
Tak lama pintu ruang yang dinanti-nanti oleh semua orang terbuka, keluarlah dokter Anisah dengan wajah yang begitu redup, semua orang dapat mengetahui berita apa yang akan disampaikan oleh dokter Anisa hanya dengan melihat wajahnya saja.
"Aisyah bagaimana dokter?, apakah Aisyah baik-baik saja sekarang?, bolehkah saya masuk dokter?" tanya Zahra bertubi-tubi.
Dokter Anisah menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, "Maaf Zahra, Aisyah sudah meninggalkan kita semua." ucap dokter Anisah.
Hening waktu bagaikan berhenti, wajah semua orang terlihat begitu terkejut ketika mendengar berita duka yang dibawa oleh dokter Anisah, semua mata tertuju kepada Zahra yang tersenyum lembut dengan mata yang kosong.
"Zahra..." panggil Uminya yang baru saja datang dengan membawa botol minuman di tangannya, Umi memperhatikan wajah-wajah tegang di sampingnya dan juga wajah Zahra, iya tidak tahu berita yang baru saja dokter Anisah bawa.
"Kenapa dengan wajah kalian!, kenapa tegang seperti ini?" tanya Umi kepada semua orang yang masih bungkam dengan keterkejut yang dirasakan.
Zahra menoleh ke arah Umi sambil tersenyum. "Umi.. dokter Anisah berbohong, iya mengatakan Aisyah sudah meninggal." ucap Zahra tersenyum geli dengan air mata yang tidak berhenti menetes.
Mendengar perkataan Zahra, Umi begitu terkejut sampai tampa sadar iya menjatuhkan botol minuman yang baru iya bawa, Umi langsung menutup mulutnya seakan tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh putrinya.
Dokter Anisah menghapus air matanya, iya tahu bagaimana perjuangan Zahra merawat Aisyah, bahkan kadang tanpa kehadiran seorang suami yang seharusnya ada disampingnya disaat seperti ini.
Dokter Anisah juga tau seperti apa sakit yang dirasakan oleh Zahra saat ini, dokter Anisah adalah seorang istri tetapi dokter Anisah belum juga menjadi seorang ibu, setiap ibu pasti akan terpukul ketika mendengar kabar duka yang seperti ini.
"Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada keluarga almarhumah dari Nur Aisyah Humaira, dan saya katakan bahwa Nur Aisyah Humaira dinyatakan telah meninggal dunia."
"Innalillahiwainnailaihirojiun." lirih semua orang.
" Zahra." teriak orang-orang ketika Zahra langsung terduduk di atas lantai dengan menumpang berat tubuhnya di kedua lutut kaki nya, pernyataan dokter Anisah meruntuhkan kehidupannya, ingin sekali Zahra menangis dan berteriak sekencang-kencangnya.
__ADS_1
"Innalillahi wainalilahi rojiun." ucap Zahra lirih sambil menundukkan wajahnya yang ditutup dengan kedua telapak tangannya.
Tangis Zahra tidak dapat dihentikan iya menangis dengan tersedu-sedu, putri yang begitu iya cintai telah meninggalkannya, ternyata Allah lebih sayang pada Aisyah sehingga Allah menghilangkan rasa sakit yang dirasakan oleh putrinya itu.
"Hik.. hik... hik..." tangis Zahra dengan tubuh yang bergetar, semua orang juga tidak dapat menahan tangis nya.
Abah mensejajarkan tubuhnya dengan Zahra yang terduduk di atas lutut nya, "Fatimah percaya takdir kan?, Fatimah faham kan bahwa takdir manusia itu telah ditentukan oleh Allah?" tanya Abah dengan suara yang lirih, Zahra hanya mengangguk sedikit pertanyaan dari Abah.
"Aisyah... Abah Aisyah.., Aisyah meninggalkan Zahra Abah, bagaimana bisa Zahra hidup tanpa Aisyah, Aisyah adalah jantung Zahra, jika Zahra tidak memiliki jantung bagaimana Zahra bisa hidup abah?"
"Aisyah akan tetap ada, Aisyah akan tetap menjadi jantung untuk Fatimah, Aisyah akan selalu ada di dalam hatimu nak, kenanglah Aisyah sebagai kenangan yang paling indah dalam hidupmu Fatimah, setiap pertemuan akan ada perpisahan, dan ini adalah perisahaan antara dirimu dan juga jantung hatimu, tidak ada cinta yang kekal kecuali cinta Allah Fatimah dan kamu paham akan itu." ucap Abah lembut.
