Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 101. Extra chapter


__ADS_3

Tok, tok, tok.


Saat Ghaida mendengar suara pintu kamarnya diketuk, Ghaida buru-buru menyimpan kopernya di bawah ranjang. Ghaida tidak masalah jika melihat adalah Yusuf, tapi jika yang melihat Adis atau Arumi, rasanya Ghaida belum siap untuk menjelaskan yang sebenarnya.


"Sebentar!" teriaknya agar terdengar hingga keluar. Ghaida berjalan mendekat dan memutar kenop pintu. Dia hanya membuat sedikit pintu tersebut yang muat untuk tubuhnya. Setelah terbuka, ternyata ada suaminya yang berdiri di depan pintu dengan wajah gelisahnya. Ghaida mengernyit heran. "Kamu kenapa, Mas? Kok mukanya kaya nggak tenang gitu?" tanya Ghaida pada akhirnya.


Adis tersenyum namun tak mampu menghilangkan raut gelisah yang sejak tadi terpancar. "Nggak tahu, rasanya nggak tenang banget. Seakan mau terjadi sesuatu hal yang besar," ucap Adis menjelaskan penyebab ketidak-tenangannya.


Ghaida merasa terkejut namun, dia berusaha menyembunyikannya. 'Mungkinkah mas Adis sudah berfirasat?' tanya Ghaida dalam hati. "Itu hanya perasaanmu saja mungkin, Mas. Jangan terlalu di pikirkan," jawab Ghaida sambil berusaha mengulas senyumnya.


Adis mengangguk. "Boleh aku masuk?" pinta Adis memohon. Ghaida seketika merasa bimbang, apakah dia harus mengizinkan Adis untuk masuk? Itu berarti, rencananya besar kemungkinan akan diketahui. Tapi jika Ghaida tidak mengizinkan, Adis justru malah semakin curiga.


Ghaida bergumam panjang sebelum menjawab. "Tapi, kamar aku sedang berantakan banget, Mas. Aku malu," ucap Ghaida beralibi. Adis tampak menunjukan raut bingungnya. "Kok bisa? Memangnya kenapa?" tanya Adis sambil kepala mencoba melongok ke dalam.


"Itu ... Aku ... Lagi ... Beres-beres baju," jawab Ghaida terbata yang tanpa sadar sudah keceplosan. "Baju? Yang benar saja? Memangnya kamu mau kemana?" tanya Adis merasa takut. Ghaida menggeleng. "Tidak kemana-mana. Aku cuma mau beresin baju yang sudah tidak layak pakai kok, Mas," jawab Ghaida gugup.


Adis ber-oh-ria menjawabnya. "Ya sudah, aku bantu kalau gitu," ucap Adis kemudian ingin menerobos masuk ke kamar Ghaida. Apalah daya Ghaida yang tenaganya tidak sebanding dengan suaminya, dengan sangat mudah Adis menerobos benteng pertahanan.

__ADS_1


"Ya Allah, Ghaida!" pekik Adis tidak habis pikir. Ghaida memejamkan matanya untuk menetralisir degup jantungnya yang berdetak karena gugup. Ghaida terkekeh. "Kan aku sudah bilang, kamar aku berantakan banget," jawab Ghaida pura-pura merasa malu.


Ghaida melihat, Adis mulai memegang satu-persatu baju dan memilihnya. Namun, di tengah-tengah kegiatan memilih baju, ekor mata Adis menemukan ada yang janggal di bawah ranjang. Ketika menoleh, Adis bisa melihat dengan jelas bahwa di bawah ranjang tersebut, ada sebuah koper besar yang resletingnya belum tertutup sempurna.


Adis mengernyit heran. "Itu, koper untuk apa, Da?" tanya Adis penasaran. Ghaida yang masih berdiri di depan pintu, mendadak semakin panik. "I-itu—"


Rasanya sudah terlambat, Adis kini sudah menarik koper itu dari bawah ranjang. Setelah ini, Ghaida hanya bisa pasrah dan akan menjelaskan semuanya kepada suaminya nanti. "Ghaida?" lirih Adis merasa tidak percaya dengan penglihatannya.


"Iya, Mas?" jawab Ghaida pasrah.


"Kamu ...." Saat ini, tatapan Adis tertuju pada Ghaida. "Maaf, Mas." Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Ghaida. Rasanya, lidah Ghaida kelu dan tenggorokannya tercekat. "Aku bisa jelasin semuanya," ucap Ghaida lagi sebelum suaminya benar-benar murka.


