Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 59. Jadi payung saat hujan tiba


__ADS_3

Dua minggu berlalu, fisioterapi Zaky akhirnya membuahkan hasil. Keajaiban seakan datang menghampiri. Doa dari orang terdekat, istri, dan ibu akhirnya terkabul. Zoya dan bu Khadijah adalah orang yang paling bahagia.


Lutut hingga telapak kaki Zaky katanya sudah bisa di gerakkan seperti semula. Sedang bagian lutut ke atas, masih mati rasa. Tapi itu tidak masalah bagi Zoya, sedikit demi sedikit suaminya pasti akan sembuh.


Sedang Zada, dia sudah sehat dan bekerja lagi di kantor. Hanya saja, Zada sudah tidak di perbolehkan untuk makan makanan yang pedas dan minum kopi. Itu akan memperburuk kondisi perutnya.


Seperti biasa, Zada akan datang ke rumah setelah jam kantor selesai. Dia datang untuk menemui Arka dan bermain sebentar dengan anak yang usianya hampir menginjak enam bulan itu.


"Assalamualaikum, Arka. Sama Om dulu ya," ucap Zada lalu mengambil alih Arka yang ada di gendongan bu Khadijah. Sedang Zoya, dia sedang mandi sore karena seharian ini dia bermain dengan Arka.


"Waalaikumsalam, Om Zada," jawab bu khadijah menirukan suara anak kecil lalu menyerahkan Arka pada Zada. "Ibu tinggal dulu ke belakang ya, Da. Titip Arka sebentar karena Zoya sedang mandi," ucap bu khadijah lalu berlalu meninggalkan Arka dan Zada.


Bocah berusia enam bulan itu tertawa girang dan mengucapkan kata yang tidak di mengerti oleh orang dewasa. Namun, Arka terlihat begitu bahagia saat Zada datang dan menggendongnya.


"Agaguga ... Tatatata," celoteh Arka lucu hingga membuat Zada gemas dan mencium pipi gembul miliknya. "Lucu banget sih, keponakan Om ini ... Jadi pengen bawa pulang deh," ucap Zada sambil melabuhkan ciuman bertubi-tubi di pipi Arka.


Arka kembali bersuara tak jelas dan tertawa lepas karena geli. "Babababa ...." Zada tersenyum senang melihat antuasias Arka saat bersamanya. "Kita main ya, Arka jagoan," ajak Zada lalu berjalan untuk duduk di atas karpet yang di atasnya sudah terdapat banyak mainan Arka.


Zada dan Arka bermain dengan akrab layaknya anak dan bapak. Zoya yang sedang berjalan menghampiri terpaksa menghentikan langkahnya tepat di anak tangga terakhir untuk melihat pemandangan yang mungkin sudah biasa dirinya lihat.


Zada selalu menyempatkan diri datang untuk sekedar menemui Arka. Mungkin benar yang suaminya katakan bahwa Arka butuh tumbuh dengan figuran ayah selama masa perkembangannya. Terbukti dari antusias Arka saat Zada datang menemuinya.

__ADS_1


Di sisi lain, Zoya merasa bersalah karena telah mencuri waktu yang Zada miliki hanya untuk seseorang yang 'bukan siapa-siapa' bagi Zada. Ya, dirinya dan keluarganya bukan siapa-siapa untuk Zada. Tapi, Zada rela meluangkan waktu di tengah kesibukannya demi menjaga amanat yang suaminya berikan.


Zoya harus berbicara dengan Zada tentang masalah ini. Bagi Zoya, Zada pasti punya urusan pribadi namun, bagaimana urusan itu bisa terselesaikan jika Zada selalu menghabiskan waktu senggangnya untuk bermain bersama Arka?


"Kamu sudah lama disini, Mas?" tanya Zoya saat sudah mendekat pad anaknya dan Zada. Arka yang sedang bermain sudah tidak memedulikan ibunya yang datang dan larut dalam mainan puzzle-nya.


Zada mendongak. "Sudah lumayan. Sudah selesai mandinya?" tanya Zada yang hanya formalitas saja. Dia tidak tahu harus menanyakan apa karena setiap kali berada di dekat Zoya, jantungnya selalu berdegup dengan cepat.


"Sudah." Zoya menjawab singkat lalu duduk agak jauh dari Zada. Keheningan mengisi ruangan tersebut hingga hanya suara Arka saja yang terdengar menggema. "Mas, ada ... yang harus aku bicarakan," ucap Zoya berhasil memecahkan keheningan.


