
Melihat kedua orang tersebut membuat amarah Zahra langsung meledak, Zahra meremas kedua tangannya ingin sekali iya mengeluarkan segala kata-kata amarah kepada kedua orang itu.
"Suamimu baru berkunjung nak.. hadapilah mereka dengan kepala dingin." ucap Umi.
"Tidak bisa Umi, Adam harus di pukul dulu baru dia sadar, Faisal akan memberinya sedikit pelajaran." ucap Faisal sambil menahan amarahnya, iya tak sabar untuk menghajar wajah Adam yang sok tidak bersalah itu.
Faisal langsung keluar dari dalam mobilnya dengan amarah yang menguasai pikiran dan hatinya, berjalan menghampiri Adam dan Jihan yang sedang berdiri di depan teras rumah Umi.
Tiba di hadapan Adam, Faisal langsung menarik kerah baju Adam, iya melayangkan satu tinju tepat di pipi kiri Adam, hingga membuat tubuh Adam langsung oleng ke samping menahan pukulan dari Faisal, yang seorang juara karate di beberapa tempat.
"Mas Adam..." teriak Jihan sambil melihat luka di pipi Adam mengusapnya dengan lembut,
"Mas... kamu tidak apa-apa kan?" tanya Jihan dengan wajah yang khawatir.
Dengan perlahan Jihan langsung membantu Adam untuk bangunan, Adam memejamkan matanya berusaha menghilangkan rasa sakit ketika mendapatkan pukulan dari Faisal, tetapi Faisal tidak diam begitu saja, iya berusaha untuk meninju Adam lagi.
Faisal melayangkan satu tinju di pipi kiri Adam dan satu tinju lagi di perut Adam, sehingga membuat bibir Adam sobek dan mengeluarkan darah, Jihan begitu panik ketika melihat suaminya dipukul di depan matanya sendiri.
"Hentikan Faisal,...hentikan, jangan berbuat keributan." ucap Abah menghampiri Faisal.
Abah dan Umi langsung menahan Faisal agar tidak berbuat lebih jauh kepada Adam, dan tak lama orang tua Adam juga telah sampai di rumah Umi, mereka melihat anaknya yang sedang meringis kesakitan sambil memegang perut dan juga pipinya.
"Lepas Abah... Faisal ingin menghajar laki-laki yang tidak tahu diri ini."
__ADS_1
Ternyata tak hanya kedua orang tua Adam yang datang, beberapa wartawan pun ternyata juga mengikuti mobil yang ditumpangi oleh keluarga Abah Abdullah dan Umi Aminah, mereka merasa tidak puas karena tidak berhasil mendapatkan informasi tentang keluarga pendawa tersebut.
Melihat kegaduhan yang terjadi membuat para wartawan itu tersenyum senang, kamera langsung diarahkan ke arah keluarga tersebut. Peringatan Abah dan Umi bagaikan angin lalu di telinga Faisal, hingga Faisal melayangkan satu tinju lagi ke arah Adam.
"Tolong jangan pukul mas Adam lagi, tolong hentikan..." teriak Jihan sambil menangis melihat kondisi Adam yang sedang babak belur tanpa bisa melawan pemegang sabuk juara karate bertahap itu.
"Faisal... hentikan Faisal, Abah tidak pernah mengajari mu untuk berbuat kekerasan seperti ini." ucap Abah dengan intonasi yang tinggi, sehingga siapapun yang mendengarnya pasti akan langsung mengikuti perintahnya.
"Jangan hentikan lanjutkan saja, mas Adam memang pantas mendapatkan ini, bahkan pukulan dari mas Faisal pun tidak akan mampu menghilangkan rasa sakit yang iya berikan kepadaku dan juga Aisyah." ucap Zahra dengan lantang dari tadi menyaksikan dalam diam.
Suasana menjadi hening ketika suara Zahra terdengar, seolah-olah semua orang menanti kelanjutan kata-kata dari zahra yang bagaikan teka-teki bagi para wartawan peliput berita, mereka penasaran apa yang sebenarnya terjadi di keluarga pendawa tersebut.
