Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 43. Menikahlah denganku


__ADS_3

Selama tujuh tahun ini memang Zoya butuh waktu untuk bisa menerima Zaky. Tidak mudah melupakan Zada karena Zoya termasuk orang yang sulit sekali melupakan. Entah, Zoya juga bingung dengan isi hatinya.


Namun, atas kesabaran dan keikhlasan Zaky menunggu dan menemani dirinya, Zoya perlahan-lahan luluh dan menerima lamaran Zaky enam bulan yang lalu. Zoya tidak mau mengecewakan seseorang yang selalu ada dan membuat Zoya selalu tertawa bahagia.


Ya, Zaky telah membuat hidup Zoya bangkit dari keterpurukan. Zoya juga bingung, hati Zaky terbuat dari apa sampai rela menunggu dirinya selama itu.


"Assalamualaikum, Zoya," Zoya menoleh ke arah sumber suara yang sangat dia rindui. Zoya mengerjapkan matanya beberapa kali takut penglihatannya salah. "Waalaikumsalam. Mas Zaky beneran pulang hari ini?" tanya Zoya tak habis pikir.


Zaky tersenyum dan mengangguk. "Iya, karena aku takut kamu goyah," ucap Zaky yang senyumnya berubah sendu. Zoya menggeleng. "Nggak akan, Mas. Kalau aku sudah membuat keputusan, aku tidak akan merubahnya karena aku sudah memikirkannya matang-matang," jawab Zoya lalu menatap calon suaminya lembut.


Zaky sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Zoya yang berada di lantai bawah tepatnya di toko bunga Zoya. "Yasa, beli bunga mawarnya lima ya?" ucap Zaky pada Yasa yang berusaha cuek dengan dua manusia yang sedang di mabuk asmara.


Yasa mengangguk. "Baik Pakpol. Siap laksanakan!" Setelah itu, Yasa bergegas memetik bunga mawar lima tangkai. Dia sampai lupa menanyakan warna apa bunga yang Zaky pesan. "Warna merah kan, Pak?" Zaky menjawab iya dan Yasa segera mengikatnya.


"Ini, Pak. Jadi lima puluh ribu," ucap Yasa sambil mengangsurkan lima tangkai mawar merah. Zaky segera membayar tagihan Yasa dan menerima bunga mawar berwarna merah itu.


Zoya sejak tadi hanya memperhatikan apa yang akan Zaky lakukan dan tanpa diduga, Zaky mengangsurkan bunga mawar itu padanya. "Menikahlah denganku, Zoya," ucap Zaky tulus.


Zoya menggercapkan matanya beberapa kali untuk menghilangkan kegugupannya. "Me-menikah?" tanya Zoya terbata-bata. "Iya, bukankah lebih baik di segerakan agar masalah yang datang tidak terlalu banyak?" ucap Zaky menyakinkan.


Zoya mengangguk. "Baiklah ...." jawab Zoya sengaja menggantung. "Baiklah apa, Zoya? Jangan membuatku penasaran," tanya Zaky lagi tidak sabaran.


"Baiklah ... Aku akan menikah denganmu, Mas," Zoya tersenyum hangat pada Zaky yang sekarang masih mematung karena jawabannya. "Kamu bersungguh-sungguh, Zoya?" tany Zaky memastikan. Bukannya apa, selama ini Zoya selalu meminta waktu hingga bertahun-tahun untuk bisa membuka hatinya.


"Aku bersungguh-sungguh, Mas. Bahkan, menikah denganmu besok juga akan aku lakukan," ucap Zoya terkekeh. "Kalau begitu, kita menikah besok," putus Zaky lalu berjingkrak-jingkrak bahagia layaknya anak kecil yang mendapatkan mainan uang diinginkan.


Zoya terkekeh saat melihat wajah Zaky yang sumringah. "Ingat umur, Mas!" tegur Zoya karena Zaky bertingkah seperti anak kecil. "Ehem, Baiklah. Aku akan mengatakannya pada ibu agar semua persiapan pernikahan kita segera di laksanakan," ucap Zaky yang sudah berubah menjadi kalem lagi.

__ADS_1


Yasa yang melihat sisi lain pada Zaky pun hanya terpelongo tidak percaya dengan penglihatannya. 'Bisa bersikap gitu juga ternyata pak Polisi,' batin Yasa geleng-geleng kepala.


"Aku bercanda lho, Mas, soal yang nikah besok. Paling nggak satu minggu baru kita nikah. Aku juga butuh persiapan," ucap Zoya meringis takut Zaky akan merealisasikan keinginannya. Zaky terkekeh. "Iya, kita juga tidak bisa menyiapkan semuanya dalam sehari,"


Zoya mengangguk. Wajah Zoya terlihat serius seperti sedang memikirkan sesuatu. "Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Zaky yang bisa membaca perubahan mimik wajah Zoya. Zoya menatap Zaky cukup lama sebelum mengungkapkan isi hatinya.


