Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 102. Extra chapter


__ADS_3

Saat Adis masuk ke kamarnya, Arumi sedang duduk pinggir ranjang dengan Yhara berada dalam gendongannya. Adis memperhatikan raut Arumi yang terlihat melamun, tidak seperti biasanya.


Adis menghela napas dan mengusap wajahnya kasar. Dirinya masih tidak percaya Ghaida berniat pergi darinya. Hal seperti itu tidak pernah ada dalam bayangannya. "Yhara tidur ya, Rum?" tanya Adis berusaha menyembunyikan masalah yang baru saja terjadi.


Arumi mengangguk namun, tatapannya masih kosong, entah apa yang sedang dipikirkannya. "Kenapa nggak di pindah ke box Yhara saja? Biar kamu nggak lelah," ucap Adis memberi saran kemudian duduk di samping Arumi.


Arumi tersenyum tipis. "Mau aku pindahkan tapi sebentar lagi, nunggu Yhara benar-benar tidur," jawab Arumi yang tidak lagi ditanggapi oleh Adis. Keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing yang melanglang-buana.


Sekitar sepuluh menit, Arumi akhirnya menidurkan anaknya di box bayi. Setelah memastikan anaknya terlelap, Arumi menatap sang Suami. "Mas, aku ke dapur sebentar ya? Titip Yhara, takut kebangun dan nggak ada yang nungguin," ucap Arumi memohon bantuan.


Adis mengangguk. "Aku soeti jaga anak kita," jawabnya kemudian kembali duduk termenung.


Sedangkan Arumi, dia tidak benar-benar ke dapur melainkan berjalan menuju ruangan di sampingnya, yaitu kamar Ghaida. Arumi beranikan diri untuk mengetuk pintu.


Tok. Tok. Tok.


"Mbak Ghaida? Ini aku, Arumi," ucap Arumi pelan, berharap suaranya terdengar dari dalam. Karena tidak ada jawaban apapun, Arumi berniat untuk mengetuk pintu lagi. Namun, belum sempat hal itu terealisasi, pintu sudah terbuka menampakkan Ghaida yang matanya memerah dan sembab.


Seketika Arumi merasa tidak enak. "Aku ganggu ya, Mbak?" tanya Arumi lembut sambil menatap Ghaida lekat. Ghaida berusaha mengulas senyum dan menggeleng. "Nggak kok. Ada apa? Kamu butuh bantuan?" tanya Ghaida berbaik hati, mengabaikan rasa sesak dan sakit di hatinya.

__ADS_1


Arumi menggeleng. "Boleh aku masuk, Mbak?" ucap Arumi meminta izin. Ghaida mengerjapkan matanya beberapa kali takut apa yang dirinya dengar salah. "Hah?" jawab Ghaida memastikan sekali lagi.


Arumi tersenyum masam. "Boleh aku masuk, Mbak? Aku ingin membicarakan sesuatu dengan mbak Ghaida. Itu jika Mbak Ghaida berkenan sih," ulang Arumi merasa tidak enak hati. Walau bingung, Ghaida tetap mempersilahkan Arumi masuk dengan membuka pintu selebar-lebarnya. "Masuklah," pintanya lembut.


Arumi kemudian berjalan lebih dalam lagi menyusuri kamar Ghaida yang jarang dan hampir tidak pernah dirinya datangi. Ketika Arumi menatap sekeliling, tidak ada yang berubah sama sekali. Hanya saja, kondisinya saat ini banyak sekali baju berserakan dan ada sebuah koper yang di dalamnya berisi baju-baju Ghaida.


"Aku sedang memilihnya untuk aku masih pada yang membutuhkan," ucap Ghaida berbohong, setelah sadar bahwa Arumi sedang menatap pada tumpukan baju di kopernya. Pandangan Arumi kini menatap Ghaida lekat.


"Boleh kita duduk dulu, Mbak?" pinta Arumi terdengar serius. Ghaida hanya mengangguk dan mengambil posisi duduk di double sofa. Arumi juga ikut duduk di samping Ghaida.


"Aku sudah tahu semuanya, Mbak," ucap Arumi yang seketika membuat wajah Ghaida tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya. Ghaida gelagapan dan berusaha menyangkalnya. "Tahu apa memangnya?" gelaknya terdengar sengau.


"Maafkan aku, Mbak. Tidak seharusnya aku hadir di antara Mbak Ghaida dan mas Adis. Selama ini, sikap mbak Ghaida sungguh membuatku tersadar. Mbak Ghaida adalah orang yang begitu tulus," ucap Arumi menatap Ghaida sendu.


