
Tak berapa lama Adam dan Jihan keluar, Zahra melihat kedua orang itu dari jauh, iya tidak melepaskan sedikitpun pandangan matanya dari madu dan suaminya.
Jihan tampak menggandeng tangan suaminya dengan manja, entah apa yang dibicarakan kedua orang itu, tetapi itu jelas membuat hati Zahrah panas membara.
Mereka terlihat begitu serasi, berbicara dan tertawa bagaikan dunia milik berdua, sesekali Adam mengusap kepala Jihan yang berhijab itu.
Darah Zahra mendidih ketika melihat pemandangan suaminya bermesraan dengan wanita lain, walaupun itu adalah istri dari suaminya yang memiliki hak sama dengannya.
Tangan Zahra menggenggam dengan kuat setir mobil, raut wajah marah terlihat jelas diwajah Zahra, sekuat-kuatnya wanita pasti tidak akan tahan jika didepannya suaminya bermesraan dengan wanita lain, jelas rasa cemburu itu menghampiri diri Zahra.
Jihan mengambil tanggal suaminya dan menciumnya dengan takzim, sama seperti yang dilakukan oleh Zahra ketika melepaskan suaminya pergi, dan Adam juga mencium dahi Jihan dimana kebiasaan itu iya lakukan juga kepada Zahra.
Zahra memalingkan mukanya sambil memegang dadanya yang terasa sakit, iya tidak sanggup melihat pemandangan suaminya yang sedang bermesraan dengan jelas di depannya.
"Ya Allah kenapa rasanya begini, sungguh rasa ini benar-benar sakit, seperti ada suatu benda tajam yang menusuk hatiku, ya Allah aku ingin menjadi wanita kuat, tolong kuatkanlah aku menghadapi segala ujiannya engkau berikan." ucap Zahra menghapus air mata yang belum mengalir.
Perlahan mobil Adam meninggalkan rumah Jihan, sebelum memasuki rumah madunya, Zahra terlebih dahulu menenangkan hatinya yang terasa panas itu, sambil mengipas tangan didepan wajahnya.
"Ayo Zahra kamu kuat.. kamu pasti kuat, ini hanya pertemuan biasa antara istri pertama dan juga istri kedua." ucap Zahra.
Hingga tiba didepan pagar rumah Jihan, rumah Jihan suasananya benar-benar sepi, tidak ada hal bising sedikitpun yang terdengar, Zahra melihat kearah laki-laki didalam rumah Jihan, lelaki yang berpakaian kaos itu menghampirinya.
"Ada apa ya neng?" tanya laki-laki itu yang bekerja di rumah Jihan.
"Pak Jihan-Nya ada?" tanya Zahra basa-basi.
"Neng siapanya neng Jihan ya?" tanya laki-laki itu lagi.
"Pak saya teman dari Jihan, saya ingin bertemu dengan Jihan, sebelumnya saya sudah membuat janji bertemu ,bolehkah saya masuk?" tanya Zahra.
"Oh temannya neng Jihan ya, neng Jihan ada di dalam, silahkan masuk neng." ucap lelaki itu sambil membukakan pagar untuk Zahra.
"Terimakasih kasih pak." ucap Zahra sambil tersenyum.
"Iya neng,.. sama-sama, neng ketok saja pintunya, saya permisi dulu ke belakang."
__ADS_1
Mang Asep langsung meninggalkan Zahra yang baru masuk, dan melanjutkan pekerjaannya di belakang, zahra memandang dengan dalam halaman rumah Jihan.
"Ternyata rumah ini yang menjadi rumah kedua mu mas, apakah kamu bahagia." ucap Zahra di dalam hatinya.
"Bismillahirrahmanirrahim, kamu bisa Zahra, kuatkanlah hatimu." ucap Zahra dengan mantap melangkahkan kakinya menuju depan pintu rumah Jihan tanpa ada keraguan lagi.
Tok.. tok... tok..
Zahra mengantuk pintu rumah itu, tetapi tidak ada yang membukakan pintu.
Tok.. tok... tok...
Zahra mencoba kembali mengetuk ulang pintu rumah Jihan, terdengar dari dalam suara langkah kaki yang menghampiri pintu, perlahan pintu itu terbuka sedikit.
"Mas... kenapa?" pintu itu terbuka dan terlihatlah wajah kaget Jihan yang melihat kedatangan Zahra, sehingga kata-katanya terhenti begitu saja.
Jihan melihat Zahra bagai melihara hantu iya sangat terkejut, dengan kedatangan istri pertama dari suaminya.