"Kalau aku kasih tahu mama Maya sama papa Rama, boleh nggak, Mas?" tanya Zoya hati-hati takut Zaky akan marah dengannya. Namun, Zaky bereaksi sebaliknya. Dia tersenyum sendu menatap Zoya. "Boleh dong. Undang mereka juga termasuk mantan suami kamu. Aku ingin dunia tahu kalau sebentar lagi kamu akan menjadi istriku," ucap Zaky tersenyum sendu.


Senyum Zoya semakin lebar. Zaky memang lelaki terbaik yang bisa mengerti Zoya dengan sebaik-baiknya. Benar kata Tama bertahun-tahun lalu jika, bukan cinta yang salah melainkan orangnya yang tidak tepat.


Sekarang, Zoya bisa mengerti arti dari cinta pada orang yang tepat. Walau Zoya belum sepenuhnya menyerahkan isi hatinya, Zoya akan berusaha untuk mencintai Zaky sebagaimana pria itu mencintainya.


______________________


Zoya sudah berada di rumah Zaky untuk membicarakan acara pernikahan dadakan seminggu lagi. Bu Khadijah tentu langsung menyetujuinya dan mengatakan. "Lebih cepat lebih baik,"


Setelah pembahasan selesai, ketiganya makan siang bersama. Zoya dan Zaky sepakat untuk menikah secara sederhana. Mengingat umur keduanya yang sudah hampir kepala tiga, tidak perlu lagi ada pesta meriah di ballroom hotel atau di gedung. Mereka sepakat untuk menikah di rumah Zoya berwalikan penghulu karena Zoya sudah tidak memiliki wali lagi.


Bu Khadijah menghentikan aktifitasnya lalu menatap Zaky dan Zoya bergantian. "Silahkan, selama ini hubungan Zoya dengan pak Rama dan Bu Maya kan, baik-baik saja. Jadi, kenapa tidak di undang? Undanglah mereka, Zoya," Bu Khadijah menjawab dengan senyuman menandakan tidak keberatan sama sekali.


"Terima kasih, Bu," ucap Zoya tersenyum haru. "Tidak perlu berterima kasih. Kamu juga berhak mengundang siapapun yang kamu inginkan," ucap bu Khadijah tulus. Zoya mengangguk dan tersenyum lagi.


Entah sudah kali keberapa Zoya menebar senyumnya. Rasa-rasanya, bibir Zoya sampai lelah dan gigi Zoya mengering karena terlalu banyak senyum lebar hari ini.


Setelah menyelesaikan makan siang dan berbincang sebentar dengan bu Khadijah, Zoya dan Zaky berpamitan untuk ke rumah pak Rama dan bu Maya. Saat ini, keduanya sudah berada di mobil menuju rumah mantan mertua Zoya dengan Zaky yang mengendarai mobilnya.


Walau demikian, baik bu Maya dan pak Rama sudah menganggap Zoya seperti anak kandungnya sendiri. Begitu juga dengan Zoya, dia sudah menganggap keduanya ibu dan ayah kedua untuk dirinya.

__ADS_1


"Sepertinya setelah pernikahan kita, aku mengambil cuti selama sepuluh hari," ucap Zaky memulai pembicaraan karena sejak tadi, keduanya hanya diam. "Kenapa sepuluh hari? Bukankah jika kamu libur dua hari saja, pekerjaan sudah sangat menumpuk?" tanya Zoya heran.


"Kamu nggak suka?" Zaky malah bertanya balik. "Aku sengaja cuti untuk bulan madu kita lho," ucap Zaky pura-pura cemberut. "Apaan sih, Mas. Bisa nggak jangan bahas sekarang ... Kan belum waktunya dibahas," kesal Zoya merasa malu hingga menutup wajahnya malu.


Zaky ingin sekali menggigit pipi Zoya yang merona namun, hal itu urung karena dirinya dan Zoya belum ada ikatan yang halal. "Nanti setelah kita menikah, jangan harap pipi kamu utuh,"


Zoya mengernyit heran. "Kenapa memangnya?"


"Karena aku akan menggigitnya setiap hari,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hmmm.


aku mau kasih undangan online untuk kalian🤣


siapa yang mau datang absen dulu ya🤣


siapin amplop sama isinya juga🙈😂


jangan lupa kasih dukungannya ya..


terima kasih untuk kalian yang masih setia baca dan memberikan dukungan like, komen, vote, dan memberi hadiah semampu kalian.


semoga rezeki kalian dilancarakan aamiin🌹🌹

__ADS_1


oh iya, sambil nunggu ini up, baca juga karya temanku ya. kisahnya ada dibawah sini.



__ADS_2