Ghaida masih setia mendengarkan setiap kata yang akan keluar dari mulut Arumi tanpa berniat menyelanya. Kemudian, Arumi kembali menarik napasnya, seakan dadanya terlihat begitu sesak.


"Terima kasih atas perhatian dan kasih sayang yang Mbak Ghaida berikan untukku. Jika boleh jujur, aku tidak pernah bertemu orang sebaik dan setulus mbak Ghaida," sambungnya lagi.


"Mbak?" ucap Arumi kemudian menggenggam kedua telapak tangan Ghaida. "Biar aku saja yang pergi, Mbak. Aku yang lebih pantas pergi daripada Mbak Ghaida."

__ADS_1


Ucapan itu berhasil membuat tubuh Ghaida menegang. "Kamu bicara apa sih, Rum? Jangan aneh-aneh deh," kesal Ghaida yang anehnya merasa takut. Arumi terkekeh getir. "Mas Adis lebih butuh wanita seperti, Mbak. Aku titip Yhara ya? Aku yakin Mbak Ghaida adalah ibu yang baik karena aku sudah melihat hasil dari didikan Mbak Ghaida yang nyata, yaitu Yusuf," ucap Arumi tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.


"Arumi!" sentak Ghaida sebelum Arumi semakin berbicara ngawur. Yang dibentuk justru malah tersenyum. "Mbak? Aku sudah anggap Mbak Ghaida seperti kakakku sendiri. Aku banyak belajar darimu tentang banyak hal. Aku merasa beruntung karena diberi kesempatan untuk bisa memiliki kakak seperti Mbak Ghaida. Ya, walaupun semuanya dalam keadaan yang salah," kekehnya getir.


Ghaida menatap mata Arumi yang saat ini sudah terdapat buliran air mata yang sebentar lagi menetes. Ghaida ikut terenyuh kala mendengar isi hati Arumi yang jarang sekali mau diungkap. "Teirma kasih," Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutnya.


Arumi mengangguk. "Mbak? Maaf karena aku sudah merebut mas Adis darimu. Aku tidak bermaksud begitu," ucap Arumi menyesal lalu air matanya mengalir tanpa bisa dibendung.


"Tidak ada kata merebut dalam kamusku. Jika mas Adis tidak memberikan kesempatan kamu untuk hadir, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Maaf, tapi aku bicara soal realita. Semuanya sudah salah, begitupun aku," jawabnya berusaha tegar.


"Kamu salah karena mau-mau saja diperistri oleh pria yang sudah mempunyai istri. Mas Adis salah karena masih saja merasa kurang dengan apa yang dia punya, dan salahku, mau saja untuk dimadu, berharap hidupku akan baik-baik saja setelahnya. Tapi lagi-lagi aku salah, tidak ada yang baik-baik saja jika dalam satu rumah terdapat dua ratu," jelas Ghaida panjang lebar.


Arumi semakin sesenggukan. "Biar aku perbaiki semuanya, Mbak, biar aku kembalikan semuanya apa yang Mbak Ghaida punya," ucapnya menyesal. Ghaida menggeleng keras. "Kaca yang sudah pecah tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Walaupun disatukan kembali, tetap saja masih tersisa retakannya. Sama halnya hubunganku dengan mas Adis. Aku rasa sudah cukup," tegas Ghaida final.


Arumi hanya bisa menangis dan tak sanggup lagi mengucapkan sepatah katapun. "Sebaiknya, kamu kembalilah ke kamarmu. Tetaplah menjadi istri dari mas Adiswara, kamu berhak ada di posisi ini dan jangan berpikir untuk pergi. Kamu sudah punya Yhara yang akan menguatkan hubunganmu dengan mas Adis, sesuatu yang belum pernah aku berikan padanya," ucap Ghaida dengan mata menatap kosong pada lantai keramik.


"Apa ini bisa aku sebut sebagai pengorbanan?" tanya Arumi disela tangisnya. Ghaida tersenyum masam. "Aku hanya tidak mau nasib Yhara akan seperti Yusuf. Aku tahu bagaimana rasanya hidup tanpa suami dan orang terdekat. Aku ingin, Yhara mendapatkan kebahagiaan yang bahkan, sampai saat ini tidak Yusuf dapatkan, sekalipun dari mas Adis. Aku berhak bahagia begitu juga dengan kalian. Jadi, hiduplah dengan bahagia setelah ini,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


jangan lupa dukungannya(༎ຶ ෴ ༎ຶ)


__ADS_2