Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Tidak lagi mencintai


__ADS_3

"Udah siap sayang?" tanya Adam kepada Zahra.


Zahra melihat ke arah suaminya sambil menganggukkan kepalanya, Adam berdiri di depan pintu kamar mereka, iya melihat penampilan Zahra dari atas hingga bawa denger senyum di wajahnya, rencananya malam ini mereka akan makan malam di rumah orang tua Adam.


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang, pasti mama dan papa sudah menunggu kedatangan kita."


Lagi-lagi Zahra hanya menganggukkan kepalanya saja, rasanya malas sekali berbicara dengan suaminya Adam. Setiap luka yang diberikan oleh suaminya masih sama rasanya, karena belum ada obat sedikitpun yang menyentuh hatinya.


Malam ini Zahra memakai pakaian yang baru saja dibelikan oleh Adam, gamis indah itu membalut cantik tubuhnya, warna yang dipilih oleh Adam adalah warna kesukaan Zahra, dia memang betul sangat paham tentang bagaimana selera Zahra.


Dengan langkah lembut Zahra melangkah menghampiri Adam berjalan beriringan keluar dari dalam kamar, untuk saat ini Zahra masih sama, semua keinginan dan keperluan Adam Zahra taati, tetapi dengan hati yang berbeda.


Di ruang tamu Zahra melihat Aisyah dengan mbak Intan, mereka menunggu kedatangan Zahra dan Adam, tetapi mereka berdua tidak ikut bersama untuk makan malam di rumah mertua, karena Aisyah menolak untuk ikut makan malam katanya iya ingin beristirahat saja.


Zahra awalnya ragu untuk mengiyakan ajakan Adam, tetapi Adam berusaha membujuk Zahra untuk ikut bersamanya, karena memang sudah lama sekali mereka tidak makan bersama di rumah mama dan papa.


"Wahh.. bunda cantik sekali." puji Aisyah.


Zahra tersenyum mendengar pujian dari mulut kecil putri itu, mata Aisyah bersinar menatap kearah Zahra, wajahnya benar-benar menggemaskan, walau sekarang wajahnya berganti menjadi wajah yang pucat dan sedikit kurus.


Tak henti-hentinya Zahra menyemangati dirinya dari rasa sakit yang diderita, begitupun dengan Adam, semua waktu iya curahkan kepada mereka berdua, Zahra sedikit bertanya di dalam pikiran dan hatinya, apakah Jihan tidak merasa sakit hati Ketika Adam hanya menghabiskan waktu dengannya dan Aisyah.


Walaupun mendapatkan semua perhatian dari Adam, semua itu tidak mengubah situasi yang terjadi saat ini, semua tidak lagi sama seperti dulu, penghianatan Adam akan selalu membekas di dalam ingatan dan hati Zahra.


"Makasih putri bunda, Aisyah juga sangat cantik.. iya kan mbak Intan."


"Iya bu... Aisyah juga sangat cantik sangat mirip dengan ibu."

__ADS_1


Mendengar ucapan Mbak Intan, Zahra dan Adam tersenyum melihat ekspresi Aisyah yang sangat bangga, ketika mbak Intan mengatakan bahwa Aisyah mirip dengan Zahra.


"Nggak apa-apa kan sayang... tinggal di rumah sama mbak Intan, bunda sama ayah pergi ke rumah nenek dan kakek."


"Iya bunda... Aisyah tidak apa-apa kok, jadi bunda sama ayah pergi saja, Aisyah baik-baik saja di rumah sama mbak Intan."


" Mbak kalau nanti terjadi apa-apa mbak langsung hubungi saya saja." ucap Adam kepada mbak Intan.


"Baik pak."


"Kalau begitu kami pamit dulu mbak, titip Aisyah ya mbak, kemungkinannya kami perginya tidak akan lama."


"Baik bu, insya allah Aisyah aman sama saya." ucap mbak Intan sambil tersenyum.


"Kalau begitu kami pamit dulu, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


"Iya ayah."


Keduanya langsung melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dari rumah dan menuju ke rumah orang tua Adam.


"Sudah lama kita tidak pergi ke rumah papa dan mama." ucap Adam memecahkan keheningan, karena dari tadi Zahra tidak membuka sedikit pun pembahasan.


