
Hari yang ditunggu -tunggu oleh Jihan dan Adam telah tiba, hari dimana mereka akan melangsungkan pernikahannya pada hari ini.
Segala persiapan telah disiapkan dengan matang, pernikahan ini hanya berlangsung di rumah Jihan, tidak ada dekorasi yang meriah dan tamu undangan yang banyak, semuanya dilangsungkan dengan sederhana dan juga dengan diam diam.
Inilah resiko yang harus diterima oleh Jihan, karena iya memilih lelaki yang sudah bersuami, dan juga pernikahan yang tidak direstui.
Tapi Jihan yakin, bahwa ini adalah awal dari kebahagiaan yang ditunggu-tunggunya, membina rumah tangga yang harmonis dan memiliki anak yang cerdas cerdas.
Jihan duduk di depan meja rias di dalam kamarnya, kebaya putih melekat indah di tubuhnya, dengan hijab yang senada memancarkan aura yang sangat cantik.
Jihan tersenyum manis ke arah pantulan dirinya sendiri, di sampingnya hanya bik Salma yang menemani, tidak ada orang tua ataupun sahabat.
Jihan yang merasa hidupnya sangat kesepian, sekarang Jihan berharap kesepian yang dirasakannya akan terobati dengan hadirnya Adam sebagai sosok suaminya.
"Apakah hari ini Jihan terlihat cantik bik?" tanyak Jihan menatap kearah bik Salma.
"Neng hari ini terlihat sangat cantik sekali," balas bik Salma sambil tersenyum, walaupun di dalam hatinya iya bersedih karena pilihan Jihan yang menurutnya tidak tepat.
"Makasih ya bik karena bibik selalu ada untuk Jihan, kalau tidak ada bibik entah bagaimana hidup Jihan."
"Jangan berterima kasih kepada bibik neng, seharusnya bibik yang berterima kepada neng Jihan, kalau tidak ada neng.. entah bagaimana nasib bibik yang sebatang kara ini.
Bik Salma terus menatap kearah Jihan dengan pandangan yang rumit. Neng Jihan memang sangat cantik, tetapi sayang.. neng salah memilih suami, suami yang neng pilih adalah suami dari wanita lain, apakah neng akan bahagia dengan pernikahan ini. bibik harap neng selalu bahagia." ucap bik Salma di dalam hati.
"Neng sebaiknya kita keluar sekarang, mempelai pria dan penghulu sudah menunggu kehadiran neng."
"Rasanya bagaikan mimpi bisa menikah dengan mas Adam bik, sangat grogi sekali ada rasa senang dan juga ada rasa gelisah." ucap Jihan.
"Neng tari nafas dulu dan hembuskan secara perlahan-lahan, tenangkan diri baru setelah itu kita keluar."
Jihan mengikuti saran bik Salma, menarik nafasnya dalam-dalam dan mehembuskan secara perlahan-lahan untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Walaupun pernikahan ini yang ditunggu-tunggu oleh Jihan, tetapi tetap ada rasa grogi dan bahagia yang bercampur aduk.
Jihan melangkahkan kakinya keluar dari kamar, didampingi oleh bik Salma yang menggandeng tangannya, langkahnya pelan dengan pandangan yang tertunduk, bik Salma mengiringi langkah Jihan mendekati Adam.
Adam terpana melihat Jihan yang tampak berbeda pada hari ini, dengan balutan kebaya putih yang melekat di tubuhnya tampak cantik dan anggun, tak kalah cantik dengan istri pertamanya Zahra.
Adam dari tadi yang hanya duduk dengan gelisah merasakan ketakutan dan juga senang di saat bersamaan, tetapi ketika melihat Jihan yang keluar dengan keadaan yang mamukau membuat hati Adam berangsur-angsur menjadi tenang.
Jihan duduk samping Adam dengan pandangan yang masih tertunduk, sungguh malu rasanya sehingga Jihan tidak berani mengangkat sedikit pandangannya untuk melihat ke arah calon suaminya.
