Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 71. Mengunjungi Zada


__ADS_3

Hari telah berganti minggu, akhirnya Zaky sudah pulih kembali dan di izinkan pulang tiga hari yang lalu. Seperti janjinya, Zoya akan membawa Zaky pada Zada. Walau Zaky belum mengetahui jika Zada telah meninggal dunia, Zoya akan menjelaskan nanti sewaktu sudah sampai di makam.


"Kamu sudah siap, Sayang?" tanya Zaky pada Zoya yang baru saja menautkan seatbeltnya. Zoya mengangguk. "Sudah, Mas. Kita berangkat sekarang," jawab Zoya merasa gugup.


"Arka kok nggak di ajak? Memangnya kenapa?" tanya Zaky yang sejak tadi merasa heran, seperti ada yang aneh dengan keberadaan Zada saat ini. "Nggak, Mas. Di tempatnya mas Zada panas sekali ... Kasihan dia," jawab Zoya masih menutupi.


"Panas? Bukannya di rumah ya?" tanya Zaky lagi yang jiwa interogasinya mulai menguasai. Zoya berusaha bersikap setenang mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan pada Zaky. Dia berusaha terkekeh walau dipaksakan. "Disana nggak ada AC, Mas, Kasihan Arka. Nanti kalau Arka sudah lebih gedean dikit, kita ajak dia kok," jawab Zoya jujur.


Lagian, mana ada kuburan yang terdapat AC? Itu bukan termasuk kebohongan kan? Zoya jujur apa adanya. "Oke. Aku nggak sabar pengen cepat sampai di rumah Zada," setelah itu, tidak ada suara lagi di antara Zoya dan Zaky. Keduanya terdiam dengan pikirannya masing-masing.


Hingga tiba di perempatan, Zaky kembali bertanya pada Zoya kemana arah rumah Zada. "Kita belok kemana, Sayang?" Zoya melirik Zaky sekilas uang kini juga sedang menatap profil samping dirinya. "Kita belok kiri, Mas," lirih Zoya hati-hati.


Zaky mengernyit heran namun, tetap menjalankan mobilnya menuju arah yang telah ditunjukkan oleh Zoya. "Bukannya ini jalan menuju makam ya?" tanya Zaky yang masih belum sadar. "Memang benar, Mas ... Rumah barunya mas Zada ada disini," ucap Zoya yang tepat pada saat itu, Zaky telah berhasil berhenti di pinggir makam.


"Kamu jangan bercanda, nggak lucu Sayang," kesal Zaky yang belum menyadari. Zoya menatap Zaky serius. "Aku nggak bohong, Mas. Yuk kita turun ... Katanya kamu mau ketemu sama Mas Zada," ajak Zoya yang memilih keluar lebih dulu dan berjalan melewati gundukan-gundukan tanah yang ditumbuhi rumput Jepang dan terdapat baru nisan dimana disana ada nama orang yang telah dikubur di dalamnya.


"Zoya?" panggil Zaky yang kini sudah mengikuti di belakang Zoya dan memegang pergelangan tangan Zoya lembut. "Kenapa, Mas?" tanya Zoya berusua menyembunyikan nada getarnya.


Zaky tampak menatap mata Zoya untuk mencari kebohongan disana. Namun, wajah Zoya menunjukkan bahwa dia benar-benar serius dengan ucapannya. "Kamu nggak lagi bercanda kan?" tanya Zaky lagi untuk meyakinkan dirinya sendiri.


Zoya menggeleng kuat dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Nggak, Mas. Mas Zada memang sudah menemui Allah terlebih dahulu. Yuk kita kesana sekarang," ajak Zoya lagi lalu menuntun tangan suaminya untuk mengikuti.

__ADS_1


Zaky terpaksa menyeret langkahnya agar lebih dekat lagi dengan gundukan tanah yang bertuliskan nama Zada. Tidak berapa lama, Zoya menghentikan langkahnya tepat di samping makam Zada. Zaky juga melakukan hal yang sama dan menatap papan nama yang bertuliskan Zada Zamurat.


Disana tertera tanggal lahir sampai tanggal wafatnya. Zaky yang melihat itu langsung terduduk di tanah, air matanya tumpah ruah mengingat semua kebaikan yang sudah zada lakukan untuk keluarganya.


