Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 80. Extra Chapter


__ADS_3

"Mas, aku berangkat dulu ya? Karena hari ini hari pertamaku kerja, aku akan usahakan untuk berangkat lebih awal," ucap Ghaida saat sudah selesai sarapan. Adis yang sedang mengunyah sarapannya hanya memberikan jawaban berupa anggukan.


"Sepatu kamu sudah aku lap. Kaos kakinya juga berada di dalam sepatu ya, Mas. Yusuf, kita berangkat sekarang kan?" tanya Ghaida beralih pada Yusuf yang kini sudah meletakkan sendok makannya.


"Sudah, Ma. Kita berangkat dulu ya, Om," pamit Yusuf lalu mencium punggung tangan Adis kemudian, diikuti oleh Ghaida. "Kalau nanti mau berangkat, hati-hati ya, Mas. Kita berangkat dulu. Assalamualaikum,"


Setelahnya, Adis sudah tidak mendengar suara apa-apa lagi. Semua terasa sunyi ketika Ghaida dan Yusuf pergi. Adis menghela nafasnya kemudian mengambil gelas yang berisi air putihnya, menenggaknya habis.


Ternyata, tanap kehadiran Yusuf dan Ghaida, rumah itu terasa hampa. Adis tidak tahu apa yang akan terjadi jika sampai Ghaida meninggalkan rumah untuk selamanya. Dalam artian, Ghaida meninggalkan dirinya dan memilih bersama pria yang mencintainya tanpa ada niatan mendua.


Bukan tidak mungkin, karena dirinya sudah banyak salah dengan Ghaida. "Maafkan aku, Da. Apapun yang terjadi, aku akan tetap mempertahankanmu," gumam Adis lalu segera beranjak dari duduknya untuk berangkat ke kantor.


Lagi-lagi Arumi belum bangun dari tidurnya. Rasanya lelah sekali harus membangunkan Arumi setiap hari. Lebih baik Adis tinggal saja dan Arumi akan merasakan bagaimana rasanya kesepian di rumah besarnya. "Bi, nanti kalau Arumi bangun dan nanyain saya, bilang saja saya sudah berangkat ya," pesan Adis pada asisten rumah tangganya.


"Baik, Pak."


Setelah itu, Adis segera melajukan mobilnya menuju kantor demi menghidupi keluarganya.


Di sisi lain, Ghaida sudah siap untuk memulai pekejaannya yang baru. Menjadi penjual bunga menurut Ghaida tidaklah sulit jika dilakukan dengan hati yang ikhlas.


"Selamat datang di Adhisty florist," sapa Ghaida ramah saat ada pelanggan yang masuk. Zoya sudah datang tadi dan pergi lagi untuk mengecek toko rotinya. Ghaida benar-benar diberi kepercayaan yang besar oleh Zoya untuk menjaga toko bunganya. Dan Ghaida berjanji, dia tidak akan mengecewakan kepercayaan Zoya padanya.

__ADS_1


"Ini saja, Mbak." ucap ibu-ibu dengan membawa bunga tulip lima tangkai. "Baiklah, Bu. Sebentar ya, saya total dulu," Setelah totalnya keluar, Ghaida segera mengikat bunga tersebut dan menyodorkannya pada pemilik yang baru.


"Terima kasih, Bu. Semoga berkenan datang kembali," ucap Ghaida sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Ibu tersebut membalasnya dengan senyuman dan berlalu.


Tidak terasa, jam sudah menunjukkan pukul dua belas tepat. Itu pertanda, waktu sholat Zuhur sebentar lagi tiba. Ghaida segera mengganti papan yang menggantung di depan pintu dengan kata 'SEDANG SHOLAT'. Kemudian, Ghaida mengambil air wudhu di keran depan toko.


Karena gamis yang dikenakan sudah panjang, dan Ghaida memakai kaos kaki serta kerudung yabg cukup besar, Ghaida sudah tak lagi membutuhkan mukena. Dia cukup menggelar sajadah di tempat sholat yang tersedia dan segera melaksanakannya.


Setelah selesai, Ghaida kembali lagi ke meja kasir untuk bersiap menerima pelanggan baru. Tidak berapa, ada seseorang yang masuk dan saat Ghaida menoleh, ada Zoya dan Reni disana.


"Gimana Ghaida? Kamu betah?" tanya Zoya tersenyum lalu mengulurkan sesuatu di kantong plastik. "Ini buat makan siang kamu," ucap Zoya tak henti mengulas senyum. Ghaida menerimanya dan menjawab. "Terima kasih, Mbak. Insyaallah aku betah, Mbak. Pekejaannya tidak terlalu berat," jawabnya.