Zahra hanya mengangguk kepalanya saja, membuat Adam menjadi seperti orang bodoh yang berbicara sendiri.


Begitupun sebelumnya ketika Adam menanyakan video viral Zahra ketika berdakwah waktu itu, Zahra hanya menjawab seadanya saja singkat padat dan jelas, sehingga membuat Adam mati kutu dengan pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


Walaupun banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Adam kepada Zahra, tetapi jawaban Zahra selalu saja gelengan kepala dan juga jawaban yang sangat singkat.


Adam melirik ke arah Zahra yang dari tadi melihat ke arah jendela luar, tak sekalipun Zahra menatap kearah Adam yang duduk di sampingnya, iya benar benar mengabaikan Adam.


"Zahra... sayang, bolehkah kita menjalani kehidupan seperti dulu, bisakah engkau membuka sedikit saja hatimu tentang hubungan kita saat ini, aku yakin pasti kita bisa melewati ini semua, percayalah Zahra." ucap Adam dengan suara yang rendah.


Namun Zahra hanya bungkam saja, ajakan demi ajakan, nasehat demi nasehat tak pernah sedikitpun masuk ke dalam hati Zahra, seolah-olah hati itu sudah mati rasa, rasa cinta yang begitu besar kepada sang suami, kini hilang dengan munculnya cinta yang baru.


"Sayang aku mohon terimalah Jihan dalam kehidupan rumah tangga kita, percayalah padaku... percayalah pada cinta kita Zahra, pasti kita bisa menghadapi ini semua.. menghadapi segala cobaan yang datang bendera, untuk menuju surga yang kita idam-idamkan." ucap Adam entah muncul dari mana kata-kata bijak yang menyakitkan itu.


Zahra hanya tersenyum sinis mendengar ucapan suaminya itu, perkataan Adam adalah perkataan lelaki yang bodoh, wanita mana yang akan diam apabila surganya di renggut, wanita mana yang akan baik-baik saja jika diperlakukan seperti ini.


"Sayang..." Adam mencoba menyentuh tangan Zahra, karena dari tadi Zahra hanya melihat keluar jendela tanpa sedikitpun melihat ke arah Adam yang sedang berbicara.


Namun tangan Adam langsung di tipis oleh Zahra sebelum tangan itu menyentuh


tangannya.


"Jika mas ingin kita makan malam di rumah papa dan mama, maka berhentilah berbicara omong kosong itu, karena kata-kata mas itu tak akan sedikit pun terpengaruh kepadaku, terlalu banyak rasa sakit yang kamu lukisan mas, malahan rasa sakit itu menghilangkan rasa cintaku kepadamu mas."


"Maksudmu sayang...?". tanya Adam dengan wajah yang bingung ketika mendengar kata-kata Zahra yang mengatakan bahwa rasa cinta istrinya tidak ada lagi untuknya.


"Iya jujur saja rasa cinta itu sudah mati untukmu, yang tinggal hanyalah rasa kecewa dan rasa dikhianati, rasanya benar-benar sakit sekali, jadi stop berbicara ataupun membujuk ku, karena itu sudah tidak mempan untukku, untuk hatiku yang sudah mati rasa ini, adapun aku bertahan denganmu, itu semua hanya demi Aisyah... putri kita, aku tidak ingin disaat Aisyah terpuruk seperti ini, Aisyah mengetahui bahwa ayah dan bunda nya tidak dalam keadaan baik-baik saja." ucap Zahra dengan tenang.


"Sayang kamu tidak serius kan?"


"Apakah aku pernah berbohong seperti dirimu mas, aku tidak pernah berbohong dengan kata-kataku, semua yang aku ucapkan adalah kebenaran dan kenyataannya,"

__ADS_1


" Tidak... itu tidak mungkin, kamu pasti masih mencintai mas, tidak mungkin cinta itu hilang begitu saja." ucap Adam dengan wajah yang panik.


"Tidak... itulah kebenarannya, bahkan ketika kamu melakukan pernikahan mu dengan perempuan murahan itu, perasaanku terhadap dirimu sudah hilang, aku Fatimah Az-Zahra tidak lagi mencintai Adam Mahmud Alfarisi."


__ADS_2