Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 57. Mata duitan


__ADS_3

Tut, tut, tut.


Zoya mencoba menghubungi Zaky yang kini jaraknya dengan dirinya sekitar berjuta-juta kilo meter. Tapi, Zoya selalu merasa Zaky begitu dekat dengannya, tepatnya di hati Zoya.


Tidak berapa lama, panggilan video tersambung dan menampakan ruangan bercat putih. "Assalamualaikum, Mas?" sapa Zoya saat pertama kali panggilan tersambung.


Belum ada jawaban dari seberang sana hingga membuat Zoya menghela nafasnya lelah. "Mas, aku rindu ...." ucap Zoya sendu, berharap Zaky mau menampakan dirinya di depan kamera.


Terdengar isak tangis dari seberang sana dan membuat Zoya terkejut sekaligus merasa teriris. Zoya tahu, ini tidak mudah untuk suaminya. Sudah hampir empat bulan menjalani fisioterapi, perkembangannya masih sedikit. Zaky belum bisa berjalan seperti sediakala. Namun, Zaky sudah mampu untuk menggerakkan jari-jari kakinya walau hanya berupa gerakan pelan.


"Mas, tolong lihat aku! Kamu pasti bisa melewati ini semua," ucap Zoya memberikan semangat. Zaky yang berada di seberang sana malah semakin terisak. Pasa akhirnya, Zoya ikut menangis, hatinya begitu teriris melihat seseorang yang dirinya cintai terpuruk.


"Aku kesana sekarang ya, Mas? Biar kamu bisa tenang dan nggak merasa sendiri," ucap Zoya untuk yang kesekian kali. Itu bukan permohonan pertamanya. Zoya sudah memohon untuk menemani suaminya itu berpuluh-puluh kali namun, Zaky selalu menolak dan mengatakan bahwa Arka masih butuh perhatiannya.


"Mas, tolong bicara ... Walau aku tidak bisa melihat wajahmu, setidaknya izinkan aku mendengar suaramu. Itu akan sedikit mengobati rasa rinduku," Air mata Zoya semakin tak terbendung. Mungkin inilah ujian dari rumah tangganya. Dan Zoya sudah bertekad untuk kuat menghadapi semuanya.


Zoya menghela nafasnya dan menghapus air matanya. "Mas?" panggil Zoya lagi dengan suara yang sudah lebih tenang. "Kamu nggak mau ketemu aku? Nggak mau ketemu Arka? Oh iya, Mas, Arka sekarang sudah lebih pintar loh ... Dia sekarang lagi lucu-lucunya dan kayaknya sebentar lagi Arka bisa merangkak," Zoya berusaha mengulas senyumnya walau hal itu tidak mungkin bisa Zaky lihat.


"Oh ya? Terus gimana? Siapa yang ngajarin Arka?"


Berhasil!


Zoya tersenyum senang saat suaminya mau mengeluarkan suaranya. "Dia belajar sendiri dong. Sepertinya, gen kamu banyak ngalir di Arka deh, Mas," ucap Zoya pura-pura kesal.


Zaky yang berada di seberang sana terkekeh. Zoya semakin tersenyum lebar saat mendengar kekehan suaminya. Zoya pun melanjutkan ucapannya agar suaminya itu mau tertawa lagi. "Beneran loh, Mas. Arka tuh kaya numpang doang di rahimku. Setelah lahir, eh, mirip bapaknya semua. Nggak ada tuh yang mirip sama aku. Suatu hari, kamu pasti akan melihat Zaky kecil pada diri Arka," ucap Zoya melirih di akhir kalimat.

__ADS_1


"Makanya, yuk semangat untuk sembuh, Mas. Kita hidup sama-sama lagi bersama Arka. Aku akan selalu berdoa agar kamu segera sembuh dan mendapatkan donor mata secepatnya. Tetap semangat ya, Mas. Jangan putus asa karena aku akan selalu ada untuk, Mas. Ada ibu juga yang menanti mas pulang,"


Zaky terlihat menampakkan wajahnya yang terbingkai benda pipih itu, Zoya semakin tersenyum lebar. "MasyaAllah, Mas, kok kamu makin tampan sih? Kenapa nggak sejak kemarin-kemarin kamu muncul. Kan aku jadi pengen cium," goda Zoya berusaha membuat Zaky terhibur.


Zaky terkekeh lagi di seberang sana dan hal itu membuat Zoya semakin merasa rindu dengan suaminya. Senyum dan tawa itu masih sama, sangat menenangkan. Zoya menatap Zaky sendu. "Mas?"


