
"Apa kamu siap Zahra kembali bertemu dengan Adam?"
"Zahra sangat siap mas, bahkan Zahra sangat menantikan pertemuan ini." jawab Zahra dengan yakin
Faisal menghela nafasnya mendengar jawaban dari Zahra, iya menatap penuh makna ke arah adiknya tersebut, padahal Faisal tidak ingin Zahra ikut untuk menemui Adam, biarkan masalah perceraian Zahra menjadi urusannya dengan pengacara yang telah dipakai oleh Faisal.
"Mas keberatan jika kamu ikut, lebih baik kamu disini saja, serahkan segala urusan ini kepada mas dan Raihan. "
"Tidak mas.. Zahra akan ikut dengan kalian.''
''Kamu sangat keras kepala Zahra.'' ucap Faisal mengalah.
''Bukankah memang dari dulu kepala Zahra sudah keras.''
''Mas berharap kamu tidak akan berubah pikiran ketika melihat Adam dan mendengar segala bujuk rayunya.''
''Disana ada mas Faisal yang akan menjaga Zahra apabila Zahra tergoda dengan bujuk rayu mas Adam.'' ucap Zahra sambil menggoda Faisal sehingga membuat wajah Faisal menjadi masam.
Zahra tersenyum menggoda kakaknya, iya tahu bahwa Faisal sangat takut dengan pertemuan Zahra dan Adam sebelum selesai perceraian, iya takut itu akan membuat Zahra kembali kepada lelaki yang telah mengkhianati adiknya.
''Baiklah kalau seperti itu yang kamu katakan, jika kamu nanti berubah pikiran setelah bertemu dengan Adam, maka mas tidak akan segan-segan untuk mengetuk kepalamu agar kembali sadar. ''
Faisal begitu yakin dengan kata-katanya, jika memang benar Zahra memutuskan untuk kembali dengan Adam setelah pertemuan mereka, maka Faisal tidak akan segan-segan untuk mengurungkan Zahra.
''Itu tidak akan terjadi mas, kamu tenang saja, bagaimana mungkin aku bisa hidup dalam rumah tangga yang tidak sempurna itu, bukan surga yang aku dapatkan, jika aku masih menjadi istrinya mas Adam. '' ucap Zahra terkekeh geli mendengar perkataan Faisal.
''Kalau begitu.. ayo langsung saja kita temui Raihan, pasti dari tadi Raihan sudah menunggu kita. ''
''Salah mas juga, kenapa harus berdebat dengan Zahra, kalau tidak pasti udah dari tadi kita bisa jalan. ''
__ADS_1
''Hentikan Zahra...jangan lagi kamu memancing mas untuk berdebat denganmu, lebih baik sekarang kita keluar.''
Zahra memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Faisal, yang mengatakan bahwa ia yang mengajak kakaknya berdebat, padahal jelas-jelas semua ini karena Faisal yang tidak mengizinkannya ikut menemui Adam.
Mereka berdua keluar menemui pengacara sekaligus salah satu teman akrab Faisal, yang akan membantu Zahra untuk mengurus gugatan cerai dengan Adam.
''Maaf ya Rai.. sudah menunggu terlalu lama,'' ucap Faisal.
''Tidak apa apa... lagian ada Umi dan Nurul yang menemaniku, jadi tidak terasa bosan.'' ucap Raihan tersenyum.
Tiba-tiba saja pandangannya terfokuskan ke arah Zahra yang berdiri di samping Faisal, membuat Raihan tertegun sebentar, sebelum Raihan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Ada sesuatu yang berdesir di dalam hati Raihan ketika menatap wanita yang akan menyandang status janda tersebut, siapa yang tidak mendengar tentang berita yang lagi viral sekarang, menguak kenyataan yang tersembunyi dibalik kesempurnaan rumah tangga ustadzah Zahra.
''Kalau begitu ayo langsung saja kita berangkat.''
''Umi akan selalu mendukung keputusanmu.. apapun itu, sebagai orang tua Umi akan selalu mendoakan mu, dan Umi yakin keputusan yang kamu ambil adalah yang terbaik untuk kehidupanmu.''
''Iya Umi, semoga keputusan yang Zahrah ambil adalah keputusan yang baik untuk kehidupan Zahra kedepannya, Zahra mohon doanya.'' ucap Zahra mencium tangan Uminya.
