Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Pertengkaran


__ADS_3

"Kalian tahu, saat ajal putriku Aisyah mendekat iya menanyakan keberadaan mas Adam, iya bertanya-tanya bunda di mana ayah?, sehingga aku bingung ingin menjawab apa, karena nyatanya ayahnya lebih memilih perempuan ini daripada darah dagingnya sendiri." tunjuk Zahra kearah Jihan.


"Cukup nak... saya mohon dengan sangat sangat untuk para wartawan sebaiknya kalian kembali sekarang, biarkan permasalahan ini kami sekeluarga yang akan menyelesaikannya." ucap Abah kepada wartawan sambil merapatkan kedua tangannya membentuk salam.


Wartawan itu pun dengan perlahan meninggalkan rumah keluarga Zahra "Benar-benar... aku tidak menyangka ternyata mas Adam menduakan ustadzah Zahra." ucap salah satu wartawan yang melangkah pulang setelah mendengar perintah dari Abah.


"Betul sekali.. kurang apa sih ustadzah Zahra, iya berasal dari keluarga yang paham agama dan juga cantik, memang mata-mata mas Adam buta sehingga tidak dapat membedakan yang mana berlian dan batuk kerikil."


"Begitulah laki-laki mereka tidak dapat melihat mana yang baik ketika nafsu dalam diri mereka sudah bergelora yang tidak dapat ditahankan, sehingga seperti cerita mas Adam tadi, meninggalkan anak istrinya demi wanita yang perusak rumah tangga."


"Tapi kasian juga dengan ustadzah Zahra, iya harus menghadapi semua ini, aku sebagai wanita juga ikut merasa sakit sekali mendengar kisah mereka, pasti setelah ini kisah ini akan viral."


"Mau bagaimana lagi kita hanya wartawan, ini adalah tugas kita, sepertinya ustadzah Zahra juga tidak keberatan jika kisah ini diviral kan, semoga menjadi pelajaran bagi masyarakat yang melihat kisah ini ."


"Iya semoga ustadzah Zahra kedepannya lebih baik lagi, aku sangat mendukung jika ustadzah Zahra dan mas Adam bercerai, untuk apa mempertahankan laki-laki seperti itu." ucap wartawan itu sambil bersandar di mobilnya memandang ke arah rumah megah di hadapannya.


Setiap wanita yang akan mendengar cerita panjang Zahra pasti juga ikut merasakan rasa sakit yang dirasakan oleh Zahra, di mana dia berjuang demi putrinya bagaikan orang gila, tanpa kehadiran seorang suami yang seharusnya menjadi bahu baginya.


Zahra memandang ke arah semua orang yang berdiri diam dengan isi kepala masing-masing, pikiran semua orang melayang seolah merasa ini semua adalah mimpi buruk, tetapi bagi Zahrah ini adalah mimpi yang indah, di mana iya bisa mengobati sedikit luka hatinya.


"Ayo masuk dulu.. kita selesaikan di dalam." ucap Umi menarik tangan Zahra agar Zahra mau mengikutinya ke dalam.

__ADS_1


Namun tubuh Zahra membeku iya tidak ingin masuk ke dalam dan menyelesaikan masalah yang telah iya perbuat, baginya semua ini sudah selesai untuk apa diselesaikan lagi, ini adalah final dari perjalanan panjang prahara rumah tangganya.


"Tidak Umi... tidak usah diperjelas kan lagi ataupun diselesaikan, semua ini sudah selesai dengan perginya Aisyah pada hari ini, jasad Aisyah juga sudah dimakamkan, ini semua tidak ada guna lagi." ucap Zahra walaupun tegar namun dengan hati yang begitu rapuh.


"Puas kamu mbak... puas kamu telah mempermalukan aku dan mas Adam bahkan di depan awak media, aku tidak apa-apa jika kamu mempermalukan tetapi tidak dengan mas Adam, aku tidak terima kamu mempermalukan mas Adam seperti itu, mas Adam adalah lelaki yang baik, suami yang baik untukku dan juga untuk dirimu.


Dia berusaha bersikap adil kepada kita, malahan mas Adam lebih mementingkan kamu daripada aku tapi apa balasannya, pada hari ini kamu membuat mas Adam malu." ucap Jihan dengan tidak tahu malunya mengeluarkan semua isi hatinya yang iya rasakan tentang Zahra.


