
Hari ini Zahra dan keluarganya yang wanita, akan menghadiri sebuah ceramah yang akan dipimpin oleh Umi sendiri, Umi juga seperti Abah, yang banyak diundang untuk mengisi acara ceramah ataupun tausiyah dan pengajian.
Tetapi tausiyah yang dipimpin oleh Umi, hanya di wilayah sekitar saja, tidak sampai keluar kota seperti Abah dan Faisal.
Saat ini mereka berada di dalam mobil yang dikendarai oleh pak Rahman, untuk menuju masjid yang akan menjadi tempat tausiyah Umi membagi ilmu agama.
Dari dulu Zahra dan Salwa selalu mengikuti Umi ketika Umi mendapatkan undangan tausiyah, dan hari ini Zahra memiliki kesempatan itu lagi.
"Umi kenapa terlihat pucat sekali, apa Umi sakit?" tanya Salwa yang duduk di samping Umi.
Zahra yang duduk disamping pak Rahman dengan Aisyah di pangkuannya, langsung menoleh kepalanya ke arah Umi, ternyata wajah Uminya benar-benar terlihat pucat, pantas saja uminya dari tadi tidak mengeluarkan kata sepatah pun.
"Umi sepertinya sakit mbak, bagaimana kalau kita pulang saja?" tanya Zahra.
"Tidak bisa Zahra, karena tausiah kali ini banyak yang hadir para tamu undangan yang terhormat, jadi kita tidak bisa membatalkan tausiyah hari ini begitu saja." ucap Salwa.
" Jadi kita harus bagaimana mbak?, tidak mungkin kan Umi harus berpidato dalam kondisi sakit seperti ini mbak?, sebentar lagi masjidnya akan sampai.. bagaimana ini mbak?" ucap Zahra tidak kalah panik nya
Di Satu sisi Zahra ingin putar kembali pulang ke arah jalan rumahnya, tetapi di sisi lain Iya memikirkan perkataan Salwa yang tidak mungkin Uminya membatalkan acara tausiyah pada hari ini.
Umi hanya diam saja, keringat dingin membasahi dahinya dengan wajahnya yang pucat, Umi tak kuasa hanya dengan mengeluarkan kata-kata saja, matanya terpejam sambil merebahkan kepalanya ke belakang kursi mobil.
"mbak juga tidak tahu Zahra, tetapi kita betul-betul tidak bisa untuk membatalkan acara ini begitu saja, acara ini telah dirancang sebulan sebelumnya."
" Tidak apa-apa nak, lanjutkan saja perjalanannya insyaallah Umi kuat." ucap Umi dengan nada lemah.
__ADS_1
Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi oleh mereka sampai di halaman mesjid yang besar itu, semua orang didalam mobil menatap kearah Umi dengan tatapan yang ragu.
Semua orang keluar dari dalam mobil termasuk Umi, yang keluar dibantu oleh Zahra dan juga Salwa, keduanya memegang tangan Umi kiri dan kanan, umi keluar dengan perlahan iya melangkah dengan langkah yang lemah tak bertenaga.
Melihat keadaan Umi sekarang, mereka merasa iba, "Umi apa Umi yakin?" tanya Salwa.
Umi hanya melirik ke arah kedua putrinya itu, dengan senyuman manis di bibir pucat nya itu.
" Umi biarlah Zahra yang menggantikan Umi untuk tausiyah berbagi ilmu kepada ibu-ibu di dalam." ucap Zahra menawarkan dirinya.
Umi menatap kearah Zahra dengan tatapan sedikit ragu, pasalnya walau Zahra pintar ilmu agama, tetapi Zahra tak ingin mengikuti jejak keluarganya, yang selalu berdakwah dan menyiarkan agama islam.
Zahra hanya ingin menjadi seorang ibu yang baik untuk anaknya, dan istri yang berbakti kepada suaminya. "Kamu yakin nak?" tanya Umi.
Zahra mengganggu sambil tersenyum manis, "Insyaallah Zahra yakin Umi, Insyaallah Zahra paham sedikit tentang agama."