Zahra mengangkatkan wajahnya melihat ke arah wajah lelaki cinta pertamanya itu, "Bangunlah nak.. bangun mari kita lihat Aisyah." ucap Umi.
"Bismillahirrohmanirrohim." ucap Zahra dibantu oleh kedua orang tuanya, dengan susah payah akhirnya tubuh Zahra yang lemah bagaikan tidak bertulang itu bangun dengan perlahan.
"Masuklah nak, temui putri mu putri mu yang baru saja selesai berjuang." dengan di papah kedua orang tuanya, Zahra masuk ke dalam dengan langkah yang berat, iya menyeret kakinya perlahan, selawat tak pernah berhenti keluar dari mulutnya dengan suara yang lirih.
Begitupun dengan keluarga yang juga penasaran ingin melihat jasad Aisyah.
"Assalamualaikum putri bunda." ucap Zahra ketika ia sudah di sampingnya jasad yang terbujur kaku itu.
Dengan perlahan Zahra membuka penutup kepala putrinya, iya melihat darah di baju Aisyah hasil muntah Aisyah yang begitu banyak, wajah putrinya itu berseri, bahkan senyum kecil terlukis indah di wajah cantik putrinya itu.
"Nur Aisyah Humaira kamu begitu nakal, baru sebentar bunda meninggalkanmu, tetapi kamu telah meninggalkan bunda untuk selamanya, kamu membawa separuh kehidupan bunda, bagaimana bisa bunda hidup tanpamu." ucap Zahra sambil mengusap lembut kepala Aisyah dengan penuh cinta.
__ADS_1
"Abi.. Nurul begitu sedih, Aisyah meninggalkan kita semua, Nurul tidak lagi mempunyai saudara untuk bermain, Aisyah adalah sebaik-baiknya teman." ucap Nurul sepupu Aisyah dengan suara tangis yang dapat didengar semua orang.
Dengan segera Salwa membawa anaknya ke luar menenangkan Nurul yang tidak bisa menghentikan tangisnya agar tidak mengganggu yang lain.
Zahra mendekatkan tubuhnya memeluk tubuh kecil yang membeku itu, dikecup kedua pipi beserta kening Aisyah dengan lembut, air mata Zahra juga membasahi muka Aisyah yang pucat tersebut.
"Aisyah akan tetap menjadi kesayangan bunda sampai kapanpun, walaupun Aisyah meninggalkan bunda." ucap Zahra di samping telinga Aisyah, isak tangis Zahra masih terdengar begitu mayayat hati bagi yang mendengarnya.
Semua orang memalingkan mukanya tak sanggup melihat perpisahan antara ibu yang begitu besar perjuangannya untuk putrinya, dan Allah lebih menyayangi putrinya tersebut.
"Cukup nak... cukup, jangan berlebihan seperti ini, banyak-banyak istighfar dan mengingat Allah, di saat seperti ini jangan terlalu larut dalam kesedihan dunia." ucap Umi sambil membangunkan tubuh Zahra yang sedang memeluk tubuh Aisyah dengan begitu erat.
"Umi izinkan Zahra menangis untuk terakhir kalinya, izinkan Zahra melepaskan rasa sesak Zahra ini, rasanya begitu sakit Umi, Zahra belum ikhlas Umi, maafkan Zahra Umi, Zahra belum dapat mengikhlaskan semua ini. "
"Sabar nak... istighfar banyak-banyak mengingat Allah, jangan sampai setan menggoda dirimu dengan cobaan yang diberikan oleh Allah." perlahan tubuh Zahra bangkit.
"Iklaskanlah Aisyah Fatimah, iklaskanlah putrimu itu, kamu tidak ingin kan Aisyah pergi dengan tidak tenang, ini takdir Allah inilah yang terbaik untuk Aisyah, agar Aisyah tidak merasakan sakit itu lagi."
"Bolehkah Zahra ikut dengan Aisyah, Abah.. Umi..?"
"Astaghfirullahaladzim.. nak, apa yang kamu katakan, jangan pernah kamu melawan akan takdir Allah nak, itu dosa besar."
Tiba-tiba Zahra memegang kepalanya yang terasa sakit dan berdenyut, matanya seolah kabur dan berkunang-kunang, perkataan Umi dan Abahnya seolah bergema gema di dalam pikirannya, hingga akhirnya Zahra jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.
selamat membaca ππ₯°
__ADS_1
tambahan untuk kakak2 yang semangat minta dobel up. semoga suka ya, bab ini butuh perjuangan untuk menulis karena bab ini banyak mengandung bawang βΊοΈπ