Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 63. Bertemu Ghaida dan Yusuf


__ADS_3

Zoya pulang terlebih dahulu ke rumah untuk mengantar Zaky sekaligus untuk menemui Arka. Bu Khadijah juga ikut pulang dan tinggallah pak Rama dan bu Maya yang masih setia menunggu anaknya untuk membuka matanya lagi.


Zoya berjalan memasuki rumah dengan lesu. Sudah hampir lima jam Zada tak sadarkan diri namun, belum ada tanda-tanda dia akan bangun. Zoya mengantar Zaky ke kamar terlebih dahulu dan mengurusi keperluan suaminya itu seperti menyiapkan baju dan air hangat.


Setelah Zaky keluar dari kamar mandi, Zoya bergegas menghampiri suaminya dengan tetap mengunci mulutnya. Tangannya bergerak untuk memakaikan baju di tubuh Zaky. "Zoya?" ucap Zaky memecahkan keheningan.


"Iya, Mas?" jawab Zoya masih sibuk memakaikan satu-persatu pakaian di tangannya. "Kenapa kamu diam sejak tadi? Apa keadaan Zada yang sekarang disebabkan olehku?" tanya Zaky mulai mengungkapkan keresahannya.


Zoya menghela nafasnya kasar. "Kita yang sudah bersalah, Mas. Empat bulan yang lalu mas Zada di vonis mengidap sakit mag kronis karena pola makan yang buruk dan kurang gizi. Mas Zada begitu sibuk mengurusi pekerjaannya dan setelah itu, dia selalu menyempatkan diri untuk bermain dengan Arka. Mungkin sejak saat itu, mag datang dan membuat mas Zada sakit," jelas Zoya panjang lebar dan bersamaan dengan itu, dia telah selesai memakaikan baju.


Zoya menuntun Zaky untuk duduk di pinggiran ranjang agar lebih nyaman dalam berbincang. Zaky menurut dan mengikuti kemana langkah kaki Zoya membawanya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk dengan Zada, aku akan merasa bersalah seumur hidupku. Aku memang tidak berguna sebagai seorang suami," lirih Zaky terdengar putus asa.


Jemari Zoya bergerak untuk mengenggam tangan Zaky dan mengelusnya lembut. Mata Zoya sushs berkaca-kaca jika masalah Zada yang dibahas. "Aku pernah menyuruh mas Zada untuk berhenti melakukan rutinitasnya seperti datang kesini setiap sore dan bermain bersama Arka. Tapi ... Mas Zada menolaknya dan mengatakan bahwa dia sudah menganggap Arka seperti anak kandungnya sendiri," Isak tangis pun berhasil lolos.


Bukan karena apa, Zoya tentu masih sangat ingat dikala Zada mengatakan masih mencintai dirinya. Semua sudah berlalu namun, Zada masih saja hidup dalam kubangan masa lalu. Padahal, semua yang di lakukan Zada untuk menebus kesalahannya sudah cukup bagi Zoya, bahkan lebih.


Zoya sudah memaafkan semua kesalahan laki-laki itu.


"Zada sudah berbuat begitu baik pada kita, Zoya. Ini semua adalah salahku. Seandainya aku tidak meminta Zada untuk menjagamu dan Arka waktu itu, mungkin Zada tidak akan ada di posisi yang sekarang," sesal Zaky dengan mata yang memerah menahan tangis.


"Semua sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa, Mas. Tugas kita hanya harus menjalankan skenario-Nya. Serapi dan sebagus apapun kita menyusunnya, jika itu tidak sesuai kehendak dari Allah, maka tidak akan terjadi. Mungkin, kita bisa mengambil hikmah di balik semua masalah yang menimpa. Dan kita bisa menjadikannya gambaran di masa depan agar tidak mengulanginya lagi."


.......................

__ADS_1


Matahari kembali muncul dengan sinar dan cahaya yang terang menerangi bumi. Tepat pukul delapan pagi, Zoya harus ke rumah sakit lagi untuk melaihr keadaan Zada yang belum juga sadarkan diri.


Zoya tahu dari pak Rama yang tadi pagi menelepon dirinya untuk mengabarkan tentang Zada. Zaky tidak ikut begitu juga dengan Arka. Zoya hanya datang sendiri ke rumah sakit.


Setelah motornya terparkir, Zoya melepas semua atribut berkendaranya dan membenarkan sedikit kerudungnya. Setelah itu, dia berjalan memasuki gedung rumah sakit dengan melewati taman yang tersedia disana.


Zoya seketika menghentikan langkahnya saat ekor matanya menangkap sosok yang begitu dia kenali sedang berada di taman bersama anak kecil yang duduk di kursi roda.


