
Dengan susah payah kami semua membujuk Aisyah untuk membiarkan bang Faiz pulang, karena Aisyah tidak mengizinkan bang Faiz untuk meninggalkannya.
Sekarang aku sedang berada di dalam kamarku, mengenakan mukena sambil menunggu azan berkumandang untuk mengerjakan sholat magrib.
Begitu juga dengan Aisyah, diusianya yang
4 tahun ini, aku sudah membiasakan dia mengikuti gerakan sholat ketika aku ingin mengerjakan sholat 5 waktu.
"Bunda kenapa kita harus mengerjakan sholat setiap hari?" Tanya putriku dengan mata polosnya menatap kearahku.
Aku tersenyum menatap kearahnya, diusianya yang sekarang Aisyah lagi aktif-aktifnya bermain dan tak jarang Aisyah bertanya banyak hal yang ingin diketahuinya.
Sebagai seorang ibu aku harus bersabar dengan berbagai tingkah laku aisyah, dan juga harus bijak menjawab setiap pertanyaan yang akan ditanyakan oleh putriku tercinta.
" Shalat itu wajib sayang.. Karena shalat itu adalah tugas kita sebagai muslim dan muslimah, paham gak sayang?" Aisyah menggelengkan kepalanya pertanda dia belum paham dengan penjelasan ku.
"Begini sayang.. bunda kan sering memerintahkan Aisyah sebelum tidur terlebih dulu menggosok gigi.. mencuci kaki,.. berdoa... Dan lain sebagainya. Dan Aisyah harus menuruti perkataan bunda biar bunda sayang sama Aisyah.
shalat itu sama juga dengan tugas dari Allah untuk hambanya. Maka sudah seharusnya kita melakukan tugas itu supaya apa? Supaya kita di sayangi Allah, supaya semakin di cintai Allah dan tentu saja. Supaya kita kelak mendapat nilai terbaik alias pahala terbaik ketika tiba masa perhitungan amalan kita... Ngerti kan sayang."
"Jadi kita harus sholat ya bunda.. biar Allah sayang kita?"
" Iya... Benar."
"Aisyah akan selalu shalat biar Allah sayang Aisyah..." Ujarnya tersenyum senang
"Masyaallah pinternya putri bunda.."
Ucap ku sambil mencium pipi kiri dan kanan Aisyah. Aku sangat bersyukur memiliki putri sebaik dan sepintar Aisyah.
"Tok..tok... tok.. Zahra." panggil mbak Salwa dari arah luar pintu kamarku.
"Iya Mbak ada apa?." jawab ku membukakan pintu kamarku.
Aku lihat Mbak Salwa ada juga Nurul sudah berdiri di depan pintu kamarku, dengan menggunakan mukenah.
"Zahra Abah menyuruh Mbak memanggilmu dan juga Aisyah untuk sholat maghrib berjamaah, sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang, lebih baik kita sholat berjamaah bersama-sama." ujar mbak Salwa.
"Maaf Mbak.. sepertinya Zahra sedang tidak enak badan, lebih baik Zahra sholat sendiri saja di dalam kamar" ujar ku menolak ajakan Mbak Salwa. Mendengar jawabanku Mbak Salwa langsung mengarahkan tangan kanannya ke arah dahi ku.
__ADS_1
"Kamu sakit?" tanyanya khawatir. Aku menurunkan tangan Mbak Salwa dari dahi ku.
"Tidak Mbak Zahra baik-baik saja, saat ini cuma kurang enak badan saja..makanya lebih baik Zahra sholat sendiri saja." jawab ku meyakinkan Mbak Salwa.
Tentu saja aku merindukan sholat berjamaah bersama keluargaku seperti dahulu, tetapi tidak untuk saat ini. Banyak doa yang ingin aku panjatkan dalam diam, mengadu segala keresahan yang menganggu pikiran dan hatiku, tampa ada yang tahu betapa rapuhnya diriku saat ini.
"Bunda Aisyah mau sholat bareng Mbak Nurul bolehkan bunda." tanya putriku
" Boleh sayang.. Aisyah boleh sholat bareng Mbak Nurul."
"Yasudah Mbak ke mushola dulu, jangan lupa nanti keluarlah kita makan malam bersama"
"Iya Mbak"
" Ayo Aisyah kita sholat sama-sama di mushola."
