Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 88. Extra Chapter


__ADS_3

Tanpa Ghaida dan Yusuf ketahui, ternyata Arumi masih menatap interaksi ibu dan anak yang sedang membicarakan tentang dirinya itu dari lantai atas. Tatapan yang begitu sulit di artikan oleh siapa saja yang melihatnya.


Setelah obrolan keduanya terhenti, Arumi memasuki kamarnya untuk menenangkan diri. Ya, Yusuf dan Ghaida memang benar, dirinya sedang cemburu. Bagaimana tidak? Arumi mengira suaminya pergi ke kantor untuk bekerja namun, kenyataan yang dirinya lihat berbeda, suaminya sedang berada dalam satu selimut yang sama dengan istri pertama.


Ya, Arumi sadar bahwa kehadirannya bagai benalu yang hadir di tengah-tengah rumah tangga Ghaida juga Adis. Tapi, bukankah kita tidak bisa memilih kepada siapa kita akan menjatuhkan hati? Itulah yang saat ini sedang Arumi rasakan.


Terkadang, Arumi juga ingin egois dan memiliki Adis sepenuhnya. Namun, Arumi juga berpikir bahwa dirinyalah yang harusnya sadar diri dan tidak meminta lebih. Arumi menghela napasnya kasar untuk membuang sesak yang menghimpit dadanya.


"Tidak seharusnya aku memusingkan hal seperti ini. Jika aku terlalu banyak pikiran, kasihan anak yang sedang aku kandung," monolog Arumi menyadarkan diri.


"Mungkin, semua sudah menjadi konsekuensiku karena mau menjadi yang kedua. Tidak apa-apa, aku akan jalani semua ini selagi mbak Ghaida bisa diajak kerjasama,"sambung Arumi lagi sambil mengelus perut yang kini terdapat nyawa di dalamnya, darah daging dari Adiswara.


Samar-samar Arumi mendengar langkah kaki di depan kamarnya. Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya terbuka, menampakkan kepala yang menyembul dari bilah pintu. Arumi terkesiap saat orang tersebut adalah Ghaida. "Mb-mbak Ghaida? Ke-kenapa?" tanya Arumi terbata-bata.


Entah mengapa, Arumi merasa takut Ghaida memiliki mata batin yang bisa mendengar suara hati seseorang. Pasalnya, disaat dirinya sedang memikirkan Ghaida dan merasa iri dengannya, tiba-tiba saja Ghaida muncul di depan kamarnya.


"Kamu ... Nggak papa kan?" tanya Ghaida hati-hati. Arumi mengerjap beberapa kali. Bukankah pertanyaan itu lebih pantas dirinya yang mengungkapkan? Namun tak urung Arumi mengangguk. "Aku nggak papa kok, Mbak. Cuma ... Sedikit lelah saja. Iya, sedikit lelah," jawab Arumi beralibi.


Ghaida ber-oh-ria menanggapi. "Kalau gitu, aku ke bawah lagi ya?" pamit Ghaida yang langsung diangguki oleh Arumi. Akhirnya Arumi bisa bernapas lega, pikiran tentang Ghaida yang bisa membaca ma batinnya tidaklah benar.

__ADS_1


Baru saja Arumi menghembuskan napas lega, pintu kamarnya kembali terbuka dan membuat Arumi terkesiap sampai memegangi dadanya. Arumi pikir, Ghaida datang lagi. Namun, kali ini suaminya yang datang ke kamar dengan senyuman manisnya.


"Arumi? Kamu nggak papa kan? Kok pucat begitu wajahnya?" tanya Adis khawatir sambil maish sibuk menaruh tas dan jas kerjanya di tempat yang semestinya. "Hah! Eh! I-iya. Aku baik-baik saja, Mas. Aku cuma mau istirahat saja sebentar," jawab Arumi tergagap.


"Bagaimana kabar anak Papa?" tanya Adis yang saat ini sudah berlutut di hadapan Arumi sambil mengelus perut yang terdapat darah dagingnya. "Sehat kok, Pa," jawab Arumi tersenyum haru. Pikiran buruk yang sempat hinggap di kepalanya tidaklah benar. Tidak ada yang berubah dari sikap Adis terhadapnya walau Arumi tahu, hubungan Adis dan Ghaida saat ini sedang baik, suaminya bersikap adil.


"Oh ya? Kapan lagi kamu harus ke dokter untuk periksa? Sepertinya sudah lama kamu ke dokter," ucap Adis mendongak ketika mengingat jadwal periksa sang Istri. Senyum Arumi semakin lebar. "Dua hari lagi aku periksa, Mas. Mas Adis yang mengantarkan aku ya?" negoisasi Arumi, manja.


Adis tersenyum lebar hingga menampakkan deretan gigi-giginya yang putih. "Iya, nanti aku yang akan antar kamu," jawabnya bahagia.


...............


Tok. Tok. Tok.


Ghaida menyeret langkahnya menuju pintu walau sebenarnya, kepalanya rasanya mau pecah. Namun, Ghaida tetap memaksakan diri.


Ceklek.


"Ada apa, Mas? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Ghaida perhatian. Adis menatap Ghaida lamat-lamat hingga membuat Ghaida justru salah tingkah. "Ada apa, Mas?" tanya Ghaida lagi.

__ADS_1


"Aku mau izin untuk tidur bersama Arumi malam ini. Kamu nggak papa kan?" tanya Adis hati-hati. Mulut Ghaida terbuka sebentar lalu terkatup lagi. Ghaida terkekeh geli. "Kenapa harus izin ke aku sih, Mas? Biasanya juga kamu nggak pernah izin kan?" ucap Ghaida tak habis pikir.


"Iya, tapi kali ini aku akan meminta izin ke kamu. Kamu istri pertamaku dan itu berarti, kamu wajib untuk aku dengar pendapatnya," jelas Adis yang membuat Ghaida mengulum senyumnya. "Aku nggak papa kok, Mas. Kamu tidur sama Arumi saja," jawab Ghaida rela.


"Tapi, kamu lagi sakit. Kalau aku tinggal nggak papa?" Adis seperti meragukan Ghaida. Tawa akhirnya meledak begitu saja. Ghaida benar-benar merasa aneh dengan sikap Adis yang sudah berubah drastis. Apa yang akan Adis lakukan, selalu meminta persetujuan darinya dan Ghaida suka itu.


"Nggak papa, Mas. Arumi kan istri kamu juga," jawab Ghaida disela tawanya. Adis menatap takjub pada tawa Ghaida yang pecah. Ghaida terlihat sangr cantik saat sedang tertawa seperti tadi. "Nggak mau kasih oleh-oleh dulu nih?" goda Adis menelengkan kepala agar wajahnya sejajar dengan wajah Ghaida.


Ghaida mengernyit bingung. "Oleh-oleh apa si, Mas?" tanya Ghaida heran. Adis terkekeh dan mencolek hidung Ghaida lembut. "Oleh-oleh cium."


Ghaida melotot tajam pada suaminya yang mulai berani menggoda. "Apaan sih, Mas. Nggak lucu," ketus Ghaida kesal.


Cup.


Tiba-tiba saja Adis mencium bibir Ghaida dan berlari begitu saja sambil mengucapkan satu kata, "Kabuur!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


bayangin, ini adalah gerakan Adis pas kabur.

__ADS_1


🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃🏃


😂😂😂😆


__ADS_2