Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Maafkan mama


__ADS_3

Hari ini adalah hari kedua Aisyah keluar dari rumah sakit, seperti biasa Adam sudah berangkat bekerja, Umi juga masih dirumah menemani dan membantu Zahra dalam segala hal.


"Umi tidak perlu melakukan apa-apa, semuanya biar Zahra yang melakukan."


ucap Zahrah ketika melihat umi yang ingin mencuci piring di wastafel.


Zahra langsung membilas tangan Umi yang sudah berbusa karena baru saja terkena sabun. "Zahra seringkali mengatakan pada Umi untuk tidak perlu repot-repot membantu Zahra membersihkan rumah."


"Tidak apa apa nak, Umi hanya ingin melakukannya saja, toh cuma cuci piring itu tidak merepotkan."


"Pokoknya tidak boleh, Umi adalah ratu bagi Zahra, masa seorang ratu harus mencuci piring?" ucap Zahra tersenyum.


"Ada-ada saja kamu nak, kamu selalu saja begitu, mencuci piring itu bukanlah hal yang melelahkan, padahal Umi ingin sekali membantumu."


"Umi selama disini tugas umi hanya duduk-duduk manis, sambil menemani Zahra dan Aisyah, itu sudah cukup untuk kami Umi." ucap Zahra.


Sambil membawa tubuh Umi yang dirangkul oleh Zahra dari samping untuk melangkah keluar dari dapur, dengan terpaksa Umi mengikuti setiap langkah dari Zahra.


"Tapi... nak."


"Tidak ada tapi-tapian Umi, lihatlah tangan Umi yang sudah mulai keriput ini, Zahra tidak ingin tangan Umi tambah keriput nantinya." ucap Zahra menggoda Umi.


"Dasar kamu ada-ada saja." ucap Umi tersenyum sambil mengelus pipi Zahra yang membuat Zahra ikutan tersenyum.


"Zahra begitu menyayangi Umi, Mbak Salwa juga tidak membiarkan perkejaan rumah tangga dikerjakan oleh Umi, masak Zahra kalah dengan mbak Salwa." ucap Zahra membandingkan dirinya dengan kakak iparnya.


"Ya sudah kalau begitu, lebih baik Umi temani Aisyah bermain."


"Nah itu baru ide yang bagus." ucap Zahra sambil tersenyum menampakkan giginya yang putih dan rapi.


Setelah kepergian Umi, Zahra langsung melanjutkan pekerjaan rumah, mencuci piring, menyapu, mengepel, semuanya dikerjakannya dengan ikhlas.


Sekali-kali Zahra melihat ke arah Aisyah dan Umi yang sedang bermain, tidak ada canda tawa yang begitu colok dari putrinya Aisyah, hanya senyuman lemah yang sering kali menghiasi bibir pucat itu.


Selesai mengerjakan pekerjaan rumah, Zahra langsung menuju ke kamarnya, untuk membersihkan diri terlebih dahulu, rasanya iya tidak nyaman dengan keringat yang membasahi tubuhnya, menimbulkan bau yang tidak sedang.

__ADS_1


Zahra memakai baju gamis dengan hijab yang simpel, walaupun di rumah Zahra sudah terbiasa memakai hijab.


Zahra keluar dari kamarnya menuju ke arah Aisyah dan juga Umi yang sedang bermain di ruang tamu, ternyata Umi sedang menemani Aisyah menggambar dan mewarnai, dengan pensil warna yang diberikan oleh Adam kemarin.


"Wah cantiknya gambar Aisyah." ucap Zahra melihat kearah gambar Aisyah.


Didalam gambar itu ada seorang laki-laki dewasa, perempuan dewasa dan juga anak kecil perempuan ditengah sambil bergandengan tangan, Zahra tahu kalau itu adalah sebuah keluarga.


"Ini ayah.. ini bunda.. dan ini Aisyah, cantik kan bunda?" ucap Aisyah sambil menunjuk gambar yang dia buat.


"Cantik sayang... pintar sekali anak bunda."


ucap Zahra sambil mengusap kepala Aisyah.


Umi hanya tersenyum melihat interaksi ibu dan anak itu.


"Assalamu'alaikum." terdengar orang yang memberi salam dari luar.


"Waalaikumsalam.." jawab Umi dan Zahra.


"Zahra tidak tahu Umi, tetapi sepertinya itu suara papa mertuanya Zahra."


