Surga di atas lara

Surga di atas lara
Bab 64. Menjagamu


__ADS_3

Akhirnya setelah berbincang cukup lama dengan Ghaida, Zoya memutuskan untuk mengakhiri pertemuannya. Dia harus segera menjenguk Zada yang katanya sudah sadar dan telah di pindah di rumah rawat inap.


Zoya juga banyak tahu dari Ghaida jika dia sudah menikah dengan lelaki yang tempo hari selalu bersamanya. Hanya saja, suaminya sedang keluar kota untuk urusan bisnis.


Oh iya, tujuan Yusuf berada di rumah sakit adalah untuk melakukan kemoterapi atas penyakit yang di deritanya. Dan menurut cerita Ghaida, sedikit demi sedikit kondisi Yusuf mulai membaik. Tidak lupa, Zoya memanjatkan doa-doa dan kata penyemangat untuk Yusuf agar kuat menjalani ujian hidup, begitu juga dengan Ghaida.


Zoya tidak bercerita bahwa kedatangannya ke rumah sakit bertujuan untuk menjenguk Zada. Dia hanya bilang bahwa ada salah satu temannya yang dirawat disana.


Setelah mendapat pesan dari pak Rama yang mengabarkan bahwa Zada telah sadar, Zoya memutuskan untuk menemui Zada terlebih dahulu. Pak Rama juga berkata, bahwa Zada sejak tadi mencari keberadaannya.


Zoya sempat heran. Mengapa yang berada di ingatan Zada malah dirinya? Bukan Bu Maya ataupun pak Rama. "Assalamualaikum." Zoya mengucapkan salam saat baru saja membuka bilah pintu ruang VIP tersebut.


"Waalaikumsalam." jawab semua yang berada di dalam ruangan. Ada bu Maya dan pak Rama yang masih setia menemani putra kesayangannya. "Itu, Zoya sudah datang," ucap bu Maya berwajah lesu. Entah mengapa, bu Maya merasakan sesuatu yang besar akan terjadi. Perasaan dan hatinya mendadak gelisah.


"Sudah bangun, Mas? Jangan banyak gerak dulu. Lebih baik mas Zada istirahat yang cukup," ucap Zoya saat Zada ingin berusaha duduk. Zoya menatap wajah Zada yang membiru dan ... Terlihat sangat lesu.


Entah itu hanya perasaan Zoya saja atau bu Maya yang ibunya juga merasakan. Bahkan, tubuh Zada terlihat ringkih dan lemah. Belum lagi bibirnya yang pucat dan terkelupas karena mengering. Zoya mengerjap untuk menghilangkan pikiran buruk di kepalanya.


"Zoya?" lirih Zada memanggil Zoya untuk mendekat. Bu Maya dan pak Rama juga ikut mendekar agar mengetahui apa yang akan Zada katakan. "Jangan dipaksa, Mas. Kondisi kamu belum benar-benar pulih," ucap Zoya merasa khawatir.


"Dengar ... Zoya juga mau kamu cepat sembuh. Jadi, istirahatlah terlebih dahulu," sahut bu Maya dengan mata yang berkaca-kaca. Pak Rama mengembuskan nafasnya kasar lalu tangannya bergerak untuk memeluk pundak istrinya.


"Waktuku sudah tidak banyak lagi,"


"Kamu ngomong apa sih, Mas. Doa tuh yang baik-baik," kesal Zoya dengan wajah yang memberenggut. Zada malah terkekeh tanpa beban seakan ucapan Zoya adalah lelucon.


"Aku serius. Aku merasa — "


"Nggak perlu di lanjutkan, Mas. Kamu hanya perlu istirahat," sentak Zoya dengan kekesalan yang memuncak. Hati Zoya merasakan takut yang tidak sewajarnya saat Zada tanpa disadari mengucapkan kata perpisahan.

__ADS_1


Tiba-tiba Zada terbatuk-batuk cukup parah hingga membuat semua yang berada di ruangan mendadak panik.


Uhuk! Uhuk! Uhuk!


"Minum Zada! Makanya jangan banyak bicara dulu," pekik bu Maya histeris. Zoya berusaha bersikap tenang setelah rasa terkejut menyergap hatinya. Dia mengulurkan segelas air putih ke wajah Zada untuk segera di minum oleh lelaki tersebut. Zada menurut dan menenggak habis air itu.


Setelah Zada lebih tenang, Zoya ingin membuak mulutnya namun segera terkatup lagi saat Zada memberikan kode agar dirinya tidak bicara. "Tolong dengarkan aku untuk yang terakhir kalinya. Ini adalah permintaan terakhirku, mungkin ...." ucap Zada dengan wajah yang serius.