"Hai apa kabar?" tanya Zahra dengan senyum yang tak lepas dari wajahnya.
Jihan berusaha menormalkan detak jantungnya yang berpacu lebih tinggi, kedatangan Zahra benar-benar tak terduga, Jihan masih bengong melihat ke arah Zahra tanpa menjawab sapaan dari Zahra.
Pertanyaan Zahra menyadarkan Jihan iya berusaha menormalkan detak jantungnya. "Emm.... i..ya bo..leh silahkan masuk." ucap Jihan dengan gagap menyuruh Zahra masuk.
Tampa memperhatikan ketegangan pada Jihan, Zahra melangkah kakinya masuk ke rumah madunya itu, Zahra melangkah dengan anggun iya memperhatikan seluruh sudut rumah Jihan, tampa disuruh Zahra langsung mendudukkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu.
"Bik Salma tolong bawakan minuman dan juga sedikit cemilan untuk tamu." ucap Jihan kepada bik Salma yang baru menghampiri mereka.
Bik Salma melihat ke arah Zahra, tamu yang tiba-tiba saja datang, biasanya tidak ada orang yang bertamu ke rumah Jihan, karena Jihan adalah orang pribadi yang tertutup.
Iya penasaran apakah tamu dari Jihan itu adalah teman baik dari Jihan, bik Salma merasa senang jika jihan mempunyai teman, karena iya melihat Jihan sedikit kesepian.
"Baik neng segera bibik siapkan." ucap bik Salma melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
"Kenapa berdiri, duduklah Jihan.. jangan tegang seperti itu, kamu melihatku seperti melihat hantu saja, santailah sedikit." ucap Zahra dengan santai.
__ADS_1
Zahra dapat menilai tingkah Jihan yang benar-benar ketakutan melihat kedatangannya, Zahra sedikit tersenyum lucu didalam hatinya, ternyata Jihan sama pengecutnya seperti suaminya Adam.
Berani berbuat tetapi tidak berani bertanggung jawab, berani menikahi suami orang, tetapi ketika istri sah mendatangi rumahnya, iya langsung ketakutan seperti melihat hantu.
Dengan langkah yang sedikit pelan dan kaku Jihan duduk didepan Zahra, wajahnya terlihat gelisah, rasanya ingin manangis ketika menatap langsung ke arah wajah Zahra.
Dua kali pertemuan tidak sengaja antara iya dan Zahra, Jihan menilai Zahra adalah orang yang baik dengan tutur kata lemah dan lembut, Jihan sedikit berpikir bahwa Zahra akan bersikap baik seperti pertemuan yang tidak sengaja itu.
Sebenarnya Jihan mengagumi sosok Zahra, wanita cantik dengan tutur kata yang sopan, tetapi rasa cintanya kepada Adam membuat Jihan sedikit iri kepada Zahra.
Sudah tiga minggu pernikahan mereka, tidak semalam pun Adam menginap di rumahnya, Adam hanya datang di pagi hari saja untuk memastikan keadaannya saja.
"Rileks.. santai Jihan, tidak perlu sekaku itu, bukannya kita sudah bertemu beberapa kali ya." ucap Zahra.
Bik Salma datang dengan membawa dua gelas minuman dan beberapa cemilan, iya datang dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya, karena melihat kedatangan tamu dari majikan yang sudah dianggap sebagai putrinya.
Setelah meletakkan minuman itu, bik Salma berdiri di samping Jihan iya ingin melihat Jihan memiliki teman, iya senang dengan kedatangan Zahra, karena iya tidak tahu siapa Zahra sebenarnya.
"Bik.. sebaiknya bibik kedalam dulu, ada yang ingin saya bicarakan dengan tamu saya, masalah pribadi." ujar Jihan kepada bik Salma yang tidak bergerak di sampingnya.
"Baik neng." ucapnya meninggalkan kedua orang itu.
"A..da.. perlu apa Mbak datang ke rumah saya?" tanya Jihan memberanikan diri, karena iya tidak mendengar sepatah kata pun yang keluar dari mulut Zahra setelah kepergian bik Salma.
"Apakah suamiku baru saja dari rumahmu?" tanya Zahra.
.
.
.
Yang menunggu penceraian Adam dan Zahra sabar ya, jika langsung bercerai tidak akan menarik, tidak akan ada lagi istri yang tanggung, yang membuat kakak penasaran, baru juga 3 Minggu dimadu masak langsung cerai😁😁😁.
Sabar ya para reader tercinta 🥰
__ADS_1
dan tetap selalu dukung author,
salam cinta dari saya untuk para kakak pembaca♥️🤗🤗