Surgaku Yang Direnggut

Surgaku Yang Direnggut
Kepulangan Abah


__ADS_3

Sekarang aku sedang berada di dalam kamar yang dulu aku tempati sebelum menikah dengan mas Adam. Selesai mandi aku lanjutkan mengerjakan sholat ashar, dan juga membaca beberapa ayat suci alquran.


Bener saja seperti yang sudah aku katakan, bahwa hatiku akan tenang jika aku kembali ke rumah ini, walaupun permasalahan rumah tanggaku masih menjadi beban di dalam pikiran dan hati ku.


Rasa sakit yang di berikan oleh mas Adam benar-benar sangat dalam, tidak ada luka dan darah tetapi rasanya benar-benar tersiksa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika suamiku benar akan menikah lagi.


Aku sangat penasaran tentang wanita yang mendapati posisi di dalam hati suamiku, seperti apakah wanita tersebut sehingga dengan mudahnya mas Adam berpaling dariku,


Padahal aku sudah mengabdikan seluruh hidupku kepadanya, bahkan aku sudah melahirkan putri yang sangat cantik untuknya. Aku mengambil hapeku di atas meja rias di kamarku ini, dan aku aktifkan hp tersebut.


Karena setelah mengirim pesan kepada mas Adam tadi pagi, langsung aku matikan hapeku. Setelah aku hidupkan ternyata banyak sekali pesan dari mas Adam, yang menanyakan kenapa aku pulang ke rumah abah dan umi, dan kenapa aku tidak memberi kabar terlebih dahulu kepadanya.


Aku baca satu persatu pesan tersebut hingga habis, ( jagan khawatir keadaanku mas... aku sudah sampai di rumah orang tuaku, aku baik-baik saja di sini... kamu jangan khawatirkanku dan Aisyah). balasku agar mas Adam tidak khawatir dengan keadaanku.


Walaupun mas Adam sudah mencurangi ku dalam pernikahan kami ini. Tetapi tetap saja perasaan cintaku kepadanya masih tetap sama.


Aku terlalu menggantung kan hidupku kepadanya sehingga begitu sulit menerima kenyataan yang terjadi, padahal dulu sebelum aku dan mas Adam menikah, abah pernah menasehati ku tentang kehidupan rumah tangga.


Perkataan Abah masih terekam jelas di dalam otakku ketika aku memilih mas Adam sebagai suamiku.


"Zahra putri kesayangan Abah... Abah dan Umi mengizinkanmu menikah dengan pria pilihan mu sendiri...


Abah hanya ingin berpesan kepadamu... jadilah istri Solehah, karena bahwasanya surgamu sekarang ada di dalam bimbingan suamimu. Turuti semua keinginan suamimu selama itu tidak menyesatkan dan susuai dengan syariat agama, melembutkan lah suaramu ketika berbicara di hadapan suamimu.

__ADS_1


Zahra... seorang istri di haruskan menghormati suami dan juga mencintai suami. Tetapi ingat Zahra.. cintamu kepada suamimu jangan sampai melebihi cintamu kepada tuhanmu, jangan sampai kamu membuat tuhanmu cemburu karena cintamu kepada manusia.


Ketahuilah Zahra manusia kapan saja bisa meninggalkanmu, Hanya tuhanmu yang selalu ada bersamamu dan juga orang-orang yang beriman.


Inilah keputusanmu Zahra.. Abah dan Umi tidak dapat memaksamu, jalani rumah tanggamu dengan sepenuh hati, doa Abah dan Umi selalu menyertaimu." ucap abah waktu itu.


"Iya Abah... insyaallah nasehat Abah akan selalu Zahra ingat, terimakasih Abah dan Umi telah memberi restu untuk Zahra menikah dengan pria pilihan Zahra sendiri, maafkanlah Zahra yang tidak bisa memenuhi keinginan Abah dan Umi untuk menikah dengan bang Faiz." aku pejamkan mataku mendalami rasa sakit ini sambil mengenang kata-kata Abah dahulu.


Bagaimana jadinya jika Abah dan Umi mengetahui jika rumah tanggaku dan mas Adam sedang dihantam badai yang tidak terduga kedatangannya, apakah Abah dan Umi akan kecewa kepada ku, cepat atau lambat semua orang pasti akan mengetahuinya.


