Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 55. Kekuatan cinta


__ADS_3

Zada sudah berada di taman rumah sakit bersama Arka. Beberapa menit yang lalu, Arka tertidur pulas dalam gendongannya. Zada tersenyum kecut pada takdir hidupnya saat ini. Bisa-bisanya dia mau berada di posisi seperti sekarang.


Kejadian itu bermula saat Zaky yang meminta Zada untuk menjaga Arka, anak Zaky dan Zoya. Keadaan yang tidak memungkinkan Zaky untuk merawat anaknya sendiri. Setelah kecelakaan, Zaky mengalami lumpuh dan kebutaan.


Awalnya Zaky terpuruk namun, atas dukungan dari orang-orang terdekatnya, Zaky akhirnya mau menjalani fisioterapi di luar negeri juga menunggu pendonor mata yang cocok untuk matanya.


Zaky mendapatkan bantuan biaya dari pihak aparat karena kerja keras Zaky selama ini. Walau sebenarnya Zaky bisa membiayai fisioterapi dan operasi mata sendiri. Namun, lebih baik Zaky menerima bantuan itu sedang uang yang selama ini dia tabung, dia gunakan untuk membiayai rumah sakit Zoya dan kebutuhan anaknya.


Ya, Zaky sempat bertemu anaknya dan Zoya setelah sadar dari masa kritisnya. Beruntung, Zaky hanya kritis selama tiga hari tidak seperti Zoya yang selama itu karena mengalami koma.


Flashback on.


"Yasa?" panggil Zaky pada Yasa yang kebetulan sedang berada di ruangannya bersama bu Khadijah. Penglihatan Zaky gelap sehingga dia menatap tak tentu arah karena tidak tahu dimana posisi Yasa sekarang.


Sudah hampir sepuluh hari Zaky berada di rumah sakit setelah sadar. Dia bertekad untuk berobat ke luar negeri sesuai tawaran dari atasannya yang kemarin sudah membesuk dirinya. Zaky tidak boleh terpuruk terus-menerus karena masih ada Arka dan Zoya yang harus dirinya perjuangkan.


"Kenapa, Pak?" tanya Yasa dengan alis mengkerut begitu juga dengan bu Khadijah. "Boleh aku minta tolong?" Yasa mengangguk walau hal itu tidak bisa dilihat oleh Zaky. "Silahkan, Pak. Kalau aku bisa bantu, akan aku bantu," jawab Yasa bersungguh-sungguh.


"Bisa minta tolong panggilkan mantan suami Zoya kesini? Ada hal yang harus aku bicarakan dengan dia," Setelah Zaky mengucapkan itu, Yasa dan bu Khadijah saling lempar pandang, seakn tidak setuju dengan permintaan Zaky.


"Untuk apa, Nak?" lirih bu Khadijah. Zaky menghela nafasnya. "Untuk menitipkan Arka padanya. Aku percaya dia bisa menjaga Arka dan Zoya," jawab Zaky yang berhasil membuat Yasa dan bu Khadijah terperangah. "Apa yang kamu inginkan itu tidak masuk akal, Nak," ucap bu Khadijah tidak terima.


Zaky langsung meraba-raba dengan tangannya untuk menggapai telapak tangan ibunya. Bu khadijah ingin menangis melihat kondisi anaknya yang begitu memprihatinkan. Namun, sekuat tenaga Bu Khadijah menahannya.

__ADS_1


Dia mengulurkan telapak tangannya untuk Zaky genggam. "Bu ... Tolong mengertilah. Ini demi kebaikan semuanya," lirih Zaky memohon.


"Tapi untuk apa, Pak? Bisa bapak jelaskan pada kami?" tanya Yasa menuntut penjelasan. Zaky tersenyum dengan pandangan yang tak tentu arah.


"Kamu tahu? Kondisiku tidak memungkinkan untuk menjaga Zoya dan Arka. Sampai sekarang Zoya belum bangun juga. Arka juga butuh perhatian. Sedang kamu dan Reni, kalian harus menjaga toko Zoya demi menunjang biaya rumah sakitnya. Sedang ibu, dia harus merawat Zoya. Lalu, bagaimana dengan Arka? Dia butuh sosok yang bisa menjaga dan melindunginya," ucap Zaky panjang lebar yang langsung dipahami oleh dua wanita di hadapannya.