Adis tertawa getir. "Jadi, yang baru saja membuatku gelisah karena hal ini? Kenapa? Kamu mau kemana? Kamu nggak lagi berniat untuk pergi dariku kan?" tanya Adis terdengar kecewa. Ghaida semakin menundukkan kepala. "Aku harus pergi, Mas," jawab Ghaida sesak.


Adis terlihat menjambak rambutnya frustasi. "Tapi kenapa, Da? Apa selama ini aku kurang adil? Tolong bilang, nasehati aku," ucap Adis lagi mengungkapkan protesnya.


Ghaida mendongak untuk bertemu tatap dengan mata teduh milik suaminya. Air mata kini mulai jatuh membasahi pipi mulusnya. "Aku harus pergi, Mas," Tidak ada kata lain yang bisa Ghaida ucapkan selain kata pergi. Dadanya seakan sesak sekali ketika mengucapkan kata pergi sehingga dia sudah tidak sanggup lagi mengucapkan kata lainnya.

__ADS_1


"Tapi kenapa! Beri aku alasan!" ucap Adis dengan nada tinggi. Hal itu membuat Ghaida semakin sesenggukan hingga tidak bisa berbicara dengan benar. "Kamu ... Sudah bahagia," jawab Ghaida disela tangisnya. Ghaida sampai menutup wajahnya kemudian meraung-raung, berharap sesak di dadanya sedikit berkurang.


Cukup lama Adis membiarkan Ghaida menangis. Setelah tenang, Adis membawa Ghaida untuk duduk di sisi ranjang. "Tolong jelaskan apa kesalahanku hingga membuatmu ingin pergi? Apa aku tidak adil? Apa aku menyakitimu? Tolong katakan yang sejelas-jelasnya agar aku bisa memperbaiki diri, agar aku bisa tetap bersamamu lagi," ucap Adis berusaha menekan sesak di dadanya. Matanya kini sudah memerah karena menahan tangis.


Ghaida menggeleng dengan air mata yang masih berderai. "Aku nggak sanggup, Mas, aku menyerah. Sekarang, tugasku sudah selesai, kamu sudah bahagia dan memiliki keturunan daeha dagingmu, sesuatu yang tidak bisa aku berikan padamu," jelas Ghaida panjang lebar.


Adis menggeleng, menolak percaya bahwa situasi yang sekarang adalah kenyataan. "Tolong tampar aku, Da! Tampar aku kalau kamu merasa sakit hati. Kamu bisa memukul, menampar dan melampiaskan semua kekesalanmu, asalkan jangan pergi dariku. Aku nggak bisa, Da," Kemudian, kedua tangan Adis terangkat untuk membingkai wajah Ghaida.


"Tolong, tetap bertahan bersamaku ya?" tawar Adis berusaha mempertahankan Ghaida. Ghaida menggeleng. "Aku nggak bisa, Mas. Aku sudah tidak sanggup lagi. Sekarang, kamu sudah punya Arumi dan Yhara yang akan menemani kamu di hari tua. Tolong, lepaskan aku, Mas," ucap Ghaida memohon.


Adis menggeleng keras. "Aku nggak akan biarkan kamu pergi. Mari kita selesaikan masalah ini dengan cara baik-baik," ucap Adis kemudian berdiri dan melepas kancing kemejanya satu -persatu.


Ghaida yang paham dengan gelagat suaminya pun berusaha menghentikan. "Jangan seperti itu, Mas! Kamu nggak boleh egois dengan menahanku untuk tetap di sampingmu. Sedangkan kamu, justru menikah lagi dan tanpa aku sadari, kamu sudah membuatku terluka beribu-ribu kali!" pekik Ghaida yang emosinya mulai terpancing.


Adis seketika menghentikan gerakannya lalu, menatap Ghaida lesu. "Apa selama ini aku egois?" tanya Adis lirih. Ghaida tidak mampu menjawab karena saat ini air matanya sudah mengalir deras dan menganak sungai. "Baiklah, kamu boleh pergi," lanjut Adis. Kemudian, berjalan keluar menuju kamarnya, meninggalkan Ghaida sendirian.


Ghaida yang masih sesenggukan, hanya bisa menatap perih kepergian suaminya. "Maafkan aku, Mas,"

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


mana suaranya??????🤣


__ADS_2