
Pagi harinya Zahra melakukan aktivitas seperti biasa, memasakkan sarapan untuk suaminya dan mengurusi Aisyah, dengan dibantu oleh Umi dan juga mbak Intan.
"Umi.. apa Umi jadi pulang hari ini?" tanya Zahra.
"Iya nak.. jadi, kami hari ini akan pulang." jawab Umi sambil melihat ke arah Zahra.
"Maaf ya Umi, Zahra tidak bisa mengantar Umi."
" Tidak apa-apa nak, Umi paham bagaimana keadaanmu sekarang, Umi maklum itu, lagipula pak Rahman mungkin sebentar lagi akan datang menjemput Umi dan Abah, jadi kamu tidak perlu khawatir."
Zahra sedikit menganggukkan kepalanya, terasa berat sekali jika Umi dan Abah tidak ada disampingnya, tetapi iya tidak bisa menahan kepulangan kedua orang tuanya.
"Apa barang-barang Umi sudah disiapkan."
"Sudah nak." jawab Umi.
"Kalau begitu Zahra ke kamar Aisyah dulu Umi, ingin melihat Aisyah sudah jam segini Aisyah belum ingin bangun, tadi Aisyah mengeluh sakit kepala."
" Iya lihatlah Aisyah sekarang.. jangan sampai terjadi sesuatu kepadanya." ucap Umi.
Zahra menuju ke kamar putrinya, membukakan pintu dan melihat ke arah ranjang putrinya yang masih berbalut dengan selimut.
Zahra menghampiri Aisyah dan membukakan selimut putrinya itu, mencium wajah yang masih tidur, sambil membisikkan nama Aisyah di depan telinga Aisyah.
"Sayang.. Aisyah anak bunda... bangun." bisik Zahra dekat dengan telinga Aisyah, sehingga mengganggu tidur nyenyak Aisyah.
Aisyah membukakan sedikit matanya, melihat bundanya ada di depan matanya. "Apakah kepala Aisyah masih sakit?" tanya Zahra.
Aisyah menggeleng menjawab pertanyaan dari bundanya itu, "Tidak bunda.. sudah mendingan."
"Kalau begitu ayo kita mandi dulu." ujar Zahra sambil menggendong tubuh kecil itu membawa ke dalam kamar mandi.
Selesai memandikan Aisyah, Zahra memakaikan Aisyah baju dan menyisir rambutnya, Zahra melihat ke arah sisir yang sedang dipegangnya, terdapat beberapa helai rambut Aisyah yang rontok.
Biasanya rambut Aisyah tidak rontok sebanyak ini, tetapi ini lebih daripada biasanya, Zahra beristighfar di dalam hatinya, apakah sedikit demi sedikit penyakit itu akan mengambil rambut putrinya.
Aisyah membalikkan badannya melihat ke arah bundanya yang tidak lagi ada pergerakan. "Kenapa bunda?" tanya Aisyah.
Zahra tersenyum sambil menggeleng, memangku muka putrinya dengan kedua tangannya, sambil mencium pipi menggemaskan itu.
__ADS_1
"Tidak ada sayang.. udah selesai, ayo kita keluar sebentar lagi nenek dan kakek akan pulang."
Keduanya langsung keluar dari dalam kamar, melihat Abah dan Umi yang sedang berjalan ingin keluar, dan Umi yang sedang menyeret koper.
" Nenek... kakek. mau pulang?" tanya Aisyah menghampiri Abah dan Umi.
Abah langsung membawa Aisyah ke dalam gendongannya, diangkat tubuh kecil itu sambil mencium pipi cucunya.
"Iya sayang.. nenek dan kakek hari ini akan pulang." jawab Abah.
"Apakah pak Rahman sudah datang Umi?" tanya Zahra.
"Sudah nak... pak Rahman sudah datang, dia ada di depan."
"Kenapa tidak disuruh masuk?"
"Sudah Umi suruh tadi, tetapi pak Rahman tidak mau masuk, agar cepat pulang katanya." ucap Umi sedikit tersenyum.
" Ya sudah Umi, biar Zahra saja yang bawa koper Umi."
Zahra mengambil koper di tangan Umi dan langsung menyeretnya keluar pintu, ternyata di teras sudah ada pak Rahman yang sedang mengopi sambil memakan cemilan yang disediakan mbak Intan.
"Iya.. sudah." jawab Abah sambil mengangguk kan kepalanya.
