
Zoya keluar dari gedung tempat dia menimba ilmu dengan perasaan yang senang. Materi dan praktek yang baru saja dia terima membuat Zoya ingin segera mencobanya di rumah.
Bersama Sely, Zoya berjalan bersisian menuju parkiran. "Zoya, aku duluan ya? Sudah di tunggu sama Yayang," ucap Sely tersenyum bungah. Zoya tersenyum jengah membalas ucapan Sely.
Satu minggu mengenal Sely, Zoya mulai tahu sifat Sely seperti apa. "Hati-hati di jalan, Sel," ucap Zoya saat Sely melajukan motornya melewati kuda besinya. "Siap! Aku tinggal dulu ya,"
Setelah itu, tidak ada suara lagi karena Sely sudah pergi bersama motor kesayangannya. Zoya bergegas memakai helm dan naik ke motor lalu menyalakan mesin motornya.
Saat akan keluar dari gedung, Zoya berhenti sejenak untuk menengok kanan-kiri, memastikan bahwa dia aman untuk menyeberang. Saat dia kembali menatap lurus, Zoya menemukan pria itu lagi, pria yang sudah ketiga kalinya Zoya temui.
Dia sedang berdiri di depan ruko yang berhadapan dengan gedung tempat Zoya kursus sambil matanya menatap Zoya. Zoya mengerjap-ngerjapkan matanya takut salah lihat.
Namun, pria yang berdiri di seberang jalan itu memang benar adalah Pratama. Zoya mengalihkan pandang untuk menghilangkan kegugupannya. Zoya jelas masih terngiang dengan ucapan Tama bahwa dia meminta izin untuk menyebut nama Zoya di sepertiga malamnya.
Ada debar yang entah apa, Zoya tidak tahu. Belum sempat Zoya melajukan motornya, ada mobil yang sudah berhenti di hadapannya. Seseorang di balik kemudi membuka kaca hingga Zoya bisa tahu siapa dia.
"Mas Zaky? Ada apa?" tanya Zoya sedikit menunduk untuk bisa melihat wajah Zaky. Begitu juga dengan Zaky, dia melongokkan kepalanya untuk melihat wajah Zoya. "Assalamualaikum, Zoya. Ada hal penting yang harus aku bicarakan," ucap Zaky menyuruh Zoya mendekat.
"Zada katanya ingin bertemu kamu dulu sebelum dia benar-benar di penjara," bisik Zaky saat wajah Zoya sudah mendekat. Dan entah mengapa, Zoya mengangguk seakan menyetujui Zada untuk menemuinya.
"Kalau begitu, ikut aku. Motor kamu biar nanti orangku yang urus," Tidak ada pilihan lain. Zoya segera turun dari motor. Saat hendak masuk ke mobil yang pintunya sudah dia buka, Zoya bisa melihat tatapan datar dari Tama. Entah, Zoya tidak mau mengartikan tatapan itu. Toh, hubungan keduanya tidak sedekat itu.
Setelah Zoya masuk, Zaky segera membawa mobil itu membelah jalanan kota. Tidak banyak percakapan di antara keduanya. Sekitar setengah jam, mobil Zaky memasuki rumah yang pernah Zoya tinggali dulu.
Zoya menghela nafasnya panjang saat kenangan manis dan pahit yang sudah rumah itu tinggalkan membuat sudut di hatinya merasakan nyeri. Zoya masih ingat seperti apa isi rumah itu, sekat-sekat pembatasnya, bahkan warna lantai keramik yang rumah itu gunakan.
Zoya menatap rumah penuh kenangan di hadapannya sejenak. Ada kerinduan disana untuk menjelajahi isi rumah itu namun, logikanya mengatakan bahwa Zoya harus bergegas menyelesaikan urusannya. "Zoya?" panggil Zaky Karana sejak tadi Zoya malah melamun.
__ADS_1
"Ya?" jawab Zoya tersentak.
"Kita turun sekarang," ajak Zaky lembut yang mendapat anggukan dari Zoya. Zaky keluar dari mobil diikuti oleh Zoya yang berjalan di belakang Zaky. "Kamu ... Nggak papa, 'kan?" tanya Zaky memastikan.
Zoya tersenyum dan mengangguk yakin. "Aku pasti bisa," jawab Zoya tanpa keraguan. Zoya cukup tahu bahwa Zaky sejak tadi mengkhawatirkan perasaannya. Dan memang benar, perasaanya sedang tidak baik-baik saja mengingat seseorang yang akan zoya temui bukanlah orang biasa melainkan, orang yang pernah memberinya cinta serta menorehkan luka.
