Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Berusaha adil


__ADS_3

Sampainya di rumah orang tuanya Adam, Zahra dan Adam langsung turun dari mobilnya, melangkahkan kakinya menuju ke kearah orang tuanya, yang sedang berdiri menyambut kedatangan mereka.


Ketika mendengar suara mobilnya Adam yang berhenti di depan rumah, kedua orang tua Adam langsung keluar menyambut anak dan menantunya.


Zahra tersenyum melihat keantusiasan kedua mertuanya itu, iya bersyukur bahwa hubungannya dengan kedua orang tua Adam masih baik-baik saja, setelah terjadinya pernikahan kedua antara Adam dan Jihan.


"Assalamualaikum.. mah, pah." sapa Adam dan juga Zahra.


Mereka langsung mencium tangan ke kedua orang tuanya, bu Ratna langsung mencium kedua pipi menantu kesayangannya itu, karena lumayan lama iya tidak berjumpa dengan Zahra.


"Waalaikumsalam nak, bagaimana kabar kalian, mama sangat seneng sekali karena kedatangan kalian pada malam ini, jadi dimana cucu kesayangan mama kenapa belum turun?" tanya bu Ratna sambil melihat ke arah mobil mencari keberadaan Aisyah.


"Alhamdulillah kami baik mah... Aisyah tidak ingin ikut, katanya Aisyah ingin beristirahat di rumah saja sama mbak Intan, Mama sama Papa bagaimana keadaannya?" tanya Zahra.


"Alhamdulillah mama sama papa sehat...


Sayang sekali cucu kesayangan mama tidak bisa ikut, tapi tidak apa-apa lain kali mama sama papa akan langsung menjenguk nya."


"Iyaa mah... lebih baik besok saja kita menjenguk Aisyah, soalnya papa juga sangat merindukan Aisyah." ucap pak Yusuf terlihat antusias.


"Boleh pah... pasti Aisyah akan sangat senang akan kedatangan kalian." balas Adam.


"Ini mah... Zahra membeli kue kesukaan mama tadi." ucap Zahra sambil memberikan sekotak kue kesukaan bu Ratna.


Zahra dan Adam sempat mampir di toko kue kesukaan buk Ratna, untuk membelikan kue sebagai buah tangan dari mereka.


"Terima kasih banyak sayang... baik banget sih masih sempat-sempatnya membelikan mama kue, merepotkan saja."


" Tidak apa-apa kok mah, ini sama sekali tidak membuat Zahra repot, malahan Zahra sangat senang jika bisa membuat mama tersenyum bahagia." ucap Zahrah sambil tersenyum.

__ADS_1


Adam yang berdiri di samping Zahra juga ikut senang, melihat keakraban antara istri dan kedua orang tuanya.


"Jadi kita hanya berdiri di luar saja mah, dari tadi asik bicara terus." ucap Adam membuka suaranya menghentikan keasyikan antara menantu dan mertua itu.


"Kamu tahu sendiri kan mamamu itu, kalau udah bertemu dengan Zahra pasti akan melupakan sekitarnya, padahal kita sudah menahan lapar dari tadi." ucap papa Adam sambil sedikit tersenyum.


Mendengar kata dari suaminya itu, bu Ratna tersenyum malu, sambil memalingkan wajahnya dan memegang tangan Zahra.


"Ayo sayang... kita masuk, mama sudah memasak makanan kesukaan kalian, dan juga Aisyah tentunya, karena tadi mama pikir Aisyah juga ikut."


" Iya mah... maaf ya merepotkan."


"Tidak sayang... sama sekali tidak merepotkan."


Di atas meja makan terhidang berbagai macam makanan yang sangat menggugah selera, semua itu adalah makanan kesukaan dari Zahra, Aisyah dan juga Adam, bu ratna menyiapkan sendiri makanan tersebut untuk menyambut anak dan menantu kesayangannya itu.


"Ini mama masak sendiri loh, pasti kalian suka." ucap Bu Ratna.


"Ayo silahkan duduk" ucap pak Yusuf mempersilakan semuanya duduk, Zahra menganggukkan kepalanya sambil tersenyum dan mendudukkan tubuhnya di samping Adam.


"Assalamualaikum." terdengar suara salam dengan suara yang cukup lembut menyapa indera pendengaran, semua orang yang yang ada di ruang makan tersebut mengalihkan tatapan mereka, melihat ke arah seseorang yang baru saja memberi salam.


