
Rasa syukur memenuhi hati Zahra, entah apa yang dipikirkan Adam sehingga Adam mau menandatangani surat perceraian, sebelumnya dengan begitu keras Adam menolak bercerai dari Zahra, tapi hari ini proses perceraian berjalan dengan lancar, karena kedua belah pihak sepakat sama-sama ingin bercerai.
Hari ini Zahra resmi berpisah dari Adam, menyandang gelar barunya sebagai seorang janda, namun semua bukan halangan untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik lagi, lembaran baru menanti Zahra, akankah kebahagiaan menjemput Zahra?.
Zahra memandang langit iyang mulai mendung, seolah langit menjadi saksi atas mulainya kehidupan baru Zahra, berpisah dari Adam tak pernah terbayangkan oleh Zahra sebelumnya, namun saat ini bukan sedih yang dirasakan oleh Zahra, melainkan kelelahan... kebahagiaan... atas semua kepahitan yang hampir setahun iya rasakan.
''Sayang.. maafkanlah mama, jika selama ini mama banyak menyakiti hatimu, walaupun hubunganmu dan Adam saat ini sudah putus, mama berharap kamu tidak memutuskan hubungan dengan mama juga,'' ucap bu Ratna dengan hati yang begitu pilu, tak pernah iya bayangkan hari ini akan terjadi, di mana menantu kesayangannya akan kembali menjadi orang asing.
''Itu tak akan pernah mah, selamanya Zahra akan menganggap mama sebagai mamanya Zahra juga, walaupun hubungan Zahra dan mas Adam sudah berakhir, insya allah silaturahmi yang sudah kita bina tidak akan terputus.''
''Terima kasih sayang... terima kasih, Adam benar-benar sudah buta mata hatinya,''
''Jangan berkata seperti itu mah, biarlah yang lalu berlalu, ini sudah menjadi takdir hidup Zahra dan mas Adam, ikatan pernikahan Zahra dengan mas Adam ditakdirkan hanya cuma sampai titik ini. ''
Zahra memeluk dan mengusap punggung mama mertuanya, iya tahu bahwa mertuanya ini begitu menyayanginya, tapi apalah dikata nasi sudah menjadi bubur, segala hal yang terjadi hari ini akan menjadi pelajaran yang sangat berarti untuk Zahra, bahwa cinta tak selamanya indah.
''Kalau begitu mama dan papa pulang dulu sayang, hari ini begitu melelahkan, mama ingin pulang dan beristirahat.''
''Iya mah jagalah kesehatan mama, saat ini mama begitu kurus, semoga mama sehat selalu ya.'' ujar Zahra menata prihatin ke arah mertuanya.
Badan yang dulunya berisi, kini sedikit menjadi kurus, keriput di wajahnya begitu menonjol, dan juga lingkaran hitam yang berada di bawah mata mama mertuanya itu begitu terlihat, Zahra tahu saat ini mama mertuanya itu terlalu banyak berpikir terutama terhadap Adam dan juga dirinya.
''Kalau begitu papa dan mama pamit dulu nak, semoga kamu sehat dan bahagia selalu, doa papa dan mama akan selalu menyertaimu,. ''
__ADS_1
''Iya pah, terima kasih atas doa dan dukungan papa dan mama kepada Zahra selama ini, Zahra sangat beruntung mempunyai mertua sebaik kalian yang sudah mau menganggap Zahra sebagai anak sendiri.'' ucap Zahra tersenyum tulus kepada mertuanya itu, yang dibalas anggukan senyum tulus juga.
''Permisi besan kami pulang dulu... Assalamualaikum. ''
''Waalaikumsalam.''
Mata Zahra menatap kearah perginya kedua mertuanya itu, selama ini iya telah menganggap kedua orang tua Adam sebagai orang tuanya sendiri, sehingga Zahra tidak tega melihat kekecewaan di wajah papa dan mamanya.
''Kuat lah nak, kuatlah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, walaupun Umi sedih melihatmu bercerai dari Adam, tapi Umi juga senang melihat mu melepaskan kesakitan mu, Umi tak menyangka bahwa kamu adalah wanita yang kuat.'' ucap Umi menghapus air matanya,
Sama seperti bu Ratna mertuanya Zahra yang merasakan kepedihan akibat perceraian anaknya, Umi juga merasakan seperti itu, merasa sesak ketika melihat rumah tangga putrinya harus hancur pada hari ini.