Bik Salma segera menutup kepala Jihan dan Adam. dengan selendang putih untuk melangsungkan ijab dan qabul, tamu undangan yang hadir dapat dihitung hanya 20 orang, yaitu orang-orang yang terdekat Jihan saja, sungguh miris sekali pernikahan yang harus dijalani oleh Jihan.
"Bagaimana pak Adam dan mbak Jihan, apakah pernikahan ini sudah bisa di mulai?" tanya penghulu yang duduk di depan Adam.
"Sudah pak dimulai saja sekarang." ucap Adam dengan mantap.
Penghulu itu menjulurkan tangannya untuk menjabat Adam, dan Adam dengan sedikit gemetar membalas jabatan tangan dari penghulu tersebut.
Adam berpikir hari ini adalah kemenangan baginya, di mana iya hari ini akan menikah dengan Jihan, Adam tidak pernah berpikir bahwa ini iyalah awal dari kehancuran segalanya.
"Saya nikahkan dan kawinkan ananda Adam Alfarizi mahmud bin Yusuf Mahardika Mahmud, dengan ananda Jihan Salsabila Abbas binti wijaya Abbas, dengan mas kawin emas seberat 50 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Jihan Salsabila Abbas binti wijaya Abbas, dengan mas kawin emas seberat 50 gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai," ucap Adam dengan lancar dan lantang
"Bagaimana para seksi saaaah?." tanya penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah."
__ADS_1
Perasaan Jihan dan Adam begitu haru ketika ijab kabul selesai diucapkan, Jihan mengambil tangan suaminya dan menciumnya dengan takzim, begitupun juga dengan Adam yang membalas mencium Jihan di dahinya.
Keduanya tersenyum dengan bahagia. dan keduanya sekarang sudah halal di mata hukum agama, walaupun status Jihan adalah istri siri Adam.
"Eh ibu-ibu.. kok Jihan mau nikahnya sederhana seperti ini, padahal kan Jihan termasuk orang yang berada, walau pun tidak lagi mempunyai orang tua."
Jihan dan Adam mengabaikan bisikan-bisikan yang terjadi dibelakang, percuma untuk membela diri, karena semua orang tidak akan mengerti apa yang dirasakannya.
"Dengar dengar ya bu.. si Jihan nikahnya dengan laki orang, makannya sembunyi-sembunyi kayak gini."
"Ah masa sih buk Jihan pelakor, kelihatannya dia wanita yang baik-baik pakek hijab lagi."
"Orang yang pakai hijab itu belum tentu orang baik, makanya harus hati-hati jaga suami, biar nggak dicuri sama pelakor."
"Masak sih.. gak mungkinlah bu, saya tidak percaya."
"Kalau nikahnya sama laki-laki yang belum punya suami, udah pasti tidak sembunyi-sembunyi seperti ini."
"Iya juga sih."
Mendengar ucapan ibu yang memakai hijab merah tersebut, ibu-ibu yang sedang berbisik lain pun menganggukkan kepalanya, ikut membenarkan bahwa Jihan menikahi dengan pria yang beristri.
"Berarti kita tidak bisa menilai wanita yang baik itu dari hijab nya, iya..nggak bu?"
"Nah bener itu, amit-amit deh kalau harus nikah dengan lakik orang, emang nggak ada laki singel apa?"
Jihan dan Adam mendengar semua setiap ucapan yang keluar dari mulut ibu-ibu yang hadir pada hari bahagia mereka, namun mereka berdua memilih diam tidak ingin menimbulkan masalah.
Adam melihat ke arah istri keduanya, iya tahu pasti Jihan merasa tersindir dengan pembicaraan ibu-ibu di belakang mereka, Adam semakin takjub kepada Jihan, yang mempunyai hati yang sabar menghadapi masalah.
Acara selanjutnya yaitu acara makan-makan, para tamu undangan dipersilahkan untuk memakan hidangan yang sudah dihidangkan oleh tuan rumah.
__ADS_1
Adam dan Jihan mereka berdua berfoto-foto untuk mengabdikan momen bahagia yang dinanti nantikan, keduanya melupakan omongan para ibu-ibu tadi, dan memilih berpose dengan berbagai macam gaya.