Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Rahasia


__ADS_3

Zahra terdiam menunggu penjelasan yang akan dijelaskan oleh mertuanya, rasa penasaran karena sikap mama yang berubah sekarang memenuhi pikiran zahra.


"Sebenarnya apa yang terjadi, sampai mama meminta maaf kepada Zahra, tidak mungkin mama secepat ini berubah?" tanya Zahra.


"Mama sekarang sadar tidak seharusnya mama bersikap kasar kepadamu, sebenarnya mama pernah berada didalam posisimu saat ini." ucap bu Ratna dengan wajah yang sedih,


"Maksud mama?" tanya Zahra sama sekali tidak mengerti, Zahra menatap kearah mertuanya dengan dahi yang berkerut.


Zahra berpikir, apa papa mertuanya juga pernah meminta izin kepada mama untuk menikah lagi, sehingga mama mengatakan bahwa iya pernah berada diposisi Zahra sekarang.


Jika memang seperti yang dipikirkan Zahra, Kenapa awalnya mama mertuanya sangat mendukung keputusan Adam untuk menikah lagi, ini benar-benar membuat Zahra menjadi bingung.


Jika ini hanya akting mama mertuanya untuk sesaat rasanya tidak mungkin, karena Zahra dapat melihat ketulusan dan penyesalan mama mertuanya itu.


"Sebenarnya Adam bukanlah anak kami satu-satunya, Adam memiliki seorang kakak perempuan, namanya Aliya." ucap papa mertuanya. lagi-lagi Zahra terkejut mendengar perkataan yang baru didengarnya.


Jika mas Adam mempunyai seorang kakak perempuan, sekarang kakaknya mas Adam dimana, kenapa tidak ada yang pernah mengatakan tentang hal ini, pikir Zahra.


Umi yang juga baru mendengar perkataan pak Yusuf juga ikut penasaran, karena memang sepengetahuan semua orang Adam itu anak tunggal, tidak ada yang menyebutkan bahwa Adam memiliki seorang kakak perempuan.


"Papa serius... bahwa mas Adam mempunyai seorang kakak perempuan, kalau begitu di mana kakaknya mas Adam sekarang, kenapa kami baru mendengar hal ini, dan mas Adam juga tidak pernah menyebutkan bahwa ia mempunyai seorang kakak?" tanya Zahra bertubi-tubi.


"Kakaknya Adam telah meninggal dunia Zahra, tempat di umurnya yang keempat tahun, seumuran dengan Aisyah sekarang, namanya Aliya, ketika iya meninggal.. waktu itu Adam belum lahir." jelas pak Yusuf.


Bu Ratna yang berada di samping pak Yusuf terdiam sambil tertunduk, bahunya terguncang menahan isak tangis yang menyedihkan, tangannya sibuk mengelap air mata yang membasahi wajahnya.


Sesekali pak Yusuf mengusap bahu bu Ratna memberi ketenangan kepada wanita paruh baya itu, baru kali ini Zahra melihat mamanya yang begitu keras hatinya, menangis seperti ini.

__ADS_1


Memang sangat menyakitkan kehilangan seorang anak bagi seorang ibu, kehilangan seorang anak akan membuat seorang ibu begitu terpukul.


Yang menjadi pertanyaan dalam pikiran Zahra, apa penyebab meninggalnya kakak Adam, dan kenapa tidak ada seorangpun yang membicarakannya, apakah suaminya itu mengetahui tentang kakaknya itu.


"Maaf sebelumnya.. pah.. mah, kalau Zahra lancang ingin bertanya, tetapi Zahra penasaran jika tidak bertanya, sebenarnya apa penyebab meninggalnya mbak Aliya, apakah mas Adam mengetahui tentang kakaknya?"


papa menarik nafas panjang dan menghembuskan secara perlahan, luka yang telah tertanam rapat hari ini akan terkuak, luka yang Sudah sembuh tetapi masih menyisakan sakit begitu dalam bagi pak Yusuf dan juga bu Ratna.


Padahal keduanya memilih bungkam tentang masa pahit yang pernah di jalani keduanya, dimana mereka kehilangan buah hati yang sangat mereka cintai, penyemangat bagi pak Yusuf dan bu Ratna.


"Aliya.. kakaknya Adam sebenarnya menderita penyakit leukemia, sama persis seperti penyakit yang diderita oleh Aisyah, dan Adam tidak pernah mengetahui itu." ucap pak Yusuf.


