
Setelah kepulangan Zahra ke rumah orang tuanya, Jihan dan Adam menghabiskan waktu bersama, mereka menikmati momen bersama, inilah saat-saat Adam bisa memenuhi semua keinginan istri kedua itu.
Adam memberikan haknya Jihan yang sejak menikah belum iya dapatkan, betapa bahagianya Jihan untuk saat ini, inilah yang selama ini iya dambakan, iya ingin Adam memiliki sedikit waktu untuknya, memperlakukannya selayaknya seorang istri.
Saat ini keduanya menghabiskan waktu bersama, bahkan Adam dan Jihan lagi menginap di puncak untuk beberapa malam, menikmati panorama keindahan alam yang disajikan, menghabiskan waktu bersama sambil menggenggam cinta.
"Apakah kamu senang Ji?" tanya Adam sambil menggenggam tangan Jihan.
Jihan tersenyum malu-malu, pancaran kebahagiaan tak lepas dari raut wajahnya, iya benar-benar bahagia, jika bisa... Jihan ingin sekali berteriak dan mengatakan kepada dunia bahwa iya bahagia, iya ingin selalu seperti ini bersama dengan cintanya, suaminya, dan kehidupannya.
Ditemani dengan suasana yang sejuk, mereka menikmati momen di sebuah kafe yang di desain dengan unik, di sini tidak ada orang yang mengenal Adam dan Jihan, andai bisa Jihan ingin tinggal disini tanpa ada orang yang mengenalnya.
"Tentu mas... tentu saja Jihan bahagia, ini adalah hal terindah dalam hidup Jihan, hal yang selalu Jihan bayangkan yaitu bersamamu mas."
Kebahagiaan semu itu terasa indah di antara keduanya, tanpa memikirkan perasaan orang lain mereka bersenang-senang menikmati waktu yang singkat tanpa kehadiran bayang-bayang Zahra.
Adam tersenyum mendengar pernyataan dari Jihan, iya juga merasa bahagia ketika iya dapat membahagiakan dan memenuhi keinginan Jihan, walaupun hanya beberapa saja.
Karena tentu saja Adam akan lebih mengutamakan Zahra dan Aisyah, bagi Adam se cantik-cantik jihan lebih cantiknya lagi Zahra, sehebat-hebatnya Jihan lebih hebatnya lagi Zahra, tepatnya Zahra adalah nomor satu di dalam hatinya.
"Maafkan mas jika mas tidak sering memperhatikanmu ataupun memenuhi keinginan Ji." ucap Adam.
"Tidak apa-apa mas... bagi Jihan itu tidak masalah, Jihan pasti bisa mengendalikan diri Jihan dari rasa dan keinginan Jihan yang selalu ingin berada di sampingmu mas" ucap Jihan.
"Kamu memang istri yang baik sayang." ucap Adam.
Lagi-lagi kata Adam membuat wajah Jihan kemerah-merahan, baru kali ini Adam mengucapkan kata-kata sayang dan cinta padanya, setelah segenap perjuangan akhirnya kata-kata itu keluar juga dari mulut suaminya.
__ADS_1
"Makanlah mas.. sudah dari tadi mas memuji Jihan terus, bisa-bisa wajah Jihan bengkak karena sering tersenyum."
"Mas sangat suka melihat senyummu, begitu manis dan teduh rasanya."
"Berhentilah menggoda mas... untuk saat ini nikmatilah makanan mu." ucap Jihan sambil memasukkan sesuap makanan ke dalam mulutnya.
"Untuk apa memuji, memang begitulah kenyataannya." ucap Adam.
Selesai makan mereka berdua langsung memutuskan untuk kembali ke penginapan, mobil berhenti tepat di parkiran halaman penginapan, keduanya langsung keluar dan melangkah menuju kamar yang sudah disiapkan.
Dari turun mobil Adam menggandeng tangan Jihan dengan mesra, tak pernah sedikitpun Adam melepaskannya tangan Jihan, membuat Jihan senyum bahagia terasa ada sesuatu yang menggelitik perutnya.
Sambil berjalan sesekali Adam mencium tangan Jihan dengan mesra, orang-orang mengabaikan pasangan yang dimabuk cinta itu.
