
Setelah pulang dari rumah orang tuanya, Adam besoknya berkunjung ke rumah Jihan, Adam sudah mengambil keputusan bulat yaitu iya tetap ingin menikahi Jihan, walaupun tanpa restu orang tuanya.
Cinta membuat Adam bener-bener buta, sehingga ia tidak dapat melihat efek apakah ke depan yang akan terjadi, Adam telah melihat kemarahan Zahra ketika ia mengatakan ingin menikah lagi.
Tetapi itu tidak membuat Adam kapok, ancaman kehilangan istri dan putri tercinta, untuk sekarang tidak menjadi beban bagi Adam.
Adam bertekad akan berhati-hati, agar pernikahannya tidak sampai tercium oleh Zahra, iya akan menyembunyikan hubungannya dengan Jihan dengan sangat rapat.
Tiba di halaman depan rumah Jihan, Adam langsung menekan klakson mobilnya, menunggu seseorang untuk membukakan pintu pagar rumah wanita yang sebentar lagi menjadi istri keduanya.
Tak lama kemudian seorang laki-laki dengan pakaian kaos dan celana pendek yang penuh keringat, berlari menghampiri untuk membuka kan pintu pagar agar mobil Adam dapat masuk.
Sesudah mobil itu masuk, Adam langsung keluar dari dalam mobilnya. "Mang apakah Jihan ada di rumah?" tanya Adam kepada mang Asep yaitu penjaga kebun di rumah Jihan.
"Ada.. neng Jihan ada di dalam." jawab meng Asep.
Adam lirik ke arah pintu, ketika pintu itu terbuka keluar seorang wanita yang telah menjadi pujaan hati kedua Adam, wanita itu melangkah dengan malu-malu menghampiri Adam, menanti kabar baik yang di bawah oleh Adam.
Adam tersenyum ketika melihat wajah malu-malu itu, terlihat begitu cantik dan anggun di mata Adam, Adam menghampiri Jihan yang menyambut kedatangannya.
"Mas masuk dulu, kita berbicara didalam saja, didalam juga ada bik Salma."
Adam langsung melangkahkan kakinya ketika mendengar permintaan dari Jihan, Adam melupakan larangan mamanya untuk tidak menikahi Jihan, cintanya kepada Jihan melupakan segalanya.
Ternyata didalam ada bik Salma yang juga ikut menyambutnya kedatangannya. "Mas duduk dulu.. biar Jihan buatkan minuman dulu, setelah itu baru kita berbicara." ujar Jihan.
Adam tidak mengatakan sepatah kata pun, Adam langsung hempaskan tubuhnya duduk di atas sofa ruang tamu Jihan, diikuti dengan bik Salma yang duduk di depan Adam.
Bik Salma hanya tersenyum tipis ke arah Adam, jika bukan demi Jihan, tidak mungkin iya akan menyambut laki-laki yang jelas sudah memiliki istri ini.
Tak berapa lama Jihan keluar dengan membawa minuman juga cemilan, dan menaruhnya di atas meja.
"Silahkan diminum mas."
Adam hanya menganggukkan kepalanya, iya langsung mengambil jus jeruk yang disediakan Jihan dan meminumnya sedikit.
Adam mengumpulkan keberanian untuk mengatakan keputusan mamanya yang tidak merestui hubungan mereka, Adam berharap setelah mendengar semua itu Jihan tidak berubah pikirannya.
__ADS_1
"Mas datang ke sini untuk mengatakan tentang pernikahan yang akan kita laksanakan, bagaimana kalau lima hari lagi kita langsungkan saja pernikahannya." ucap Adam.
Jihan tersenyum mendengar kabar baik itu, tidak ada hal yang membuatnya bahagia untuk saat ini, kecuali kata-kata pernikahannya dari Adam.
"Baik mas.. Jihan setuju saja." jawab Jihan lembut.
"Tapin mas tidak bisa menggelar acara resepsi, pernikahan yang kita jalani tidak boleh ada yang tahu, apa kamu bersedia Jihan?" tanya Adam
Jihan terdiam sesaat, tidak ada wanita yang ingin menikah seperti ini, walaupun berat tetapi inilah takdir yang dipilih oleh Jihan, cintanya untuk Adam membuat Jihan menerima pernikahan secara sirih.
"Baiklah mas.. Jihan mengerti, Jihan menerima kalau kita hanya menikah secara sirih saja." Adam tersenyum ketika mendengar ucapan Jihan.
"Untuk baju pernikahan, kamu bisa beli sendiri Jihan, maaf.. mas tidak bisa mengantar mu, karena mas tidak ingin ada orang yang tahu tentang ini." ucap Adam kepada Jihan sambil menyerahkan kartu atm.
