Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Pahlawanku.


__ADS_3

" Dek bisa ikut mas sebentar." Tanya mas Faisal, setelah Abah dan Umi pamit dari ruang tamu.


"Mas mau ngajak Zahra kemana?, jangan jauh-jauh mas, kasihan nanti Aisyah nyariin Zahra." Jawabku memikirkan buah hatiku.


Aku merasa tak enak meninggalkan putriku terlalu lama dengan mbak Salwa, aku takut Aisyah merepotkan kakak iparku itu, walaupun ketakutan itu tidak terjadi karena Aisyah merasa nyaman-nyaman saja bersama uminya Nurul.


" kegeeran kamu dek, siapa juga yang mau mengajak kamu keluar." Aku mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari kakakku itu.


"Lah.. terus tadi mas suruh zahra ikut dengan mas?"


"Ya gak keluar juga."


"Jadi mas mau ngajak Zahra kemana?" Tanyaku penasaran.


" Taman belakang.. ayo."


"Kok ketaman belakang sih mas, emangnya mau ngapain sih."


"Cerewet sekali kamu dek, dari tadi banyak sekali pertanyaan mu." Balas mas Faisal terlihat kesal dengan pertanyaan-pertanyaan ku.


"Cuma tinggal jawab apa susahnya sih mas."


"Ayo nanti mas akan beritahu disana."


"Emang mau bicara apa sih mas sepertinya penting banget."


"Ayo Fatimah Az-Zahra, kenapa cerewetmu tidak pernah hilang dari dulu."ucap mas Faisal menarik hidungku.


"Ih sakit." Aku berusaha melepaskan tangannya mas Faisal dari hidungku, karena tarikan tangan mas Faisal tidak main-main, rasanya benar-benar sakit.


" Nyebelin banget sih mas, Aku benar-benar kesal denganmu mas."

__ADS_1


" Makanya ayo iku mas."


Mas Faisal tidak lagi banyak bicara dia langsung menarik tanganku menuju taman belakang. Dapat aku dengar suara tertawa riang Nurul dan Aisyah didalam kamarnya mbak Salwa dan mas Faisal, ketika Kami melewati kamar mereka.


"Duduk." perintah mas faisal langsung.


Tanpa basa-basi aku langsung duduk di kursi bangku halaman belakang ini, yang dulunya adalah taman bermain aku dan mas Faisal ketika kami kecil.


Taman yang luas dengan rumput hijau yang rapi, bunga-bunga yang tumbuh dengan subur dan cantik. Aku menghirup napas yang dalam dan menghembuskan secara perlahan.


Terasa sejuk sekali udara di malam hari di sini, dengan keheningan yang tercipta membuat suasana malam yang sangat nyaman.


Mas Faisal langsung duduk di kursi tepat sebelahku duduk. "Ada apa mas mengajak Zahra ke sini?" tanyaku.


"Fatimah coba kamu perhatikan tempat ini, kamu perhatikan kolam ikan yang di sana, dan juga pohon itu." ucap mas Faisal sambil menunjuk ke arah kolom ikan, dan juga pohon yang tumbuh seiring tumbuhnya kami.


Jika mas Faisal sudah menyebut nama ku dengan nama Fatimah, berarti mas Faisal ingin berkata serius dan tidak lagi bercanda.


"Coba saja kamu perhatikan." ucap mas faisal lagi memerintahkan ku untuk melihat kolam ikan juga pohon tersebut.


Dan sekali lagi aku melihat ke arah kolam dan juga pohon tersebut, sambil berpikir apa maksudnya mas Faisal memerintahkan ku untuk memerhatikan kolam ikan dan pohon tersebut.


"Apa yang kamu lihat dari pohon dan kolam ikan tersebut?" tanya mas Faisal.


Aku menggelengkan kepalaku, karena aku benar-benar tidak tahu apa maksud dari pertanyaan mas Faisal tersebut.


Mas Faisal melirik ke arahku sebentar, dan pandangannya langsung dialihkan lagi ke arah kolam ikan.