Adam hanya diam saja menahan rasa sakit akibat pukulan dari Faisal dia terlihat begitu lemah, bahkan dia tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata sekedar membela dirinya, tetapi di dalam hati Adam sangat setuju dengan apa yang diucapkan oleh Jihan.


Menurut Adam tidak seharusnya Zahra mempermalukannya seperti ini apalagi di depan wartawan yang sedang meliputi berita, buka salahnya jika Aisyah pergi untuk selamanya, ini adalah takdir.. semuanya sudah ditentukan oleh Allah bukan salahnya jika takdir harus seperti itu.


Perkataan Jihan membuat darah Zahra mendidik sehingga ia melayangkan satu tamparan di pipi kiri Jihan, membuat wanita itu langsung memegang pipinya yang terasa perih dan berdenyut.


"Kamu." ucap Jihan tertahan menahan emosinya sambil menggigit keras giginya dan juga menggenggam erat tangannya.


Jihan menatap kearah wanita yang baru saja menamparnya, semur hidup baru kali ini iya ditampar, Jihan begitu tidak terima diperlakukan begini oleh Zahra, emangnya siapa Az-Zahra sehingga iya berani menamparnya.


"Sakit... apakah rasa tamparan dariku ini sakit?, jika ini sakit.. maka rasa sakit hatiku lebih daripada ini, kamu adalah wanita perusak rumah tanggaku, wanita yang telah merebut surga yang ku jaga dengan baik.


Sehingga kelak aku berharap surga itu masih utuh, dan pada hari ini kamu bersikap seolah-olah kamu yang disakiti, dan untuk mas Adam apakah iya tidak merasa bersalah, apa iya tidak merasa bersedih dengan kepergian Aisyah pada hari ini, aku lihat dia bersikap santai saja dengan kepergian anaknya." ucap Zahra lagi.

__ADS_1


"Cukup Jihan cukup, tidak seharusnya kamu berdebat dengan Zahra seperti itu." ucap Adam lemah.


Walaupun Adam juga merasa kesal dengan Zahra akibat mempermalukan nya, tetapi Adam tak tega jika di depannya kedua istrinya sedang bertengkar, apalagi iya tahu jika berdebat dengan Zahra maka tidak akan ada habisnya.


"Tapi mas... mbak Zahra benar-benar keterlaluan, ini tidak bisa dibiarkan, mama... mama lihat sendiri kan bagaimana kelakuan menantu yang membanggakan ini." ucap Jihan sambil melihat ke arah mertuanya.


"Bu Ratna menatap sinis kearah Jihan, detik ini bu Ratna dapat menilai mana yang baik dan mana yang buruk, Jihan yang iya kira baik tak sebaik penilaiannya yang terdahulu, kini Jihan telah membuka watak aslinya yang ternyata begitu egois dan tidak merasa bersalah."


"Tidak ada yang salah dengan sikap Zahra, sudah sewajarnya Zahra melakukan itu, jika itu mama dari awal akan mama lakukan."


Jihan menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari bu Ratna. iya tidak menyangka di depan bu ratna sendiri Zahra mempermalukan Adam tetapi ibu Ratna masih membela Zahra, entah dengan apa Zahra mempengaruhi pikiran bu Ratna sehingga sekarang mertuanya itu begitu membencinya.


"Mama.. Jihan betul betul tidak menyangka, mas Adam dipermalukan tetapi mama masih mendukung mbak Zahra, di sini yang anak mama adalah mas Adam bukan mbak Zahra."


"Cukup... saya tidak ingin melihat kalian lagi, kalian berdua silahkan pulang, silahkan tinggalkan rumah saya, kalian tidak diterima di sini. ucap Zahra kepada Adam dan Jihan.


Adam melihat ke arah istri pertamanya itu, perkataan Zahra yang dari tadi begitu membuatnya terkejut, hari ini Zahra adalah sosok yang lain, seolah-olah Adam tidak mengenalnya lagi.


"Apa maksudmu sayang.. kamu mengusir mas?" tanya Adam.


"Iya... aku mengusir mu mas dan wanita murahan ini... secepatnya pengacaraku akan mengurus surat perpisahan kita, kuharap kamu tidak akan membuat masalah." tekan Zahra.

__ADS_1


__ADS_2