
Hari ini adalah hari yang telah dijadwalkan oleh dokter Anisa untuk kemoterapi pertama Aisyah, Zahra sedang mempersiapkan keperluannya dan juga putrinya yang akan melakukan kemoterapi pertama.
Zahra juga sudah mengabari orang tuanya dan mertuanya, bahwa hari ini adalah jadwal pertama kemoterapi Aisyah.
Tak sedikitpun Zahra menceritakan tentang kejadian rumah tangganya dengan Adam kepada orang tuanya, Zahra berencana akan menceritakannya di waktu yang pas.
Zahra tersenyum membayangkan rencana yang telah disusun untuk membalaskan rasa sakit hatinya kepada suami tercinta dan juga madu tersayang, seperti meledakkan bom dan mengeluarkan semuanya.
Iya telah meminta kepada Adam untuk membelinya sebuah mobil mewah untuk keperluan Zahra sendiri, walaupun berat Adam tidak ingin menolak permintaan istrinya, karena Zahra jarang sekali meminta kepada Adam.
Adam tidak ikut mengantarkan Aisyah ke rumah sakit, karena hari ini iya harus bekerja, jadi hanya Zahra dan mbak Intan saja yang menemani Aisyah.
Menggunakan baju berwarna hitam dengan hijab berwarna moca, Zahra terlihat begitu cantik dan manis, iya tersenyum puas melihat penampilannya.
"Baiklah dunia mulai hari ini, Nur Fatimah Az-Zahra akan berubah, tidak ada lagi Zahra yang dulu, Zahra yang baik dan Zahra yang bodoh, mulai hari ini Zahra akan membalas setiap rasa sakit yang telah diberikan orang-orang yang tersayang." ucap Zahra pada dirinya.
Zahra mengambil tas sampingnya memakainya, iya keluar mencari keberadaan Aisyah dan juga mbak Intan.
Iya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, jika ada orang melihat senyumnya, pasti semua orang tidak akan percaya bahwa suami Zahra telah memberikannya madu kepahitan kepadanya.
"Bagaimana mbak udah siap?" tanya Zahra.
"Udah buk.. Aisyah udah siap, semua barang-barang yang diperlukan juga udah siap."
"Kalau gitu ayo kita berangkat sekarang."
Untuk saat ini rasa marah dan kecewa Zahra dapat terhalang dengan kesibukannya mengurus putrinya, berdoa dan berharap bahwa Aisyah akan segera sembuh dari penyakit yang berbahaya itu.
Entahlah.. untuk suaminya iya tidak peduli banyak dengan hal itu, setelah melihat foto yang telah menjadi bukti bahwa suaminya itu telah menikah lagi, entah kenapa rasa cinta Zahra seperti hilang begitu saja yang tertinggal hanyalah rasa marah dan kecewa.
Mereka bertiga menaiki taksi seperti biasa, Adam bilang dalam beberapa hari mobil mewah yang diminta Zahra akan segera datang.
Sebenarnya Zahra tidak ingin mobil mewah tersebut, tetapi karena suaminya telah memalingkan hatinya kepada wanita lain, Zahra berpikir iya harus menikmati sedikit hasil keringat dari Adam.
Tak akan iya biarkan jika wanita itu menikmati hasil nyeri payah Adam, biarlah iya dikatakan kejam ataupun egois, konsep yang Zahra pegang berani berbuat maka berani menanggung resiko.
__ADS_1
Sesampainya di rumah sakit, Zahra langsung menuju ke ruangan dokter Anisa, mengantuk pintu dan langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Wahh.. si cantik kecil sudah datang, ayo silahkan duduk." ujar dokter Anisa.
Zahra dan mbak Intan duduk di depan dokter Anisa dengan Aisyah di dalam pangkuan Zahra, tatapan mata zahra tak lepas dari dokter Anisa iya penasaran dari mana dokter ini mendapatkan foto pernikahan suaminya.
Dokter Anisa yang mendapat tatapan mata dari Zahra, iya tahu pasti ibu dari pasiennya ini yang sudah dianggap sebagai temannya, ingin menanyakan tentang foto suaminya.
"Jadi begini Zahra, Aisyah akan di kemoterapi dua jam lagi untuk mempersiapkan semuanya." ucap dokter Anisa.
"Baiklah dokter kalau begitu, tetapi apa dokter saat ini sibuk?"
Dokter Anisa tersenyum kearah Zahra tembakannya ternyata tidak salah. "apa kamu ingin menanyakan sesuatu?" tanya dokter Anisa.
"Iya.. bisa saya berbicara dengan dokter sebentar, saya ingin memastikan suatu kebenaran, tetapi tidak di sini." ucap Zahra melihat ke arah putrinya dan juga mbak Intan.