"Alhamdulillah. Kamu makan dulu kalau gitu. Kita juga mau makan disini. Kita makan bareng saja kalau begitu," ucap Zoya yang mendapat ide dadakan. Reni mengangguk dan tersenyum. "Ayo sini, Mbak. Kita makan bersama," ajak Reni yang kini sudah duduk di kursi bersama Zoya. "Sini, Da!" ajak Zoya lalu menepuk kursi kosong di hadapannya.


"Ya sudah. Kamu makan dulu,"


Setelahnya, ketiga wanita itu makan dalam diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun demi menghargai makanan. Tidak berapa lama, ketiganya selesai dan bersamaan dengan itu, pintu toko terbuka dan menampakkan pelanggan yang tidak asing lagi untuk Ghaida.


Adis, suaminya datang ke toko bunga bersama Arumi yang kini sedang menggamit lengan Adis mesra. Zoya yang melihat raut berbeda dari Ghaida memilih untuk diam dan segera menyuruh Reni untuk melayani pelanggan tersebut.


"Selamat datang di Adhisty florist. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Reni sigap dengan senyum manisnya. "Aku mau cari bunga mawar hitam ada nggak, Mbak?" tanya Arumi yang sejak tadi tidak pernah lepas dari pandangan Ghaida.

__ADS_1


"Ada. Mau berapa ya, Bu?" tanya Reni ramah. "Aku mau dua puluh boleh nggak, Mas?" tanya Arumi manja yang hanya dibalas anggukan oleh Adis. Adis sudah tidak fokus lagi dengan tujuan awalnya karena tatapannya kini tertuju pada seorang wanita yang sangat dia kenali. 'Apa Ghaida bekerja disini? Seharusnya aku tidak kesini semi menjaga perasaanya,' batin Adis menyesal.


"Mbak. Sekalian sama bunga mawar merahnya lima ya? Minta yang belum terlalu mekar," ucap Adis dengan pandangan yang masih tertuju pada Ghaida.


Ghaida bergegas memalingkan muka untuk menetralisir sesak di dadanya. 'Mengapa mas Adis memilih toko bunga ini? Bukankah banyak toko bunga di dekat kantornya? Apa mas Adis sengaja?' batin Ghaida bertanya-tanya. Tidak berapa lama, Reni telah selesai. Adis dan Arumi pergi dari toko bunga namun sebelum itu, Adis sudah mengatakan pada Reni, "Titip bunga ini untuk wanita berhijab syar'i itu ya, Mbak," setelahnya, Ghaida hanya bisa memandangi punggung suaminya yang menjauh.


"Ini, Mbak. Kok bisa dia kasih bunga ke mbak Ghaida si? Padahal, dia kan sudah punya istri," ucap Reni tak habis pikir sambil menyodorkan seikat bunga mawar. Ghaida terdiam lalu tangannya terulur untuk menerima bunga mawar tersebut.


"Ghaida, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Zoya khawatir. Ghaida menggeleng. "Aku nggak papa kok, Mbak. Mbak Zoya tidak perlu khawatir," jawabnya berusaha mengulas senyumnya.


Reni menautkan alisnya. "Memang, pria itu siapanya Mbak Ghaida?" tanya Reni penasaran. "Dia suami aku," jawab Ghaida tersenyum getir. Reni menutup mulutnya tak percaya. "Jadi ... Suami Mbak Ghaida poligami?" tanya Reni begitu terkejut.


Ghaida mengangguk membenarkan. "Apa yang menimpaku saat ini, tidak jauh-jauh dari apa yang aku perbuat di masa lalu. Jadi, aku harus menerima hukum alam yang berlaku," jawabnya tegar.


Zoya menghela nafas. Tidak tahu harus menjawabnya dengan apa. Kemudian, suara Reni menyentak kesedihan dan penyesalan Ghaida. "Mbak Ghaida. Kalau Mbak merasa ini adalah hasil dari perbuatan Mbak di masalalu, aku punya ide supaya pernikahan mbak Ghaida bisa bertahan dan kembali harmonis bersama suami," ucap Reni berapi-api.


"Apa?" tanya Zoya dan Ghaida antusias. Reni mendekatkan kursinya pada meja. "Mbak kan dulu jadi pelakor istilahnya," ucap Reni tanpa berfilter hingga mendapat cubitan dari Zoya di pahanya. Sedang Ghaida, dia kini tertunduk malu karena seseorang yang rumah tangganya sudah dirinya hancurkan ada di depannya.


"Mbak Ghaida jangan tersinggung dulu. Jadi, bukankah lebih baik Mbak Ghaida itu bertindak layaknya pelakor di rumah tangga sendiri?" ucap Reni lagi yang membuat Zoya melotot ke arahnya.


Sedang Ghaida, dia semakin menunduk malu dan seakan tidak punya muka lagi.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa like dan komennya😘


__ADS_2