
Setelah ucapan Reni yang mengatakan Ghaida pelakor, keadaan ruangan menjadi sunyi. Zoya merasa tidak enak pada Ghaida karena Reni termasuk karyawannya juga. Dan Zoya sangat tidak menyukai berada di situasi seperti ini.
"Mbak Ghaida?" panggil Reni lirih, memecahkan keheningan. Ghaida mendongak dengan raut wajah penuh tanda tanya. "Kenapa?" tanya Ghaida penasaran.
Reni menghela nafasnya sebelum berbicara. "Maaf ya, Mbak. Aku nggak bermaksud menyinggung masalalu, Mbak. Tapi, jadi istri yang di madu tuh jangan diam saja, Mbak. Kenapa saya sebut pelakor? Coba Mbak Ghaida bertindak layaknya pelakor pada suami Mbak sendiri," ucap Reni memberi sarannya.
Zoya menutup mata dan ingin sekali menyumpal mulut Reni yang kelewatan. "Maksudnya bagaimana?" tanya Ghaida yang justru seperti berminat. Reni mendengus kesal. "Masa belum maksud juga? Mbak Ghaida tuh praktekkin peran pelakornya pada suami sendiri gitu. Rebut kembali suami Mbak dari pelakor yang sebenarnya. Itu baru praktek yang benar, Mbak," jelas Reni panjang lebar yang berhasil membuat Zoya kagum.
"Benar juga saran kamu, Ren. Tumben, pinter," ucap Zoya meledek. Reni mengibaskan kerudungnya, sombong. "Iya dong. Gini-gini aku lumayan paham sama problematika permaduan," jawabnya nyeleneh.
Zoya geleng-geleng kepala, tak habis pikir dengan kosa kata yang Reni kuasai. "Jadi maksudnya, penerapan label pelakor itu harus oada tempat yang benar?" tanya Ghaida memastikan sekali lagi. Reni mengangguk cepat. "Iya dong. Rebut suami Mbak sendiri dari istri keduanya. Jangan mau kalah dan hanya bisa diam saja. Sebagai wanita, kira harus punya harga diri. Entah berjuang mempertahankan, atau rela melepaskan,"
Zoya benar-benar takjub dengan pemikiran Reni yang terlewat cerdas. Dia belum pernah menikah atau menjalani suatu peran rumah tangga tapi, pikirannya begitu luas. "Nah itu, coba kamu dengarkan saran Reni. Siapa tahu, kamu bisa merebut hati suamimu lagi, Da. Itu kalau kamu masih ingin mempertahankan." sambung Zoya akhirnya.
Ghaida mengangguk dan mencoba menyimpan semua nasehat dari Zoya dan Reni. Dia akan simpan baik-baik untuk segera di praktekkan karena saat ini, Ghaida memilih untuk tetap bertahan.
"Terima kasih ya, Ren. Sudah mau peduli. Terima kasih juga pada mbak Zoya," ucap Ghaida tersenyum haru. Reni dan Zoya balas tersenyum.
...........................
Malam kembali datang untuk memberitahukan para penduduk bumi untuk menghentikan aktifitasnya sejenak dengan beristirahat yang cukup. Ghaida saat ini sedang duduk di tepi ranjang dengan pikiran yang selalu tertuju pada suaminya. Tentang, bagaimana caranya agar suaminya itu mau menyentuhnya lagi?
__ADS_1
Mungkin dengan cara itu, Ghaida bisa merebut hati sang suami. Semenjak menikahi Arumi, Adis sudah jarang menyentuh dirinya. Ghaida sadar, dirinya sudah tidak muda lagi. Apalagi, dia sudah mempunyai anak dari hasil yang tidak jelas dan tidak mempunyai suami.
Hingga tepat usia pernikahannya yang ketiga, Adis memilih menikahi Arumi, gadis cantik dan muda yang berasal dari keluarga berada. Adis menikahi Arumi karena relasi bisnis hingga pada suatu titik dimana Adis dan Arumi benar-benar saling jatuh cinta, dan memilih menikah sungguhan tanpa ada embel-embel bisnis lagi.
Mungkin, kebersamaan yang telah membawa mereka pada ikatan kata cinta. Ghaida yang merasa tidak ada apa-apanya dari Arumi hanya bisa menahan diri dan merelakan suaminya menikah lagi.
Karena di usia pernikahannya yang menginjak angka tiga, Ghaida belum diberi amanah untuk menjadi ibu dari anak Adis. Puncaknya adalah tiga bulan yang lalu, disaat Arumi dinyatakan hamil anak Adis.