Zoya menelan salivanya susah payah karena tenggorokannya seperti tercekat mendengar nada bicara Zada yang tidak biasa. "Kamu jangan bikin kami takut, Da," ucap bu Maya dengan air mata yang berlinang.


Keadaan mendadak sunyi karena semua menunggu kalimat apa yang akan meluncur dari bibir Zada. Zada tersenyum pada kedua orangtuanya dengan pandangan yang ... Entahlah.


Zada menghela nafas sebelum berbicara. "Saat ini tubuhku rasanya sakit semua. Tidak ku temukan kenyamanan dalam posisi apapun," ucapnya memulai pembicaraan.


Sesekali mata Zada terpejam erat dengan sedikit ringisan menandakan bahwa dadanya merasakan sakit lagi. Entah mengapa Zoya sama sekali tidak mau mendengarkan Zada. Jika boleh, Zoya ingin keluar dari ruangan tersebut agar tidak mendengar kalimat selanjutnya.


"Zoya?"


"Hm?"


"Aku ingin berpesan padamu. Jika sebentar lagi aku tiada, izinkan aku memberikan bagian tubuh paling berhargaku pada Zaky. Aku ingin, walau aku sudah tiada, mataku tetap bisa melihatmu dari dekat bahkan, sangat dekat," ucap Zada dengan senyum namun, hal itu membuat Zoya menggeleng lemah dengan air mata yang berderai.


Sedang Bu Maya, dia sudah menjerit histeris karena ucapannya. "Kamu bicara apa? Kamu akan sehat. Kamu akan pulih kembali," ucap bu Maya lirih.


"Kamu bicara apa sih, Mas. Kamu akan sehat!" sentak Zoya dengan sekuat tenaga mengeluarkan suaranya. Zada tersenyum manis dan itu terlihat mengiris hati Zoya. "Aku bicara kenyataan. Uhuk! Uhuk! Tolong ... Berikan mataku pada Zaky. Aku ingin melihatmu bahagia bersama laki-laki yang mencintaimu,"


Bu Maya dan Zoya semakin menangis meraung-raung berharap ucapan Zada hanyalah candaan belaka. Pak Rama juga tidak hentinya mengusap matanya yang terlihat memerah.


"Aku mohon jangan menangis atau aku akan semakin berat untuk pergi,"

__ADS_1


Zoya berusaha tenang kembali dan menatap Zada yang matanya mulai menatap dirinya redup. "Ma? Pa? Tolong buat salah satu bagian tubuh Zada untuk tetap hidup. Aku masih sangat mencintai Zoya hingga apapun akan aku lakukan demi kebahagiaannya,"


Zada memejamkan matanya lagi karena dadanya merasakan sakit yang lebih dan lebih lagi hingga napasnya terasa sesak. "Aku ingin mati dengan meninggalkan manfaat bagi manusia yang masih hidup. Daripada Bagian tubuh itu membusuk, lebih baik aku berikan pada Zaky yang lebih membutuhkan,"


"Zoya? Jika kamu mengizinkan, aku ingin menatap wajahmu lebih lama lagi sebagaimana umur Zaky ditentukan. Jika ragamu tidak bisa kumiliki, setidaknya mataku bisa menatap matamu lewat raga Zaky. Aku akan tetap menjagamu lewat mata itu," Setelahnya Zada tersenyum manis menatap satu persatu pemilik wajah mulai dari mama, papa, dan berakhir pada Zoya.


Zoya sudah menangis tak terarah. Entah Zoya harus senang atau sedih. Yang pasti, rasa itu seperti tercampur aduk dalam hatinya.


Seketika terbesit tanya di hatinya mengapa Zada baru sadar sekarang? Mengapa tidak dari dulu saja? Saat cinta itu masih suci dan halal untuknya. Sekarang, cinta Zada sudah haram untuknya karena Zoya telah bersuami.


"Tolong ... Lakukan permintaan terakhirku. Biarlah aku mati dengan tenang mengingat dosa-dosa yang sudah aku lakukan. Aku berharap, dengan aku mendonorkan mataku untuk Zaky, hal itu akan menyelamatkanku dari api neraka," ucap Zada dan satu tetes air mata berhasil lolos dari sudut matanya.


Setelah itu, napas Zada kembali tersengal-sengal hingga membuat semua memekik histeris memanggil dokter berulang kali.


"Zada!"


"Mas Zada!"


"Kamu kuat, Nak. Kamu kuat!"


Keadaan menjadi panik setelah dokter masuk ruangan bersama perawat lainnya untuk segera menangani Zada.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ya Tuhan..


aku nggak tau ini feel-nya dapet enggak karena setiap kali aku lagi dapet feel, ada aja gangguannya.


mohon maaf kalau nggak nyampe ya feel-nya🙏

__ADS_1


__ADS_2