"Mas sudahlah jangan bersikap seperti ini malu diliatin orang-orang."
"Untuk apa malu... pasti mereka mengetahui bahwa kita adalah pengantin baru, jadi diabaikan saja sayang." ucapan Adam sambil menaikkan turunkan alisnya menggoda Jihan.
"Aahhh mas." teriak Jihan terkejut karena tiba-tiba Adam mengangkat tubuhnya.
"Mas.. turunkan Jihan, jangan seperti ini juhan takut." ucap Jihan sambil mengeratkan tangannya dileher suaminya.
Adam tersenyum melihat kelakuan Jihan, iya tahu jika Jihan sangat senang diperlakukan seperti ini, sangat berbeda ketika ucapan yang keluar dari mulutnya, yang tidak sama dengan keinginan hatinya.
Sesampainya di dalam kamar, Adam langsung menurunkan Jihan, Adam mengecup seluruh sisi buka Jihan.
"Aahhh mas geli." ucap Jihan.
__ADS_1
Iya bener benar bahagia saat ini, seluruh kebahagiaan yang iya impikan tercapai sudah saat ini, Jihan mengharapkan seseorang yang dapat menjadi imamnya, yang iya cintai dan juga mencintainya, Jihan dan Adam adalah satu frekuensi yang sama.
"Sebentar ya sayang.. mas ke kamar mandi dulu." ucap Adam sambil melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Pandangan Jihan tidak lepas dari panggung suaminya, hingga Adam masuk ke dalam kamar mandi.
"Maaf Zahra... maafkan aku, aku telah merebut suamimu, kebahagiaanmu, dan juga surga yang kamu bangun selama ini, tetapi hatiku tidak bisa berbohong Zahra, aku ingin mundur dari pernikahan ini, tetapi langkah itu terasa berat, aku terlalu nyaman berada di sisi mas Adam." ucap Jihan lirih dalam keheningan.
Tak berapa lama Adam keluar dari dalam kamar mandi, "Sayang berwudhu lah kita akan sholat insya berjamaah." ucap Adam sambil mengambil sajadah dan membentangkannya.
"Iya mas..."ucap Jihan sambil melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.
Inilah satu impian Jihan yang tercapai lagi, yaitu memiliki imam yang dapat memimpin nya, yang dapat menunjukan jalan kebaikan kepadanya, dan itu lagi-lagi ia dapatkan dari Adam, karena baginya Adam adalah paket komplit untuknya.
Setelah Jihan keluar dari kamar mandi, iya langsung memakai mukenanya dan membentang sajadah di belakang suaminya, mereka melakukan sholat insya secara berjamaah.
Hingga akhir salam Jihan mengambil tangan Adam dan menciumnya, dan Adam membalas mencium di dahi Jihan cukup lama. keduanya memanjatkan puji syukur dan doa-doa kepada Allah yang telah menyatukan cinta mereka.
"Terima kasih mas, karena dalam beberapa hari ini mas berusaha membuat Jihan bahagia, Jihan benar-benar bahagia mas, Jihan menikmati waktu kebersamaan kita."
"Sama-sama sayang.. mas menyayangi dan mencintaimu, jangan pernah kamu berpikir bahwa mas tidak mencintaimu, karena mas banyak menghabiskan waktu bersama Zahra, mas harap kamu mengerti sayang." ucap Adam.
"Iya mas... tidak apa-apa, Jihan juga minta maaf, kalau waktu itu Jihan emosi sehingga meminta pisah dari mas."
Jihan terdiam sesaat ia membayangkan kejadian beberapa hari yang lalu, kejadian dialaminya bersama Adam ketika ia meminta cerai kepada Adam selepas kepulangan Zahra dari rumahnya.
"Ketahuilah mas.. aku bahagia ketika kita seperti ini, kamu berada di sampingku dalam kebahagiaan yang sama dan tujuan yang sama mas." ucap Jihan.
__ADS_1
Jihan merasakan dekapan hangat dari suaminya, ketika Adam membawa Jihan kedalam pelukannya.
"Rasanya nyaman... benar-benar nyaman." lirih Jihan didalam hatinya.