Yasa menghela nafasnya kasar. Ucapan Zaky memang ada benarnya, Arka jangan sampai terabaikan. Bu khadijah juga merenungi ucapan Zaky yang tidak salah sama sekali. "Tapi, kenapa harus dia? Kamu bisa cari orang lain kan?" tanya bu Khadijah masih berusaha menentang.


Zaky menggeleng. "Tidak, Bu. Aku sudah memikirkannya matang-matang. Hanya dia yang bisa menjaga Arka dan Zoya kelak saat aku sedang tidak ada disisinya,"


Bu Khadijah memberi isyarat anggukan pada Yasa untuk menghubungi Zada. Yasa balas mengangguk dan keluar ruangan untuk menghubungi mantan suami atasannya itu.


Sekitar setengah jam, Zada akhirnya sampai di ruangan Zaky. Ada Yasa disana yang akan menjadi saksi apa yang akan di bicarakan oleh dua pria tersebut.


"Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya Zada yang langsung pada intinya. Zaky mengangguk. "Iya, jika boleh, aku ingin merepotkanmu," ucap Zaky tanpa sungkan. Entah mengapa, Zaky begitu percaya pada Zada untuk menjaga anak dan istrinya.


Sedang Yasa, dia hanya mendengarkan dan mengamati interaksi keduanya dari pojok sofa yang tersedia disana. "Merepotkan seperti apa yang kamu maksud?" tanya Zada penasaran.


"Aku akan melakukan fisioterapi dan mencari pendonor mata untukku di laur negeri. Jika berkenan, bisakah kamu menjaga anak dan istriku?" ucap Zaky memohon.


Zada mengernyit heran. "Kenapa harus aku?" tanyanya kebingungan. Zaky pun menjawabnya. "Karena kamu mencintai Zoya," Zada terperangah karena gelagatnya selama ini di ketahui oleh Zaky. "Justru itu, apa kamu tidak takut jika seiring berjalannya waktu, Zoya akan merasa nyaman padaku dan jatuh cinta lagi padaku?" tanya Zada dengan percaya dirinya.


"Tidak akan. Aku percaya Zoya tidak seperti itu. Tapi jika itu terjadi, aku akan dengan rela melepas Zoya jika itu membuat Zoya bahagia. Aku tidak tahu kapan aku kembali. Tapi yang pasti, itu tidak akan sebentar. Aku mohon, tolong aku kali ini saja," Zaky sudah menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

__ADS_1


Zada langsung memegang tangan Zaky dan menurunkannya. "Jangan seperti itu. Aku akan menjaga anak dan istrimj sebagaimana mestinya. Anggap saja ini adalah usaha untuk menebus kesalahanku yang dulu,"


Flashback off.


Zada memandangi wajah bayi mungil yang baru berusia empat bulan itu dengan mata berkaca-kaca. Sejak saat itu, Zada sudah menganggap Arka sebagai anaknya sendiri. Dia sangat menyayangi Arka, si bayi menggemaskan.


Zada mengecup pipi gembul milik Arka itu dengan lembut, takut tidur pulasnya terganggu. "Om janji, Om akan jaga kamu dan mama kamu sampai papa kamu pulang. Itu janji Om sama kamu, Arka," gumam Zada berbicara dengan Arka walau Zada sadar, Arka belum paham akan hal seperti itu.


Sedang dalam rumah rawat inap lainnya, Zoya sedang menangis tergugu sesaat setelah mendengar penjelasan Yasa. "Kenapa seperti itu? Bukankah aku dan mas Zaky bisa berjuang bersama? Mengapa mas Zaky pergi tanpa menungguku?" racau Zoya begitu marah, kecewa, sekaligus sedih.


Yasa mengusap pipinya yang sudah basah karena air mata. "Ini demi kebaikan semuanya, Mbak. Aku yakin, pak Zaky melakukan semua karena sudah di pertimbangkan matang-matang," ucap Yasa mencoba menenangkan dan memberi pengertian.


"Tapi sampai kapan, Sa? Aku bahkan nggak tahu sampai kapan aku bisa ketemu mas Zaky? Aku rindu ...." tangis Zoya semakin tidak terarah dan Yasa bergegas memeluk tubuh ringkih itu berharap akan memberikan sedikit kekuatan. "Sabar, Mbak. Kekuatan cinta kalian yang akan membuktikannya,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


selamat ...


kalian kena prank🤣🤣🙏


kabuuuur!!!🏃🏃🏃


mampir kesini juga yuk.

__ADS_1



__ADS_2