"Lebih baik segera bukakan pintunya, mungkin ada yang ingin sampaikan." ucap Umi.


Zahra langsung menuju pintu dan membuka pintunya, ternyata benar seperti yang dikatakannya tadi, bahwa yang bertamu adalah kedua mertuanya.


Zahra tersenyum manis ke arah mama dan papa mertuanya, dengan senang hati Zahra mengambil tangan papa dan mamanya untuk menciumi tangan keduanya.


Ketika ingin menyalami tangan mama mertuanya, hal tak terduga yang didapatkan Zahra, mama mertuanya itu langsung menarik tubuhnya dan memeluk Zahra, sambil mencium pipi kanan dan kiri Zahra.


Zahra terkejut mendapatkan perlakuan itu, karena sejak kejadian Zahra menolak memberi izin Adam menikah lagi, mama mertuanya tidak lagi seperti ini, malah mama mertuanya terang-terangan menghina Zahra.


Zahra tersenyum mendapatkan perlakuan manis itu kembali, ada rasa senang dan juga penasaran kenapa mamanya ini sekarang berubah lagi.


"Zahra ada yang ingin mama dan papa bicarakan sama kamu nak." ucap mamanya dengan lembut, seolah tidak ada kejadian yang membuat keduanya bermuka masam.

__ADS_1


"Silahkan masuk mama..papa." ucap Zahra tersenyum dengan dan kata-kata yang lembut juga.


Keduanya masuk ke dalam dan disambut gembira oleh Aisyah, pada dasarnya Aisyah anak yang manja dan cerdas, jadi siapa saja pasti akan langsung akrab dengan Aisyah.


"Nenek... kakek..." Aisyah bangun dari duduknya menghampiri kakek dan neneknya, Aisyah langsung merentangkan tangannya untuk digendong oleh kakeknya.


Setelah membuat minuman Zahra langsung membawa dan menaruh di atas meja dengan cemilan yang seadanya.


Zahra duduk disebelah Umi sambil menatap kearah kedua mertuanya, dengan Aisyah didalam pangkuan papa yang sedang bermanja-manja dengan kakeknya.


"Ada apa mama dan papa datang ke sini, sepertinya ada hal yang serius yang ingin dibicarakan?" tanya Zahra langsung ke intinya.


Sejenak mertua Zahra terdiam dan pandangannya tertuju ke arah aisyah, dengan pandangan yang sedih, Zahra dan Umi tahu mertuanya enggan berbicara di depan Aisyah.


"Sayang.. Aisyah, sebaiknya Aisyah main di dalam kamar dulu, ada hal yang penting yang ingin bunda bicarakan sama nenek dan kakek."


"Baik bunda." tanpa membantah perkataan dari Zahra, Aisyah langsung mengiyakan perkataan Zahra.


"Apa perlu nenek nemenin Aisyah di kamar?" tanya Umi.


"Tidak perlu nenek, Aisyah kan anak pemberani, jadi nenek tidak perlu menemani Aisyah lebih baik nenek di sini saja." ucap Aisyah.


Semua orang tersenyum mendengar perkataan Aisyah, yang mengatakan dirinya pemberani, Aisyah segera turun dari pangkuan kakeknya, mengambil peralatan gambarnya dan melangkah kedalam kamarnya.


Suasana menjadi hening sesaat, setelah kepergian Aisyah, tidak ada seorang pun yang ingin membuka pembicaraan, sehingga Zahra menanyakan sekali lagi.


"Ada apa, pa.. ma.."


"Zahra mama kesini ingin meminta maaf kepadamu, sikap mama sudah keterlaluan sekali kepadamu nak, mama sudah menyakiti hatimu dengan kata-kata mama, maafkan mama nak." ucap mama mertua Zahra.


Zahra terdiam mendengar perkataan ibu yang sudah melahirkan suaminya itu, tak pernah terbayangkan sebelumnya mama yang awalnya angkuh sekali selama ini, meminta maaf kepadanya.


Hari ini mertuanya khusus datang kesini untuk meminta maaf, sebenarnya apa yang terjadi, kemana sikap angkuh mama mertuanya sebelumnya.


"Mama tidak perlu minta maaf, sebelum mama minta maaf, Zahra sudah terlebih dalu memaafkan mama." ucap Zahra tersenyum. membuat Umi yang di samping ikut tersenyum melihat keikhlasan anak perempuannya.

__ADS_1


__ADS_2