Lagi-lagi Jihan hanya terdiam, iya akan mencoba menerima segala kelebihan dan kekurangan Adam.
"Tidak apa-apa mas." ucap Jihan dengan senyum yang kaku.
"Mas.. kenapa tante tidak datang ke sini dengan mas Adam?" tanya Jihan.
"Sebenarnya mama tidak merestui hubungan kita, mama melarang mas menikahi mu". ucap Adam ragu-ragu.
Jihan sangat syok ketika mendengar pernyataan dari Adam, tante Ratna yang dulunya mendukung pernikahan mereka, kini ia melarangnya.
Menjadi istri kedua, menikah secara sembunyi-sembunyi tanpa pengetahuan orang lain, dan juga menikah tanpa restu orang tua, kesengsaraan mana lagi yang akan dihadapi oleh Jihan.
Tetapi Jihan menepis segala pikiran buruk yang ada di dalam pikirannya, iya berpikir hidupnya akan bahagia karena dia menikahi dengan orang yang dicintai dan juga mencintainya.
"Tapi mas yakin, cepat atau lambat mama pasti akan mendukung hubungan kita lagi." ujar Adam.
"Amin mas, semoga saja."
Bik Salma yang berada di antara mereka berdua menyaksikan hubungan rumit di depannya itu, iya enggan untuk mengeluarkan pendapat, karena pendapatnya pasti akan menjadi suatu hal yang mengecewakan bagi Jihan.
Adam dan Jihan sepakat akan melaksanakan pernikahannya lima hari lagi, walaupun tanpa restu orang tuanya mereka akan melakukan pernikahan itu secara sirih.
....
__ADS_1
Langkah riang dan bahagia ketika mereka menjajakan kakinya di lantai mall yang besar itu, senyum bahagia tak dapat disembunyikan oleh Zahra, ketika melihat putrinya kembali ceria.
"Sekarang Aisyah mau ngapain?" tanya Zahra.
"Bunda.. Aisyah ingin melukis." ucap Aisyah semangat sambil menuju ke kelompok anak-anak yang sedang mewarnai.
"kalau begitu ayo kita mewarnai bersama-sama." aja Zahra.
Zahra dan Mbak Intan juga ikutan duduk di sebelah kiri dan kanan Aisyah, mereka tidak hanya menemani Aisyah mewarnai, tetapi mereka juga ikut mewarnai sama seperti Aisyah membuat suasana menjadi rame.
Aisyah begitu bahagia ketika dipenuhi dengan orang-orang yang disayangi ada di dekatnya, rasanya waktu berjalan dengan sangat cepat.
Setelah mewarnai mereka menaiki lantai dua untuk membeli beberapa baju untuk dirinya, Aisyah ada juga apa Intan.
Ketika melewati butik baju pengantin, Zahra tidak sengaja berpapasan dengan orang yang dikenalnya, sehingga Zahra menegur orang tersebut.
"Mbak Jihan.. ini mbak jihan kan?" tanya Zahra tersenyum kearah Jihan yang sedang membawa sebuah paper bag dengan gaun pengantin.
Jihan tersenyum ke arah wanita yang sebentar lagi menjadi madunya, ada rasa malu ketika ia menatap wajah Zahra, apakah karena sebentar lagi mereka akan berbagi suami.
"Iya mbak.. saya Jihan ini mbak Zahra kan?" tanya Jihan.
"Iya saya Zahra, yang waktu itu kita bertemu di pantai, mbak ngapain membeli baju pengantin, emangnya siapa yang menikah mbak?" tanya zahra sambil matanya menatap kearah paper bag yang dibawa oleh Jihan.
"Saya mbak.. dua hari lagi saya akan melangsungkan pernikahan." ucap Jihan.
"Bunda ayo." ucap Aisyah sambil menarik tangan Zahra.
"Selamanya ya mbak atas pernikahannya, semoga rumah tangganya sakinah mawadah warahmah, mbak saya permisi dulu... ini anak saya selalu terburu-buru." ucap Zahra dengan tangan yang ditarik oleh Aisyah.
"Tidak apa-apa mbak, terima kasih banyak doanya mbak."
Zahra tersenyum meninggalkan Jihan sendirian, melihat kepergian Zahra yang semakin jauh Jihan terdiam sesaat.
"Apakah mbak akan mendoakan pernikahan saya, jika mbak tahu bahwa yang menjadi suami saya adalah suami mbak sendiri, saya adalah calon madu mbak." ucap Jihan lirih.
Iyaa tidak bermaksud untuk merebut suami Zahra, iya hanya ingin Zahra membagi Adam kepadanya.
__ADS_1