
"Oh ya? Dimana surat itu, Mas? Aku ingin membacanya," tanya Zoya bersemangat. Zaky terdiam dengan senyum anehnya, menurut Zoya. "Mas?" sentak Zoya karena Zaky sejak tadi malah menatap dirinya. "Hm?"
"Dimana suratnya?" tanya Zoya lagi. Zaky terkekeh pelan. "Sekarang bukan waktunya untuk membaca surat. Ada hal yang lebih penting yang harus kamu lakukan," ucap Zaky misterius.
Zoya mengernyit heran. "Maksudnya apa, Mas? Apa yang harus ak — "
Belum sempat Zoya menyelesaikan kalimatnya, benda kenyal nan lembut milik Zaky sudah menempel di bibirnya. Zoya bisa merasakan lu ma tan- lu ma tan lembut pada bibirnya hingga membuat mata Zoya terpejam.
Zaky semakin menarik pinggang Zoya untuk memperdalam ciumannya. Sedang satu tangannya dia gunakan untuk menahan tengkuk Zoya. Zaky semakin melesakkan lidahnya ke dalam rongga mulut Zoya saat Zoya mulai membalas ciumannya.
Udara di sekitarnya mendadak panas padahal, AC sudah menyala dengan suhu rendah. Saat satu de sa han berhasil lolos dari mulut Zoya, Zaky beralih menindih tubuh Zoya lembut.
Dengan tergesa, Zaky melepas kaos yang dikenakannya hingga memperlihatkan perut kotak-kotaknya. Zoya menatap pemandangan di depannya dengan takjub. Jemari lentiknya bergerak menyentuh satu persatu roti sobek itu.
"Hah." Zaky sudah tidak tahan lagi akibat sentuhan lembut dari Zoya. Dia kembali merunduk, menciumi leher jenjang dan putih milik Zoya.
Zoya merasakan sensasi yang menggelitik disana. "Hmmh."
Ciumannya semakin turun menyusuri setiap jengkal lekuk tubuh Zoya yang masih terbungkus kain tipis. Bibirnya beralih pada dua benda kembar dan memberikan kecupan disana hingga meninggalkan jejak basah dan terlihat bagaian dalamnya. Zoya semakin bergerak tak terkendali.
Zaky yang paham tubuh Zoya mulai gelisah pun membuka gaun tidur itu dengan satu kali sentakan lewat atas kepala Zoya. Zaky menelan ludah saat tubuh indah Zoya terlihat jelas tanpa sehelai benang pun menutupi. Dia juga tergesa melepas celananya yang sudah sesak akibat tekanan di dalam sana.
"Boleh sekarang?" Suara Zaky sudah terdengar serak dan tatap matanya sayu. Zoya hanya terdiam lalu menarik tengkuk Zaky untuk melilitkan lidahnya lagi.
Zaky tersenyum disela ciumannya. "Berdoa dulu, Sayang," Setelah itu, keduanya mengucapakan doa sebelum melakukan hubungan suami istri.
Zaky kembali me lu mat bibir Zoya lalu, sesuatu di bawah sana sedang berusaha menerobos masuk dan melesak sampai dalam.
.................................
Zoya memicingkan mata saat ada sinar yang masuk lewat celah gorden menembus retinanya. Matanya mengerjap mengamati sekitar. Di bisa melihat jam dinding di hadapannya sudah menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.
Tunggu? Zoya langsung membuka matanya lebar-lebar saat ingat dirinya sudah melewatkan sholat subuh. Matanya melihat ke samping dimana Zaky sudah tidak ada di sebelahnya namun, pintu kamarnya terbuka menandakan Zaky sudah bangun.
__ADS_1
"Kenapa mas Zaky nggak membangunkan aku sih?" kesal Zoya lalu beringsut turun dari ranjang menuju kamar mandi. Dia harus mensucikan diri sebelum melaksanakan sholat subuh.
Sekitar tiga puluh menit, Zoya kembali dengan tubuh yang sudah suci, dalam artian, dia sudah mandi besar dan berwudhu. Berbicara tentang mandi besar, pipi Zoya mendadak panas mengingat bagaimana suaminya itu memperlakukan dirinya dengan lembut. Apalagi, di sepanjang melakukannya, Zaky tidak berhenti meneriaki namanya. Zoya tersenyum lalu bergegas memakai mukenanya.
Dia harus menjalankan kewajibannya walau sudah terlambat. Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sekitar sepuluh menit, Zoya sudah selesai dan melepas mukenanya.
