
"Ghaida?" panggil Adis yang membuat Ghaida memejamkan matanya erat. Ghaida menarik dan menghembuskan napasnya beberapa kali sebelum membalikkan tubuh. Senyum berusaha Ghaida ulas untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja tanpa mantan suaminya.
Ya, keduanya sudah resmi bercerai empat bulan setelah penandatanganan surat cerai. Alasan mengapa bisa selama itu adalah karena Adis selalu menunda dan mangkir untuk datang ke pengadilan. Bahkan, dia sama sekali tidak mengutus pengacaranya untuk datang, berbeda dengan Ghaida yang semua keperluan percerian sudah Ghaida percayakan pada pengacaranya tanpa harus repot-repot datang ke pengadilan.
Gugatan yang Ghaida ajukan sangat kuat dan langsung disetujui oleh hakim.
"Kita bertemu lagi setelah sekian lama. Dimana Arumi? Hai Yhara! Kamu sudah bisa berjalan sekarang," ucap Ghaida panjang lebar. Adis hanya bisa menatap sosok mantan istrinya yang kini sudah terlihat lebih baik dari dua tahun yang lalu.
Penampilan Ghaida sudah sangat berbeda. Ghaida yang sekarang terlihat begitu berkelas dengan wajah yang semakin terlihat muda walau usianya semakin bertambah.
Ekor mata Ghaida menangkap pergerakan dari belakang Adis. Ternyata Arumi sedang berjalan ke arahnya dengan raut wajah yang sulit dibaca. Ghaida tersenyum manis. "Hai Arumi! Apa kabar?" tanya Ghaida akrab.
Arumi tersenyum tipis lalu mengambil alih Yhara dari gendongan Adis. "A-aku ba-baik, Mbak," jawabnya tergagap.
Ghaida beralih menatap Adis yang saat ini juga sedang menatap ke arah dirinya. Pikiran Adis langsung berkelana pada sepucuk surat yang Ghaida tuliskan. Adis masih mebgaing jelas pesan yang ditulis Ghaida untuk rumah tangganya bersama Arumi.
Adis tersenyum. "Kamu bahagia?" Pertanyaan itu adalah hal yang pertama kali Adis tanyakan. Tentu saja Ghaida mengangguk. "Aku sangat bahagia dan merasakan ketenangan hidup yang sebenarnya," jawabnya jujur tanpa melebih-lebihkan.
"Kalian? Bahagia?" tanya Ghaida balik.
Adis mengangguk lalu tangannya bergerak menggenggam tangan Arumi. "Terima kasih atas kebahagiaan yang sudah kamu berikan pada kami. Sungguh, tidak ada pelajaran hidup yang lebih berharga setelah kepergianmu," jawab Adis sendu.
Ghaida tersenyum hangat. "Syukurlah."
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Silahkan makan sepuas kalian disini. Aku akan kasih diskon," kekeh Ghaida bercanda yang justru terlihat begitu cantik dan elegan di mata Adis.
Tanpa menunggu lama, Ghaida berlalu dari hadapan pasangan yang di masa lalu sudah menjadikan Ghaida yang sekarang. Ghaida bisa bangkit seperti sekarang adalah karena pelajaran hidup yang sudah dirinya terima dari kedua orang tersebut.
Ghaida tidak marah, benci, ataupun berniat balas dendam. Ghaida lebih memilih hidup seperti ini, di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dan menerima dirinya dengan baik.
Tanpa Ghaida sadari, pertemuan itu berhasil membuat rumah tangga Arumi juga Adis kembali dirundung pertengkaran.
Susah payah Arumi membuat Adis lupa pada Ghaida, kini semesta seakan ingin mempermainkan nasib hidupnya lagi. Entahlah, apakah setelah ini suaminya akan kembali jatuh cinta dengan Ghaida atau hatinya sudah teguh.
Setelah pulang dari rumah makan, Adis hanya duduk melamun di sisi ranjang tanpa memedulikan Arumi yang sejak tadi berusaha berbicara padanya.
"Kenapa, Mas? Kamu berubah pikiran lagi? Mencintai mbak Ghaida lagi? Cih, mudah sekali kamu mempermainkan perasaan wanita," ucap Arumi mengomel.
Adis terdiam. "Bicara, Mas! Kamu tidak boleh kembali pada mbak Ghaida bagaimanapun keadaannya. Karena aku orang yang selalu ada untukmu disaat masa terpurukmu!" ucap Arumi meneriaki Adis.
Arumi tertawa mengejek. "Tolong kamu bercermin dulu. Aku yakin, mbak Ghaida tidak akan mau untuk rujuk denganmu. Hanya aku, Mas! Hanya aku yang masih sudi bersamamu," ucap Arumi merasa terluka.
Sedang di tempat lain, Ghaida sedang menikmati udara pada sore hari dengan perasaan tenang dan lega. Entahlah, Ghaida seperti sudah yakin bahwa dirinya benar-benar sudah melupakan Adis dan memilih untuk berdamai dengan masalalu.
"Mama! Kok mau kesini nggak ajak Yusuf sih?" kesal Yusuf yang saat ini sedang berlari ke arahnya dengan wajah bersungut. Ghaida tergelak. "Bukannya kamu yang bilang sendiri kalau sudah malu jalan sama Mama ya? goda Ghaida yang semakin membuat wajah Yusuf bermuram durja.
"Habisnya, Yusuf selalu dikira adik Mama padahal, Yusuf 'kan anak Mama,"
__ADS_1
Ghaida semakin tergelak kencang. "Jangan dengerkan mereka. Mereka hanya sedang iri pada tinggi badan kamu," ucap Ghaida memberi semangat.
"Eh! Kakek sama nenek dimana? Menyusul kesini atau tidak?" tanya Ghaida sambil membenarkan rambut Yusuf yang mengenai mata karena tertiup angin.
Yusuf mengangguk. "Sebentar lagi sampai kayaknya, Ma," jawabnya sambil memejamkan mata, merasakan kasih sayang sang Mama yang sudah berjuang mati-matian membesarkan dan mendidiknya. "Terima kasih ya, Ma. Mama adalah Mama terhebat bagi Yusuf," ucap Yusuf terharu.
Ghaida mengangguk dengan senyum hangatnya. Yusuf selalu mengucap kata itu dan ampuhnya, bisa membuat Ghaida semakin bersemangat lagi menjalani hidup.
Sampai saat ini, Ghaida belum menikah lagi. Dia tidak terlalu berharap untuk bertemu seseorang yang akan menemani masa tuanya. Jika Ghaida tidak bisa bertemu jodohnya di dunia, Ghaida percaya akan bertemu jodohnya di surga-Nya kelak.
Ada dan tiada seorang imam di hidupnya, Ghaida serahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa.
End.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
akhirnya kisah ini selesai juga. terima kasih untuk kalian yang sudah menemani othor berjuang menulis hingga sampai di bab ini😍
semoga kalian semua diberi kesehatan dan rezeki yang lancar.
aku pamit dulu, sampai jumpa di novel aku selanjutnya ya😘😘
mampir juga ke karyaku yang lain yuk😉
__ADS_1
judulnya Akhir dari pengkhianatan ya