Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Aisyah


__ADS_3

Zahra berjalan dengan pelan menyusuri lorong rumah sakit dengan pandangan yang menunduk ke bawah, setelah sholat dzuhur perasaan Zahra rasanya tetap tidak tenang, iya merasa begitu sedih dadanya begitu penuh dan terasa sesak, seperti sesuatu yang akan terjadi.


Tak jauh dari pintu kamar inap Aisyah, Zahra melihat Uminya yang baru keluar dari ruangan Aisyah dengan terburu-buru, Zahra langsung menghampiri Uminya, iya tak ingin terjadi sesuatu kepada putrinya.


"Umi ada apa umi?" tanya Zahra yang tak kalah panik nya dengan Umi.


Nafas umi terdengar begitu cepat badannya bergetar. "Katakan Umi... apa terjadi sesuatu pada Aisyah, jangan membuat Zahra panik Umi." tanya Zahra lagi sambil memegang tangannya.


"Aisyah Zahra... Aisyah muntah darah lagi, dan ini sangat parah, Umi harus memanggil dokter Anisah untuk menangani Aisyah sekarang." ucap Umi yang masih panik.


Setelah mengucapkan kata-kata itu, Umi langsung meninggalkan Zahra yang berdiri mematung di depan pintu kamar anaknya, tubuh Zahra terasa kaku seolah detik berhenti begitu saja di depannya, hingga kesadaran itu menghampiri Zahra.


"Ya Allah Aisyah." ucap Zahra yang sadar dari keterkejutannya.


Dengan cepat Zahra langsung membuka pintu ruang Aisyah, iya melihat Aisyah yang terduduk lemas sambil memuntahkan banyak darah dari mulutnya, baju pasien yang dikenakan oleh Aisyah dipenuhi banyak darah segar yang keluar dari mulut dan hidung Aisyah.


Zahra langsung menghampiri putrinya itu memegang kedua pipi Aisyah, tak terasa air mata itu mengalir begitu saja melihat putrinya seperti ini, Aisyah melihat ke arah mata bundanya dengan air mata yang berlinang.


"Bunda... sakit bunda, hik... hik..." ucap Aisyah dengan air mata yang mengalir di kedua matanya.


Aisyah menangis merasakan kesakitan di sekujur tubuhnya, iya tak kuasa menahan rasa sakit itu hingga sampai hari ini iya menangis, biasanya sesakit apapun Aisyah tak akan menangis.


"Ayah... Bunda... sakit bunda... Aisyah nggak kuat, rasanya bener-bener sakit." lirih Aisyah lagi dengan nada yang lemah.


Zahra menghapus air mata Aisyah yang mengalir di kedua pipi putrinya itu, sehingga menyebabkan darah Aisyah yang tertempel di tangan Zahra, ikut tersapu juga di bawah mata Aisyah.


"Maafkan bunda nak.. maafkan bunda, bunda tidak tahu apa yang harus bunda lakukan, tenanglah nak.. sebentar lagi dokter Anisah akan datang." ucap Zahra sambil mengecup ubun-ubun Aisyah.


"Ayah... aku merindukan ayah bunda, di mana ayah?, kenapa ayah tidak datang menjenguk Aisyah?, Aisyah ingin berjumpa dengan ayah, mungkin ini untuk terakhir kalinya Aisyah bisa berjumpa dengan ayah... bunda."


"shuuut... jangan berbicara seperti itu nak, jangan pernah berbicara seperti itu, seolah-olah Aisyah ingin meninggalkan bunda dan ayah." ucap Zahra.

__ADS_1


Uweeek..


"Aisyah..." panggil Zahra dengan terkejut melihat muntah darah Aisyah yang tiba-tiba masih keluar lagi.


Zahra langsung memalingkan wajahnya ketika suara pintu terbuka dan datanglah rombongan dokter Anisah yang diikuti oleh Umi di belakang, tidak ada senyum ramah seperti biasanya yang ditampilkan oleh dokter Anisah iya begitu panik ketika mendapat kabar bahwa Aisyah drop lagi.


"Dokter.. selamatkan Aisyah, dokter selamatkan Aisyah." ucap Zahra kepada dokter Anisah yang baru saja datang.


"Tenang Zahra... untuk saat ini tentang kan dirimu."