Semua itu tak luput dari mata Reihan yang terus menatap kearah Zahra, gerakan anggun Zahra membuat Raihan terpana melihat nya, ''Benar-benar bodoh orang pria yang telah mengkhianati wanita sebaik dirinya.'' ucap Reihan di dalam hatinya.
''Abi bolehkah Nurul ikut menemani bunda?'' hanya Nurul kepada ayahnya.
''Tidak bisa sayang, lebih baik kamu disini temani Umi dan nenek saja, biar bunda abi yang jagain.'' ucapkan Faisal kepada putrinya.
'' Kalau begitu baiklah.''
''Umi, kami berangkat dulu Assalamu'alaikum.''
__ADS_1
''Waalaikumsalam, kalian berhati-hatilah,''
Ketiganya pun menaiki mobil Reihan, meninggalkan rumah Umi dan menuju ke restoran yang telah yang dipesan sebelumnya untuk pertemuan mereka dengan Adam.
Sebelumnya Faisal dan Raihan telah memesan satu ruangan privasi, mereka tidak ingin masalah yang telah dihadapi Zahra akan kembali viral, mungkin saja pertemuan kali ini akan terjadi hal yang memalukan juga, sehingga keduanya memutuskan untuk memesan ruangan privasi.
Faisal terus berjalan dengan zahra yang berada di sampingnya, iya akan melindungi Zahra dari bujuk rayu yang akan dilayangkan oleh suami adiknya, bahkan Faisal sudah siap jika harus terjadi kembali paku hantam dengan Adam.
Ketiganya memasuki ruangan privasi tersebut, ternyata Adam tidak datang sendirian, iya datang dengan Jihan yang duduk di sampingnya, melihat kedatangan Zahra, Adam langsung berdiri dengan senyum di wajahnya iya menghampiri Zahra.
Adam berencana memeluk tubuh Zahra istri yang begitu iya cintai, tetapi dengan begitu sigap Faisal langsung menarik Zahra ke belakangnya, menghalangi Adam agar tidak menyentuh adiknya sedikitpun.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Faisal membuat hati Adam sakit, iya tersenyum kaku ke arah Zahra yang sedang menatapnya dari belakang Faisal, iya begitu merindukan Zahra, pertemuan hari ini sangat ditunggu oleh Adam, iya akan merayu Zahra supaya Zahra melupakan niatnya untuk bercerai darinya.
''Sayang... mas sangat merindukanmu, kamu apa kabar, apa kamu sehat, sudah lama mas tidak melihatmu.'' ucap Adam dengan tatapan sendunya.
Ingin sekali iya menarik tubuh Zahra dari belakang Faisal, memeluk Zahra dengan erat dan penuh cinta, tetapi iya tak kuasa melakukan itu, selain iya takut dengan Faisal, Adam juga berpikir pasti Zahra tidak akan mau dipeluk olehnya.
''Alhamdulillah.. aku sangat baik, aku sehat walafiat, seperti yang kamu lihat saat ini mas.'' ucap Zahra dengan tenang sehingga menimbulkan senyuman di wajah Adam.
Begitu senangnya iya bertemu dengan Zarah sehingga ia melupakan keberadaan Jihan yang terus memperhatikannya, begitu Zahra datang Adam bagaikan orang yang dirasuki, yang tadinya terlihat lemah tidak berdaya tiba-tiba saja mempunyai kekuatan dan senyuman.
Lagi-lagi itu semua membuat hati Jihan memanas, Adam tidak dapat tersenyum jika berada di dekatnya, haruskah iya marah kepada suaminya itu, tapi mengingat sebentar lagi mereka akan berpisah membuat sedikit kelegaan di hati Jihan.
''Silakan duduk Adam, kami kesini ingin membicarakan sesuatu yg hal yang penting kepadamu, jangan membuang waktu kami yang berharga ini.'' ucap Faisal dengan ketusnya, iya merasa muak dengan kelakuan Adam bagaikan orang bodoh dihadapannya.
Dengan senyum di wajahnya Adam langsung menghampiri meja dan menarik kursi di sebelahnya untuk Zahra duduk, ''Sayang duduklah di samping mas.'' ucap Adam.
''Tidak perlu repot-repot mas, aku duduk di samping mas Faisal saja.''
__ADS_1