Zada yang sedang menatap Arka pun mendongak untuk bersitatap dengan Zoya. "Bicara apa? Bicara saja," jawab Zada yang paham bahwa Zoya akan berbicara serius.


Zoya menghela nafasnya berat sebelum memulai pembicaraan. "Aku pikir, Mas Zada sudah tidak perlu kesini lagi. Bukan bermaksud apapun tapi, aku yakin Mas Zada pasti punya kehidupan pribadi yang harus diurus. Tidak seharusnya mas Zada menghabiskan waktu senggangnya untuk bermain bersama Arka," ucap Zoya bernafas lega karena akhirnya, pikiran yang menganggu telah dia keluarkan.


Zoya menunduk lesu. "Dia bukan anakmu, Mas. Kamu berhak bahagia dan menikah lagi," ucap Zoya mengemukakan pendapatnya.


Zada menatap Zoya lekat. "Apa aku salah jika aku sudah menganggap Arka sebagai anakku sendiri? Tolong, biarkan tetap seperti ini. Jika nanti waktunya tiba, saat Zaky telah kembali, perlahan aku akan pergi dari kehidupanmu dan Arka. Tugasku sudah selesai untuk menjaga Arka dan kamu agar tetap baik-baik saja,"


Entah mengapa, dada Zada selalu berdenyut nyeri saat Zoya selalu menyinggung masalah ini. Zada seperti tidak terima jika harus berpisah dengan Arka. Mungkin, itu akan zada lakukan nanti setelah ayah kandungnya kembali.


Zoya mendongak. "Lalu, apa kamu sudah baik-baik saja saat ingin membuatku dan Arka baik-baik saja? Kamu perlu memikirkan diri kamu sendiri juga, Mas. Ambillah waktu untuk diri kamu sendiri," ucap Zoya masih ingin memberikan penjelasan.

__ADS_1


"Aku akan baik-baik saja selagi kamu dan Arka baik-baik saja. Bagiku, melihat kamu dan Arka bahagia, itu sudah cukup untukku," ucap Zada tersenyum sendu menatap Zoya.


Zoya langsung menurunkan pandangannya menatap jemarinya yang sedang bermain memilin. "Jangan katakan jika — "


"Iya, aku masih mencintaimu. Belum ada yang mampu menggantikan namamu disini," ucap Zada sambil menunjuk dada sebelah kirinya. Mata zoya berkaca-kaca mendengar pengakuan Zada.


"Jangan bersedih. Ini semua aku lakukan untuk kebahagiaanmu. Anggap saja aku sedang menebus semua kesalahanku walau sebenarnya, kesalahanku yang dulu sudah tidak termaafkan lagi. Bukankah cinta tidak harus memiliki? Aku akan membiarkan cinta ini bersemayam di hati," ucap Zada yang berhasil membuat Zoya menitikkan air mata.


"Hei, jangan menangis. Kamu harus bahagia, Zoya," ucap Zada yang merasa matanya memanas karena tiba-tiba pandangannya buram tertutup cairan bening. 'Aku mencintaimu, Zoya,' ucap Zada yang tentunya hanya dalam hati.


Zoya semakin terisak dalam tangisnya. Mungkin jika Zada melakukan semuanya dulu, hati Zoya akan luluh. Namun sekarang, keadaannya sudah berbeda. Zoya sudah mempunyai Zaky yang cintanya begitu besar untuknya.


Zoya sudah memutuskan untuk dicintai daripada mencintai. Karena mencintai terkadang tak sesuai ekspektasi. Sedang dicintai, sudah dipastikan Zoya akan merasa bahagia dan nyaman setiap hari.


Terbukti saat ini, rasa cintanya pada sang Suami sudah begitu besar hingga tidak ada yang mampu menggoyahkan. Zoya sungguh merasa sangat bersalah pada Zada. Mengingat itu, Zoya sesenggukan lagi.


"Jangan menangis atau aku akan lebih terluka, Zoya," ucap Zada yang justru menambah beban pada pikiran Zoya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


apakah ini definisi jadi payung saat hujan tiba? dan setelah hujan reda, payung itu sudah tidak dibutuhkan lagi 😭

__ADS_1


mampir kesini yuk.



__ADS_2