Walaupun putrinya ini mengerti tentang agama, tetapi pembahasan yang akan dibahas sedikit menggelitik hati, karena pembahasan itu tentang hubungan rumah tangga, yang tentu saja sangat sensitif untuk Zahra saat ini.
"Bismillah.. Insyaallah Zahra bisa, Zahra siap." ucap Zahra dengan mantap.
Ketika Zahra menggantikan Umi menaiki tempat yang telah disiapkan untuk mengisi acara, semua orang menatap heran ke arahnya karena yang mengisi acara bukanlah Umi melainkan Zahra.
Seketika Zahra sedikit gugup dengan kondisi ini, iya menjadi ragu karena ini adalah hal pertama yang dilakukan Zahra yaitu ber tausiah.
Zahra melihat ke arah Umi, mbak Salwa dan Juga Aisyah yang ada di depannya itu, mereka tersenyum memberikan semangat ke arah Zahra.
__ADS_1
Suara riuh bisikan dari ibu ibu membuat suasana menjadi sedikit bising, Zahra meminjamkan matanya sesaat dan memfokuskan pikirannya, iya berkonsentrasi menghilangkan rasa gugurnya.
Zahra membuka matanya menatap sekeliling yang masih berisik itu, Zahra membuka tausiyah dengan suara yang lantang, sehingga membuat para jamaah yang ikut pada hari ini langsung menghentikan pembicaraannya, dan fokus mendengar apa yang disampaikan oleh Zahra.
Zahra mengeluarkan semua apa yang ia ketahui tentang rumah tangga, iya mengatakan dengan sejelas-jelasnya dan juga terperinci, membuat ibu-ibu itu tidak ada satu pun yang berbicara.
"Jamaah sekalian, perlu ibu-ibu ketahui bahwa pernikahan itu memiliki makna yang dalam.
Pernikahan bukan hanya aktivitas yang dilaksanakan demi pemenuhan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial belaka, tapi juga merupakan bagian dari aktivitas ibadah kepada Sang Pencipta, Allah SWT.
Dengan demikian, pernikahan adalah aktivitas yang memiliki dimensi ganda: dimensi duniawi yang berkaitan dengan manusia sebagai makhluk sosial, dan dimensi ukhrawi yang berkaitan dengan Sang Pencipta dengan kode sebagai bagian dari ibadah.
Islam juga mengajarkan bahwa pernikahan sebagai sebuah ikatan antara dua anak manusia memiliki tujuan yang mulia: menciptakan keluarga yang menghadirkan ketentraman (sakinah), dan kasih sayang (mawaddah dan rahmah) bagi seluruh anggota keluarga.
Seperti firman Allah dalam QS. Ar-Rum / 30: 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan untukmu pasangan (suami / isteri) dari jenismu sendiri, cenderung kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”.
Nah ibu-ibu,.. untuk mewujudkan hal tersebut, kedua belah pihak (calon suami dan istri) harus memahami bahwa kehidupan berkeluarga menentramkan dan penuh kasih sayang tersebut, hanya akan terwujud apabila kebutuhan yang mengiringi pernikahan dari mana ke masa terpenuhi dengan baik.
Dan untuk pemenuhan kebutuhan tersebut, selain kerja sama yang erat antara suami dan istri, keduanya harus memahami apa saja kebutuhan yang mungkin timbul dalam perjalanan mengarungi bahtera rumah tangga nanti, juga halangan yang muncul dalam pemenuhannya serta strategi yang dapat dipergunakan untuk mencapai pemenuhan tersebut."
Ucapan Zahra begitu tenang dan lancar, suasana damai meliputi acara tausiyah yang dipimpin oleh Zahra pada hari ini, banyak pula dari hadirin yang datang mengabadikan tausiyah Zahra dengan merekam.
Tak ada yang mengantuk atau berbicara ataupun hanya berbisik saja, semua berjalan dengan damai dan baik, Umi yang duduk didepan memerhatikan putrinya dengan tersenyum bangga kearah Zahra, iya tidak menyangka kalau Zahra memiliki bakat yang sama dengannya.
.
__ADS_1
.
ayo jangan malu-malu untuk mendukung author, karena author sangat membutuhkan dukungan 🥰