Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 94. Extra Chapter


__ADS_3

Pagi harinya, perasaan Adis seperti berbunga-bunga. Kegiatan panas semalam berhasil membuat mood meningkat seribu persen. Ghaida sudah berhasil membuat dirinya gila karena keliarannya.


Setelah selesai mandi, Adis menggelar dia sajadah untuk dirinya dan Ghaida yang saat ini sedang membersihkan diri dengan mandi. Ya, keduanya harus mandi junub terlebih dahulu sebelum melakukan ibadah.


Adis menawarkan untuk mandi bersama agar cepat selesai dan subuh bisa kekejar namun, Ghaida menolaknya dan mengatakan. "Sepertinya jika kita mandi bersama, yang ada kita bakal ketinggalan waktu subuh hingga siang deh." Begitulah kira-kira ucapan Ghaida tadi.


Adis tersenyum dan geleng-geleng kepala mengingat itu. Sambil menunggu Ghaida selesai, Adis menyempatkan diri untuk membaca mushaf Al-Qur'an beberapa ayat. Tidak berapa lama, pintu kamar mandi terbuka.


Adis tersenyum lebar saat melihat Ghaida masih mengenakan bathrobenya. Mungkin, sikap malu-malu Ghaida kepadanya, perlahan mulai hilang karena biasanya, Ghaida sudah memakai pakaian lengkap setiap kali keluar dari kamar mandi.


Adis tersenyum sendu. 'Sepertinya dulu, aku terlalu membatasi Ghaida dan menjaga jarak dengannya. Sehingga, Ghaida seperti jauh dariku,' batin Adis menyesali perbuatannya dulu.


"Jadi jamaahan nggak, Mas?" tanya Ghaida karena sejak tadi suaminya itu malah melamum. "Eh! Jadi dong. Kamu sudah siap?" tanya Adis memastikan. Ghaida mengangguk menyakinkan.


Saat keduanya sudah bersiap untuk memulai, pintu kamar terbuka menampakkan Yusuf dengan pakaian rapinya. "Mama mau jamaahan? Aku ikut ya?" ucap Yusuf kemudian masuk begitu saja dan menggelar sajadahnya sejajar dengan milik Ghaida.


Adis tersenyum haru. "Besok subuh, sepertinya aku harus membangunkan Arumi juga. Dia harus ikut berjamaah," gumam Adis yang tidak terdengar oleh Ghaida maupun Yusuf. "Kamu bilang sesuatu, Mas?" tanya Ghaida bingung.

__ADS_1


Adis tersenyum dan menggeleng. "Kita mulai sekarang saja ya?" Setelah itu, sholat subuh akhirnya terlaksana secara berjamaah. Hati Adis begitu bahagia ketika menjadi imam dalam sholat istri dan anaknya.


Belum hilang rasa bahagia Adis, kini rasa bahagia itu semakin bertambah kala melihat Ghaida yang sedang berkutat di dapur. Sedang Yusuf, dia keluar ke depan untuk memberi makan ikan. Itu merupakan kebiasaan yang sudah tidak bisa Yusuf hilangkan.


Yusuf berkata. "Bukankah ikan juga makhluk hidup yang butuh makan? Dan jika kita ingin bersedekah, tidak harus bersedekah dengan sesama manusia. Sedekah dengan hewan peliharaan juga sangat baik," Begitulah kira-kira pemikiran dewasa Yusuf yang membuat Adis terkagum-kagum dengan kepribadian anaknya. Ya, walaupun hanya anak tiri. tapi bagi Adis, Yusuf tetap bagian dari keluarganya dan sudah Adis anggap seperti anaknya sendiri.


"Kamu masak apa, Da?" tanya Adis yang saat ini sudah mendudukkan dirinya di kursi makan dengan tangan memangku dagu. Ghaida menoleh sekilas. "Aku mau masak bubur ayam, Mas. Sekalian buat Arumi juga yang lagi nggak enak badan," jawab Ghaida dengan masih fokus pada masakannya.


Adis tersenyum sendu, menyadari bahwa Ghaida memang istri yang luar biasa. Sesal seakan mendera di relung kalbu karena telah menorehkan luka yang begitu dalam untuk sang istri.


"Maafkan aku ya, Da?" pinta Adis tiba-tiba yang berhasil membuat Ghaida menghentikan gerakan tangannya. Pandangannya kini tertuju pada Adis dengan alis yang bertaut. "Minta maaf untuk apa, Mas?" Kini Ghaida berjalan mendekati suaminya.


Ghaida tertegun, tidak menyangka bahwa suaminya menyesali perbuatannya. Padahal, Ghaida tidak masalah jika Adis melakukan poligami. Itu pantas untuk dirinya karena berasal dari masalalu yang buruk.


"Aku nggak papa kok, Mas. Aku pantas mendapatkan ini semua, mengingat perbuatanku di masa lalu. Aku justru sangat berterima kasih denganmu karena sudah memulihkan nama baikku di mata masyarakat," jawab Ghaida berbesar hati.


Adis menghela napasnya pelan. "Kamu berhak mendapatkan itu semua, Da. Kamu berhak mempunyai masa depan yang lebih baik lagi. Maafkan aku karena sudah mengekangmu di dalam rumahku," sesal Adis dengan suara bergetar.

__ADS_1


Ghaida menggeleng kuat. Langkahnya terayun cepat menuju suaminya duduk. "Jangan berkata seperti itu. Aku suka dengan peranku yang sekarang, Mas. Yaitu, menjadi istri kamu,"


"Aku bisa menyiapkan baju untukmu, memasak makanan untukmu, menyiapkan tas kerjamu, dan aku bisa melihat senyum di wajahmu, yang membuat aku semakin kuat mempertahankan rumah tangga ini," jelas Ghaida panjang lebar yang justru semakin membuat Adis menyesal sedalam-dalamnya.


"Setulus itu cinta untukku?" tanya Adis merasa terharu karena telah dicintai sebegitu dalamnya. Ghaida mengangguk. "Melihat kamu bahagia, aku juga ikut bahagia, Mas," jawab Ghaida menatap suaminya sendu.


Adis segera merengkuh tubuh Ghaida masuk dalam pelukannya. Tidak ada harta yang paling berharga di dunia selain istri yang shalihah. "Terima kasih, Ghaida. Cintamu yang sudah membuatku tumbuh dan bersemangat," ucap Adis meneteskan air matanya.


Arumi yang sejak tadi melihat interaksi suami dan istri tuanya, hanya bisa menelan pil pahit. Arumi tidak yakin apakah dirinya mampu bertahan dalam rumah tangga yang di dalamnya terdapat dua ratu.


Arumi sadar, dirinya sudah salah dan menjadi pihak ketiga dalam rumah tangga Adis dan Ghaida. "Haruskah aku pergi? Lalu, bagaimana dengan nasib anakku?" monolog Arumi berada di persimpangan jalan.


Arumi memang masih mencintai suaminya namun, rasa cinta yang dirinya punya tidak sebanding dengan rasa cinta yang Ghaida punya. Cinta Ghaida begitu tulus untuk Adis. Dan bagi Arumi, cinta Ghaida sangatlah luar biasa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan kasih kendor...

__ADS_1


kaya kolor aja🤭


__ADS_2