"Apa yang mbak katakan?, kenapa mbak begitu tega kepada mas Adam,? sehingga menyuruh kakak mbak sendiri untuk memukul mas Adam, mas Adam adalah suami mbak.. apa mbak tidak punya hati?" tanya Jihan yang emosi ketika mendengar kata-kata menyakitkan dari Zahra
"Prok... prok.. prok... Wow.. hebat sekali, seorang madu akhirnya bersuara." ucap Zahra sambil tersenyum mengejek membuat Jihan bertambah geram.
Zahra melihat ke arah wartawan yang sedang meliput berita dengan saling berbisik-bisik menebak apa yang terjadi sebenarnya, mereka sangatlah penasaran pasti dikeluarga ini ada suatu rahasia yang akan segera terbongkar.
"Kalian pasti ingin tahu sebenarnya ada apa dengan keluarga ini ya kan?." ucap Zahra tersenyum manis kearah wartawan.
"Iya ustadzah.. kami sangat penasaran sebenarnya apa yang terjadi? kenapa ustad Faisal memukul mas Adam suami ustadzah Zahra? dan siapa wanita di samping mas Adam?" tanya wartawan itu.
Dengan pandangan lemah Adam melihat ke arah Zahra sambil menggelengkan kepala, Adam berharap bahwa Zahra tidak membongkar aibnya dan memiliki hati untuknya untuk memaafkan segala kesalahannya.
__ADS_1
"Jangan Zahra... mas mohon, kita bisa perbaiki ini semua." mohon Adam dengan tatapan yang lemah lembut berusaha agar hati yang keras itu sedikit melunak.
"Memperbaiki apa mas... apalagi yang harus diperbaiki, semuanya udah final pada hari ini," ucap Zahra terdiam sejenak.
"Kalian bertanya-tanya siapa wanita yang ada di samping suami saya, wanita yang ada di samping suami saya adalah istri kedua suami saya, yang pernikahannya dirahasiakan dari saya, tetapi atas izin Allah saya mengetahui pernikahan mereka yang dilakukan di belakang saya."
Tak ada air mata ataupun rasa takut, semua rasa sesak dan amarah Zahrah yang selama ini Zahra tahan, iya keluarkan pada hari ini, iya beberkan semua yang disimpan oleh suaminya.
"Kalian tahu kenapa kakak saya memukul suami saya, karena pas anak saya sedang kritis sampai sakaratul maut menjemputnya tetapi ayahnya tidak ada disamping Aisyah Putriku, suami saya lebih memilih menemani istri keduanya untuk pergi ke malaysia."
Zahra menarik nafasnya setelah mengeluarkan kata-kata panjang itu, rasanya lega... lega sekali ketika beban yang iya tanggung akhirnya ia keluarkan,.
Walaupun Iya tahu, bahwa seluruh orang akan mengetahui bagaimana sebenarnya rumah tangga mereka jalani, yang sangat jauh dari ekspektasi masyarakat.
"Mbak Zahra adalah seorang pendakwah, penyiar agama islam yang di agung agung kan oleh masyarakat karena mbak adalah contoh istri yang soleha, tetapi apakah begini yang dinamakan sebagai istri yang sholehah?, seorang istri yang sholehah tidak akan membeberkan aib suaminya sendiri." ucap Jihan tak kalah lantang dari Zahrah.
Semua orang yang mendengar dan melihat kejadian ini tak satupun ingin menghentikannya, begitupun juga dengan Abah Umi dan kedua orang tua Adam, mereka membiarkan Zahra meluapkan emosinya pada hari ini setelah masa pahit yang telah Zahra jalankan.
"Aib yang mana saya beberkan?, apakah tentang pernikahan kalian?, apakah pernikahan kalian adalah aib sehingga harus ditutupi.
Pernikahan itu bukalah aib Jihan, tetapi anugerah dari Allah karena Allah telah menyatukan dua insan yang saling mencintai.
Bedanya pernikahan kalian adalah persatuan untuk menyakiti hati orang lain bahkan hati Putriku yang sedang melawan penyakitnya." ucap Zahrah menghapus setetes air matanya ketika menyebabkan nama Aisyah.
__ADS_1
"Kalian tahu, saat ajal putriku Aisyah mendekat iya menanyakan keberadaan mas Adam, iya bertanya-tanya bunda di mana ayah?, sehingga aku bingung ingin menjawab apa, karena nyatanya ayahnya lebih memilih perempuan ini daripada darah dagingnya sendiri." tunjuk Zahra kearah Jihan.