Ghaida dan Yusuf.


Zoya mengernyit heran, apa yang sedang keduanya lakukan di rumah sakit? Apa Yusuf sakit? Sejak kapan? Akhirnya, dengan keyakinan diri Zoya berjalan mendekati keduanya. "Assalamualaikum." sapa Zoya untuk pertama kalinya.


Keduanya menoleh terkejut dan setelah menyadari siapa yang menyapa, Ghaida tersenyum menatap Zoya. "Waalaikumsalam, Mbak. Aku kira siapa tadi," jawabnya ramah.


Zoya tersenyum hangat dan pandangannya jatuh pada Yusuf yang sedang menatap dirinya. "Yusuf sakit? Sakit apa?" tanya Zoya khawatir dan berjongkok di hadapan anak berusia delapan tahun itu.


Hanya saja, Zoya melihat wajah yusuf lebih pucat dengan kulit bibir yang kering. Zoya menatap iba pada Yusuf lalu beralih menatap Ghaida yang justru menghindari tatapannya.


Zoya mengernyit heran. "Memangnya Yusuf sakit apa, Da?" tanya Zoya dengan penuh tanda tanya. "Nanti aku jelaskan ya, Mbak."


"Yusuf, kamu sama Mbaknya dulu ya? Mama mau ngobrol sama Tante Zoya sebentar," ucap Ghaida lembut lalu lama seseorang yang dia panggil 'mbak' itu muncul dan membawa Yusuf dengan kursi rodanya.


"Kita bicara disana ya, Mbak," ajak Ghaida menunjuk kursi panjang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Zoya mengangguk saja dan mengikuti langkah Ghaida.


"Yusuf sakit apa?" tanya Zoya sesaat setelah duduk bersebelahan dengan Ghaida. Pandangannya menatap ke depan memperhatikan lalu lalang manusia.

__ADS_1


Terdengar helaan nafas dari Ghaida hingga membuat Zoya harus meliriknya. "Kenapa? Sakit biasa kan?" tanya Zoya mengernyit heran. Tatapan Ghaida menerawang jauh seakan sedang menembus masa lalu.


"Yusuf menderita penyakit hemofilia, Mbak. Dan itu baru terdeteksi beberapa tahun terakhir ini setelah Yusuf sunat," ungkap Ghaida mengejutkan Zoya.


Zoya sontak menutup mulutnya tak percaya. Zoya cukup tahu apa itu hemofilia. Itu merupakan penyakit bawaan lahir yang membuat darah sulit membeku dan pendarahan berlangsung lebih lama dibandingkan kondisi normal.


"Tapi? Bagaimana bisa baru diketahui?" tanya Zoya masih tidak percaya. Ghaida tersenyum masam. "Itulah kebodohanku, Mbak. Padahal sewaktu Yusuf latihan jalan, dia terjatuh hingga kakinya luka namun, lukanya tak kunjung kering. Dan semua memuncak saat Yusuf melakukan sunat. Saat itu — " Ghaida tak mampu lagi melanjutkan kalimatnya karena sudah terisak bila mengingat tentang penyakit yang sedang anaknya derita.


Bibir Zoya melengkung ke bawah, matanya mulai mengeluarkan cairan bening dari sudut-sudutnya. Zoya seperti merasakan sakit yang Ghaida rasakan. Dia langsung teringat Arka, anaknya yang beruntung terlahir dalam kondisi sehat walau lahir di usia kandungan yang masih tujuh bulan.


Zoya membawa tubuh Ghaida dalam pelukannya untuk memberikan ketenangan disana. "Jangan cerita kalau itu berat buat kamu. Aku tahu, ini pasti nggak mudah buat kamu," ujar Zoya menenangkan dengan telapak tangan yang menepuk-nepuk punggung Ghaida, lembut.


Setelah tangisnya reda, Ghaida merenggangkan pelukannya dan menatap Zoya. "Waktu itu aku takut sekali, Mbak. Darah yang keluar karena sunat itu nggak sedikit, bahkan sangat banyak. Aku sangat takut kehilangan Yusuf, Mbak ...." Lagi-lagi tangis Ghaida pecah.


Dia seperti begitu nyaman menceritakan kegelisahan hidupnya pada Zoya. Zoya mengangguk dengan air matanya yang berlinang. "Iya aku tahu ... Ini pasti nggak mudah buat kamu," Zoya mengenggam tangan Ghaida berharap bisa menghilangkan gemetar itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


hmmm


jangan lupa kasih dukungannya...


jangan sampai kendor😍😅


emang kolor? wkwkwk

__ADS_1


mampir juga kesini yuk.



__ADS_2