani kamu hingga umur empat bulan, anak mama udah gede aja," Zoya tertawa disela tangisnya. Anaknya mirip sekali dengan suaminya. Mata, hidung, bahkan senyumnya. Arka menatap Zoya dengan mata bulatnya dan mengoceh tidak jelas hingga membuat semua yang berada di ruangan merasa gemas dengan bayi kecil itu.
"Boleh aku gendong Arka, Bu?" tanya Zoya pada bu Khadijah. Ibu mertuanya itu menggeleng. "Tidak untuk sekarang, Nak. Tunggu kamu benar-benar pulih dulu ya?" Bu Khadijah menasihati yang memang untuk kebaikan Zoya.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Memangnya mbak Zoya nggak mau bermain sama Arka? Kalau mau, Mbak Zoya harus sembuh dulu ya," ucap Reni yang juga memberi penjelasan pada Zoya.
Pasrah. Zoya menurut dan hanya mengecup pipi anaknya yang seperti bakpao. "Mama sudah nggak sabar untuk bermain sama kamu, Arka. Mama akan berusaha cepat pulih agar bisa main sama kamu sama papa juga," ucap Zoya menatap anaknya sendu.
Zoya mengalihkan pandangan ke arah pintu yang disana masih berdiri seorang pria dengan setelah jas formalnya. Zoya tentu sangat mengenali siapa dia.
Zada.
Dia adalah Zada. Jadi, 'om' yang di maksud Yasa adalah Zada. Lalu, kemana suaminya pergi? "Apa mas Zaky nggak marah kalau mas Zada ada disini? Dia sebenarnya kemana sih, Bu? Aku pengen dengar suaranya aja ... Biar aku bisa tenang ...." ucap Zoya menatap bu Khadijah memohon.
Bu Khadijah menunduk seakan enggan menjawab. Tatapan Zoya beralih pada Yasa untuk menuntut penjelasan namun, lagi-lagi Yasa hanya menunduk. Begitu juga dengan Reni, dia memalingkan muka untuk menghindari tatapan Zoya.
"Apa ada yang kalian sembunyikan?" tanya Zoya pada semua dengan air mata yang mulai deras mengalir. "Katakan ...." tuntut Zoya lagi dengan tangis yang mulai meraung-raung.
Yasa bergerak untuk menyerahkan Arka kembali pada Zada yang masih berdiri di ambang pintu. "Mas, tolong bawa Arka keluar dulu ya? Sudah saatnya mbak Zoya tahu,"
Zada hanya menurut dan kembali membawa Arka keluar ruangan. Cepat atau lambat, Zoya harus mengetahuinya juga.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
maaf ya ... ini semua harus terjadi 😭
mampir juga ke karya temanku yuk.
__ADS_1