"Nak kami pulang dulu, kamu baik-baik di rumah, jaga dirimu dan juga jaga Aisyah, nasehat Abah dan Umi jangan pernah dilupakan." ucap Abah kepada Zahra.
Zahra mencium tangan kedua orang tuanya dan memeluk Umi sesaat. "Iya bah... insyaallah nasehat Abah dan Umi berikan kepada Zahra akan Zahra ingat selalu, Abah dan Umi hati-hati di jalan."
" Iya nak.. kamu juga jangan lupa mengabari Umi dan Abah ya." ucap Umi.
"Baik Umi... pak bawa mobilnya hati-hati ya." Ucap Zahra.
"Iya mbak Zahra."
"Kakek dan nenek pulang dulu ya Aisyah." ujar Abah kepada Aisyah.
Aisyah juga mengikuti bundanya mengalami tangan kakek dan neneknya. "Iya kakek."
"Assalamualaikum." ucap Abah dan Umi.
__ADS_1
" Waalaikumsalam."
Keduanya langsung menaiki mobil yang dikendarai oleh pak Rahman, Aisyah dan Zahra mengantarkan Abah dan Umi sampai ke pintu pagar, melihat mobil yang dikendarai oleh Abah dan Umi perlahan-lahan malaju meninggalkan rumahnya.
"Ayo kita masuk sayang."
"Iya bunda."
Sesampainya didalam Zahra menghampiri mbak Intan yang sedang mengepel lantai. "Mbak Intan saya akan pergi sebentar, mbak tolong jaga Aisyah sebentar ya." ucap Zahra kepada mbak Intan yang sedang mengepel.
" Baik bu..." jawaban mbak Intan dan melanjutkan pekerjaannya.
"Bunda mau pergi ke mana?" tanya Aisyah.
"Ada hal penting yang harus bunda kerjakan, Aisyah baik-baik ya di rumah sama mbak Intan ya."
" Iya bunda."
Zahra keluar menuju ke arah garasi mobil disamping rumahnya, di dalam genggaman tangan Zahrah ada sebuah kunci mobil, Zahra masuk ke dalam mobil yang baru saja dibelikan oleh Adam, mobil mewah yang harganya mahal itu.
Zahra memasuki mobilnya perlahan-lahan mengeluarkan mobil itu dan meluncur ke jalan raya, Zahra tersenyum melihat desain mobil yang mewah tersebut.
Walaupun Adam membelikan barang yang harganya mahal diberikan kepada Zahra, rasanya Zahra tetap tidak puas, karena apa yang diberikan oleh Adam itu tidak setimpal dengan harga rumah tangganya, dan juga harga dirinya yang terasa dihina.
Tujuan Zahra tentu saja ke rumah Jihan, karena dua minggu Abah dan Umi berada di rumahnya, sedikit menunda keinginannya untuk bertemu langsung dengan Jihan.
Zahra melihat ke arah alamat yang dituliskan oleh dokter Anisa, banyak hal yang terbayangkan di dalam kepala Zahra, apakah akan terjadi perkelahian antara istri pertama dan istri kedua.
Zahra tersenyum sedikit membayangkan itu, iya menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya jika hal itu muncul di dalam pikirannya.
Tak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Zahra telah sampai di alamat rumah Jihan, Zahra memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah Jihan.
Ternyata di sana ada mobil Adam mobil suaminya, Zahra melihat ke arah jam yang dipakainya, ternyata suaminya yang berada di sini di saat jam kerja.
"Pasti sekarang mas Adam ada di dalam rumah Jihan." ucap Zahra.
Selama terjadinya pernikahan antara Adam dan Jihan, tidak pernah semalam pun Adam tidak pulang ke rumah, berarti selama ini Adam hanya menjenguk Jihan di waktu pagi hari saja, dan malamnya langsung pulang ke rumah.
Zahra tersenyum sinis membayangkan itu, iya tidak ambil pusing apa yang diperbuatkan oleh suaminya, biarlah suaminya itu melakukan apa yang disukainya, tak ada sedikitpun niat ikut campur antara rumah tangga suaminya dengan Jihan.
__ADS_1
"Entah kenapa Jihan mau menikah dengan mas Adam, sudah pasti suami orang adalah hak istri pertama, istri kedua hanya menjadi bayang-bayang istri pertama, apa dia tidak pernah memikirkan itu?" tanya Zahra pada dirinya sendiri.