Dengan semangat dan senyum yang menghiasi wajah Aisyah. putriku langsung menggandeng tangan Nurul menuju mushola
Aku langsung menuju kedalam kamarku pas sekali azan magrib sedang berkumandang. setelah adzan dan Iqamah selesai dikumandangkan, langsung aku lanjutkan kewajiban ku sebagai seorang muslim.
Aku usahakan setiap bacaan doa aku bacakan dengan khusyuk, aku buang segala kegundahan didalam hati dan pikiranku, aku nikmati setiap bacaan doa yang keluar dari mulutku dari niat sampai akhir salam.
Aku usapkan wajahku dengan kedua telapak tangan. Allahu... ternyata Tampa aku sadari aku menangis didalam shalatku.
"Tok... Tok... Zahra" panggil Mbak Salwa mengetuk pintu kamarku lagi.
"Iya Mbak ada apa?" aku hapuskan segera air mataku di pipi dan aku usahakan mengeluarkan suara dengan normal ketika berbicara.
" Zar.. ayo kita makan malam, semuanya sudah menunggumu, kamu baik-baik saja kan?" tanya Mbak Salwa dibelakang pintu.
"Iya Mbak... Zahra baik-baik saja, Mbak duluan saja, nanti Zahra nyusul."
"Yasudah Mbak duluan.. jangan lama anak-anak sudah menunggu dari tadi."
"Iya Mbak."
Dengan segera aku bukakan mukena yang ku pakaikan, sebelum ke meja makan terlebih dahulu aku mencuci muka dan memperbaiki penampilan ku, aku tak ingin ada yang tau bahwa baru saja aku menangis.
Sesampainya di meja makan semua mata menatap kearahku, aku tersenyum membalas tatapan semua orang yang ditujukan untukku.
__ADS_1
"Maaf ya menunggu lama..." ucapku menarik kursi di samping Aisya yang duduk disebelah Umi.
" Ayo kita makan.. kenapa melihat Zahra seperti itu." tanya ku Karena gerakan mareka terhenti masih saja memerhatikan aku.
" Bunda." panggil Nurul menatap kearah ku.
Memang Nurul memanggilku dengan sebutan bunda, begitu juga Aisyah yang memanggil mbak Salwa dengan panggilan Umi sama seperti Nurul.
"Ada apa sayang?" tanyaku lembut.
"Bunda nangis ya?" tanya Nurul dengan polosnya. Aku sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari keponakanku itu.
"Masak bunda nangis sayang, bunda gak nangis kok." ujar ku tersenyum canggung sambil melirik kearah semua orang.
Apa wajahku terlihat seperti orang yang habis manangis, sehingga mereka semua yang ada dimeja makan melihat aku seperti itu.
"Ayo makan jangan bicara lagi.. tadi katanya lapar pengen makan." ujar Umi memecahkan kecanggungan yang terjadi.
"Bunda ambilkan Aisyah ayam goreng.. Aisyah mau makan ayam goreng." ujar Aisyah.
Aku mengambil sepotong ayam goreng dan sedikit sayuran, lalu aku taruhkan didalam piringnya.
"Makan yang banyak ya... biar sehat." ucap ku sambil mengusap rambutnya.
Dengan tenang kami semua melahap makanan ini dengan nikmat, tak ada percakapan yang terjadi ketika saat makan berlangsung, semuanya hanya fokus kepada makanan yang dimakan.
"Zahra setelah ini Abah dan Umi ingin berbicara denganmu." ujar Abah ketika selesai dengan makan.
Aku melihat ke arah wajah Abah dengan ekspresi yang tenang, "Apa yang ingin Abah bicarakan dengan Zahra." tanyaku penasaran.
"Bantulah Mbak mu membereskan meja makan terlebih dahulu, setelah itu ikutlah Umi dan Abah ke ruang tamu, biar anak-anak sama Mbak mu." ucap umi.
"Baik Umi.. Abah.. " Aku lanjutkan lagi membawa beberapa piring kotor ke dapur untuk dicuci.
Setelah selesai membereskan meja makan dan mencuci piring yang kotor, aku langsung menuju ke ruang tamu. Ternyata tidak hanya Abah dan Umi yang ada di sana, tetapi mas Faisal juga ada di ruang tamu, aku menghampiri mereka dan duduk di sebelah Umi.
"Abah... Umi.. mas Faisal apa yang ingin kalian sampaikan kepada Zahra?" tanyaku penasaran.
"Apa kamu baik-baik saja Zahra."
__ADS_1
Degg...
Sungguh pertanyaan yang aku hindari dan aku takutkan, terucap langsung dari mulut Abah.