"Iya, Zoya sayang?"


"Ana uhibbuka fillah," ucap Zoya tulus lalu mengelus layar ponselnya yang menampakkan wajah tampan suaminya, seakan sedang menelusuri lekuk wajah suaminya.


Zaky tersenyum manis dan menjawab. " Ahabbaka-lladzii ahbabtanii lahu,"


"Mas, kencangkan doa sama usaha ya. Kita semua yang ada disini bantu doa juga. Jangan menyerah, Mas. Ingat, masih ada aku dan Arka yang harus kamu kasih duit setiap hari," ucap Zoya sengaja bercanda untuk membuat Zaky tertawa. Dan benar saja, suaminya itu tergelak renyah mendengar ucapan Zoya.


"Kamu tuh ya, masih aja mata duitan sama suami sendiri haha," jawab Zaky disela tawanya. Zoya semakin melebarkan senyumnya. "Iya dong. Aku mata duitannya cuma sama Mas Zaky. Jadi, Mas Zaky harus tanggung jawab karena telah membuat seorang Zoya Adhisty jadi mata duitan,"


Lalu obrolan keduanya mengalir begitu saja hingga tanpa sadar, keduanya telah menghabiskan waktu selama tiga jam lamanya. Karena waktu terapi akan di mulai, Zaky pamit untuk menjalani fisioterapinya.


Zoya tersenyum dan mengizinkan Zaky. Telepon di putus dari seberang oleh seseorang yang membantu Zaky selama fisioterapi. Dia merupakan seseorang dari pihak kepolisian yang menemani proses penyembuhan Zaky.


.......................


Zada memegangi perutnya yang sudah sejak semalam merasakan perih. Entah apa yang terjadi pada perutnya. Mungkin nanti Zada akan memeriksakannya ke dokter jika perlu.


Kesibukan yang dia miliki membuat Zada tidak sempat untuk memeriksakan kesehatannya. Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai telah sampai di pelataran rumah bu Khadijah. Zada bergegas turun untuk menemui Arka.

__ADS_1


Zada meringis saat perutnya semakin perih. Namun, Zada tetap melanjutkan langkahnya memasuki rumah bu Khadijah demi membawakan susu untuk Arka. Ya, dirinya sudah berjanji untuk membelikan susu setelah pulang kerja.


"Assalamualaikum." ucap Zada saat memasuki rumah itu. "Waalaikumsalam," jawab Zoya dan bu Khadijah serentak. Walau Zada sering ke rumah, itu tidak membuat Zoya menjadi dekat lagi dengan Zada. Sudah sepatutnya Zoya menjaga diri dari laki-laki yang bukan mahram.


"Bu, ini susunya Arka, aw!" ucap Zada memekik saat perutnya sepeti di tusuk-tusuk. Bu Khadijah dan Zoya tentu terkejut dan merasa khawatir. "Kamu kenapa, Da? Kamu lagi nggak enak badan ya? Muka kamu pucat sekali," ucap bu Khadijah khawatir.


Zoya lansgung sigap mengambil ponselnya dan menghubungi dokter untuk datang ke rumah. "Aku hubungi dokter dulu, Bu. Biar mas Zada bisa langsung di periksa," Saat telepon sudah tersambung, suara Zada menginterupsi bahwa dia tidak perlu di periksa dokter. "Nggak usah, Zoya. Aku baik-baik saja, sebentar lagi paling sembuh setelah minum obat,"


Zoya mengabaikan ucapan Zada dan mulai berbicara dengan asisten dokter di seberang sana untuk segera datang ke rumahnya. Setelah telepon terputus, Zoya menatap bu khadijah. "Bu, dokter sebenta lagi datang kesini. Mas Zada istirahat saja di kamar tamu. Nanti pulangnya biar di antar sama sopir,"


Bu khadijah mengangguk. "Itu lebih baik. Yuk Zada, kamu ke kamar dulu buat istirahat," ajak bu Khadijah perhatian.


Belum sempat kaki bu Khadijah dan Zoya melangkah, tiba-tiba tubuh Zada limbung dan terjatuh ke lantai, pingsan.


"Ya Allah! Apa yang terjadi! Tolong!"


"Zada bangun! Ya Allah!"


pekik Zoya dan bu khadijah histeris karena tubuh keduanya tidak sekuat itu untuk menyangga tubuh Zada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa like dan komennya.


kira-kira si Zada kenapa ya?🤪

__ADS_1


yuk mampir juga ke karya temanku😍



__ADS_2