Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 36. Hari pertama kursus


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Zoya masuk kurus memaksanya. Ya, Zoya mengambil kursus memasak seperti membuat roti, kue basah, kue kering, dan aneka menu lainnya.


Zoya begitu antusias memasuki gedung dimana dia kan menimba ilmu selama dua bulan ke depan. Ya, hanya dua bulan waktu yang sudah di tentukan untuk menerima materi dan praktek tata cara membuat berbagai cemilan dan makanan berat.


Zoya berharap, dia bisa mempelajari banyak hal disana. Zoya ingin berubah menjadi wanita yang pandai masak. Bagaimana pun juga, Zoya mendapatkan pelajaran hidup yang cukup banyak setelah berpisah dengan Zada.


Zoya menghela nafasya panjang sebelum benar-benar masuk ke kelasnya. Saat sudah masuk, Zoya bisa melihat ada empat orang yang mungkin akan ikut kursus memasak.


Tiga di antaranya adalah seorang wanita dan satunya lagi seorang laki-laki. Zoya mengangguk dan tersenyum untuk menyapa orang baru. Mereka balas tersenyum setelah itu, Zoya duduk di salah satu bangku kosong yang terletak di tengah-tengah.


Ruangan itu layaknya kelas pada umumnya. Yang terdapat meja dan kursi sebagai alat bantu untuk belajar. Sedangkan untuk praktek mengolah makanannya, Zoya sedikit banyaknya tahu akan dilaksanakan di ruangan yang berbeda.


Zoya memperhatikan sekeliling kelasnya yang bercat putih semua. Saat sedang sibuk menelisik, Zoya dikejutkan dengan suara seorang wanita yang menyapanya. "Hai, Mbak. Boleh duduk disini nggak?" sapa wanita berambut bob yang disemir ungu itu pada Zoya.


Zoya menoleh dan tersenyum. "Boleh kok, Mbak. Duduk aja," jawab Zoya ramah. Bisa Zoya perkirakan bahwa wanita di sampingnya seumuran dengannya. "Perkenalkan, namaku Sely." Wanita itu mengulurkan tangannya, mengajak berkenalan dan mengulas senyum lebarnya.


Dengan senang hati, Zoya menerima uluran tangan itu. "Aku, Zoya. Senang bisa berkenalan denganmu," jawab Zoya tak kalah ramah. "Mbak Zoya umurnya berapa sih? Kelihatan masih muda banget?" tanya Sely dengan alis berkerut.


Zoya terkekeh pelan. "Aku umur dua enam. Kamu sendiri umur berapa?" Zoya bertanya balik. "Wah, lebih tua aku ternyata. Aku dua tujuh. Berarti nggak perlu panggil 'mbak' dong ya?" tanya Sely hati-hati.


Zoya mengangguk dan tersenyum. "Panggil nama aja. Apa aku yang harus panggil 'mbak' saja?" tanya Zoya bersungguh-sungguh. Sely mengibaskan tangannya di depan dada. "Jangan ... Takut jadi tua beneran. Mending Sely aja, lebih enak," kekeh Sely yang bisa langsung akrab dengan Zoya.


"Baiklah, Sely." Zoya juga terkekeh pelan karena tingkah teman barunya. Tidak berapa lama, seorang wanita yang bertubuh ramping dan berwajah sedikit bule masuk ke kelas dan berdiri di depan. "Selamat pagi semuanya," sapa wanita tersebut yang bisa Zoya tebak adalah guru kursus Zoya.

__ADS_1


"Selamat pagi, Bu," jawab semua serentak. Zoya sampai tidak menyadari jika kelas yang semula hanya berisi enam orang termasuk dirinya dan Sely, kini semua kursi sudah terisi semua. Mungkin karena terlalu larut berbicara dengan Sely jadi, Zoya tidak menyadarinya.


"Perkenalkan, nama saya Margareth. Saya yang akan memberikan materi pada kalian tentang bagaimana tata cara membuat berbagai olahan makanan yang anti gagal-gagal klub,"


Semua terkekeh mendengar Sang guru yang sudah melucu di awal perkenalannya. Tidak berbeda jauh dengan yang lainnya, Zoya juga ikut terkekeh karena guru kursusnya masih berjiwa muda walau dilihat dari parasnya, dia sudah berumur sekitar empat puluhan tahun.


Sekitar dua jam Zoya mendapatkan materi tentang membuat berbagai camilan, akhirnya kelas berakhir. Untuk hari pertama, belum ada praktek dan masih diisi dengan materi-materi.