"Bagaimana aku bisa tenang saat kondisi Aisyah seperti ini, muntah darah aisyah tidak berhenti-henti dokter." ucap Zahra meninggikan suaranya.


"Bunda... Aisyah sayang bunda dan ayah." ucap Aisyah yang hampir kehilangan kesadarannya lagi.


"Aisyah kamu pasti sembuh nak, bunda percaya kamu adalah anak yang kuat, jangan pernah tinggalkan bunda."


"Zahra sebaiknya kamu keluar dulu, biar Aisyah bisa langsung kami tangani." ucap dokter Anisah.


"Tidak bisa Zahra.. mohon keluar dulu, biar Aisyah langsung bisa kami tangani."


"Ayo nak kita keluar dulu biar dokter anisa dan yang lainnya menangani Aisyah dengan baik."


"Tapi Umi..." lirih Zahra yang tidak rela meninggalkan ruang Aisyah.


Umi langsung menarik tubuh Zahra dan membawanya keluar, tubuh itu pasrah saja ditarik oleh Umi, hingga sampainya di luar Umi langsung mendudukkan tubuh Zahra di kursi.


"Tunggu sebentar di sini, Umi akan membelikan minuman untukmu."


Umi hendak bangun dari duduknya namun tangannya dicegah oleh Zahrah. "Umi jangan tinggalkan Zahra.. Umi." ucap Zahra sambil menggelengkan kepalanya dengan mata yang berembun.


"Umi hanya sebentar saja, cuma ingin membeli minum."

__ADS_1


Setelah kepergian Umi, Zahra bangun dari duduknya iya berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang Aisyah, tak ada jendela sehingga ia tidak dapat melihat ke dalam bagaimana dengan kondisi Aisyah.


"Aisyah anak yang kuat, bunda percaya kepadamu nak, bertahan lah demi bunda." gumam Zahra.


"Assalamualaikum Zahra."


Zahra langsung membalikkan badannya, ternyata yang datang adalah keluarganya dan juga kedua mertuanya.


"Waalaikumsalam" jawab Zahra dengan lirih.


"Nak... bagaimana dengan kondisi Aisyah?, Aisyah baik-baik saja kan?" tanya bu Ratna dengan panik.


"Zahra tidak tahu mah... Aisyah memuntahkan banyak sekali darah dalam mulutnya dan juga hidungnya, Zahra tak kuasa melihat itu semua mah." ucap Zahra.


Tampa sengaja mata Zahra melihat ke arah Abahnya yang juga memandang ke arah dirinya. "Abah." ujar Zahra dengan bibir yang bergetar ketika menyebut nama Abahnya.


Perlahan Zahra menghampiri Abahnya dengan isak tangis yang berusaha Zahra tahan, iya memandang ke arah Abahnya begitu lama, Abah merentangkan kedua tangannya mempersilahkan tubuh putrinya untuk memeluknya.


"Abah, Zahra.. Zahra... Zahra.. tidak baik-baik saja Abah, biasanya kalau Zahra tidak baik-baik saja Abah yang akan menghibur Zahra, menceritakan hal yang lucu agar Zahra merasa lebih baik, tapi saat ini ketika Zahra melihat aisyah seperti itu zahra....


Zahra tak kuasa menceritakan bagaimana keadaan Aisyah sekarang yang sedang ditangani oleh dokter Anisah, Abah hanya diam saja memeluk putrinya sambil mengusap kepala Zahra dengan penuh kasih sayang.


"Apa yang harus Zahra lakukan Abah, Zahra tidak ingin Aisyah meninggalkan Zahra."


"Tenanglah Fatimah... tenanglah, berdoalah dan yakinlah." ucap Abah.


Tak lama pintu ruang yang dinanti-nanti oleh semua orang terbuka, keluarlah dokter Anisah dengan wajah yang begitu redup, semua orang dapat mengetahui berita apa yang akan disampaikan oleh dokter Anisa hanya dengan melihat wajahnya saja.


"Aisyah bagaimana dokter?, apakah Aisyah baik-baik saja sekarang?, bolehkah saya masuk dokter?" tanya Zahra bertubi-tubi.


Dokter Anisah menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara perlahan, "Maaf Zahra, Aisyah sudah meninggalkan kita semua." ucap dokter Anisah.

__ADS_1


__ADS_2