Adis menjadi semakin jauh darinya karena terlalu sibuk mengurusi rumah tangga barunya. Ghaida hanya bisa pasrah karena dirinya cukup sadar diri. Tanpa Adis, Ghaida akan selalu dipandang hina oleh semua orang. Begitulah kilas balik dari kisah hidup Ghaida saat ini.
Setelah mendengar nasehat Reni dan Zoya, Ghaida jadi mempunyai pikiran untuk merebut hati suaminya lagi. Ya, walaupun Ghaida harus melayani suaminya. Bukankah itu tidak masalah? Toh, dirinya dan Adis sudah sah secara agama dan negara.
"Baiklah. Aku nggak boleh kebanyakan mikir. Aku harus segera bertidak sebelum mas Adis datang ke kamar," monolog Ghaida lalu berjalan ke lemari dimana baju tidurnya diletakkan.
"Nggak papa deh. Yang penting aku sudah ada usaha," Setelahnya, Ghaida mengganti gamis yang dikenakannya dengan gaun tidur tipis terbuat dari kain satin. Gaun minim itu berwarna putih tulang dan berhasil memeluk tubuh Ghaida erat.
Ghaida menatap pantulan dirinya di cermin. "Aku mirip wanita penggoda nggak sih?" monolog Ghaida yang diterpa keraguan. "Tapi nggak papa deh. Kan goda suami sendiri," lanjutnya lagi.
Lalu, Ghaida masuk ke kamar mandi untuk menunggu kedatangan Adis ke kamarnya. Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit, hingga menit yang ketiga puluh, suaminya itu tak kunjung datang.
Ghaida merasa kecewa. "Apalagi yang aku harapkan? Ghaida ... Ghaida ... Kamu kayaknya kurang berkaca," monolog Ghaida tersenyum miris dengan nasibnya sendiri. Akhirnya, Ghaida memilih keluar dari kamar mandi dan berniat tidur.
__ADS_1
Namun, baru saja dia keluar dari kamar mandi dan menutup pintunya, pintu kamarnya terbuka menampakkan suaminya yang kini berdiri mematung di ambang pintu yang terbuka lebar.
"Ghaida?" lirih Adis memandangi pemandangan indah di depannya. Matanya sampai tak berkedip saking terpesonanya. "Apakah itu kamu?" tanya Adis memastikan sekali lagi.
Ghaida berusaha bersikap biasa saja walau sebenarnya, jantungnya sedang bertalu-talu. "Iya, ini aku, Mas. Kenapa memangnya? Kamu nggak suka ya?" tanya Ghaida balik. "A-aku—" Adis tergagap dengan mata yang tak pernah lepas dari memandang istrinya, yang malam ini terlihat berbeda.
"Masuk, Mas. Kamu mau tidur disini kan, malam ini?" tanya Ghaida sengaja mendayu-dayukan suaranya. Ghaida bisa melihat jakun suaminya itu bergerak naik turun. Sedetik kemudian, Adis menutup pintu dan menguncinya dari dalam. "Aku akan tidur disini malam ini,"
Adis yang kewarasannya sudah kembali, karena Ghaida kini sudah menutup tubuhnya dengan selimut pun ikut bergabung di satu selimut yang sama dengan istrinya.
Posisi Adis telentang sedang Ghaida miring dan memunggungi dirinya. Bisa Adis lihat punggung mulus Ghaida yang terlihat menggoda karena tidak tertutup selimut. "Ghaida?" panggil Adis lembut.
"Hm?" tanya Ghaida tanpa berniat membalikkan tubuhnya menghadap suaminya. "Soal waktu itu ... Yang ... A-aku deg-degan ...."
"Iya kenapa, Mas?" kejar Ghaida.
"A-aku nggak bermaksud apa-apa. Aku hanya tak ingin menyentuhmu hanya karena aku sedang butuh. Aku merasa, aku adalah laki-laki yang paling tidak berperasaan jika sampai aku hanya datang untuk meminta jatahku sebagai seorang suami," jelas Adis panjang lebar tentang kejadian tempo hari.
Baru, Ghaida berani membalikan tubuhnya menghadap suami. "Kamu boleh minta itu ke aku kok, Mas. Sekarang juga boleh," ucap Ghaida dengan senyum semanis mungkin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
maaf baru bisa update malam karena banyak kegiatan tadi siang ya😘