''Iya Umi.. Insya Allah kedepannya Zahra akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi, kan ada Umi dan Abah yang terlalu membimbing Zahra, kak Faisal dan mbak Zahwa yang selalu menjadi pembela Zahra. ''
Zahra tersenyum sambil sedikit menurunkan tubuhnya untuk menyejajarkan tubuhnya dengan Nurul, Iya mengusap kepala Nurul yang tertutup hijab'. ''Iya sayang.. dan Nurul adalah salah satu penyemangat bunda.''
Ucapan Zahra membuat hati Nurul begitu senang, dengan senyum di wajahnya sambil melihat ke arah Zahra. ''Nurul sayang bunda, andai saja Aisyah ada di sini, pasti kami akan sama-sama menyemangati bunda.'' pikiran Zahra melayang mengenang kenangannya bersama dengan Aisyah.
''ohh Aisyah, bunda sangat merindukanmu, maafkan bunda nak, hari ini bunda dan ayah sudah menjadi orang asing.'' batin Zahra.
''Kenapa bunda bersedih, maafkan Nurul bunda, pasti kata-kata Nurul telah menyakiti hati bunda.'' ucap Nurul menyadarkan lamunan Zahra.
''Tidak apa-apa.. sayang, bunda tidak sedih kok''
__ADS_1
Raihan semakin takjub kepada wanita yang ada di hadapannya itu, pesona Zahra tak mampu iya tolak, awalnya Raihan hanya mengagumi Zahra saja, namun kenapa sekarang wajah Zahra selalu terbayang-bayang di dalam benaknya, ada debaran di dalam hatinya ketika tanpa sengaja iya menatap senyum manis Zahra.
Ingin sekali Raihan menjadi penenang dan penyemangat zahara di kala ia sedih, namun Raihan tahu batasan nya, Zahra adalah wanita kuat iya tak membutuhkan bantuan orang lain, kecuali bantuan langsung dari keluarganya, sering Raihan mengajak berbicara Zahra, namun sikap Zahra acuh tak acuh padanya, membuat Raihan menjadi segan.
''Senyum mu itu begitu mempesona, membuat debar jantungku berdetak begitu kencang, apakah aku bisa menjadi salah satu dari pada kamu Zahra?.'' ucap Raihan di dalam hatinya.
''Lebih baik kita pulang sekarang, ini sudah sangat mendung, pasti sebentar lagi akan turun hujan.'' ucap Faisal yang juga menemani Zahra selama sidang berlangsung.
''Betul nak... sebentar lagi akan hujan, lebih baik kita segera pulang. ''
''Iya Umi. ''
Keluarga tersebut melangkahkan kakinya namun baru beberapa langkah, sepasang suami istri langsung menghadap jalan mereka, sehingga menimbulkan bermacam ekspresi di wajah keluarga Zahra, ada rasa muak di dalam hati keluarganya, ketika melihat Jihan dan Adam dihadapan mereka.
''Mau apa lagi kalian, semua ini sudah berakhir menyingkir lah, jangan menghalangi jalan kami.'' ucap faisal dengan penuh penekanan.
''Bolehkah kami berbicara dengan Zahra sebentar.'' ucap Adam wajah yang sendu.
Jujur iya tidak bisa melepaskan Zahra begitu saja, namun rasa malu dan juga bersalah kepada Zahra membuat Adam dengan berat hati menerima keputusan Zahra yang ingin bercerai dari nya, dulu iya begitu mengejar Zahra, sehingga Zahra mau menerima cintanya, sekarang perjuangan Adam hari ini berakhir sudah.
''Tidak... tidak ada yang perlu dibicarakan lagi menyingkir lah, melihat muka kalian saja membuat kami sangat muak, dasar muka-muka tidak tahu malu. ''ucap Faisal dengan pedas nya.
''Tidak apa-apa mas, biarkan Zahra berbicara sebentar dengan mas Adam dan juga Jihan.''
__ADS_1