Zoya bergegas pulang sebelum hujan turun. Walau masih pukul sepuluh pagi, langit sudah menampakkan aura gelapnya menandakan sebentar lagi rintik-rintik air dari langit akan turun.


"Aku duluan ya, Sel. Takut keburu hujan," ucap Zoya berpamitan pada Sely yang kebetulan berjalan beriringan menuju parkiran. "Iya, hati-hati di jalan, Zoya," jawab Sely sedikit berteriak karena Zoya mulai melajukan motornya keluar gedung.


"Iya, kamu juga hati-hati!" jawab Zoya yang juga berteriak karena deru motornya menenggelamkan suaranya. Baru saja setengah jalan, bumi sudah diguyur hujan yang begitu deras oleh langit.


Zoya menepikan motornya di sebuah ruko yang tutup untuk berteduh. Dia lupa tidak membawa jas hujannya. Padahal, Zoya tahu bulan Oktober adalah bulan dimana musim hujan akan tiba.


Apalagi, kerudung pashminanya sudah basah karena guyuran hujan yang tiba-tiba. Begitu juga dengan gamis yang dikenakannya, semua basah kuyup hingga menyisakan rasa dingin dan menggigil.


Tanpa Zoya sadari, ada sepasang mata sayu yang memperhatikan ke arahnya. Merasa sedang di perhatikan, Zoya menoleh ke kiri dan menemukan seorang laki-laki bertubuh jangkung sedang duduk di lantai keramik dengan sebatang rokok yang dia selipkan di antara jari telunjuk dan jari tengahnya.


Bisa Zoya lihat, keadaan laki-laki itu sangat berantakan walau menggunakan baju yang terbilang mahal. Seseorang tersebut mengenakan jas berwarna hitam, kemeja berwarna putih, celana bahan berwarna hitam dan sepatu pantofel yang senada dengan bajunya.


Zoya mencoba mengalihkan pandangan saat laki-laki tersebut berdehem. Zoya menengadah menatap langit yang masih setia menampakkan aura kelamnya. "Sepertinya hujan akan turun lebih lama," gumam Zoya pada dirinya sendiri.

__ADS_1


"Allahumma shoyyiban nafi'an."


Zoya terkesiap saat laki-laki yang berada tidak jauh darinya itu mengucapakan doa saat turun hujan. Zoya langsung teringat dan melafalkan doa yang sama. "Allahumma shoyyiban nafi'an."


Laki-laki itu berdiri dan berjalan ke arah Zoya. Zoya melotot tajam saat laki-laki itu berdiri di sampingnya dengan tatapan tak berdosanya. Zoya terus memperhatikan apa yang akan di lakukan pria di sampingnya.


Ekor mata Zoya menangkap pria tersebut membuka jasnya dan tanpa diduga, Zoya bisa merasakan tubuhnya menghangat saat ada benda tebal menutupi tubuh bagian atasnya. Zoya menoleh dan mendapati jas tersampir si bahunya.


Zoya mengerjap beberapa kali. Dia menatap laki-laki di sampingnya dengan tatapan tidak terimanya. Bagaimana bisa Zoya pasrah begitu saja saat ada orang asing yang tanpa seizinnya memakaikan jas pada tubuhnya.


"Gamis kamu menerawang dan kelihatan dalamnya," ucap pria tersebut tanpa beban lalu membuang puntung rokok di tangannya. Zoya sudah melotot tajam pada pria kurangajar di sampingnya. "Kenapa? Terima kasih dong! Percuma pakai kerudung kalau baju aja menerawang,"


Setelah mengucapkan itu, pria itu berlalu meninggalkan Zoya yang masih terpaku di tempat. Zoya menatap gamis putihnya dan benar saja, Zoya bisa melihat bagian perutnya yang menampakkan kaos bagian dalam yang Zoya kenakan.


Zoya mengumpati dirinya dalam hati karena tidak menyadari auratnya telah terbuka. Zoya langsung merapatkan jas yang dikenakannya dan mencari sosok pria menyebalkan sekaligus menyelamatkan itu namun, Zoya tidak menemukan siapa-siapa selain dirinya sendiri disana.


Zoya kebingungan menatap jas yang dia kenakan. "Lalu, bagaimana aku mengembalikannya? Tapi, terima kasih," gumam Zoya bingung sekaligus lega.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa dukungannya ya😘😘

__ADS_1


dengan cara like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian😘


lope sekebon untuk kalian semua😘😘


__ADS_2