"Baiklah di depan rumah sakit ini ada sebuah kafe, kita duduk di sana sebentar sebelum kemoterapi pertama Aisyah dilakukan."
"Mbak.. tolong jaga Aisyah dulu, saya mau berbicara sebentar dengan dokter Anisa." ucap Zahra kepada mbak Intan.
"Aisyah sayang... Aisyah sama mbak Intan dulu ya, bunda ingin berbicara sebentar dengan dokter Anisa."
Aisyah mengangguk lemah di dalam pangkuan Zahra, memang beberapa hari ini Aisyah terlihat kurang bergairah, Aisyah terlihat murung dan tidak bersemangat.
Zahra meninggalkan putrinya dengan mbak Intan, duduk berdua dengan dokter Anisa di sebuah kafe depan rumah sakit, mereka memesan minuman dan juga cemilan, untuk menemani obrolan yang akan mereka bicarakan.
"Aku tahu apa yang ingin kamu bicarakan denganku Zahra, kamu pasti ingin menanyakan tentang foto yang telah ku kirimkan, iya kan?" tanya Anisa sambil meletakkan gelas yang baru saja di minumnya.
Zahra menghela nafas berat menganggukkan pelan kepalanya. "Tentu saja aku ingin mengetahui itu, jadi dari mana kamu mendapatkan foto itu?"
"Foto itu aku dapatkan dari kakakku, kami tinggal satu komplek dengan Jihan, kebetulan kakakku diundang ke acara nikahan Jihan dan suamimu." Zahra mendengar pernyataan dari Anisa, jadi ternyata Anisa tetangga dari madunya itu dunia benar-benar sempit.
"Aku tidak pernah menyangka, Jihan akan menikah dengan Adam suamimu, apakah Jihan tahu bahwa Adam adalah lelaki yang beristri?" Zahra mengangguk pelan membenarkan pertanyaan Anisa.
"Iya.. dia tahu mas Adam sudah beristri dan miliki anak, mereka adalah teman dari kecil yang lama terpisah, mereka langsung jatuh cinta setelah bertemu kembali, ketika ayah dari Jihan itu meninggal, ayahnya menitipkan Jihan kepada suamiku untuk dijaga sebagai istrinya."
__ADS_1
Anisa benar-benar terkejut mendengar pernyataan dari Zahra iya tidak menyangka bahwa Jihan mau menikah dengan Adam yang jelas-jelas punya istri.
Dulu Anisa sempat kagum melihat Jihan yang begitu tulus merawat ayahnya ketika masih hidup, dan juga Jihan adalah sosok pribadi yang baik, tetapi kekaguman itu sirna sudah Dengan Jihan menikah dengan suami orang.
"Bagaimana perasaanmu Zahra? apakah kamu baik-baik saja?" Zahra tersenyum sedikit mendengar pernyataan dari Anisa teman barunya itu.
"Tentu saja aku tidak baik-baik saja Anisa, mana ada seorang istri yang di selingkuhi baik-baik saja, saat ini aku terpuruk aku ingin berteriak bahkan aku ingin memaki." ucap Zahra tersenyum getir.
Anisa dapat melihat kerapuhan Zahra saat ini, iya menggenggam lembut dengan Zahra dan mengusap nya pelan, iya tahu bagaimana perasaan Zahra karena sedikit banyaknya iya pernah berada di posisi zahra.
"Apa selanjutnya rencanamu, apa kamu akan berpisah dengan Adam."
Zahra mengangkat kepalanya dan menatap kearah Anisa dengan tatapan yang begitu dalam, sehingga Anisa dapat melihat amarah yang besar dari mata Zahra.
"Bercerai.. tentu saja aku akan bercerai dengan mas Adam, perceraian itu adalah hal gampang, satu ucapan dapat membubarkan semuanya." ucap Zahra dengan sorot mata yang tajam.
"Untuk saat ini aku tidak akan bercerai dulu dengan mas Adam, aku akan bermain cantik, aku akan membalas sedikit demi sedikit rasa sakit ini, dan melihat karma apa yang akan Allah berikan kepada mereka berdua."
Anisa bener-bener tertegun mendengar perkataan Zahra, iya tidak menyangka bahwa Zahra punya pemikiran seperti itu, iya pikir Zahra adalah wanita yang lemah dan lembut, ternyata tidak Zahra adalah wanita yang kuat.
.
.
.
Jadi begini para reader
jika Zahra bercerai begitu saja dengan Adam itu tidak akan seru, berarti Zahra begitu cepat kalah dengan Jihan.
jadi biarkan Zahra bertahan sebentar, membalas sedikit rasa sakit hatinya ya,
dan melihat bagaimana karma yang akan diterima oleh Adam 🥰
selamat membaca
__ADS_1
semoga suka dengan bab ini