"Ayo!" ajak Zaky lagi untuk melangkahkan kakinya memasuki rumah itu. Sejak di depan, sudah ada beberapa polisi yang berjaga di rumah Zada. Mungkin, pihak kepolisian takut apabila Zada akan melarikan diri walau itu tidak akan pernah terjadi karena Zada lah yang menyerahkan diri.
Zaky membawa Zoya menuju ruangan yang dulu dia jadikan perpustakaan sekaligus tempat kerja Zada. Zoya tentu masih mengingatnya dengan jelas karena kepergiaannya dari rumah tidak seberapa lama dengan tinggalnya Zoya di rumah itu.
Foto-foto yang pernah Zoya pajang di lorong itu sudah diganti oleh pemiliknya yang sekarang. Dulu, Zoya memasang foto dirinya dan Zada di sebuah pigura besar. Sekarang, pigura itu sudah di ganti dengan foto Zada seorang. Zoya mengernyit heran. 'Mengapa tidak ada Ghaida disana?' batin Zoya bertanya-tanya.
"Ayo masuk," Suara Zaky berhasil mengalihkan perhatian Zoya. Zoya mengangguk dan mengikuti Zaky yang sudah berjalan lebih dulu.
Ceklek.
"Masuklah, Zoya. Kita akan menunggumu dan Zada disini. Pintu akan tetap kami biarkan terbuka karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," jelas Zaky yang mendapat anggukan dari Zoya.
Setelah dua polisi itu keluar ruangan, Zoya semakin masuk lebih dalam untuk bisa melihat keadaan Zada. Baru beberapa langkah Zoya masuk, dia sudah menemukan keberadaan Zada yang terduduk di lantai dengan mengenakan kaos tahanan.
"Zoya?" Ada getar pada nada bicara yang Zada keluarkan dan itu membuat hati Zoya sedikit tercubit. "Iya, ini aku, Mas," jawab Zoya susah payah lalu berjalan mendekati Zada. Zoya ikut duduk di lantai keramik tanpa alas untuk mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan Zada.
"Aku datang karena — Mas Zaky bilang — Kamu mau bicara penting," ucap Zoya tanpa mau bersusah payah menatap lawan bicaranya.
Zada mengangguk yang masih bisa Zoya tangkap lewat ekor matanya. "Ada apa?" tanya Zoya langsung pada intinya. "Zoya?" panggil Zada lembut. "Ya?" tanya Zoya berusaha bersikap biasa saja.
"Kamu sudah tahu berita yang sedang beredar?" tanya Zada yang mendapat anggukan dari Zoya. "Iya, itu alasan aku menikahi Ghaida. Aku membunuh orang yang membuat Ghaida hamil dan menjadikan Ghaida budak sek*snya," jelas Zada menjeda ucapannya untuk menghirup oksigen banyak-banyak.
__ADS_1
Zoya masih diam mendengarkan kelanjutan cerita. "Aku menikahi Ghaida hanya sebagai bentuk tanggung jawab yang berujung pada—"
Zoya mengangguk mengerti. Dia tidak sanggup bila Zada harus mengucapkan kalimat yang sangat menyakitkan bagi dirinya. "Lalu?"
Zada menghela nafasnya lagi sebelum menyambung kalimatnya. "Lalu aku dan Ghaida membuat perjanjian dimana isinya adalah, Ghaida tidak akan melaporkan aku ke polisi jika aku mau menikahinya. Waktu itu, aku sangat takut sehingga memilih untuk menikahinya. Dan jujur, aku mulai ada rasa dengannya,"
Zoya mendecih pelan karena dadanya merasakan sesak dan nyeri. Tidak semudah itu menghapus nama Zada di hatinya. Padahal, laki-laki di hadapannya sudah membuat dunia zoya luluh lantak tak bersisa.
"Hanya itu yang ingin kamu bicarakan? Nggak penting banget ya, Mas," ucap Zoya remeh karena memang pertemuan 'penting' yang Zada maksudkan tidaklah sepenting judulnya.
"Tidak. Masih ada beberapa hal yang harus aku utarakan dan berharap, akan menjadi pertimbangan kamu nantinya,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
waaah, kira-kira pertimbangan untuk apa nih ya?🤔
ada yang bisa jawab?🤔🙃
jangan lupa dukungannya ya, dengan cara kasih like, komen, vote dan kasih hadiah semampu kalian😍
terima kasih untuk kalian yang masih setia membaca karyaku..
semoga kalian semua diberi kesehatan dan rezeki yang lancar.
lope kalian semua..
peluk online🤗🤗
__ADS_1