"Apa kamu sudah lupa Zahra tentang kejadian waktu kita kecil dulu, waktu kita bermain dulu." ucapan mas Faisal dengan pandangan yang masih tertuju ke arah kolam.


Aku sama sekali tidak menjawab pertanyaannya itu, aku ingin mendengar sebenarnya apa yang ingin mas Faisal katakan.

__ADS_1


"Dulu ketika pertama kali kolam ikan itu selesai dibuat, kamu sangat senang melihat ikan-ikan itu berenang. Mas selalu mengingatkan kamu jangan terlalu dekat dengan kolam ikan nanti kamu terjatuh.


Tetapi kamu tidak pernah mendengar kata-kata mas, hingga pada saat itu kamu benar-benar terjatuh Zahra, hampir saja kamu tenggelam kerena tidak bisa berenang. pada saat itu siapa yang menolong mu." tanya mas Faisal.


Aku ingat persis kejadian yang terjadi saat itu, aku benar-benar sangat senang, karena baru saja Abah mengabulkan keinginanku, yaitu membuat kolam ikan yang diisi dengan banyak ikan.


Karena terlalu senang aku selalu menghampiri kolam ikan tersebut, memberi ikan makan, dan juga ingin menangkap beberapa ikan hias yang ada didalam kolam.


Tetapi pada hari itu aku terpeleset dan jatuh ke dalam kolam ikan yang lumayan dalam, aku hampir tenggelam karena tidak bisa berenang, dan mas Faisallah yang menyelamatkan ku.


"Aku masih ingat mas... kamu mas, waktu itu kamu yang menyelamatkan ku ketika aku terjatuh dan hampir tenggelam ke dalam kolam ikan." jawab ku.


"Coba kamu perhatikan pohon itu Zahra, apa yang kamu lihat." Aku kembali terdiam mendengar pertanyaan dari mas Faisal.


"Waktu kamu kecil kamu sangat nakal Zahra, benar-benar nakal. Abah dan Umi selalu melarang mu untuk memanjat pohon, tetapi diam-diam kamu melanggar perintah Abah dan Umi, dan memanjat pohon itu tampa sepengetahuan Abah dan Umi." ucap mas Faisal sambil menuju ke arah pohon.


Iya aku masih mengingatnya, kenangan masa kecilku dulu, bener seperti perkataan mas Faisal, dulu aku benar-benar seorang gadis kecil yang sangat nakal dan keras kepala.


"Setelah kamu naik pohon itu, apa yang terjadi kepadamu." tanya mas Faisal menghentikan ucapannya sambil tersenyum.


"Sesudah naik kamu tidak bisa turun, sampai-sampai kamu menangis dengan sangat kencang. pada saat itu Abah dan Umi sedang tidak ada di rumah. Mas yang menolong mu untuk turun, mas selalu ada ketika kamu menghadapi bahaya dan masalah, mas yang akan menggantikan mu ketika kamu dihukum oleh Abah dan Umi."


Oh lagi-lagi hatiku berdebar mendengar perkataan dari mas Faisal, kakak laki-laki ku yang selalu ada ketika aku dalam masalah, yang selalu menjadi tameng ketika aku dalam bahaya.


Mataku berembun mendengar perkataannya, tetapi aku tidak akan membiarkan air mata ini jatuh lagi.


"Mas Faisal adalah kakak yang terbaik untuk Zahra, kakak yang selalu ada ketika Zahra membutuhkan, terimakasih mas karena selalu ada untuk Zahra." ucap ku.


"Tetapi sepertinya sekarang kamu sudah berubah, sekarang kamu tidak membutuhkan mas lagi, kamu tidak menginginkan mas mu ini."


" Tidak mas.. Zahra selalu membutuhkanmu, mas jangan pernah berbicara seperti itu, mas masih tetap sama seperti dalu di dalam hati Zahra, mas adalah pahlawan Zahra." Mas Faisal tersenyum manis ke arahku.

__ADS_1


"Mas berharap kata-katamu itu benar, walaupun sekarang kita sudah besar, dan mempunyai keluarga masing-masing, tetapi mas masih seperti dulu, pahlawan yang selalu ada melindungi mu."


__ADS_2