"Apa Zada meninggal karena penyakit mag,nya?" tanya Zaky bergetar. Zoya mengangguk lemah, merasa tidak sanggup berada dalam situasi seperti ini. "Iya, dan dia sudah mendonorkan matanya untuk Mas Zaky sebelum dia benar-benar menghembuskan nafasnya untuk yang terakhir kali," ucap Zoya dengan sekuat tenaga.


Zaky membeku di tempat. Dia begitu terkejut ketika mengetahui Zada telah memberikan bagian tubuhnya yang sangat penting untuk dirinya. "Zoya?" panggil Zaky yang seketika butuh pegangan. Zoya mendekat dan menggenggam tangan suaminya.


"Kenapa kamu nggak bilang? Kalau kamu bilang, aku nggak akan tega buat ambil mata Zada," ucap Zaky terisak. Zoya juga ikut menangis disana. "Mas Zada yang meminta semua untuk merahasiakannya, Mas. Dia nggak mau kamu nolak makanya dia nggak mau bilang ke kamu," jelas Zoya.


Zaky semakin meraung-raung. Mengapa dirinya begitu bodoh selama ini? Zoya segera memeluk tubuh Zaky agar Zaky bisa lebih tenang. Telapak tangannya juga menepuk-nepuk punggung suaminya.


................


Ghaida sedang berdiri di depan sebuah toko baju. Dia sedang menunggu suaminya yang sedang menemani istri mudanya berbelanja. Ya, dirinya ikut hanya untuk menjadi tukang akut barang. Ghaida juga tidak mengerti mengapa sikap Adis berubah sedrastis itu. Padahal, dulu Adis terlihat begitu mencintai dirinya.


Ghaida memandang dua manusia di depannya yang terlihat mesra. Seketika hatinya merasa di remas-remas oleh tangan tak kasat mata. Rasanya sakit sekali.


"Ghaida?" panggil Adis yang membuat zoya tersadar dari rasa cemburunya. "Kenapa, Mas?" tanya Ghaida lembut. "Kamu nggak mau pilih salah satu baju? Kamu bisa beli kok," ucap Adis yang seketika membuat hati Ghaida menghangat.


"Memangnya boleh, Mas?" tanya Ghaida takut-takut. Adis tersenyum dan mengangguk. "Belilah. Sudah lama juga kan, kamu nggak beli baju," ucap Adis ramah dan membuat hati Ghaida rasanya sedang berbunga-bunga. "Baiklah, Mas," ucap Ghaida pada akhirnya.

__ADS_1


Dia mulai memilih baju yang sejak tadi sudah menjadi pusat perhatiannya. Ghaida rasanya ingin menangis haru saat Adis masih peduli padanya. Ghaida pikir, suaminya sudah benar-benar mencampakkan dirinya.


"Aku sudah selesai, Mas. Mas Adis yang bayar kan?" tanya Ghaida hati-hati. Adis mengangguk dan tersenyum. "Aku yang bayar. Kamu cukup bawakan barang belanjaan Anggun ya?" ucap Adis yang seketika membuat hati Ghaida yang sedang berbunga-bunga harus layu kembali.


Mimpinya terlalu tinggi untuk bisa mencapai hati suaminya lagi. Apalagi, suaminya itu sudah jarang pulang ke rumah dan memilih tinggal bersama istri keduanya. "Sadarlah Ghaida. Kamu sudah beruntung bisa mendapat suami seperti mas Adis," gumam Ghaida lirih.


"Aku bisa bawa sendiri barang belanjaanku kok, Mas. Nggak perlu mbak Ghaida bawakan," tolak Anggun lembut yang membuat Adis melotot tajam. "Kamu lagi hamil, Anggun. Nggak boleh bawa uang berat-berat agar anak kita sehat," jawab Adis yang membuat Ghaida seketika merosotkan bahu.


Jadi, Mas Adis sedang mengkhawatirkan Anggun? Apa dia terkadang juga mengkhawatirkan Ghaida? Pikiran dan hati Ghaida sudah benar-benar buntu karena mungkin dirinya sedang terbakar cemburu.


Seketika Ghaida mengingat Zoya yang hatinya telah dirinya sakiti. Ghaida tersadar, bahwa apa yang sedang di alaminya merupakan buah dari apa yang dirinya tanam di masa lalu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


yok yok.. jangan kasih kendor like dan komennya.


bulan Oktober udah tamat dan ganti yang baru.


mampir juga yuk ke karya aku yang baru❤️


__ADS_1


__ADS_2