Degg.


Zahra benar-benar terkejut mendengar perkataan pak Yusuf, kakaknya Adam meninggal karena penyakit yang sama dengan putrinya, hatinya menjadi sakit mendengar itu.


Tiba-tiba pikiran Zahra kosong, wajah Aisyah menari-nari dalam bayangannya, apakah Aisyah putri tercintanya akan mengalami hal yang sama dengan kakak iparnya.


Memikirkan hal itu segenap jiwa Zahra hilang, bayangan itu terasa sangat mengerikan bagi Zahra, mencoba untuk ikhlas tetapi kenyataannya keikhlasan itu begitu sulit dan menyakitkan.


"Benar Zahra, kakaknya Adam Aliya meninggal karena leukimia." ulang pak Yusuf.


"Mama sangat menyayangi Aliya, seluruh perhatian dan kasih sayang kami curahkan untuknya, hingga pada saat itu Aliya sering mengeluarkan darah dari hidung, dan juga sering mengeluh sakit di seluruh tubuhnya." ucap bu Ratna terdiam sejenak mengumpulkan nafas agar bisa melanjutkan ceritanya.


"Apa yang terjadi selanjutnya.. ma?" tanya Zahra penasaran dengan suara bergetar.


"Hingga Aliya tidak sanggup menahan penyakit yang menyerang tubuhnya, Aliya meninggal satu tahun setelah mengidap leukemia." lanjut bu Ratna menjelaskan tidak lagi ada isak tangis, hanya air mata yang sesekali menetes.

__ADS_1


Zahra merinding ketika mendengar cerita mama mertuanya, tangannya terasa dingin dan juga air matanya tak terasa menetas beriringan dengan tetesan air mata mertuanya.


Umi yang di samping hanya bisa mengelus bahu putrinya itu, sungguh Umi tidak tega melihat Zahra sampai mengalami nasib sama seperti mertuanya, Umi tidak sanggup jika hal itu terjadi kepada putrinya Zahra.


Zahra berharap semoga Aisyah dapat bertahan dan melawan penyakit yang dideritanya.


"Saat itu mama merasakan dunia mama hancur, mama benar-benar tidak sanggup kehilangan Aliya, mama sempat mengalami depresi yang berat Zahra, akibat kehilangan Aliya."ucap bu Ratna.


"Makanya Adam tidak pernah tahu kalau iya mempunyai seorang kakak, kami tidak ingin mengungkit masa lalu yang menyakitkan itu, rahasia itu dikubur bersama jasad Aliya yang terkubur." lanjut pak Yusuf.


"Apakah Aisyah mengalami penyakit leukimia karena keturunan dari keluarga kalian?." tanya Umi.


"Mungkin saja itu benar." ucap pak Yusuf lirih.


Zahra benar-benar tidak sungguh lagi mendengar cerita masa lalu keluarga suaminya, perasaannya hancur, takut Aisyah mengalami hal yang sama.


"Umi.. apakah Aisyah akan bernasib sama seperti kakaknya mas Adam, Zahra nggak sanggup Umi.. sungguh Zahra tidak ikhlas jika itu terjadi." ucap Zahra dengan mata yang berembun.


"Tenang nak.. tenangkan dulu hati dan pikiranmu jangan berpikir yang tidak-tidak, serahkan semuanya kepada Allah, mintalah kepada Allah kesembuhan atas Aisyah."


"Zahra maafkanlah mama... ketika mama mendengar bahwa Aisyah penderita penyakit leukemia, mama benar-benar merasa bersalah, karena telah mengatakan kamu sebagai ibu yang tidak becus.


Maafkan mama yang sempat memaksamu mengizinkan Adam untuk menikah lagi, mama benar-benar menyesal."


Bu Ratna benar-benar menyesal telah berkata kasar kepada Zahra, iya juga begitu menyesal pernah menyalahkan Zahra karena tidak mengijinkan Adam menikah lagi.


Bu Ratna pernah berada di dalam posisi Zahra sekarang, ketika putri yang sangat dicintainya meninggal dunia.

__ADS_1


Jika saja saat itu suaminya menikah lagi, maka dia sekarang tidak akan berada di sini, pasti sekarang bu Ratna di rumah sakit jiwa, karena sudah pasti iya tidak akan sanggup menghadapi cobaan bertubi-tubi.


__ADS_2