Melihat kedatangan tamu yang memberi salam tersebut, bermacam-macam ekspresi dikeluarkan dari orang-orang yang sedang duduk itu.


Tetapi tidak dengan Zahra, iya masih mengeluarkan ekspresi biasa saja, tenang, santai, walaupun tidak dengan perasaan yang dirasakannya.


Rasanya iya ingin menjerit dan langsung menghampiri wanita itu, bahkan ia ingin sekali untuk merobek pakaian yang dipakaikan oleh wanita tersebut.


Tentu saja wanita itu adalah Jihan madunya, istri kedua dari suaminya, dan lebih sialnya lagi Jihan memakaikan baju yang sama persis dengan Zahra dari atas sampai bawah, seolah-olah Jihan ingin mengatakan bahwa ia bisa sama seperti Zahra.

__ADS_1


"Waalaikumsalam." jawab Adam dengan senyum bahagianya, tidak dengan yang lainnya, karena bibir yang lainnya terasa membeku ketika melihat Jihan, tamu yang tak diundang hadir pada malam ini di acara makan malam keluarga.


"Assalamualaikum... mah, pah, mbak Zahra." ucap Jihan ketika melihat tidak ada jawaban dari orang-orang yang telah diberikan salam olehnya.


"Waalaikumsalam.." jawab kedua orang tua Adam dengan suara pelan.


Saat ini Zahra sadar maksud dan tujuan Adam yang memaksanya hadir untuk makan malam di rumah mama dan papa mertuanya, selain untuk makan malam ternyata Adam ingin mempersatukan kedua istrinya, dan juga ingin memperlihatkan bahwa ia adil dalam berpoligami.


Zahra tersenyum sinis melihat suaminya itu, Adam bener-bener laki-laki yang bodoh, dengan cara membelikan baju yang sama ia berpikir bahwa ia telah melakukan keadilan untuk kedua istrinya.


Melihat Jihan yang kurang disambut oleh kedua orang tuanya, Adam berinisiatif menghampiri Jihan, memegang tangan Jihan membawanya ke depan orang tuanya.


Zahra melihat semua itu, iya melihat kelakuan sepasang suami istri itu dengan tatapan biasa saja, seolah hatinya sudah benar-benar mati rasa, surat gugatan cerai yang tak ingin iya ajukan, sekarang terpikirkan lagi di dalam ingatannya.


Adam membawa Jihan ke hadapan orang tuanya, Jihan merasa sedikit gugup ketika berhadapan dengan mertuanya, biasanya iya tak gugup seperti ini, karena ia sudah terbiasa berhadapan dengan kedua orang tuanya Adam.


"Selamat malam mah... pah... bagaimana kabarnya?" tanya Jihan dengan nada sebaik mungkin.


Pak Yusuf langsung membuang mukanya ketika mendengar ucapan dari Jihan, iya dulu juga menyayangi Jihan, tetapi ketika Adam berniat menikahi Jihan, iya seolah tidak lagi mengenal Jihan yang dulu.


Sedangkan bu Ratna sedikit tersenyum mendengar sapaan dari Jihan, walaupun sekarang iya tidak suka dengan Jihan, tetapi ia tidak bisa mengabaikan Jihan begitu saja, karena Jihan adalah anak dari sahabatnya.


"Baik." ucap bu Ratna sambil mengangguk dan tersenyum.


Mendengar ucapan bu Ratna yang singkat padat dan jelas itu, membuat Jihan tambah grogi lagi, pasalnya ia tidak pernah diperlakukan sedingin ini oleh orang tuanya adam.


"Mah... ini Jihan membawakan kue kesukaan mamah." ucap Jihan sambil menyerahkan kue kesukaan bu Ratna, yang sama persis seperti yang dibeli oleh Zahra.


Bu Ratna melihat ke arah kue tersebut, dan juga ke arah Jihan dari atas sampai bawah, lalu melihat ke arah Adam dan juga Zahra, iya tidak habis pikir, ternyata putranya betul betul bodoh, karena tidak mengerti bagaimana tentang perasaan wanita.

__ADS_1


"Tidak usah repot-repot Jihan... Zahra sudah membelikan kue kesukaan saya, jadi saya tidak sanggup menghabiskan kue pemberianmu ini." ucap Bu Ratna yang entah kenapa merasa muak dengan Jihan.


__ADS_2