Ibaratnya menyembunyikan bangkai.. lama kelamaan pasti akan tercium juga, biarlah semua terjadi karena kehendak mu ya Rabb, aku sebagai hamba hanya harus menyiapkan diri ketika badai yang lebih besar menghantam pertahanan ku.


Aku langsung menuju ke jendela kamarku, ketika mendengar suara mobil memasuki halaman rumah, disambut dengan teriakan Aisyah dan Nurul yang memanggil Abah dan juga mas Faisal, ditemani oleh mbak Salwa dan juga umi.


Aku sedikit tersenyum ketika melihat tingkah mereka, orang-orang yang aku sayangi telah berkumpul semuanya, membuatku melupakan sejenak rasa sakit yang ditorehkan oleh mas Adam.


Dengan langkah sedikit tergesa-Gasa aku langkahkan kakiku menuju halaman rumah, di sana sudah anggota keluargaku yang menyambut kedatangan Abah dan mas Faisal.


Langsung aku hampiri mbak Salwa dan Umi yang sedang berdiri di teras depan sambil menatap mobil putih yang membawa pulang Abah dan mas Faisal.


"Kakek... Ayah.... Paman..." teriakan kedua bocah yang begitu bahagia menyambut kedatangan Abah dan mas Faisal, Kami semua tersenyum mendengar teriakan girang keduanya.


"Cucu-cucu Kakek ada di sini.. pas sekali kakek bawa banyak hadiah, ini dia buat cucu cucu kesayangan kakek." ucap Abah menghampiri dan q memberikan beberapa hadiah kepada Aisyah dan Nurul.

__ADS_1


Abah langsung berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan kedua tubuh mungil itu, Abah langsung memeluk Aisyah dan Nurul secara bersamaan. Sambil mencium pipi kanan Aisyah dan pipi kiri Nurul yang dibalas ciuman di kedua pipi Abah oleh Nurul dan Aisyah.


Lagi-lagi pemandangan yang mengharukan terjadi di waktu bersamaan, andai waktu bisa berhenti ingin rasanya selalu dalam kebahagiaan seperti ini.


Aku melirik ke arah Umi yang juga menatap mereka dengan perasaan haru, aku memeluk Umi dari arah samping, sambil menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku akan bersikap manja jika dengan keluargaku, sikapku ini tak jauh berbeda seperti Aisyah dan Nurul.


Tak terduga pintu belakang mobil putih yang membawa pulang Abah dan mas Faisal terbuka, keluarlah sesosok laki-laki berperawakan tampan dengan baju koko yang berwarna biru dongker.


Aku mengenal laki-laki tersebut, dia adalah bank Faiz, pria yang dulunya pernah dijodohkan denganku. Akan sudah sangat lama tidak melihatnya setelah pernikahanku dan mas Adam, bang Faiz langsung melanjutkan pendidikannya di Mesir.


Bang Faiz mendekat ke arah Abah dan anak-anak sambil melempar senyum manis kearahku, langsung aku melepaskan pelukanku dari Umi karena menyadari keberadaan bang Faiz.


Bang Faiz memang sudah dianggap seperti anak sendiri oleh Abah dan Umi, dia juga bersahabat baik dengan mas Faisal, itu adalah salah satu alasan kenapa aku menolak dijodohkan dengan bang Faiz.


Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, aku hanya menganggap bang Faiz sebagai kakakku, aku yakin dia juga tidak memiliki perasaan terhadapku, walaupun bang Faiz tidak pernah menjelaskan isi hatinya padaku.


Abah mas Faisal dan bang Faiz menghampiri kami, di ikuti dengan Aisyah dan Nurul yang menggandeng tangan kiri dan kanan Abah.


"Bagaimana perjalanan pulangnya Abah, Faisal, dan nak Faiz, apakah perjalanan pulangnya ada hambatan?" tanya Umi setelah kami selesai bersalaman.


"Alhamdulillah Mi... tidak terjadi apa-apa kepada kami."


"Alhamdulillah kalau begitu.. ayo kita langsung masuk, pasti kalian sudah sangat kelelahan apalagi dengan Abah, apa kaki Abah kesemutan karena terlalu lama duduk?" tanya Umi memberi perhatian membuatku tersenyum Abah dan Umi selalu begitu saling peduli satu sama lain.

__ADS_1


Aku hanya menunduk ketika tampa sengaja bertatapan mata dengan bang Faiz, Aku benar-benar tidak nyaman dengan keberadaan bang Faiz disini, perasaan dulu tidak seperti ini.


__ADS_2