Berhubung hanya ada dirinya dan sang Suami di dalam apartemen, Zoya hanya mengenakan dress floral selutut dengan lengan pendek. Rambut basahnya dibiarkan tergerai lalu, Zoya keluar untuk mencari keberadaan suaminya.
"Mas? Mas Zaky?" panggil Zoya saat tidak menemukan suaminya berada dalam apartemen. Tiba-tiba, bunyi bip dari pintu apartemennya berbunyi menandakan ada seseorang yang masuk. "Mas Zaky? Habis darimana? Kok pagi-pagi sudah keluar?" tanya Zoya saat melihat Zaky yang masuk setelah dari luar.
Zaky hanya tersenyum lalu mengangkat kresek di tangannya yang berisi menu sarapan untuk Zoya dan dirinya. "Aku habis beli sarapan untuk kita," jawab Zaky lalu menarik lengan zona untuk mengikuti dirinya. Zaky menyuruh Zoya untuk duduk dan Zoya menurut begitu saja.
"Kenapa nggak bangunin aku sih, Mas? Aku kan jadi telat, sholatnya," kesal Zoya, bibirnya sudah cemberut. "Loh, aku sudah bangunin kamu, Sayang. Tapi sepertinya, kamu masih sangat menikmati waktu tidur itu. Makanya kamu nggak langsung bangun. Sekarang, udah sholat subuh kan?" tanya Zaky sambil tangannya sibuk memindah bubur ke dalam mangkuk.
Zoya hanya mengangguk. "Sekarang makan dulu ya? Setelah ini, aku mau bikin anak lagi soalnya," ucap Zaky tak berfilter.
Zoya langsung memukul lengan Zaky kencang. "Aku aja masih capek banget. Mas Zaky nggak sadar semalam udah berapa kali? Lima kali loh, Mas," kesal Zoya dengan bibir yang sudah maju lima senti.
Zaky tergelak renyah. Tangannya bergerak untuk memeluk Zoya dari samping. "Mungkin mulai detik ini, kamu akan selalu jadi canduku. Gimana? Enak nggak?" tanya Zaky ambigu.
Zoya memutar bola matanya malas. "Apaan sih, Mas. Jangan aneh-aneh deh pertanyaannya," Zaky kembali tergelak. "Siapa yang aneh-aneh? Aku nanya enak nggak? Buburnya maksud aku hahaha," Zaky semakin tidak sanggup menahan tawanya saat mata Zoya menatap tajam dirinya.
"Apaan sih, Mas. Nggak lucu tahu," kesal Zoya yang sudah merasa malu setengah mati. Pasalnya, dia sudah mengira yang tidak-tidak dengan pertanyaan Zaky.
Sedangkan di tempat lain, Zada sedang melamun di kantornya dengan di temani secangkir kopi dan musik. Lagu yang berjudul Aku Bukan Jodohnya yang di populerkan oleh Tri Suaka, mengalun merdu hingga membuat Zada terbawa suasana.
Ini salahku
Terlalu memikirkan egoku
Tak mampu buatmu bersanding nyaman denganku
Hingga kau pergi tinggalkan aku
__ADS_1
Terlambat sudah
Kini kau t'lah menemukan dia
Seseorang yang mampu membuatmu bahagia
Ku ikhlas kau bersanding dengannya
Aku titipkan dia
Lanjutkan perjuanganku 'tuknya
Bahagiakan dia, kau sayangi dia
Seperti ku menyayanginya
Begitulah kira-kira penggalan lirik yang menggambarkan suasana hati Zada sekarang ini.
Pak Rama yang baru saja masuk ke ruangan berhasil menyemburkan tawanya. "hahahmmmph," Zada sudah tidak peduli lagi dengan ledekan papa dan mamanya. Mungkin kedepannya, itu akan menjadi makanan Zada setiap hari.
"Aku titipkan dia ... Lanjutkan perjuanganku, tuknya hahaha," Lagi-lagi pak Rama tergelak renyah, seakan merasa puas melihat anaknya hidup dalam penyesalan.
"Apaan sih, Pa? Nggak mama nggak papa sama aja, sama-sama nggak ngerti perasaanku,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
jangan lupa kasih dukungannya ya😍
walau hanya like dan komen, itu sangat berarti untukku.
terima kasih untuk kalian yang sudah memberikan dukungan berupa Like, komen, hadiah, Bahkan vote.
terima kasih banyak🌹😘😘😘
__ADS_1
mampir kesini yuk.